Si Nona Tomboy

Si Nona Tomboy
CALON MAMI MERTUA (flashback)


__ADS_3

"Jadi, kamu pacar Febby. Anak tante?" Tanya Wanita itu ketika lelaki muda di hadapan nya tengah menyalami dan mencium punggung tangannya.


Flashback


Di area parkir kampus. Ryan tidak menyerah begitu saja ketika Larasati yang notabenya sahabat baik cewek pujaan hatinya itu, menolak dan enggan memberi tahu keberadaan Febby.


Saat Laras berhasil menyingkir kan tangan kekar Ryan dari pintu mobilnya sehingga menghalangi nya untuk segera berlalu, padahal saat itu dia benar-benar buru-buru karena sudah ada janji dengan Rizal.


Ryan berdiri dan merentangkan kedua tangannya guna menghalangi mobil Laras melaju meninggalkan halaman kampus.


"Kampret lo emang yah Ryan? Mau gue tabrak, udah bosen hidup lo ya?? " Ucap Laras sambil kepalanya sedikit keluar dari jendela mobilnya, ia mulai emosi, gadis itu berdecak kesal dan membunyikan klaksonnya berkali-kali.


"Please Ras. Masa iya lo tega ngebiarin harga diri seorang tuan muda kayak gue menurun karna ngemis-ngemis gini sama lo. Ayolah, kasih tau aja dimana rumah Febby. Selebihnya biar gue dah yang urus. Lo gak usak takut" teriaknya dari depan, masih merentangkan tangannya mengahalangi Laras untuk melajukan mobilnya.


TIN... TIN...


Dan klakson mobil Laras mulai berbunyi kembali untuk yang kesekian kalinya. Kepala Laras keluar lagi melalui jendela mobilnya yang masih terbuka.


"Gue tabrak nih. Ck bikin kesel aja sih"


"Tabrak aja, tabrak" Aziz dan Andre muncul dari arah berlawanan.


"Rese emang lo berdua. Bukannya belain malah gue dibuli"


"Nggak apa-apa. Kalo lo mati mayat lo gue kasih ke Febby sebagai bukti kalo lo cinta mati ama dia. Liat tuh, dia bakal nangis apa nggak dihadapan mayat lo" celetuk Aziz seraya menepuk pundak Ryan.


"Wah ide lo bagus juga tuh. Bisa dicoba emang" Andre menyahut.


"Sahabat kurang ajar emang lo pada. Masalahnya sekarang aja Febby nya belom cinta ama gue. Nerima telepon aja gak mau apalagi nangis depan mayat gue. Yang ada gue mati sia-sia iya. Dikacangin ama dia"


TIN.... TIN...


"Malah pada ngrumpi nih bertiga. Sial, gue udah ditunggu ama Rizal lagi" gerutunya.


Laras melambaikan tangan pada Ryan agar cowok itu mendekat. Namun cowok itu menggeleng dengan raut wajah yang ditekuk, mungkin takut jika Larasati membohongi nya. "Lo masih mau tau tentang Febby apa kagak?" Teriaknya dari dalam mobil. Laras mulai sebal, cowok itu benar-benar menghambat dirinya untuk segera berlalu.


Ryan yang mendengar nama Febby langsung berlari menuju mobil gadis itu dan bahkan masuk dan duduk di sebelah nya "nih gue kasih tau. Ah iya, kemarin lo ada chat atau telepon Febby apa nggak?" Ryan terlihat menganggukkan kepalanya berkali-kali.


"Nah pas pagi si Febby telepon gue. Dia bilang hp nya rusak, kayaknya dia banting tuh hp gara-gara liat chat dari lo. Dia gak suka ada nomer asing masuk hpnya" ucap Laras sok tahu. Padahal dia tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Dia hanya ingin cowok itu berhenti mengganggu nya.

__ADS_1


"Dia se-garang itu ya?" Jawab Ryan polos.


"Iya. Dia tuh garangnya gak ketulungan. Makanya lo mending nyerah aja deh sebelum kena bogem dari dia. Pasti sakit tuh. Badan dia lebih gede dari gue"


"Iya gue tau. Lo mah krempeng gak ada isinya. Kalo dia kan seksi tuh"


Laras memukul lengan Rayn.


"Rese banget lo yah. Bukan say thankyou malah ngejekin gue. Udah sana, serah lo dah mau ngapain setelah ini. Cari dia pake usaha lo sendiri, gue gak mau tau. Dan lo gak boleh kasih tau dia kalo gue yang bilang gini sama lo. Awas aja lo kalo sampe ngadu, gak bakalan gue kasih lo info lagi soal dia"


"Siap. Tenang aja. Semua terkendali"


"Ya udah sih, kapan lo keluar dari mobil gue. Gue mau caow nih"


"Oh iya. Oke deh thanks. Bye, ati-ati"


Ryan keluar dari mobil Laras dan membiarkan cewek itu berlalu.


