
Siswa-siswi SMA Dirgantara kembali bersekolah seperti biasa. Setelah beberapa Minggu diliburkan karena kasus Andrian, guru kriminologi yang terbunuh di ruangannya sendiri. Zevano berhenti di ambang pintu kelas. Ia melihat Zevanya sedang asyik mengobrol dengan Gavin, bahkan mereka terlihat akrab. Gavin melirik ke arah pintu, lalu menggeser kursinya agar merapat ke kursi Zevanya.
Gavin menarik sudut bibirnya. Ia mengambil pulpen, kemudian merangkul bahu Zevanya. Ujung pulpen tersebut di arahkan ke sisi kanan leher gadis itu. Zevano yang masih berdiri kokoh di ambang pintu, berjalan dan menarik pergelangan tangan kembarannya menjauhi Gavin.
Gavin menarik Zevanya dari belakang punggung Zevano. Dengan santai, ia menancapkan ujung pulpen tadi di leher gadis itu. Para siswa yang ada di dalam kelas sangat terkejut melihat aksi tersebut. Mereka berlarian keluar, meninggalkan ketiga orang itu. Tubuh Zevanya ambruk ke lantai dengan pulpen yang masih tertancap di lehernya.
“Cabut pulpen itu.” perintah Gavin.
“Apa yang lo lakuin, brengsek!” Zevano berteriak di depan wajah Gavin.
“Gue bilang cabut! Lo tuli?”
Faktanya, Zevano sama sekali tak bisa membantah bosnya itu. Beberapa tahun lalu, saat pertama kali Zevano menjadi anggota kelompok Stalker, Gavin menyuruh lelaki itu bersumpah untuk setia menuruti mengikutinya dan menuruti perintahnya. Zevano berjongkok, perlahan mencabut pulpen itu. Aliran darah keluar dari luka tusukan tersebut.
Tangan Zevanya meremas seragam putih Zevano. Ia meringis kesakitan dengan air mata menetes ke pipinya. “Abang ... Sakit ... .”
“Sekarang, tusuk perutnya!” suara keras Gavin kembali menggelegar ke seluruh ruangan.
Zevanya menganggukkan kepala, menyuruh Zevano mengiyakan permintaan Gavin. Ia meletakkan pulpen di telapak tangan lelaki itu, mengarahkan ujungnya ke perutnya. Zevano akhirnya menusuk perut kembarannya dengan terpaksa.
“Tusuk lagi!”
Masih menuruti Gavin, Zevano kembali menusukkan pulpen itu berulang kali. Ia tancapkan dan mencabutnya begitu saja. Bukan sekali dua kali. Namun, sepuluh tusukan. Cipratan darah mengenai wajah gadis itu. Zevano berdiri dan berbalik menikam perut Gavin sebagai balasannya.
“Lo tau apa yang buat gue muak? Mengikuti kemauan lo kayak burung beo!” Zevano memperdalam tusukan pulpen tersebut di perut Gavin. Kesadaran lelaki itu hilang, tubuhnya ambruk di bawah kursi.
Zevano beralih mendekap erat kepala kembarannya. Ia menangis untuk pertama kalinya. Zevano memegang pergelangan tangan Zevanya, memeriksa denyut nadi gadis itu. Ibu jarinya tak merasakan apapun.
Zevano mendesis. “Ini semua salah gue, salah gue. Harusnya dari awal gue nggak pergi dan tetep ada di samping lo. Maafin gue, Zevanya ....”
.
.
.
.
__ADS_1
.
Zevano membuka kedua kelopak matanya dan menatap langit-langit ruang tamu. Tubuhnya sudah terbungkus selimut tebal. Ia menoleh ke samping, ada seorang gadis tertidur pulas di bawah sofa. Yang dilihatnya tadi ternyata hanya sebuah bunga mimpi, bukanlah kenyataan.
Mata Zevano teralihkan oleh meja panjang yang berantakan. Ada baskom kecil berisi air keruh dan kotak obat. Bisa dipastikan bahwa Zevanya merawatnya semalaman tanpa meminta bantuan orang lain. Zevano khawatir gadis itu sudah melihat banyak bekas luka sabetan di punggungnya.
Zevano beranjak dari sofa, lalu memindahkan selimut tadi ke tubuh Zevanya. Lelaki itu beralih menatap ke arah jam tangan. “Masih jam tiga. Gue berharap lo nggak kurang tidur gara-gara ngobatin gue.”
Sebelum pergi, Zevano meninggalkan sebuah pesan singkat agar gadis itu tidak khawatir tentang keadaannya. Ia tak mau melibatkan Zevanya lebih dalam lagi. Senyuman manis terbit di bibir lelaki itu, Zevano pergi ke arah pintu keluar tanpa membawa kemejanya.
.
.
.
.
Matahari telah terbit dari tempatnya. Suara ayam berkokok membuat Zevanya mengerjapkan mata. Ia tidak sedang menatap langit-langit ruangan, tetapi wajah Arga. Lelaki itu mengembangkan senyum menatap istri kecilnya. Arga terbangun di jam setengah empat pagi karena notifikasi dari ponsel Zevanya.
