STALKER

STALKER
24. Wajah Si Pelaku


__ADS_3

“Kenapa semua orang ngeliatin gue?” dahi Zevanya mengernyit heran.


Sejak gadis itu tiba di rumah sakit, orang-orang yang dilewatinya selalu memperhatikannya, ada pula yang menertawainya. Zevanya jadi semakin penasaran apa yang membuat mereka begitu. Namun, ada seorang suster berjalan menghampiri Zevanya sambil membawa nampan besi.


“Selamat pagi, Kak. Maaf, kalau boleh tau leher Kakak kenapa, ya?” tanya suster itu.


“Hah? Leher?” Zevanya meraba lehernya. Terasa perih, di satu titik bekas cupangan Arga. Gadis itu membelalakkan mata ketika baru menyadari ada yang dirasa. Pantas saja dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang di rumah sakit, ternyata karena bekas cupangan itu.


Suster itu tertawa, lalu memberikan plaster kepada Zevanya. “Ini Kak, saya ada plaster untuk menutupi luka Kakak yang ada di leher.”


“Oh! Iya, makasih.”


Zevanya segera menempelkan plaster tadi di lehernya, di bagian area yang terdapat bekas cupangan. Dengan begini orang-orang tidak akan ada lagi yang memperhatikannya. Ia meneruskan langkahnya masuk ke dalam lift, di ikuti oleh dua orang bertopi hitam dengan mulut yang ditutupi masker. Ia memencet tombol empat, salah satu dari mereka pun sama. Di dalam lift itu hanya ada tiga orang.


Dua orang di kiri kanan Zevanya adalah Satria dan Xavier. Mereka diperintahkan oleh Gavin untuk merebut hasil tes DNA itu. Pintu lift terbuka, gadis itu keluar lebih dulu sampai jarak mereka berjauhan. Satria dan Xavier melangkah mengikuti Zevanya ke ruang laboratorium. Mereka berhenti mengikutinya dan menunggu gadis itu keluar dari sana.


Selang beberapa menit kemudian, Zevanya keluar dari ruang laboratorium. Raut wajah gadis itu terlihat senang menatapi amplop putih berisi hasil tes DNA. Satria dan Xavier kembali berjalan di belakang. Langkah kaki Zevanya berhenti di depan pintu lift, ia merasakan ada seseorang mengikutinya sedari tadi. Kemudian, ia menoleh untuk memastikannya.


Jangan-jangan mereka ... Stalker?


Dengan tergesa-gesa, Zevanya berlari menuju tangga darurat. Tidak ada waktu untuk menaiki lift. Derap langkah kaki dua orang itu terdengar semakin jelas di telinganya, yang artinya mereka berdua sedang mengejarnya. Satria yang alih parkour, melompat ke bawah untuk menghalangi jalan Zevanya. Ia berbalik, Xavier sudah bersiap di belakangnya.


Zevanya mengeluarkan pistol replika, guna mengancam mereka berdua. “Mundur! Atau peluru ini menembus kepala kalian!”


Satria merampas pistol replika milik Zevanya, kemudian membuangnya ke sembarang arah. Lelaki itu mendorong tubuh Zevanya hingga terhuyung ke tembok. Sementara Xavier merebut amplop putih itu. Namun, Zevanya menarik tangannya yang sedang menggenggam amplop tersebut. Xavier naik pitam dibuatnya, lalu membiusnya dengan suntikan obat tidur. Teknik ini sudah sering mereka lakukan untuk mempermudah menangkap korban.

__ADS_1


Tubuh gadis itu beringsut ke bawah, kelopak matanya menjadi berat, seolah menuntunnya untuk memejamkan mata. Xavier mengambil hasil tes DNA itu dari tangan Zevanya. Lelaki itu membukanya karena penasaran dengan isinya.


Xavier tertawa kecil. “Ternyata cewek ini kembaran Zevano. Pantesan waktu itu dia keliatan marah banget.”


“Oh, iya?” Satria meraba wajah Zevanya. “Emang mereka keliatan mirip, sih. Ditambah kulitnya mulus banget.”


Sejenak, mereka saling melempar pandang. Satria maupun Xavier sudah mengetahui isi otak masing-masing. Sia-sia saja jika mereka hanya mengambil hasil tes DNA itu, Satria hendak menggendong tubuh Zevanya. Seseorang berpakaian serba hitam dengan penutup mulut menendang tubuh Satria.


“Woi! Siapa lo?!” teriak Xavier.