"Ahh sial kenapa jadi gue sok akrab gini ama dia" batin Laras disela-sela menyetirnya meninggal kan area kampus.


Sedangkan cowok itu juga menghampiri tempat dimana mobilnya terparkir yang disana sudah ada Aziz dan juga Andre yang tengah bersandar pada body mobilnya.


"Pencerahan. Lo pikir abis didengerin ceramah kali dapet pencerahan" Aziz menyahuti.


Ryan malah tersenyum licik. Banyak rencana yang berada dibenaknya.


"Gue cabut duluan yak. Mau melancarkan misi dan aksi" dengan segera cowok itu menekan tombol kunci pintar mobilnya dan masuk dalam satu gerakan.


Andre dan Aziz hanya melongo melihat tingkah temannya. "Wah giliran dapet pencerahan dia langsung cabut bro" Aziz merengkul Andre.


"Bener tuh. Kayaknya wejangan dari Laras ampuh"


🌳


DiButik mami Siena


"Jadi, kamu pacar Febby. Anak tante?" Tanya Wanita itu ketika lelaki muda di hadapan nya tengah menyalami dan mencium punggung tangannya.


"Iya tan"

__ADS_1


"Ya ampun ganteng gini pacar Febby. Kok tante nggak tau ya" mami Siena meraup wajah Ryan dan membolak balik ke kanan dan ke kiri, seolah meneliti bagian mana yang cacat diarea wajahnya. Namun nihil.


"Ayo masuk sini" mami siena memeluk lengan Ryan, menuntunnya menuju ruangannya. "Mirna tolong pesenin minuman sama cemilan di kafe depan yah. Buruan" titahnya pada Mirna ketika melewati karyawannya itu. Dan Mirna mengiyakan dan segera berlalu.


Mami Siena mengajak Ryan masuk kedalam ruangan pribadinya dalam butik itu. Ruangan itu mami Siena sendiri yang men-design nya agar senyaman mungkin. Disana terdapat sebuah kursi dan satu meja lalu didepannya ada sofa yang memudahkannya jika menerima klien lebih dari satu orang dan ada sebuah pintu lagi didalam sana yang merupakan sebuah kamar. Persis seperti ruangan CEO dalam kantornya yang memiliki kamar pribadi. Tapi yang membedakan disini terdapat sebuah televisi berukuran besar diseberang sofa yang Ryan duduki saat ini.


"Kok nggak bareng Febby kesininya?" Mami Siena menjatuhkan bokongnya disebelah Ryan.


"Enggak tan Febby juga nggak tau kalo aku kesini?"


"Lah kok gitu?"


Ryan menyodorkan sebuah paper bag yang dia pegang sedari tadi.


"Ryan kesini cuma mau nitip ini sama tante. Tolong kasih ke Febby. Tadi dia nggak ke kampus soalnya"


"Nggak ke kampus?" Mami menerima paperbag yang diberikan Ryan. Ryan mengangguk. "Terus, apa ini? Kok nggak ke rumah aja, kasihin langsung sama Febby nya"


"Hehe. Nggak tan. Soalnya kita lagi berantem. Sampe dia banting hpnya sampe rusak. Makanya aku kesini aja titip sama tante. Takutnya kalo ke rumah dianya nggak mau ketemu sama aku" Ryan mengusap tengkuknya merasa kikuk.


Salah si memang tapi tidak semuanya berbohong kan. Toh memang benar jika hp gadis tomboy itu memang rusak.


"Kalo tau rumahnya mah udah gue samperin dari tadi dah" batin Ryan.


Mami Siena ber'oh ria. Banyak lagi yang mereka bincangkan.


Senangnya bukan main hati mami Siena. Akhirnya setelah beberapa tahun anak gadisnya menjomblo tiba-tiba dia kedatangan seorang lelaki muda yang ternyata kekasih anaknya itu. Ups ralat, mengaku sebagai kekasih anaknya.


Dirinya sudah kehabisan akal dengan tingkah gadis semata wayangnya, bahkan takut jika anak gadisnya itu sampai-sampai berbelok arah, alias tidak lagi menyukai Laki-laki.


Tapi kini dunia seolah sedang melimpahkan kebahagiaan kepadanya. Mengetahui bahwa anak gadisnya bukanlah orang yang seperti itu. Bahkan kekasihnya adalah anak dari teman kuliahnya dulu.


"Jadi kamu anaknya jeng Diva?? Yang dipesta malam itu kan?"


"Iya tan"


"Duh ternyata dunia itu selebar daun kelor yah"


Gelak tawa keduannya menggema memenuhi sudut ruangan itu. Ryan juga meminta agar mami Siena merahasiakan pertemuannya kepada Febby.

__ADS_1


Tak apalah berbohong. Toh mami Siena ini akan menjadi calon mertuannya juga kan. Daripada anaknya susah didekati lebih baik emaknya dulu yang dia dekati batinnya.


__ADS_2