Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
CELANA KODOK


__ADS_3

Febby segera meraih kedua pundak kakak sepupunya dan melompat ke punggung cowok itu. Febby meringis senang setelah telapak tangan Rangga menggapai kedua kakinya yang sudah melayang diudara. Ia mengepalkan kedua tangannya lalu menjulurkan keduanya kedepan dan bersorak


"Let's go my horse" teriaknya bagai anak usia 5 tahun. Dasar bocah nakal batin Rangga. Meskipun usianya sudah menginjak 20 tahun tapi tidak menghalangi dirinya untuk bersikap manja kepada orang terdekatnya termasuk Rangga dan juga mami Siena. Sungguh, berbanding terbalik dengan penampilannya yang tomboy. Bahkan dengan rambut pendek yang ia miliki saat ini dan beberapa lubang anting di daun telinganya.


Orang yang melihatnya akan menilai jika gadis itu adalah anak berandalan dan ugal-ugalan. Tapi sebenarnya tidak sama sekali. Ia bergaul saja hanya dengan Rangga dan juga Laras sahabatnya dan paling jauh dengan Rizal karena cowok itu sangat dekat dengan Laras. So, otomatis dia juga akan dekat juga dengan cowok itu. Ya walaupun hanya sekedarnya saja.


Febby mengeratkan pegangannya pada leher Rangga ketika ia mulai berjalan menuju exit door tempat gym itu.


"Lo tau by? Lo itu bener-bener berat" suaranya serasa tercekat dalam tenggorokan Rangga. Mungkin karena menahan beban berat dibalik punggungnya yang lebar.


Febby terkekeh "Yang nyuruh gue makan banyak kan lo juga. Sekarang tau rasa kan. Gendong gue aja gak kuat"


"Sial. Gue yang kena batunya. Lo harus diet by"


Febby semakin terkekeh dibuatnya. Kapan lagi kan digendong ama cowok cakep.


Rangga menarik dan menghempaskan nafasnya sebanyak mungkin setelah mendudukan Febby di kursi mobil sebelah kursi kemudi.


Rangga meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku sebelum ia mengitari mobilnya dan duduk dikursi kemudi.


"Jangan lagi-lagi lo minta gendong. Bisa remek nih badan gue" ucap Rangga disela-sela ritual menyetirnya.


Cewek tomboy itu hanya manggut-manggut dan mengerucutkan bibirnya kedepan.


Honda HR-V berwarna krem itu melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman mami Siena. Mang Udin dengan sigap membuka gerbang rumah berlantai dua itu setelah mendengar bunyi klakson yang dua kali menyapanya.


Mami Siena segera baranjak dari ruang televisi setelah mendengar deru mesin dari pelataran rumah nya.


"Rangga. Febby kenapa? Kok pake acara digendong segala??" Ya lagi-lagi dengan manjanya Febby duduk digendongan Rangga. Meski cowok itu sudah berkata tidak, masih saja ia mahu menggendong gadis itu sampai kedalam rumah.


"Mami" pekik Febby lirih.

__ADS_1


"Biasa tan. Lagi pengen dimanja" balas Rangga setelah menurunkan Febby disofa ruang tamu.


Febby melotot mendengar ucapan Rangga.


"Kaki Febby pegel mam" tatapannya beralih pada sosok wanita hebat yang selalu menjadi panutannya selama ini.


Rangga mengusak rambut Febby. "Motor lo masih di studio (studio rental milik Rangga). Besok gue anter lo kekampus!"


Febby mendongak menatap Rangga "hmmm". Angguknya lucu seperti kucing yang dielus pemiliknya.


Rangga tersenyum "Aku balik dulu tan" kedua maniknya kini beralih pada mami Siena.


"Loh kok buru-buru. Nggak nginep disini aja?" jawab mami.


Rangga melirik Febby yang juga memperhatikan gerak-gerik keduanya dengan tatapan tajam.


Rangga tersenyum miring, ia jadi teringat saat pagi itu Febby berkata "Lain kali jangan boleh nginep bi. Kayak nggak punya rumah aja nginep-nginep" (ucapan Febby pada bi Inah)


Walaupun cewek itu hanya becanda tapi tersirat dendam dimata Rangga. Awas saja kalau dia nginep ditempat Rangga, batinnya.


"Hati-hati ya" mami Siena menepuk lengan kekar Rangga seraya melepas kepergiannya.


"Are you oke. Come. Mami bantu keatas" Mami mengulurkan tangannya pada anak gadis semata wayangnya itu. Untuk membantunya berjalan menuju lantai atas.


"Emang mami bisa gendong Febby??"


"Ya enggak. Febby pegangan mami aja" sahutnya lembut.


"Kali aja mami masih kuat gitu gendong Febby" gadis itu terkekeh geli. Mami hanya memainkan ujung bibirnya lucu. Geram mungkin yang ia rasakan.


Febby segera beranjak dan bergelelayut manja pada lengan mami Siena sampai menuju kamarnya.

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Rangga tercengang melihat penampilan Febby, 'so cute' kata yang tepat terlintas di benaknya.


Gadis tomboy yang biasanya memakai kaos dengan ukuran besar atau seperti hari kemarin Febby yang memakai tanktop dan dilapisi kemeja yang hanya bertukar corak dan warna saja setiap harinya. Tapi pagi ini gadis itu terlihat berbeda.


Bukan tanktop yang dilapisi kemeja, bukan pula kaos kedodoran yang biasa ia pakai. Tapi kali ini ia memakai kaos ketat berwarna putih yang membalut tubuh proporsional Febby dan overall atau celana jeans kodok yang membuatnya terlihat semakin seksi. Dengan sneakers berwarna senada dengan celana kodoknya. Ahh kali ini ada lagi yang berbeda. Biasanya Febby selalu memakai tas slempangnya jika kekampus tapi pagi ini ia terlihat menggendong sebuah tas dipunggungnya. Coba saja kalau rambutnya panjang terurai. Pasti akan lebih terlihat manis batin Rangga.


Gadis itu berjalan menuruni anak tangga menghampiri cowok itu.


Febby melihat dahi kakak sepupu nya itu berkerut heran menatapnya. Ia beralih melirik penampilannya sendiri.


"Why? Apa... terlihat aneh??"


"Gue ganti baju aja kalo aneh" imbuhnya sembari memutar tubuhnya kearah tangga.


Tapi tangan kekar itu mencegahnya.


"No. It's look nice to you"


Febby meringis senang sebelum ia membalik tubuhnya.


"Really?" Kini mereka berhadapan.


"Yea" Rangga menganggukkan kepalanya berkali-kali agar meyakinkan cewek itu agar tidak mengganti bajunya.


To be continue


πŸ‚πŸ‚


Thankyou guys... buat yang sudah mau mampir.

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus aku ya, like, koment,share,⭐ dan β™₯️untuk novel ini.


🐞boleh nanya guys. Kalo kakak adik sepupu itu halal apa nggak kalo umpamanya saling suka??? Please koment dikolom komentar. Trimakasih _salam author


__ADS_2