Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
GARA-GARA RAMBUT (2)


__ADS_3

PRANG...


Febby melotot melihat dari pantulan cermin dihadapan nya, dia melihat Rangga meraih dan melempar gunting dari tangan Luna yang saat itu sudah siap mengguting rambut nya.


Febby meringis menahan malu. Tak enak hati dengan Luna akibat perlakuan Rangga kepadanya dan malu menjadi bahan tontonan diruangan itu. Semua pasang mata yang sedang berada di dalam sana pagi ini, menatap tajam cewek tomboy itu.


Terus saja Rangga menarik lengan Febby keluar dari sana. Persis seperti seorang istri yang ketahuan maling uang milik suaminya hanya untuk pergi kesalon.


Cewek itu mencoba menepis tangan Rangga tapi tidak bisa. Genggaman nya terlalu kuat.


Cowok itu membuka pintu mobil dan segera mendorong adik sepupu nya itu masuk kedalam mobil.


"Rangga, Lo tuh apa-apaan sih ?!" Kedua alis Febby mulai menyatu. Dia menyentuh lengannya yang terasa kebas akibat genggaman Rangga tadi.


Rangga pun segera mengitari mobil itu dan duduk dikursi balik kemudi.


"Harusnya gue yang tanya. Elo yang apa-apaan Fe" nada bicara Rangga sedikit meninggi dan napasnya terengah karena menahan rasa kesalnya.


"Gue pikir lo tuh cuma mau facial treatment atau apa lah yang biasa cewek-cewek lakuin disalon. Nggak tau nya apa, lo mau potong rambut lagi" cowok itu bernapas sejenak dan memijit pelipis nya yang terasa berdenyut.


"Lo mau bikin rambut lo kayak apa lagi sih? Rambut sependek ini, lo mau potong lagi. Lo mau potong rambut lo gundul biar kayak 'Ronaldo Wati' hah??. Nggak habis pikir gue. Untung aja gue masuk saat itu juga. Telat 5 menit aja gue..." ucapan nya dia potong, kecewa yang dia rasakan. Rangga berdecak kesal. Ia menyandarkan punggung nya yang terasa lelah. Dipejamkan nya matanya dan mengatur napasnya yang masih naik turun.


"Gue nggak potong Rangga. Gue cuma ngerapihin doang kok. Sedikit aja" balas Febby santai tanpa rasa berdosa.


"Sedikit gimana. Ini tuh belum panjang Fe. Masih pendek banget gimana mau di rapihin. Lo tuh cewek Fe. Anak gadis. Bukan seorang cowok yang bisa seenaknya potong rambut meskipun masih sependek ini"

__ADS_1


"Lo tuh berlebihan tau nggak. Lagian ini tuh bukan pertama kalinya kan gue ngrapihin rambut gue. Biasanya juga lo diem" masih dengan nada santai dia menanggapi Rangga "Dan lo udah bikin kak Luna kaget tadi, tau nggak. Bikin kita jadi bahan tontonan gratis disana. Lo harus minta maaf sama kak Luna, Rangga"


"Please Fe. Kita lagi bahas rambut lo"


"Iya gue tau. Kan udah gue bilang kan. Cuma dirapihin aja. Beberapa centi doang kok. Lo tuh over reaction, ngerti? Harusnya lo nanya dulu jangan main banting barang orang begitu. Nggak enak kan sama kak Luna nya"


"Lo kenapa sih?? lagi ada masalah? Atau lo dibuli sama temen-temen kampus lo. Sampe lo potong rambut lo?"


"Yaelah emang nya harus ada masalah dulu baru boleh potong rambut??"


"Ya emang kan? Dulu juga sama, waktu lo buang semua rambut panjang lo, itu karna lo juga ada masalah kan?... " Rangga menyadari ucapan nya sudah terlalu jauh dan menyangkut masa lalu gadis itu.


Ini pertama kalinya mereka bertengkar hebat setelah puluhan tahun mereka selalu bersama. Entah kenapa hari ini rasanya emosi Rangga serasa memuncak saat tahu Febby akan memotong lagi rambutnya. Dia takut jika terjadi sesuatu pada adiknya yang dia sendiri tidak tahu. Pertama tadi pagi, gadis itu mengatakan kalau hpnya dia masukkan kedalam air tanpa peduli jika akhirnya hpnya itu akan rusak. Untung saja Rangga langsung menyadari keanehan adik sepupu nya itu dan segera masuk menemui Febby dan yang dia khawatir kan ternyata benar. Cewek itu sedang akan memotong rambut nya itu. Meski dia mengatakan hanya beberapa centi tapi tetap saja kan. Namanya potong ya tetap potong.


"Rangga. Stop it. Lo bener-bener over reaction"


Febby jadi teringat saat malam itu mami siena mengendap masuk ke dalam kamarnya seraya berkata.... 'mami kangen anak gadis mami yang dulu'...


Suasana dalam mobil seketika menjadi hening.


Febby diam, wajahnya berubah cemberut dan masih mengelus lengannya yang tadi di genggam cowok itu dengan kuat. Otaknya terus berputar. Ada benarnya juga ucapan Rangga. Tapi sampai saat ini dia masih belum bisa membuka dan melapangkan hatinya yang tergores luka. Dan tanpa sadar dia juga membuat orang-orang yang disayangi nya juga ikut terluka melihat nya seperti saat ini. Entah sampai kapan dia akan tetap seperti ini.


Rangga menyadari apa yang Febby lakukan, dia meraih lengan cewek itu memastikan apakah ada yang terluka atau tidak.


"Oke, gue minta maaf. Udah bentak lo barusan. Sekarang gue anter lo balik dulu deh. Masalah hp biar gue aja yang beli, ntar sore gue anterin kerumah lo"

__ADS_1


Rangga mulai memutar stirnya menuju kediaman mami Siena.


"Lo juga harus minta maaf sama kak Luna Rangga" tuturnya polos.


"Iya kalo kita kesini lagi. Gue bakal minta maaf sama dia"


"Terus 'si merah' gimana kan masih distudio??"


"Nanti panggil mang Udin aja buat ambil kesana"


🌳


Febby terbagun dari tidur siangnya. Rasanya malas untuk beraktivitas. Ditatapnya langit-langit kamarnya yang terlukis pemandangan alam diatas sana. Dengan malas dia bangun dan menapakkan kakinya diatas lantai. Saat dia akan bangun dia melihat sebuah paper bag di atas nakasnya.


Cewek itu meringis senang ketika meraih dan melihat apa isi dalam paper bag itu. Sebuah kotak Handphone bermerk 'iPhone' keluaran terbaru yang dia yakin harganya masih melambung tinggi dan jauh lebih mahal dari hp nya yang sebelumnya.


Tanpa membuka terlebih dulu cewek itu berlari keluar kamarnya dan dengan cepat menuruni anak tangga. Mungkin saja Rangga masih ada di bawah. Dia yakin cowok itulah yang membelikannya hp itu.


🌳


***Dont forget to like and koment. Thanks for your reading.


Seneng banget makin hari makin banyak yang kasih cinta ♥️ buat story akuh... Im so happy.


Buat yang berminat buat folow ig aku

__ADS_1


@sheefty_95***


__ADS_2