STALKER

STALKER
42. Belajar Ilmu Bela Diri


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, di kantor polisi. Arga masih duduk diam di kursi yang ada di ruangan interogasi, sudah berkali-kali di interogasi mengenai kejadian hari itu, lelaki itu menjawab dengan jujur. Sandy dan Rega merasa laporan Deska tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Mungkin benar pelakunya memang Arjuna.


Melihat Arga dari ruang pantau, Sandy jadi meragukan laporan gadis bernama Deska. Biasanya, pembunuh akan selalu menghindari pertanyaan-pertanyaan yang membuat dirinya merasa terancam, karena takut perbuatannya terbongkar. Arga berbeda, lelaki itu tidak pernah menghindari pertanyaan apapun.


Sandy dan Rega kembali ke ruang interogasi, mereka duduk menghadap Arga. Rega menyodorkan selembar kertas pada Arga. “Dari hasil yang kami teliti lagi, surat ini memang sudah direncanakan.”


Rega mengangguk menyetujui. “Benar, tapi kami tidak bisa membebaskan kamu begitu saja.”


“Kamu bisa saja dibebaskan, tapi ada satu syarat.” tawar Sandy.


“Apa syaratnya?” jawab Arga.


Bila ingin bebas dari tuntutan, Arga harus membuktikan bahwa Arjuna lah pelaku yang sebenarnya. Jika ia tidak bisa membuktikannya, maka, ia dinyatakan bersalah. Arga menerima syarat tersebut, tidak ada alasan untuk membiarkan saudara kembarnya berkeliaran. Terlebih, di sekitar istrinya.


Sandy melepaskan borgol di kedua tangan Arga. Lelaki itu mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya, lalu menelepon sang istri. “Kamu tidak perlu menyewa pengacara. Tidak lama lagi saya akan pulang.”


“Beneran? Ya, udah kalo gitu cepetan pulang.”


Helaan napas berat terdengar. “Tidak sekarang, ada hal yang harus saya selesaikan dulu di sini.”


“Oke.” Sesaat, Zevanya berpikir. “I love you.”


Arga tersenyum cerah mendengar suara sang istri. “Ya.”


Suasana hening kembali menyelimuti. Panggilan suara pun belum diakhiri oleh keduanya. Yang ditelepon berharap Arga membalas ucapannya tadi. Sayangnya, diluar dugaan, Arga hanya menjawab singkat. Arga tidak begitu peka terhadap hal-hal romantis.


“I love you!” karena geram, Zevanya mengatakan itu sambil berteriak.


Arga terkekeh geli. “I love you too.”


.


.

__ADS_1


.


.


Telepon langsung diakhiri. Zevanya berjingkrak-jingkrak di atas ranjang setelah mendengar jawaban itu dari suaminya. Kebahagiaan gadis itu sederhana, hanya dengan satu kalimat saja, ia sudah merasa senang. Entah sudah berapa lama usia pernikahan Zevanya dan Arga. Salah satu di antara mereka belum ada yang menyatakan perasaan, ya, itu karena keduanya sama-sama sibuk.


Zevanya sedang bersiap-siap untuk membantu Deska di cafe. Ia juga sudah menyiapkan sesuatu untuk sepupunya, meskipun masih kesal akibat insiden beberapa hari lalu. Zezev's Coffee Shop kembali dibuka, ia berniat menambah satu karyawan sebagai juru masak dengan membuka lowongan pekerjaan.


Ketiga orang sangat antusias menunggu di depan cafe. Mereka rela menunggu sampai cafe dibuka, demi bekerja di sana. Zevanya turun ke loby lantai satu rumahnya dengan berbalut dress green tea polos. Di saat yang sama, Deska ikut turun ke loby.


Zevanya memberikan iPad mini pada Deska. “Kalau lo mau balas dendam sama Arjuna. Lo harus belajar bela diri.”


Deska berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab. “Kenapa gue harus belajar bela diri?”


“Karna Arjuna nggak bisa bela diri. Makanya, lo harus belajar bela diri.”


Zevanya tersenyum, lalu kembali berjalan keluar rumah. Deska menyalakan iPad pemberian sepupunya, ada macam-macam jenis pukulan dan cara menghindar dari lawan. Keasyikan melihat-lihat, gadis itu segera menyusul Zevanya.


Tampak di depan pintu cafe, ketiga orang duduk menunggu owner dari cafe tersebut. Mereka menyambut baik sang pemilik Zezev's Coffee Shop. Deska membuka pintu lebar-lebar. Zevanya masuk diikuti oleh ketiga orang dan Deska.


