Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
ZONA NYAMAN


__ADS_3

Dug...


Jedug....


Jedug...


Jedug...


Itu bukan suara musik dalam sebuah club malam atau diskotik. Tapi suara detak jantung seorang cowok tampan yaitu 'Syah Rizal Fauzi' yang berpacu cepat, sangat cepat, seperti dirinya sedang berlari maraton.


Bagaimana tidak, saat ini dia tengah bersama dengan seorang cewek yang selama ini dia kagum dan dia sukai.


Cowok itu mengulas senyum tipis dibibirnya ketika dirinya kembali teringat saat beberapa menit yang lalu ia menyentuh bahkan memegang lengan cewek itu.


"Barusan gue nyentuh Febby?" Batin Rizal, tak percaya. Entah keberanian darimana yang ia dapatkan sehingga tangannya bergerak menarik lengan Febby yang masih dalam keadaan bingung untuk mengikutinya.


Rizal memang sosok orang yang mudah bergaul dengan sikap humorisnya. Termasuk dengan Larasati, namun berbeda dengan ketika ia berada dekat dengan cewek yang satu ini. Seakan keberanian yang ia miliki seolah hilang sirna. Dan entah mengapa saat tadi melihat cewek itu terlihat bingung dan gelisah, hatinya tertarik untuk menggerakkan bibirnya untuk bertanya.


Dengan tubuh yang masih bergetar hebat akibat degup jantungnya yang belum stabil, Rizal membawa si merah, sepeda motor Febby menuju sebuah bengkel yang tidak jauh dari kampusnya. Tentunya bersama dengan si Febby, cewek tomboy si pemilik motor itu yang juga berjalan dibelakang nya mengikuti langkah kaki Rizal. Posisinya seolah mendorong motornya yang dituntun oleh cowok itu, meskipun sebenarnya tenaga Rizal sudah cukup kuat bila membawa kendaraan yang harganya dua kali lipat melebihi sepeda motor miliknya itu sendirian.


Rizal memperhatikan air muka cewek tomboy itu dari pantulan kaca spion, terlihat Febby mengerucutkan bibir tipisnya. Entah apa yang cewek itu pikirkan dan rasakan. Tanpa sadar ujung bibir Rizal kembali mengulas senyum. "So cute" bibirnya bergumam, lirih, sangat lirih, hanya dia yang dapat mendengar nya. Dia senang berada didekat cewek yang ia sukai sejak mereka duduk di bangku SMP itu.

__ADS_1


Febby berdiri didepan bangunan itu, menunggu Rizal yang mengantar motor nya kepada seseorang yang siap menanganinya didalam sana.


"Gimana?" Bibirnya mengucap ketika mendapati Rizal berjalan kearahnya.


"Emang bocor Fe" ungkapnya . "Kayaknya agak lama deh sekitar satu jam. Soalnya lagi rame" balasnya. Cewek itu mengedarkan penglihatannya, disekitarnya memang terlihat banyak kendaraan yang tengah berjejer disana.


"Duduk dulu deh. Lo pasti capek. Gue beli minum dulu" Rizal menunjuk pada sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu yang memang disediakan oleh pihak bengkel untuk meraka yang menunggu kendaraannya di tangani, cowok itu bersiap akan beranjak untuk membeli minum tapi tiba-tiba berbalik dan memegang lengan bisep Febby, sehingga mencegahnya yang akan segera mendaratkan bokongnya pada kursi kayu tersebut.


"Tunggu" ungkapnya. Febby diam dengan kerutan tipis didahinya saat melihat Rizal menepuk kursi bagian yang akan diduduki Febby berkali-kali dan meniupnya seolah mengusir para debu yang mungkin sudah hinggap disana.


Reflek Febby terkikik dan berkata "Lo pikir, kalo digituin debunya bakalan ilang?" Entah mengapa spontan saja pertanyaan itu keluar dari bibir ranumnya.


