STALKER

STALKER
35. Penyesalan


__ADS_3

Arga membuka bagasi mobilnya, mengambil linggis untuk mengeluarkan ponsel Zevanya dari dalam got. Sementara istrinya, duduk manis di bagasi sambil memainkan squishy pemberian anak kecil tadi. Melihat Arga kesusahan membuka besi penutup got, ingin rasanya Zevanya membantu. Tetapi, lelaki itu sendiri memintanya menunggu.


“Coba hubungi nomor kamu pakai handphone saya.” Arga menyodorkan ponsel miliknya. Gadis di depannya diam tak ada reaksi, mata Zevanya fokus menatap Arga tanpa berkedip.


“Baby?” ucap Arga lagi.


Zevanya terlonjak ketika mendengar Arga berucap. Ia segera menerima ponsel dari tangan lelaki itu. “Oh, iya! Coba gue telepon.”


Tak lama, layar ponsel Zevanya menyala, menampilkan nama kontak Arga dari sela-sela lubang kecil bergaris lurus. Suara dering pun masih terdengar, meskipun tak begitu jelas. Arga berusaha sekuat tenaga menekan linggisnya ke bawah, sampai mukanya memerah. Percobaan pertama gagal.


Zevanya mondar-mandir di depan mobil Arga. Ia banyak melamun semenjak sang ibu meninggal dunia. Dokter pribadinya sering mengatakan, ia tidak boleh melamun apalagi berlarut-larut dalam kesedihan. Ya, Zevanya didiagnosis menderita paranoid akibat kasus pelecehan seksual yang dialaminya tiga tahun lalu. Itu yang membuatnya tidak mempercayai lelaki, hingga dokter menyarankan Livy untuk segera menikahkan Zevanya dengan Arga.


Seorang pejalan kaki berhenti ketika melihat selembar kertas yang tergeletak di aspal. Lelaki berpakaian Hoodie dan jeans hitam itu mengambilnya, kemudian membacanya dengan teliti. “Maaf, apa lo lagi nyari orang ini?”


Zevanya langsung mendekat pada lelaki yang menanyakan hilangnya Deska. Ia mengangguk antusias. “Iya, bener. Apa lo liat sepupu gue?”


Di balik tudung kepalanya, lelaki itu tersenyum menyeringai. “Gue liat. Kalo mau, gue bisa anterin lo ke sana.”


“Boleh, dengan senang hati.”



Lelaki itu mempersilahkan Zevanya berjalan lebih dulu, ia mengekori dari belakang. Jalanan alun-alun kota sudah mulai sepi, jam pun sudah menunjukkan pukul 20.39. Bayangkan, berapa lama Arga membuang waktunya untuk mengeluarkan ponsel Zevanya. Gadis itu terus berjalan lurus, sampai tak sadar dirinya meninggalkan suaminya di tepian jalan.


Secara tiba-tiba, lelaki itu membekap mulut Zevanya dengan sapu tangan merah yang sudah diberi obat bius. Perlahan, tubuhnya bersandar pada dada besar lelaki itu. Lelaki itu menelepon seseorang, seperti memberikan instruksi. Sebuah mobil Alphard datang menghampiri, lelaki itu buru-buru memasukkan Zevanya sebelum ada yang melihat.


“Jalan sekarang.” perintah lelaki itu.


Mobil melaju meninggalkan alun-alun kota. Lelaki yang menculik Zevanya membuka tudung kepalanya. Gavin. Ia tertawa puas atas keberhasilannya menangkap gadis itu.


Gavin mencium lama dahi Zevanya. Nggak sia-sia lo nyebarin selembaran kertas itu.


.

__ADS_1


.


.


.


Ponsel Zevanya berhasil dikeluarkan oleh Arga. Kondisi ponsel tersebut basah terkena air got, tercium juga bau tidak sedap dari sana. Arga mencucinya dengan air mineral kemasan botol. Lelaki itu hendak memberikan ponsel itu pada si pemiliknya. Namun, Zevanya tidak ada di dekat mobil. Padahal sebelumnya, Arga melihat istrinya sedang duduk di bagasi mobil.


“Zevanya!” Arga mencoba memanggil istrinya. Sesekali ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia mencoba mengelilingi alun-alun kota, mencari Zevanya.


Arga menanyakan Zevanya kepada orang-orang pejalan kaki. Ia menjelaskan ciri-ciri sang istri, bahkan sampai menunjukkan foto gadis itu. Sayangnya, satu dari mereka tidak ada yang melihat Zevanya. Mereka juga baru melewati jalan ini karena sudah waktunya jam pulang kerja. Ia kembali ke mobilnya, berniat melanjutkan pencarian.


