
Rasanya begitu lelah sekali malam ini, Aku hanya mampu menatap langit-langit kamar sambil meneteskan air mata. Rasa lapar dan rasa sakit sudah bercampur jadi satu.
Mas Kevin cinta pertamaku, belum pernah Aku merasakan cinta dan rasa sakit karena cinta.
Sudah Ra sudah...... sampai kapan kamu mempertahankan cinta seperti ini. Setiap hari harus sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan Ayah Mas Kevin. Tiara terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Kring.... kring.... kring ....
Handphone Tiara terus saja berbunyi, namun Tiara hanya melihat dan membiarkannya terus berdering.
Kevin memang sedang berusaha menjelaskan masalah perjodohan tadi kepada Tiara. Namun Tiara tidak mau mengangkat telepon dari Kevin. Malam ini Tiara memutuskan untuk tidur lebih awal.
Tiara terbangun diwaktu subuh, matanya terlihat begitu lebab karena menangis tadi malam. Tiara mengambil handphone di meja kamar, Dia melihat begitu banyak panggilan tak terjawab serta beberapa pesan yang belum sempat terbuka.
Dia membuka semua pesan ternyata dari Kevin. Hanya ada satu pesan dari dokter Andi. Sebuah informasi seminar mengenai bahaya penyakit jantung. Beliau menyuruhku untuk ikut.
Ah untung saja seminarnya jam sepuluh pagi, jadi Aku bisa mengurangi mata lebamku, gumam Tiara.
Karena malu untuk pergi keluar, Tiara memesan makanan secara online. Setelah sarapan Tiara lekas berganti baju dan segera berangkat ke acara seminar itu. Letaknya lumayan jauh hingga Tiara membawa baju ganti agar bisa sekalian berangkat ke klinik.
Sesampainya di sebuah hotel Tiara langsung segera menuju ke gedung pertemuannya. Namun betapa kagetnya Tiara ketika pintu lift terbuka, ternyata Dokter Alvin juga ikut diacara seminar ini.
Dokter Alvin yang hendak keluar, mengurungkan niatnya. Dia kembali masuk untuk menuju keatas.
"Ra, apa kabarmu", ucap Dokter Alvin.
"Baik Mas", jawab Tiara ketus.
"Ra, Aku masih mencintai kamu. Kini sudah tidak ada yang Aku takutkan lagi. Aku akan berjuang untuk kamu Ra".
lift mulai terbuka, Tiara berjalan keluar dan memasuki sebuah ruangan.
"Ra.... dengarkan Aku".
"Sudahlah Mas, kita berteman saja. Kamu lebih pantas dengan Dokter Naura".
"Vin......Alvin". Terdengar seseorang memanggil Dokter Alvin. Ternyata Dia teman sekelas Dokter Alvin waktu kuliah dulu.
Beruntung Akhirnya Aku bisa menghindari Mas Alvin, gumam Tiara.
__ADS_1
Tiara mencari-cari tempat duduk yang masih kosong. Namun tiba-tiba dari kursi tengah seseorang memanggilku dan melambaikan tangannya.
"Kak... Kak Tiara sini".
Tiara tersenyum dan menghampirinya. Tiara bersalaman dengan wanita cantik seumuran dengannya.
"Masih kuliah apa sudah jadi dokter muda nih", tanya Tiara
"Masih kuliah kak, tapi sebentar lagi lulus, langsung lanjut sekolah lagi".
"Oh yah tadi jika saya tidak salah dengar, kamu panggil saya Tiara yah. Kok tahu yah?".
Wanita cantik itu tersenyum.
"Saya adiknya Mas Kevin kak, Saya sering lihat foto kak Tiara dihandphonenya Kak Kevin. Oh yah kak Perkenalkan saya Nindi".
"Lo kok bisa kebetulan nie. Kamu tahu Mama Aisyah sedang sakit Lo, kamu kok ndak pulang?".
"Tadi malam Aku tidur dirumah sakit kak, nungguin Mama sama Kak Kevin".
"Oh kirain kamu belum tahu. Oh yah Aku praktek disana juga tiap sore sampai jam sembilan malam".
"Iyah Nin, makasih yah".
Acara sudah dimulai Tiara mendengarkan narasumbernya dengan baik, karena beliau seseorang Dokter yang sudah terkenal dikota ini.
Setelah hampir empat jam mendengarkan acara ini. Akhirnya selesai juga dijam 14.45.
"Nin, Aku mau langsung ke klinik. Apa kamu bareng?", ucap Tiara
"Iyah kak, Aku sekalian jaga Mama, mumpung besok Aku libur", jawab Nindi.
"Okay, Ayo Nin".
Mereka berjalan menuju ke parkiran untuk mengambil motor. Namun dari arah belakang tiba-tiba tangan Tiara ditarik. Spontan Tiara menoleh kebelakang, ternyata itu Dokter Alvin.
"Tunggu Ra, Aku mau menjelaskan semuanya", ucap Dokter Alvin.
"Maaf Mas, mungkin lain kali saja. Saya harus praktek sekarang", jawab Tiara.
__ADS_1
"Mas Lepas atau Aku teriak sekarang".
"Hati-hati dijalan Ra. Maafkan Aku".
Tiara lekas melajukan motornya. Terlihat Dokter Alvin masih menatap Tiara dengan wajah yang penuh rasa kecewa.
Sementara itu Kevin sudah merencanakan pertemuan untuk Tiara. Nindi memberitahukan bahwa Dia sedang bersama Tiara.
Nindi melajukan motornya sejajar dengan Tiara.
"Kak, kita makan dulu yuk", ucap Nindi
"Iyah Ayo", jawab Tiara.
"Kak Tiara ikutin Aku saja yah".
Tiara mengikuti motor Nindi dari belakang. Tak lama Nindi berhenti disebuah kafe yang tak jauh dari klinik tempat Tiara praktek.
"Kak, kita kelantai dua saka yah, pemandangannya lebih bagus", ucap Nindi.
"Iyah Nin", Jawab Tiara.
Tiara berjalan menuju kelantai dua, dan benar pemandangannya memang bangus.
"Kak, Aku pesenin makanan samain saja dengan kamu. Aku mau ketoilet dulu", ucap Nindi.
"Iyah Nin", jawab Tiara.
Selang beberapa waktu, terlihat Kevin berjalan perlahan untuk menghampiri Tiara.
Itu Mas Kevin beneran apa khayalanku saja, gumam Tiara.
Kevin semakin lama semakin dekat. Kevin tersenyum dan menyapanya.
"Hai Ra, boleh duduk disini kan?".
Tiara hanya menganggukan kepalanya dan sesekali mengucek matanya.
Ah..... ini cuma khayalanku. Rasa sakitku membuatku berhalusinasi. gumam Tiara.
__ADS_1