Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
Sakitnya tuh disini


__ADS_3

Siapa yang tidak memiliki masa lalu?, baik itu masa lalu yang buruk untuk dikenang ataupun yang baik.


Setiap orang pasti memilikinya, begitu juga dengan Febby, seorang gadis tomboy berambut pendek yang dirinya miliki saat ini.


Berbeda 180° dari seorang Febby beberapa tahun yang lalu. Sebelum adanya pengkhianatan yang dia terima dari orang terkasih dan juga sahabatnya.


Seolah trauma dan luka yang dia dapatkan begitu dalam, hingga dirinya enggan untuk membuka hatinya untuk orang lain sampai saat ini.


Dirinya tidak berniat sama sekali untuk mengingat masa kelam itu. Namun setiap kali , serpihan serpihan kenangan kelam itu mengahantui hidupnya. Yang membuatnya takut dengan seorang laki-laki. Dalam artian untuk menjalin hubungan istimewa.


Namun kini, datang seorang cowok yang tiba-tiba menyatakan perasaannya dan seperti telah lama mengenal sosok Febby, sedangkan dirinya sama sekali tidak mengenal cowok tersebut dengan baik.


Moment disiang itu kembali berputar dalam ingatannya, saat dimana cowok asing itu merenggut ciuman pertamanya.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan terdengar dibalik pintu berwarna coklat, kamar milik sang gadis tomboy.


"Non... ada tamu"


Febby mendengar suara yang sangat dirinya kenali itu dari balik pintu.


Ia segera bergegas merangkak turun dari tempat tidur dan membuka knop pintu tersebut.


"Ada apa bi?" Bi Inah, pengasuh serta pembantu rumahnya yang sudah seperti sosok nenek baginya itu terlihat panik.


"Ada orang didepan non, bilangnya sih temennya non Febby"


Dahi Febby berkerut tebal, siapa? Itulah kata yang muncul dalam benaknya. Jika Larasati, bi Inah pasti sudah mengenalinya dan tidak mungkin gadis itu datang tanpa memberi tahu nya, sedangkan mereka baru saja menutup sambungan telepon diantara keduanya.


Tidak mungkin juga Rangga, jika cowok itu yang datang mang Udin akan segera membuka gerbang tanpa bertanya lagi. Lalu siapa?


"Kata nya namanya itu...."


Kembali pada beberapa puluh menit yang lalu


Seorang lelaki berumur 40 tahunan itu segera berlari menuju pintu gerbang, ketika mendapati sebuah mobil yang berhenti tepat didepan pintu gerbang tersebut.


Namun lelaki itu tidak segera membukanya saat dirinya menyadari bahwa mobil yang berhenti didepan sana bukanlah mobil yang dirinya kenali atau sebuah mobil asing yang baru dirinya lihat.


Bapak itu melihat seorang lelaki muda yang bersandar pada mobilnya bagian depan seraya fokus pada layar ponselnya.


Karena rasa penasaran dan tidak ingin privasi rumah majikannya terganggu maka bapak tersebut dengan amat terpaksa membuka pintu kecil diantara pintu gerbang tersebut agar dapat keluar dan menghampiri lelaki muda yang sangat asing baginya.


"Maaf den. Aden teh nyari siapa??"


Lelaki muda itu terlihat tergelak dengan keberadaan Bapak berusia 40 tahunan tersebut yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Ehh bapak. Selamat malam pak. Saya teman Febby pak. Febby nya ada? Saya mau ketemu" cowok itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya kepada Bapak dihadapannya.


Tanpa menerima uluran tangan lelaki muda tersebut, Bapak itu menjawab


"Nama aden teh saha (siapa) nyak?? biar saya tanya dulu sama neng Febby. Eneng teh nggak pernah bawa temen Laki-lakinya kerumah. Apalagi sudah malam begini. Siapa namanya atuh??"


Tanya nya curiga, dengan logat sundanya.


Sebenernya hari belum terlalu larut, baru saja pukul 8 malam. Namun bagi Mang Udin yang sudah sangat menyayangi keluarga majikan nya itu. Seolah berlebihan jika pukul 8 malam sudah sangat larut.


Lelaki muda tersebut mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung. "Mansion gue juga gak gini amat penjagaanya. Wah, udah melebihi istana aja nih rumah" batin cowok itu menjerit.


"Nama saya Ryan Pak. Coba tanya aja sama Febby. Dia pasti kenal saya. Saya temen kuliahnya"


Bapak itu menatap curiga, ditelitinya penampilan lelaki muda dihadapannya dengan penuh curiga. Tentu saja, ini kali pertamanya ada seorang lelaki yang berkunjung kerumah itu sejak beberapa tahun lalu, yang mengaku sebagai teman anak dari majikannya tersebut.