Namun, ponselnya berdering. Pihak rumah sakit memberi kabar tentang kondisi Arjuna yang sudah melewati masa kritisnya. Mau tak mau Arga harus kembali ke rumah sakit.


“Di mana Zeva?”


Terlihat jelas, Zevano baru saja kembali dari basecamp tempat bersemayamnya para gangster, karena masih mengenakan pakaian yang sama. Ia celingak-celinguk mencari kembarannya.


Arga menarik napas berat dan menghembuskannya. “Dia hilang. Saya tidak tahu dia ada di mana.”


“Saya habis berjuang mengeluarkan handphone Zevanya. Saya juga baru sadar kalau Zevanya tidak ada di tempat.” jelas Arga.


Zevano mulai jengah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. “Lo harusnya pikirin keselamatan istri sendiri, bukan hpnya. Hp masih bisa dibeli lagi, tapi keselamatan belum tentu!”


“Saya akan kembali ke rumah sakit.”


“Woi!” Zevano meraih kerah baju Arga. “Ngapain? Ngapain lo balik ke rumah sakit sedangkan istri lo hilang?! Gue udah kasih lo kesempatan, tapi apa sekarang? Masih nggak bisa juga?”


Arga melerai tangan Zevano yang meremas kerah bajunya. “Saya memang belum bisa menjaga Zevanya seperti kamu menjaganya. Tapi, saya sedang berusaha.”


“Berusaha apa? Kayak gini lo bilang berusaha? Kalo sampe Zeva kenapa-kenapa, lo yang gue salahin!”


Puas memperingati iparnya, Zevano melangkah pergi meninggalkan Arga. Lelaki itu akan mencari Zevanya sendirian tanpa meminta bantuan orang lain. Arga diam membisu mencerna ucapan tadi. Benar kata pepatah, penyesalan akan datang diakhir. Sekarang Arga menyesal.

__ADS_1


Sekarang kembali dulu ke rumah sakit.


.


.


.


.


“Lo dateng? Kok, sendirian? Di mana Zevanya?”


Arga membuka pintu kamar inap Arjuna. Ia sudah disambut dengan suara kembarannya, keadaan lelaki itu jauh lebih membaik dari sebelumnya. Hanya saja punggungnya masih terasa nyeri. Melihat Arga sendirian, membuat Arjuna bertanya-tanya. Apa mereka berdua bertengkar? Atau ada masalah lain? Itu yang ada dipikiran Arjuna saat ini.


“Zevanya hilang. Sepertinya dia diculik.”


Kedua mata Arjuna langsung membulat. “Di culik? Lo ini gimana, sih? Tanggung jawab suami itu menjaga istrinya, bukan ninggalin dia sendirian di luar.”


Arga menatap datar saudara kembarnya. “Semuanya sudah terjadi. Saya bukan Tuhan yang bisa memutar dan mempercepat waktu. Kalau saya bisa memutar waktu, saya juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”


“Halah! Lo selalu aja begitu.” Arjuna menyandarkan kepalanya pada bantal kotak. “Setiap orang yang deket sama lo, pasti bakal mengalami hal-hal yang berbahaya. Contohnya, Stella. Dia meninggal setelah jadian sama lo beberapa minggu.”


“Lo jangan bawa-bawa Stella, ya! Ini masalahnya beda!” refleks, Arga mengubah gaya bicaranya.


Arjuna terkekeh. “Keluar juga kan, sifat asli lo.”


Stella, adalah mantan kekasih Arga. Dulunya, si kembar A itu menyukai gadis yang sama. Arjuna lebih dulu melakukan pendekatan dengan Stella semasa mereka duduk di bangku SMA. Hanya saja Stella lebih menyukai Arga, lelaki itu lebih dewasa dibandingkan Arjuna. Arjuna mulai merelakan gadis yang dicintainya bersama kembarannya.


Selang beberapa Minggu berpacaran, Stella dan Arga mengalami kecelakaan beruntun di rel kereta api. Sangat di sayangkan, hanya Arga yang selamat. Stella meninggal dunia dengan kondisi sekujur tubuh remuk akibat hantaman kereta. Dari situlah, hubungan si kembar A merenggang.


“Kalo lo nggak mau hal itu terjadi lagi, cari Zevanya. Jangan buat kesalahan yang sama, lo itu detektif. Lo bisa minta bantuan polisi lain.”


Arga tak menggubris. Ia segera meninggalkan ruang rawat inap, Arjuna tertawa geli melihat tingkah kembarannya. Tidak heran lelaki itu menjuluki kembarannya budak cinta atau yang biasa dikenal bucin.

__ADS_1


Dasar bucin. Kalo bukan karna gue nggak rela Zevanya mati, mungkin sekarang tu cewek udah ada di dalem tanah.


To be continued.


__ADS_2