
Cewek tomboy itu berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya setelah memarkir motornya dengan sempurna.
Tubuhnya tegap, langkahnya panjang. Tatapannya dingin, seperti banyak beban pikiran yang ia miliki dalam benaknya.
Entah mengapa ia merasa hari ini ruang kelasnya terasa sangat jauh. Seperti diujung bangunan kampus, padahal hanya beberapa meter saja dari area parkir.
Pesan video yang ia terima semalam membuat otaknya berpikir tanpa henti, hingga konsentrasi nya buyar seketika dan akhirnya gagal membuat sketsa desainnya yang sudah setengahnya ia buat. Tiba-tiba saja ide yang ia pikirkan menjadi hilang, terbang entah kemana.
Jadi, yang selama ini meneror dan mendekatinya adalah cowok yang ia tabrak sewaktu kabur dari pesta malam itu? Dan cowok itu adalah Ryan, yang ia tolak mentah-mentah saat dia mengajaknya berkenalan? Lalu bagaimana cowok itu mengenali-nya? padahal sosok Febby yang saat ini berbeda 180° dari sosok gadis cantik dan anggun yang berada di ballroom hotel pada pesta waktu itu. Febby yang saat ini sederhana, berambut pendek dan tanpa makeup. Sedangkan gadis anggun yang pada malam itu...
Dia memang mengubah penampilannya menjadi sosok gadis tomboy seperti saat ini hanya untuk menghindari 'para kaum adam' untuk mendekatinya. Meski tak dapat dipungkiri dia tetap tidak dapat menutup bagian body goals-nya yang sangat jelas terlihat.
Kegagalan dan penghianatan dalam hal percintaan membuatnya muak dengan itu semua. Namun kini tiba-tiba datang seorang cowok yang menghampiri dan dengan terang-terangan mendekatinya. Apa hanya karena yang cowok itu kenali adalah sosok Febby yang cantik dan anggun?. Pikiran Febby terus berputar dengan berbagai pertanyaan.
Ia tidak pernah menyangka akan berada dalam kondisi saat ini. Setelah beberapa tahun hidup tenang dengan kedamaian tanpa gangguan makhluk yang bernama 'cowok'. Kini berubah hanya karena kejadian satu malam, oh bukan, bukan. Bahkan hanya beberapa menit saja insiden saling tabrak antara tubuhnya dengan tubuh Ryan pada malam itu.
Langkah Febby terhenti saat sudah berada didepan ruang kelasnya, ia menarik napasnya panjang melalui hidung dan menghembuskannya melalui mulut, pikiran-napas-dan suasana hatinya sedang tidak menentu saat ini. Ia berharap dengan begini dirinya dapat menghadapi apapun yang terjadi nantinya dengan pikiran yang dingin.
Febby tersenyum saat mendapati Larasati sudah duduk ditempatnya, seperti biasa sahabatnya memang selalu datang lebih awal dari pada dirinya. Mungkin karena tertular oleh Rizal sebagai seorang mahasiswa rajin dan teladan, bahkan Laras selalu tahu kapan dan dosen siapa yang tidak hadir saat itu.
Namun seketika senyuman nya berubah menjadi lekukan aneh diujung bibirnya, diatas mejanya, ia melihat sebuket bunga dan sebuah kotak berpita yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak kecil.
__ADS_1
Febby menghentikan langkahnya tepat didepan mejanya.
"Apa ini Ras?" Febby bertanya kepada sahabatnya yang masih menundukkan kepalanya fokus pada layar tablet yang ia pegang.
Ia kesal, Laras bahkan tidak mendengarnya sama sekali. Entah apa yang cewek itu lihat dilayar tabletnya.
"Ya elah nih bocah. Ini apaan Laras?" Febby masih pada posisi berdiri saat ini lalu ia mengetuk meja sahabatnya sehingga dia terkejut dan menatap Febby yang berada dihadapannya.
"Eh hai Fe... udah dateng" balasnya sembari meringis. Namun kemudian ditatapnya lagi layar tabletnya, seolah tak mendengar ucapan Febby sebelumnya.
