
Keesokan harinya, sepasang suami istri itu mondar-mandir ke sana kemari mencari sebuah kamera yang ditemukan Zevanya di TKP. Arga maupun Zevanya tidak menemukannya. Akan tetapi, gadis itu menemukan sebuah kamera pengintai di atas lemari pakaiannya. Entah sejak kapan kamera tersebut berada di sana. Zevanya hanya khawatir seluruh tubuhnya sudah terekspos dan dilihat oleh si stalker itu sendiri.
Gadis itu segera memberitahukan hal tersebut kepada suaminya. Arga memandangi boneka di hadapannya. Ada warna merah seperti lampu LED berkedip di mata kanan boneka itu, ia memutuskan untuk mencabutnya.
“Lihat, kan? Entah apa jadinya kalau kamu menaruh boneka ini di kamar.” ucap Arga.
“Tapi masalahnya itu udah terjadi. Gue juga nemuin kamera yang sama di kamar.” jawab Zevanya. Spontan, ia menyentuh bibirnya sembari mengingat apa yang terjadi semalam. Arga menciumnya sangat lama, setelah itu Zevanya tak mengingat apapun lagi.
“Kita kehilangan satu bukti. Ini pasti kesengajaan, ada yang ingin menghilangkan bukti.”
Zevanya berpikir sejenak. “Bisa jadi, orang yang semalem gue liat itu ... Pelakunya? Gue yakin setelah kita sampe di rumah, dia buru-buru cari tempat sembunyi biar nggak ketauan. Dia masuk lewat balkon, keluar juga lewat balkon.”
“Masuk akal. Jadi, sebelum dia sembunyi di kamar kamu, si pelaku sudah mencuri kamera itu.”
Ponsel Arga dan Zevanya berdering secara bersamaan. Mereka membuka satu pesan yang belum terbaca itu. Keduanya terdiam untuk sesaat, sebelum menekan video yang dikirimkan oleh nomor misterius itu. Zevanya dan Arga saling menatap tak percaya, video mereka berdua berciuman sudah tersebar di grup sekolahnya.
Siswa-siswi di grup sekolah, saling melempar percakapan tak menyangka dengan perilaku ketua kelas mereka. Cacian dan makian mereka lontarkan, nomor misterius itu pun sudah keluar dari grup setelah menyebarkan video tersebut. Zevanya dan Arga menatap satu sama lain, kemudian mengangguk.
“Tidak ada cara lain, selain mengungkapkan hubungan kita. Kamu tidak mau kan, dianggap kita ini kumpul kebo?”
“Oke, karna ini keadaan darurat.”
.
.
.
.
Saat berjalan di lorong sekolah, mata para siswa menatap Zevanya dengan tatapan jijik. Gadis itu beralih membuka lokernya, menghiraukan mereka yang sedang bergosip. Bola matanya terbuka lebar melihat beberapa lembar foto memenuhi isi lokernya, ia mencabutnya satu persatu.
“Katanya nggak bisa bersentuhan sama lawan jenis, tapi kok ... Ciuman sama om-om, haha!”
__ADS_1
“Kira-kira semaleman di bayar berapa, ya?”
“Munafik. Di depan nggak keliatan deket sama cowok, eh, di luar sekolah ternyata jadi pelacur.”
PLAK!
Sudah cukup, ini sudah keterlaluan. Zevanya tidak bisa membiarkan nama baiknya tercemar begitu saja hanya karena unggahan video. Ia menampar salah satu siswa yang mengatainya. Setelah selesai memberi hukuman pada siswa tersebut, gadis itu berjalan menaiki tangga ke kelasnya. Indah terlihat keluar dari kelas, lalu berlari ke arah Zevanya.
“Zev, ini pasti nggak bener, kan? Cewek yang di dalem video bukan lo, kan?” tanya Indah.
“Bener, kok. Yang di dalem video itu gue.” jawab Zevanya dengan santai.
Zevanya berjalan melewati Indah. Mata para siswa sudah terkesiap memandanginya dari dalam kelas, mereka geleng-geleng kepala setelah menyaksikan video yang di unggah itu. Wali kelasnya, Andrian, memanggil gadis itu ke ruangan guru untuk dimintai keterangan atas video tersebut.
“Bapak sangat kecewa sama kamu.” ucap Andrian sembari geleng-geleng kepala.
Zevanya terkekeh geli. “Kenapa Pak Guru harus kecewa sama saya?”
“Kamu sudah mencemarkan nama baik sekolah kita.”
