Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
Bagai langit dan bumi


__ADS_3

 


"Masuk rumah kok nggak salam sih??" Ucap Wanita paruh baya itu dengan lembut sembari mengulurkan tangannya kepada sang putra, Rizal pun meraih tangan yang sedikit keriput tersebut kemudian mencium bagian punggung nya.


 


"Ibu kok jam segini ada dirumah?? Emang ibu nggak jualan?"


Tunggu.


Jualan??


Ibunya memang seorang penjual kue keliling. Sejak sang ayah pergi untuk selama-lamanya, hanya itu yang mampu ibu Rahma lakukan untuk menghidupi mereka berdua. Selain tidak ada modal lebih. Juga agar dirinya tetap dapat memantau perkembangan Rizal, yang saat itu hanya anaknya lah yang menjadi nafas hidup serta penyemangat nya.


Rizal bukan tidak ingin menyatakan perasaannya kepada cewek tomboy itu dan menuntut balas. Tetapi Rizal terlalu malu dan minder untuk berjajar ataupun berjalan beriringan dengan gadis itu.


Apalah daya. Ia hanyalah orang biasa, anak seorang penjual kue, yang tidak memiliki ayah, hidup sederhana bersama sang ibu. Dan hanya dapat mengandalkan bea siswa untuk melanjutkan pendidikannya.


Sedangkan Febby, dilihat dari sepeda motornya saja sudah jelas harganya selangit jika dibandingkan dengan miliknya yang hanya motor metic biasa.


Rizal jadi teringat pembicaraan dirinya dengan Larasati , ketika mereka tengah berada disebuah cafe sepulang dari toko buku.


"Kenapa elo nggak nyoba nembak si Febby aja sih. Nggak capek apa, cuma diem diem jadi pengagum dia dari jauhh??"


Rizal tergelak mendengar ucapan Laras yang tiba-tiba. Ia tersenyum simpul lalu berkata "Nggak lah. Kalah kece gue, kalo dibandingin sama dia, Ras"


Memang sejauh ini dirinya hanya seorang pengagum yang setia seorang Febby.


Apakah sesulit ini merasakan cinta. Jangankan untuk menuntut balas, bahkan untuk menyatakannya saja seolah dunia mereka terbelah hanya karena kondisi finansial.


Apa semua orang juga merasakan apa yang dirinya rasakan.


Apakah dirinya yang miskin tidak berhak merasakan rasanya mencintai dan dicintai??. Jika dibandingkan dengan gadis tomboy itu, kehidupan mereka bagaikan langit dan bumi yang mana Rizal sulit untuk menggapai dunia milik Febby.


Ketika dirinya menyadari perasaannya kepada Febby yang tidak biasa, Rizal sempat berfikir, mungkin ini hanyalah cinta monyet sebab saat itu dirinya memang masih duduk dibangku SMP.


Tetapi siapa yang sangka jika semakin berganti hari perasaannya semakin besar dan memuncak hingga saat siang tadi dirinya menyaksikan dengan kedua matanya sendiri, cewek tomboy itu berciuman dengan pria lain yang jelas tidak sebanding jika disamakan dengan dirinya yang miskin itu.


Tepukan di pundak Rizal menghentikan lamunannya.

__ADS_1


"Kok melamun sih. Ganti baju gih. Ibu udah masak makanan kesukaan kamu"


Rizal tersenyum miris membayangkan, jika dirinya benar-benar menyatakan perasaannya kepada Febby, entah apa yang akan terjadi.


"Iya bu " jawab Rizal menimpali ibunya yang menyuruh dirinya berganti baju dan makan.


Malam hari dirumah Febby


Febby tengah menerawang jauh pada langit-langit diatas tempat tidur nya.


Mengingat kejadian siang tadi, sungguh diluar nalar. Seseorang telah mencuri ciuman pertama nya yang dia jaga selama ini.


Tetapi bukan ini yang dirinya harapkan. Dia ingin memberikan ciuman itu kepada Seseorang yang dia sayangi kelak. Bukan si Ryan yang dirinya sendiri saja tidak mengenal siapa cowok tersebut.


Tanpa sadar Febby menyentuh bibirnya dengan jemari lentiknya.


"Jadi. Apa elo bakalan nerima Ryan jadi pacar lo Fe?" Suara dari earphone yang terselip ditelinga kanannya, Seketika membuatnya berhenti melamun.


"A-apa'an sih lo Ras. Gue kenal dia juga engga. Main terima aja. Apalagi kalo Rangga tau. Bakal gimana posesifnya dia sama aku. Hati gue gak segampang itu buat terbuka lagi untuk seseorang Ras"


"Well. Apapun keputusan elo. Gue bakalan dukung kok. Asal elo happy, gue sebagai sahabat elo juga ikutan happy" balas Larasati dari ujung telepon.


"Thanks Ras. Elo emang yang terbai..." belum juga Febby menyempurnakan ucapan nya.


"Non... ada tamu"


Tiba-tiba bi Inah mengetuk pintu kamar Febby.


"Eh udahan dulu ya. Gue dipanggil"


"Oke bye. Sampai Ketemu besok"


Tutt tutt tutt


Sambungan telepon pun terputus.


Febby segera merangkak meninggalkan tempat tidurnya menuju pintu kamar yang sempat diketuk oleh bi Inah dan membukanya.


"Ada apa bik?"

__ADS_1


"Ada yang nyariin non Febby"


Dirumah Larasati


Laras mematikan Sambungan telepon dengan sahabatnya.


Tatapannya menuju cowok tampan yang duduk tidak jauh dari posisi dirinya duduk saat ini. Lalu berkata


"Elo udah denger sendiri kan, jawabannya dari Febby"


"Jadi elo masih punya kesempatan buat dapetin dia. Mau elo anak orang pejabat kek. Anak presiden kek. Anak penjual kue keliling sekalipun. Hidup elo, ya elo yang berhak nentuin. Masalah hasil terserah nanti. Yang penting elo mau berusaha" Laras menjeda sejenak lalu "Gue bakalan bantuin elo"


"Thanks ya Ras."


Laras tersenyum kepada cowok tampan itu sebagai jawaban.


Ya, pada akhirnya Rizal ingin mencoba mendekati cewek yang selama ini dirinya kagumi tersebut.


Benar apa yang dikatakan Larasati, semua orang berhak mencintai dan dicintai.


Dan Rizal sendiri lah yang berhak menentukan akan bagaimana nantinya kehidupan yang dirinya inginkan.


🌳


HELLO... AUTHOR BALIK LAGIH.


APA ADA YANG KANGEN SAMA RYAN DAN FEBBY??


Maaf kalo kebanyakan narasi... aku paling gak bisa kalo buat percakapan...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys. Like dan koment. Biar semangat 45 nulisnya...


Oiya maaf banget karena lama gak update.


Bukan cuma waktunya aja gak gak ada. Aku juga terancam hiatus, haduhh...


Gak apa apa lah ya kalo update nya agak lama... yang sabar nggeh.


Untuk kritik dan sarannya saya tunggu. Terimakasih.

__ADS_1


Salam Author.


__ADS_2