Itulah yang mengganggu tidur Arga. Ia juga baru menyadari istrinya tidak ada di sampingnya. Saat di periksa, Zevanya berada di ruang tamu sendirian dengan kondisi meja berantakan. Alhasil, Arga membereskannya, setelah itu menidurkan Zevanya di pahanya.
“Baby udah bangun?” sapa Arga.
Zevanya menegakkan badannya. Kepalanya terbentur dahi Arga. Gadis itu segera mengusap dahi suaminya. “Maaf, maaf! Sakit, ya?”
Arga mengambil tangan Zevanya, kemudian meletakkannya di dada. “Sakitnya di sini.”
“Apa sih! Udah sana, ah! Gue mau mandi!”
“Tidak, kita mandi berdua!”
“No way!”
Di saat sepasang sepasang suami istri itu sedang bercanda gurau. Wijaya dan Livy menuruni tangga. Wajah pria itu nampak datar tanpa berekspresi sama sekali. Apalagi yang membuatnya kesal? Seseorang mengirimkan foto Ratna dipangku oleh seorang lelaki remaja berkemeja hitam. Terlebih, mereka berdua berciuman penuh hasrat.
Bukan hanya itu, Gavin menggunakan ponsel Ratna untuk mengelabui ayah tirinya. Lelaki itu mengirim pesan singkat kepada Wijaya, bahwa Ratna akan pergi ke Australia bersama selingkuhannya. Hanya berdua. Wijaya tak masalah Ratna pergi. Namun, ia mendapatkan tagihan kartu kredit dengan jumlah yang cukup besar.
__ADS_1
Wijaya berdecak. “Keterlaluan perempuan itu. Bisa-bisanya dia pergi meninggalkan banyak tagihan kartu kredit.”
“Sabar, Mas. Mas nggak boleh marah-marah, nggak baik buat kesehatan. Apalagi Mas punya penyakit jantung.” Livy mengelus punggung suaminya, seraya menenangkan.
“Sudah tidak bisa memasak, bisanya cuma menghabiskan uang. Coba saja dulu saya tidak menikahi perempuan itu.”
Tanpa diketahui oleh dirinya sendiri, Wijaya jujur dengan ucapannya tadi. Apakah menyesal? Ya, jelas pria itu menyesal sekarang. Menantu dan putrinya saja sampai terkekeh mendengar celetukan Wijaya.
Zevanya menghela napas lega. “Ya ... Akhirnya Papa sadar. Emang cuma Mama satu-satunya istri yang cocok buat Papa.”
Arga menyenggol Zevanya. Ia berbisik di telinga sang istri. “Apa boleh kamu berbicara seperti itu?”
“Ya, bolehlah.”
“Kamu bisa aja, ya, menggoda Papa.” ucap Wijaya melirik Zevanya.
Suara ketukan pintu terdengar. Livy berinisiatif membukanya, tiga orang berbadan kekar berdiri di ambang pintu sembari melihat ke dalam rumah. Mereka mencari seorang wanita bernama Ratnasari. Wanita itu meninggalkan hutang sebesar dua miliar kepada rentenir. Dada Wijaya sesak mendengar nominal uangnya. Livy menahan tubuh suaminya agar tidak terjatuh.
“Papa!” Zevanya mendekati Wijaya dengan tergesa-gesa. Ia mengguncangkan lengan sang ayah. “Papa kenapa?”
“Jantung Papa kambuh, Zev.” jawab Livy.
Arga bergegas menuju garasi, menyiapkan mobil untuk membawa Wijaya ke rumah sakit. Sementara tiga orang itu sudah berlalu pergi entah kemana, mereka memberi laporan kepada seseorang melalui telepon WhatsApp. Ratna tidak benar-benar memiliki hutang kepada rentenir, itu hanya akal-akalan mereka untuk membuat penyakit Wijaya kambuh.
Mereka adalah orang suruhan Gavin. Lelaki itu mengetahui penyakit yang diderita ayah tirinya. Pasalnya, ia sering melihat Wijaya mengonsumsi obat-obatan dari rumah sakit. Gavin juga pernah membuntuti Wijaya konsultasi ke dokter.
“Bagus. Gue udah transfer uang tambahan buat kalian.”
“Siap, Bos. Terima kasih.”
Gavin mengangkat dagu seorang gadis bertubuh polos. Ia habis melakukan hubungan intim dengan gadis sewaannya. Gavin mencium sekilas bibir gadis itu. “Karna hari ini gue lagi seneng, lo nggak jadi gue bunuh.”
Gadis bermata bajak laut itu mendesah nikmat di telinga Gavin. Mata satunya sudah tak bisa melihat karena ulah seseorang yang menusuknya. “Kalo gue tau lo seganteng ini, dari dulu gue bakalan ngejar-ngejar lo, Vin.”
“Icha sayang, lo itu cuma budak nafsu gue. Bukan pacar. Lo harus tau tipe cewek gue bukan kayak lo, tapi Zevanya.”
To be continued.
__ADS_1