Ketiga pelamar kerja memperkenalkan diri mereka satu persatu, terutama bagi mereka yang tidak pernah bertemu Zevanya sebelumnya, mereka hanya tahu gadis itu melalui sosial media seperti Instagram dan Twitter. Satu persatu dari pelamar kerja memberitahu alasan mereka ingin bekerja di Zezev's Coffee Shop.


“Saya hanya butuh satu orang, yang tidak terpilih mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya harap kalian mengerti.” jelas Zevanya.


Deska memberitahu bahwa mereka akan dites sebelum diterima kerja. Mereka bertiga harus menunjukkan kemampuannya masing-masing dalam memasak. Ketiganya mulai memakai celemek dan memasak ayam saus tiram, sesuai perkataan Deska.


Zevanya dan Deska memperhatikan ketiga calon pekerja yang sedang sibuk dengan peralatan masak. Melihat salah satu calon pekerja bernama Kurniawan Affandi, membuat Deska teringat Arjuna. Cara Kurniawan menggunakan pisau pemotong daging hampir sama seperti Arjuna.


Kurniawan menyadari ada tatapan mata yang memperhatikannya, kemudian menoleh ke arah Deska. “Ada apa, Kak?“


Deska buru-buru mengalihkan pandangan ke layar iPad. “Nggak ada apa-apa, lanjut masak sana!”


Aroma bumbu-bumbu yang dimasak menyerbu masuk ke rongga hidung kedua gadis itu. Entah ini masakan siapa, ayam saus tiram masakan ketiga calon pekerja sudah siap di sajikan. Ketiga piring di letakkan di atas meja Zevanya dan Deska. Inilah saatnya penentuan.

__ADS_1


Deska mencicipi satu persatu makanan yang dimasak oleh ketiga calon pekerja. Masakan Kurniawan agak berbeda, ada potongan daging kecil, tekstur dagingnya pun berbeda. Giliran Zevanya yang mencoba, yang dirasakan gadis itu sama. Masakan Kurniawan lebih terasa dibandingkan kedua calon pekerja.


“Dagingnya masih kelihatan merah, teksturnya juga lembek, ini kayaknya setengah matang, ya?!” komentar Zevanya pada masakan calon pekerja bernama Putri.


“Saya terlalu buru-buru, makanya---”


“Gugur! Saya tidak terima alasan.” potong Zevanya cepat. Putri langsung membawa masakannya kembali ke dapur.


Masakan calon pekerja satu lagi pun samanya. Berbeda saat mencicipi masakan Kurniawan, Zevanya dan Deska sampai mencicipi beberapa kali. Keduanya sepakat akan memperkerjakan Kurniawan di Zezev's Coffee Shop. Kurniawan atau biasa dipanggil Iwan pun berterima kasih karena sudah menerimanya.


“Yang nggak terpilih boleh langsung pergi.” timpal Zevanya.


Ada firasat aneh di benak Deska. Ia berinisiatif membisikkan sesuatu pada Zevanya. “Zev, lo ngerasa ada yang aneh nggak sih sama makanan tadi?”


Zevanya sedikit mengangguk. “Iya, gue juga ngerasa begitu.”


“Apa jangan-jangan Iwan ini psikopat, ya?”


Zevanya memukul lengan atas Deska. “Mana mungkin. Lo jangan berprasangka buruk dulu sama orang.”


“Tapi, Zev ... .”


Rintik hujan turun perlahan membasahi jalanan aspal disertai kilatan petir. Deska sampai melonjak kaget mendengar suara gemuruh petir. Untungnya dua pekerja yang gugur tadi sudah pergi. Di cafe hanya tinggal Iwan, Deska dan Zevanya.


Iwan menarik ujung bibirnya, seraya tersenyum menyeringai. Selain daging ayam, Iwan juga memasukkan potongan-potongan jari manusia pemberian Arjuna. Iwan ini adalah orang suruhan Arjuna, lelaki itu diperintahkan untuk melamar pekerjaan di Zezev's Coffee Shop agar bisa mengawasi Deska.


“Kenapa makanannya nggak abis? Apa ... Masakan saya kurang enak?” tanya Iwan pada Zevanya dan Deska.


Kedua gadis itu saling melirik, lalu menggeleng. “Engga, kok. Malah enak, bumbunya pun berasa. Iya kan, Zev.” Deska menyenggol Zevanya.


Zevanya tidak menggubris, ia berlari ke kamar mandi meninggalkan Deska bersama Iwan. Tiba-tiba ada rasa tidak enak di perutnya, seperti ingin muntah saat itu juga. Deska hendak menyusul sepupunya ke kamar mandi. Namun, ada Iwan yang menghalangi jalan gadis itu.


“Mau lari ke mana?”

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2