STALKER

STALKER
33. Stalker


__ADS_3

Dua mobil Alphard berwarna hitam berhenti di depan gedung sekolah. Beberapa orang berhoodie hitam keluar, memasuki gedung tersebut. Masing-masing dari mereka membawa senjata seperti palu, pisau lipat, dan tongkat baseball. Mereka tak lain adalah sekelompok stalker, yang ditugaskan untuk menyandera semua siswa SMA Dirgantara.


Sebagian sekelompok stalker itu pergi ke ruang guru, kemudian membunuh semua guru-guru yang ada di dalamnya. Salah satu siswa lelaki tidak sengaja melihat beberapa pria berhoodie hitam. Siswa lelaki itu berlari masuk ke kelasnya dan memberitahukan apa yang dilihatnya oleh siswa lain.


Semua panik berlarian mencari tempat persembunyian, ada yang nekat menuruni tangga. Namun, sekelompok stalker itu sudah berjalan mendekati tangga yang menuju lantai tiga. Sementara Arjuna menghubungi sang kembaran, memberitahu kekacauan di dalam gedung sekolah.


Arga: Jangan panik. Tetap tenang seperti biasa, saya akan membawa beberapa polisi.


Setelah puluhan menit menunggu, beberapa mobil pasukan tentara dan polisi baru saja tiba. Di saat yang sama, sekelompok stalker menyuruh beberapa siswa perempuan berdiri di depan jendela kaca. Melihat itu, Arga dan yang lain tidak bisa menyergap si pelaku.


“Gimana ini Detektif? Sepertinya mereka sengaja menjadikan para siswa sebagai tameng.” tanya Rega.


Arga menghela napas panjang sejenak. Ia melihat lantai empat masih sepi dan belum dilewati oleh sekelompok stalker. “Arahkan senapan kalian ke arah lantai empat.”


“Baik!”


Para tentara dan polisi sudah siap dengan senjatanya yang diarahkan pada lantai empat. Karena Arga yakin, mereka akan naik untuk memeriksa.


Tak lama setelah itu, terlihat Rio dan Exel menaiki tangga ke lantai empat. Di sepanjang lorong terdapat jendela kaca yang berderet memanjang. Arga memberikan kode kepada pasukan tentara untuk membidik dua orang itu. Rio dan Exel masuk ke kelas kosong, lalu mereka keluar sambil menyeret Zevanya dan Deska.


DORR!


Saat salah satu tentara melepaskan satu tembakan, Exel refleks menarik tubuh Zevanya sebagai tameng perlindungannya. Peluru yang ditembakkan pun melesat mengenai lengan atas gadis itu. Arga menyuruh mereka berhenti menembak.


“Cukup! Jangan tembak lagi. Dia sengaja berpura-pura tidak menyadari keberadaan polisi. Tetap amati situasi dan jangan sembarang menembak.”


Yang lain mengangguk. Arga hanya bisa berharap Zevanya dan siswa lainnya masih bertahan di dalam sana. Arga melepas jaket kulitnya, kemudian diganti dengan Hoodie hitam yang sama persis seperti sekelompok stalker. Ia berniat menyamar dan masuk ke gedung sekolah, mengamati situasi.


.


.


.

__ADS_1


.


Exel mendorong Zevanya, begitu juga Deska. Mereka duduk di barisan para siswa yang sudah berkumpul. Lengan atas Zevanya terus mengeluarkan darah, sakit, peluru itu bersarang di lengan gadis itu dan harus segera dikeluarkan.


“Yang murid laki-laki bisa keluar sekarang sebelum gue berubah pikiran. Kecuali, Pak Detektif yang menyamar sebagai siswa!” mata Rio tertuju pada Arjuna.


Para siswa laki-laki pun berhamburan menuruni tangga. Ketika mereka menuruni tangga, mereka berpapasan dengan Arga yang akan naik ke lantai tiga.


Rio melemparkan kotak P3K kepada Zevanya. “Jangan manja! Obatin sendiri!”


Zevanya mengulurkan tangan seraya meraih kotak P3K itu. Tetapi, Rio menendang kotak tersebut menjauh dari hadapan gadis itu. Zevano datang mengambilnya, lalu menghampiri kembarannya. Zevano berjongkok, mengobati lengan atas Zevanya dengan mengoleskan cairan alkohol.


“Tahan, ya? Ini bakalan sakit.” desis Zevano. Gadis itu mengangguk.


Zevano tak berani mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan atas Zevanya. Lelaki itu hanya menutupinya dengan perban.


“Siapa yang suruh lo ngobatin dia? Kenapa perhatian banget sih, sama calon mayat-mayat ini?” sarkas Exel pada Zevano.


Zevano berdiri, matanya melototi Exel dengan tatapan tajam. “Kita liat aja nanti siapa yang calon mayat. Lo atau mereka.”


Sementara Arjuna, diam-diam mengambil pistol dari tas ransel milik Zevanya. Kemudian, menyembunyikannya di saku celana. Gavin menampakkan diri bersama Icha yang asyik bergelayutan di lengannya. Lelaki itu tersenyum. Para siswa, termasuk Zevanya dan Deska tidak menyangka bahwa orang yang mereka kenal selama ini, ternyata adalah bos dari anggota kelompok stalker.