Andrian tertawa kecil. “Bukti? Bukannya video itu cukup jelas? Kamu sebagai ketua kelas harusnya memberikan contoh yang—”
Andrian terdiam melihat buku nikah di hadapannya. Pria itu membukanya untuk memastikan keaslian buku tersebut. Tangannya langsung bergetar menyodorkan buku nikah milik Zevanya. Asli tanpa dibuat-buat. Andrian mempersilakan Zevanya keluar dari ruangan guru, tak lupa memintanya agar tidak membawa masalah ini ke hukum.
Zevanya tersenyum puas. Sejujurnya ia terpaksa membongkar rahasia pernikahannya pada siswa siswi lain, terutama Indah. Namun, karena keadaan mendesak, ia tak punya pilihan lain.
Suasana hatinya sudah cukup membaik, tetapi ada saja seseorang yang tega mencoret meja Zevanya dengan tulisan cecaran dan hinaan. Ia menghela napas kasar, tangannya menggebrak meja dan memperhatikan setiap siswa atau siswi yang duduk di tempat masing-masing. Gadis itu mengetahui siapa pelakunya.
“Lo, ya? Yang coret-coret meja gue?” tanya Zevanya pada Icha, salah satu siswi yang tidak begitu menyukai keberadaannya di kelas kriminologi.
Icha yang duduk sambil menyilangkan kedua kakinya, beranjak dari kursi, menghampiri Zevanya. “Iya. Tapi kan, emang bener. Lo itu ... Pelacur!”
Zevanya melirik siswa-siswi yang menatapnya. “Manusia hanya percaya dengan apa yang mereka lihat, tanpa mencari tahu kebenarannya.”
__ADS_1
“Itu fakta. Lo nggak terima? Udah berapa om-om yang lo gaet? Lo segitunya gila duit sampe jual harga diri?” tanya Icha dengan suara lantang.
Zevanya mengeluarkan buku nikah dari kantung jasnya, ia mengangkatnya ke udara untuk membuktikan dirinya sudah menikah. “Iya, gue sama om-om. Every day! Bahkan kita tidur seranjang.”
Semua siswa membenarkan posisi duduknya, menatap lurus ke depan papan tulis. Mereka menganggap pertengkaran Zevanya dan Icha tidak terjadi.
“Icha, lo bisa gue tuntut ke pengadilan dengan pasal 311 ayat 1. Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukuman penjara selama empat tahun.”
Icha tak mengatakan sepatah kata pun. Hanya diam menunduk menatap sepasang kakinya, ia menggigit bibir bawahnya. Tak menyangka Zevanya akan memperbesar masalah ini.
“Yang dikatakan Zevanya benar. Icha, minta maaf pada Zevanya.” seloroh Andrian yang baru masuk ke dalam kelas.
“Gue minta maaf.” ucap Icha pada Zevanya.
Mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing. Indah memberikan tisu basah untuk membersihkan meja Zevanya yang kotor oleh tulisan spidol hitam. Selang beberapa menit, meja gadis itu kembali bersih seperti sedia kala. Dua siswa tiba-tiba masuk tanpa disuruh oleh guru, berdiri membelakangi papan tulis.
“Nah! Anak-anak, kenalkan ini adalah siswa baru di kelas kriminologi. Ayo, perkenalkan diri kalian.”
“Nama gue Rifky biasa dipanggil Iky. Mohon bantuannya teman-teman.” ucap Rifky. Semua siswi bertepuk tangan sembari berteriak kegirangan melihat wajah tampan lelaki itu.
Andrian menatap siswa di sebelah Rifky. “Kenapa kamu diam?”
“Ah, iya! Maaf, nama gue Zevano. Salam kenal semuanya.”
Zevanya tercengang mendengar nama siswa baru tadi, sedikit ada kemiripan dengan namanya. Ia merasa sesuatu berdenyut keras di kepalanya, telinganya mengeluarkan suara yang membuat pengang. Terlintas di kepalanya, seorang anak perempuan berlari mengejar seseorang sambil berteriak "Bang, Zevan!"
Indah mengguncangkan lengan sahabatnya. “Zev, lo kenapa?”
Pendengaran Zevanya mulai samar, begitu pula dengan pengelihatannya. Kepala bagian belakangnya terasa sakit seakan ada benda tumpul menghantamnya. Gadis itu secepatnya mengerjapkan mata, menyahuti Indah yang memanggil.
Zevanya menarik napas dan menghembuskan perlahan. “Gue nggak apa-apa!”
Mata Zevanya bergerak ke depan, menatap Rifky si murid baru. Ia seperti tidak asing dengan wajah itu. Seulas senyum terbit di wajah lelaki itu, menatap lurus ke arah Zevanya. Kedua matanya membuka lebar melihat senyuman Rifky.
__ADS_1
Oh, ternyata dia. Gebetan yang dibilang Cindy?
To be continued.