Takut-takut jika orang tersebut adalah orang jahat yang iseng semata. Memang terkesan tidak sopan, namun apa salahnya jika kita bersikap waspada.


"Saya tanya dulu sama neng Febby nya. Aden teh tunggu disini" ucapnya ketus.


Bapak tersebut segera berlari masuk kedalam rumah dan mendapati bi Inah tengah berada didapur.


"Bi... bi Inah"


"Ada apa?" Bi Inah yang merasa terganggu menjawab dengan ketus.


"Kadie atuh (kesini dong) " Mang Udin memberi isyarat agar Bi Inah menghampiri dirinya.


"Ada orang di depan Bi?" Ucapnya panik.


"Ono sopo to?? Ojo gawe wedi? (Siapa sih jangan buat orang takut *bhs jawa)"


Bi Inah yang semula tenang pun ikut panik.


"Kadie,, eta ada orang didepan. Katanya teh temen si eneng Febby. Tapi saya teh nggak kenal. Baru pertama lihat. Coba Bibi tanyaken atuh sama si eneng. Mau disuruh masuk apa enggak?"


"Siapa to? Kayak apa orangnya? Namanya Siapa?. Pelan pelan dong bicaranya!"


"Iye teh genting (darurat) nggak bisa pelan pelan. Orangnya teh kasep (ganteng *sunda). Namanya den Ryan" Mang Udin mendorong tubuh Bi Inah agar beliau segera bertanya kepada Febby.


"Sok atuh tanyaken. Saya teh lupa nggak ngunci pintu tadi... sok nanti kedepan ya bi. Kasih tau saya"


Karena Mang Udin terus mendorong Bi Inah. Dengan terpaksa wanita paruh baya itupun bergegas menemui Febby yang berada dilantai atas.


Kembali ke moment saat didepan kamar Febby


"Namanya itu.... Ri... Rian non. Iya betul Rian tadi kata mang udin"


"Ryan"


"He'eum non, iya itu namanya"

__ADS_1


Ngapain dia kesini? Batin Febby


"Suruh dia pulang aja bik. Bilang aja kalo Febby nggak kenal dia, gitu"


"Tapi non. Ini betul ndak mau ketemu?"


"Iya. Bilang aja salah rumah gitu. Atau apa kek. Pokoknya Febby nggak mau ketemu"


Tanpa menunggu jawaban dari wanita separuh baya itu Febby segera berbalik dan kembali memasuki kamarnya.


"Owalah... iki piye to ceritane (gimana nih ceritanya)"


Bi Inah hanya menggeleng kepala, heran dengan jawaban Febby. Dan segera berlari menemui mang Udin yang masih menunggu jawaban dari nonanya itu.


"Kumaha bik (gimana bi). Boleh masuk nggak?"


Mang Udin antusias ketika mendapati Bi Inah menghampirinya.


"Kata non Febby. Jangan dibuka!"


"Waduhh... kumaha atuh bilangnya. Udah nunggu lama eta si kasep na"


"Sudah, bilang aja. Non Febby nya udah tidur. Nggak bisa ketemu gitu"


Mang Udin pun keluar lagi untuk menyampaikan pesan dari Bi Inah.


"Maaf den... aden teh pulang saja. Neng Febby nya sudah tidur. Lain kali jangan bertamu malam malam. Pamali. Sok minggir eta mobil. Sebentar lagi majikan saya teh pulang. Jangan ngehalangin jalan!"


Lagi-lagi Mang Udin ketus. Dia tidak tahu saja siapa sebenarnya lelaki muda dihadapannya. Anak seorang konglomerat yang dapat melakukan apa saja hanya dengan sekali petikan jari.


Ryan hanya diam membisu, mendengar penuturan dari Mang Udin.


Segitu nggak mau ketemunya sama aku. Kamu Fe?? batin Ryan lagi.


Sudah susah payah dirinya mengikuti cewek itu sampai rumahnya. Dan saat berkunjung pun cewek itu enggan menerimanya.


Gini ya rasanya ditolak... sakitnya tuh disini. (Menyentuh dadanya)


Ryan baru merasakan apa itu penolakan.


Selama ini dirinya lah yang menolak para cewek yang mendekatinya. Tanpa berpikir bagaimana sakitnya mereka.


Dikamar Febby


Febby berdecak untuk yang kesekian kalinya.


Ponselnya berkali-kali berdering, dari chat WhatsApp hingga panggilan masuk.


Dan tentu saja dari orang yang sama, yang tengah mencarinya hingga mengunjungi rumahnya.


Cewek tomboy itu menatap kepergian cowok yang tengah mengganggu nya akhir akhir ini, dengan mengintip dibalik gorden kamarnya.

__ADS_1


"Ck... dasar kurang kerjaan "


__ADS_2