Tapi Rizal lupa jika yang berhadapan dengannya saat ini bukanlah Larasati tapi Febby, cewek tomboy yang dingin dan jutek.


Cowok itu meringis dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


... lo pikir kalo digituin debunya bakalan ilang...


"Ilang kok. Dikit" balasnya sembari sedikit menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya sebagai isyaratkan kata sedikit.


Febby mulai duduk dikursi kayu tersebut.

__ADS_1


"Gue beli minum dulu ya. Lo mau minum apa?"


"Mmm. Air mineral aja" cowok itu terlihat mengangguk dan segera melenggang menuju mini market disebelah bangunan itu.


Tak menunggu lama Rizal kembali dengan dua botol air mineral ditangannya, yang satu dia sodorkan pada cewek tomboy yang tengah menatap fokus pada layar hpnya. " Nih"


Febby mendongak mendapati Rizal disamping nya dan menerima botol air mineralnya "Thanks" tuturnya, karena panasnya terik matahari membuat tenggorokan nya begitu kering, dengan satu gerakan ia memutar dan membuka tutup botolnya.


"Mau pake ini" Rizal menyodorkan sebuah sedotan yang ia minta pada mbak-mbak kasir tadi. Ia pikir cewek akan jaim dan malu jika minum didekat cowok sama halnya dengan Laras yang selalu menjaga image-nya meski setiap hari selalu bersama dengannya.


Tapi ekspektasi nya salah. Febby terlihat menggeleng dan sebelum menenggak airnya langsung dari bibir botol itu ia berucap "Minum tuh enaknya gini, baru berasa... " ditenggaknya air mineral itu langsung tanpa ragu dan rasa malu.


"Ini yang gue suka dari kamu Fe. Apa adanya" batinnya menjerit. Berdekatan dengan Febby malah membuat perasaan nya yang selama hampir 7 tahun di tahan olehnya, terasa semakin diubun-ubun dan seakan mahu meledak melalui ujung-ujung rambutnya, kalau memang bisa.


Febby mengibaskan tangannya seolah memanggil angin untuk berhembus menghilangkan rasa geraknya "Kalo naik motor keliatan nya deket ya bengkelnya, jalan kaki ternyata jauh juga?" Pertanyaan Febby membuyarkan lamunan Rizal. Baru kali ini dia merasa nyaman didekat cowok setelah beberapa tahun terakhir putus dengan kekasih nya dulu ia tak pernah merasakan zona senyaman ini selain bersama dengan Rangga, hingga membuat hatinya mendorong saraf motorik nya bekerja untuk menggerakkan bibir mungilnya. Dan ingin banyak kata yang ia ucapkan.


"Ahh iya., Namanya juga naik motor, mana berasa" Rizal mulai meminum air miliknya sama seperti yang baru saja dilakukan oleh Febby, lalu mengusap air yang berjatuhan tumpah melalui sela-sela sudut bibirnya. Jantung nya masih berdetak kencang, seolah organ tubuh bagian dalamnya tahu jika sang pemilik nya tengah berada di dekat cewek pujaan hatinya.


"Semoga... dia gak denger detak jantung gue. Mana kenceng banget lagi" batin Rizal menjerit untuk yang kesekian kalinya. Bertahun-tahun ia menantikan situasi saat ini tapi tak pernah ia rasakan dan ia tidak pernah menyangka sama sekali moment hari ini akan terjadi, kini rasanya ia berharap waktu akan dapat berputar lebih lambat lagi agar ia bisa berlama-lama berdekatan dan mengobrol dengan cewek yang selama ini dia kagumi itu.


Banyak lagi yang mereka obrolkan, mungkinkah kali ini Febby akan benar-benar membuka hatinya untuk orang lain dan akankah orang yang beruntung itu adalah Syah Rizal Fauzi?? Yang telah lama menyukainya. Atau...

__ADS_1


__ADS_2