Febby semakin kesal, kemudian cewek tomboy itu menyodorkan buket bunga dan sebuah kotak berpita diatas mejanya beralih kemeja Larasati. "Ini apaan?? Di tanya berkali-kali gak dijawab!" Ungkapnya mulai ketus.
"Ini tuh bunga sayangkuh sama coklat" Laras mengembalikan lagi kedua benda itu kemeja Febby.
"Itu buat elo Fe. Ada tulisannya kok. Keselip kali didalam bunga" balasnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
Bibir Febby mengatup rapat kedua alisnya naik keatas. Dia bingung, siapa yang kurang kerjaan memberinya sebuket bunga dan juga coklat padahal hari ini bukan hari Valentine dan dirinya tidak sedang berulang tahun.
Segera ia ambil buket bunga yang berada diatas mejanya, dan benar saja ada sebuah kertas berwarna merah muda dengan bentuk hati yang terselip diantara tangkai bunga tersebut.
Ia mulai membaca tinta hitam yang tergores diatas kertas berwarna merah muda tersebut yang bertuliskan; Dear Febby Angela. Begitu bunyi kalimat pada baris pertama lalu ekor matanya mulai turun dan seketika membuat bola matanya membulat membaca kalimat kedua yang berbunyi ; From Ryan... dan tanpa membaca kalimat selanjutnya Febby segera meletakkan secarik kertas tersebut diatas mejanya dengan kondisi terbalik. Ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh sudut ruang kelas seperti mencari sesuatu.
__ADS_1
Febby berniat membuang kedua benda itu kedalam tong sampah. Namun ia urungkan ketika mendapati seseorang yang hendak melewatinya, meja miliknya memang berada sangat dekat dengan pintu sehingga orang yang masuk keruangan itu akan melalui dirinya terlebih dahulu.
Febby menepuk lengan orang tersebut "Eh ada apa ya" ucapnya, orang itu berhenti dan menetap tidak suka kepada Febby, lalu ia menjawab dengan santai "Inces suka coklat?" Kata Febby lembut.
"Suka ihh.." orang tersebut meraih sebuah kotak berpita dari tangan kanan Febby. "Kalo bunga mau?" Ucap Febby lagi penuh penekanan. "Ihh mau banget dong. Makasih yee" balasnya dengan logat gemulainya kemudian orang tersebut mengapit buket bunganya diketiak kirinya dan tangan kiri memegang coklat, lalu tangan kanan orang itu sedikit mencubit dagu Febby kemudian berkata "Makasih ya, Febby cuantik" tak lupa nada bicaranya dengan logat kemayu. Inces ini adalah satu-satunya anak cowok yang mengambil jurusan fashion design atau tata busana, ia sosok cowok dengan gaya dan juga dandanan yang sedikit kemayu.
Febby meringis dan terkikih, lalu menjawab "Sama-sama Inces", cowok kemayu itupun berlalu menuju mejanya. Kini Febby menghadap Laras, Laras yang melihat tingkah Febby hanya melongo dan menelan salivanya berat. ''Gue harus bilang apa sama si Ryan kalo begini caranya "batin Laras menjerit, sia-sia dia datang lebih awal hanya mengemban tugas dari si Ryan untuk menaruh buket bunga dan juga coklat tersebut untuk sahabatnya yang kadar kepekaannya sudah menjadi minus 12 itu, alias tidak ada peka-pekanya sama sekali.
Sedang Febby menepuk nepuk kedua tangannya seolah ada kotoran ditangannya yang harus ia singkirkan. Kemudian duduk dikursinya dan mengacuhkan Laras yang masih melongo menatap tingkah dirinya tersebut.
Semua itu tidak luput dari pandangan Prysila dan kawan-kawan di kursi paling belakang yang kebetulan sudah berada dalam kelas ketika Febby memasuki ruangan itu.
Salah satu dari mereka mulai berbicara...
🌳
***Maaf kan aku guys... lama update nya.
Mohon dimaklumi yak. Karena kerja dan ketika malam tiba akunya udah lemes dan ngantuk jadi gak sempet nulis.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Thankyou.
__ADS_1
Salam penulis***.