Seseorang itu langsung melayangkan palu di kepala Satria, hingga tembok yang tadinya bersih, kini harus terkena cipratan darah. Xavier memilih melarikan diri, sayangnya, kakinya di tarik oleh seseorang itu dan memukul punggung kakinya. Lelaki itu hanya bisa berjalan terseok-seok di tangga.


Sepasang kaki berdiri di hadapan Xavier, lalu berjongkok seraya membuka penutup mulutnya. “Ini akibatnya kalo lo ngusik kembaran gue.”


“Zevano? Gue cuma ngikutin perintah dari bos! Gue nggak ada niatan buat apa-apain kembaran lo. Percaya sama gue!” elak Xavier dengan wajah memelas.


Untung saja aksi pembunuhan yang dilakukan Zevano tidak tertangkap kamera CCTV. Karena sebelumnya, ia sempat menyamar sebagai penjaga CCTV untuk mematikan semua kamera yang terpasang di rumah sakit tersebut. Ia meletakkan palu itu di tangan kiri Satria, agar semua orang menganggap mereka berdua berusaha membunuh satu sama lain.


Sidik jari Zevano tak akan terdeteksi. Sebab, lelaki itu menggunakan sarung tangan saat membunuh Satria dan Xavier. Setelah itu, ia mengambil ponsel Zevanya dari dalam tas selempangnya dan menghubungi Arga untuk bertemu di sebuah lokasi yang sudah ia kirimkan.


Zevano meraih amplop putih yang kotor terkena bercak darah, ia bergantian menatap Zevanya. “Apa gue masih pantes jadi kembaran lo?”


.


.

__ADS_1


.


.


Para warga komplek perumahan dibuat geger oleh penemuan seorang mayat wanita di rumah Arga. Kondisi mayat wanita itu sudah terbungkus karung plastik, di sekujur tubuhnya juga terdapat banyak luka sayatan. Rumah yang dihuni oleh pasangan suami istri itu sudah berantakan layaknya kapal pecah, bercak darah ada di mana-mana.


Arga dan Rega saat ini sedang memeriksa CCTV. Mereka berdua bernapas lega mendapati CCTV yang masih menyala. Arga memutar rekaman CCTV satu persatu. Terlihat ada Gavin yang memanjat gerbang, di sampingnya, terlihat Zevano dan Queen mengendap-endap berjalan ke arah halaman belakang. Layar monitor dialihkan ke kamera yang diletakkan di luar pintu. Keluarlah sosok Zevanya dengan pakaian baju tidur seksi.


Arga memencet tombol pause. “Kamu bisa tidak menutup mata?”


“Yaelah, Bang. Gue juga kagak tertarik kali sama bini orang, ya, walaupun cantik sih.” Rega cengengesan. Arga menatap lelaki itu dengan tatapan datar tidak terbaca.


“Bercanda, Bang. Sok, lanjutkuen.” ucap Rega lagi.


Arga kembali memutar rekaman video Cctv, lelaki yang dilihatnya tidak melakukan apapun terhadap Zevanya, selain menyuruhnya pergi dan Queen menyelonong masuk. Entah apa yang dilakukan gadis itu di dalam rumahnya. Cctv hanya menangkap aksi pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang berpakaian hitam, di ruang tamu.


Arga mengulang rekaman kamera Cctv, untuk memastikannya sekali lagi. Ia melihat seseorang keluar dari kamarnya sambil menarik rambut seorang gadis. Dari arah dapur yang menyatu dengan ruang tamu, datang lagi satu orang mengenakan kaus hitam dan lengan ditutupi manset, membawa pisau dapur.


Sebelum menyayat seluruh badan gadis itu, Zevano membuka penutup mulutnya karena merasa pengap. Cctv berhasil menangkap wajah Zevano. Arga menekan tombol pause dan memperbesar layar monitor, hanya saja wajah lelaki itu terlihat blur.


“Apa ada aplikasi yang bisa memperjelas gambar?” tanya Arga.


Rega berpikir sesaat. “Ada Bang. Kebetulan si Sandy punya aplikasinya.”


“Ya, sudah. Kalau begitu rekaman Cctv ini bisa kamu salin ke flashdisk.”

__ADS_1


Pemeriksaan di TKP pun selesai, korban juga sudah dilarikan ke rumah sakit untuk di autopsi lebih lanjut. Arga menyalakan ponselnya, ada satu pesan tak terbaca dari Zevanya. “Kalo lo masih mau Zevanya hidup, temuin gue di alamat XXX.”


To be continued.


__ADS_2