Arga dan Arjuna saling melemparkan isyarat melalui tangan. Arga menyuruh kembarannya untuk memberikan pistol tersebut pada Zevanya. Lelaki itu tak mau dan akan menembak sekelompok stalker itu dengan tangannya sendiri.


“Icha? Ternyata lo berkomplot sama mereka?”


“Gila lo Icha, parah banget.”


“Paling juga bakalan berakhir tragis nantinya.“


“Diem, ya, lo semua! Gue tembak satu persatu mati kalian!” Icha berteriak jengkel sambil menodongkan pistol pada para siswa.


“Yang nggak terpilih bakalan tereliminasi. Eh, maksudnya ... Di bunuh. Karna kita cuma butuh beberapa orang aja untuk dijadikan mainan pelampiasan.” Gavin menjelaskan sembari tersenyum.

__ADS_1


“Betul itu kata Bos. Tugas para stalker bukan cuma membunuh, membuntuti dan memerkosa korban. Tapi, menahan satu orang untuk dipertahankan dan disiksa.” timpal Rio.


Gavin beralih menatap Zevanya. “Orang pertama ... Zevanya, bawa dia ke kelas kosong!”


Rio menarik lengan Zevanya yang terluka. Sontak, membuat Zevano menyingkirkan tangan Rio yang menarik kembarannya. Lelaki itu menyembunyikan Zevanya di belakang punggungnya. Ia mengeluarkan pistol dari saku jasnya, lalu menembak kepala Rio dan Exel.


“Nggak ada yang boleh bawa kembaran gue. Kalo kalian berani ... Nasib kalian akan sama kayak Rio dan Exel!” Zevano memperingati anak buahnya Gavin, termasuk bosnya.


Gavin terkekeh, kemudian bertepuk tangan. Ia menunjukkan ponsel yang menampilkan foto Livy sudah tergantung di udara, dengan tali yang mengikat leher wanita itu. “Ups, lo terlambat. Nyokap lo udah ada di alam baka sekarang.”


Tubuh Zevanya melemas, hingga terduduk di lantai setelah melihat foto itu. Gadis itu menangis tersedu-sedu. Ia menggeleng, berusaha tak mempercayai foto tersebut. “Lo bohong kan, lo sengaja biar Zevano nggak bisa berkutik lagi?”


Gavin mengangkat bahu. “Nggak kok. Nyokap lo sendiri yang ngelakuin itu, bahkan disiarkan secara langsung melalui live Instagram. Padahal, gue cuma bilang Papa kita kesepian di alam baka, Papa terus manggil nama Mama saking kangennya.”


Gavin menyuruh Rio untuk menyiarkan kematian Livy di akun Instagram Aamon. Ia mengetahui bahwa Livy belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergian Wijaya, meskipun kelihatannya wanita itu baik-baik saja dan masih bisa beraktivitas kembali. Lalu, Gavin menggunakan kesempatan itu untuk membuat mental Livy hancur dengan mengirim pesan.


Di saat semuanya sedang serius, Arjuna berdiri. Lelaki itu pelan-pelan melangkah mendekati Zevanya. Arjuna menodongkan pistol, membidik kepala Gavin. Arga kembali memberi isyarat pada Arjuna. “Itu pistol replika. Tidak ada peluru di dalamnya. Turunkan pistol itu sekarang!”


“Pak Detektif yang satu ini lucu, ya? Di saat semuanya lagi serius, dia malah mengambil kesempatan. Lo pikir cuma Detektif doang yang punya senjata api?”


Rio dan Exel, berserta anggota lainnya balik menodong pistol ke arah Arjuna. Lelaki itu menarik pelatuknya, sayangnya, tidak ada satupun peluru yang keluar. Arjuna mendorong Zevano, lalu mendekap erat Zevanya. Mereka menembaki punggung Arjuna.


Semua siswa menunduk, begitu pun Arga dan Zevano. Sebuah darah menetes di dahi Zevanya. Cairan merah itu berasal dari mulut Arjuna. Seketika, tubuh lelaki itu jatuh di lantai. Mendengar suara tembakan dari dalam gedung, para polisi dan tentara menyerbu masuk. Gavin dan anak buahnya yang menembaki Arjuna bergegas pergi, membawa semua siswa dan Deska. Mereka kabur melalui pintu belakang.


Zevanya menggoyangkan tubuh Arjuna. “Arga, lo pasti bisa bertahan. Jangan tinggalin gue ... .”


Sebuah senyuman terbit di wajah Arjuna. Tangannya terulur hendak meraih pipi Zevanya. Tangisan ini bukan buat gue, tapi Arga. Lo beruntung, Ga. Punya pendamping hidup kayak Zevanya, gue iri banget sama lo.


Belum sempat memegang pipi gadis itu. Perlahan, kesadaran Arjuna mulai menghilang. Zevanya menyandarkan kepala di dada bidang Arjuna. “Arga lo jahat. Kenapa lo ninggalin gue.”


Zevano memeluk kembarannya. Suara tangisan gadis itu semakin kencang seperti anak kecil yang ditinggal pergi orang tuanya. Arga menitipkan istrinya sebentar pada Zevano. Lelaki itu pergi menyusul rekan-rekannya yang mengejar anggota kelompok STALKER.


“Jangan sedih, lo nggak akan kehilangan Arga. Orang yang lo tangisin sekarang, bukan Arga. Tapi, Arjuna.”

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2