
“Selamat siang anak-anak!”
Semua siswa menjawab salam Bu Guru, terutama Zevanya. Kini, ia sedang menghadiri kelas online melalui aplikasi discord. Bu Guru menyuruh semua siswa untuk menyalakan face cam. Hanya Zevanya yang tidak menyalakan face cam. Tetapi, mereka bisa mendengar suara grasak-grusuk.
Zevanya lebih produktif dari biasanya, saking asyiknya membereskan kamar sampai tidak menyadari bahwa kelas sudah di mulai.
“Zevanya.” Bu Guru memanggil Zevanya. “Kelas akan dimulai, tolong duduk dan nyalakan face cam-nya.”
Mendengarnya, Zevanya langsung tergesa-gesa menduduki kursi yang menghadap ke layar PC. Ia menyalakan face cam sesuai perkataan Bu Guru. “Maaf, Bu. Tadi saya ... .”
“Sudah, yang penting kamu sudah hadir di kelas online. Tidak perlu menjelaskan.”
Zevanya mengiyakan Bu Guru. Sebagian siswa telah hadir, hanya Deska yang belum masuk. Bu Guru menanyakan Deska padanya. Pasalnya, ialah yang paling dekat dengan gadis itu. Zevanya pun tidak tahu dimana sepupunya sekarang, ditambah ponsel Deska tidak aktif. Bu Guru melanjutkan kelas online pada siang ini.
Di tengah-tengah pelajaran, ada seseorang yang ikut hadir di kelas online tersebut. Bukan siswa SMA Dirgantara, itu seseorang berjubah hitam dengan wajah yang ditutupi topeng badut. Guru dan siswa lain tak bereaksi apa pun ketika melihatnya, mereka mengira seseorang bertopeng badut itu adalah siswa iseng. Sedangkan, Zevanya termangu melihat badut tersebut.
Badut itu terus memandang Zevanya. Gadis itu mematikan face cam-nya karena merasa risih ditatap seperti itu. Namun, face cam-nya tiba-tiba menyala lagi. Badut itu menunjukkan toples kaca berukuran kecil, di dalamnya terdapat potongan jari manis Deska. Siswa, bahkan guru pun terdiam.
“Anak-anak, kelas hari ini lebih baik kita--”
Zevanya merasakan mual pada perutnya. Ia segera berlari ke kamar mandi, meninggalkan meja belajarnya. Kalimat Bu Guru terpotong karena hal itu. Tak lama kemudian, Zevanya kembali. Badut itu membuka topengnya. Semua siswa terutama guru membulatkan mata melihat siapa sosok badut bertopeng tersebut.
“Detektif Arga?!”
Dahi Zevanya berkerut. “Arga?”
“Zev, ternyata suami lo pembunuh?”
“Wah, gila. Harus viral nggak, sih.”
Siswa itu memotret layar laptopnya, untuk dijadikan sebagai bukti kuat bahwa Arga adalah pembunuh. Sosok yang diduga Arga mengembangkan senyum. Kemudian, siswa tersebut menelepon polisi dan melaporkan apa yang ia lihat. Zevanya melihat wajah bertopeng itu dengan seksama.
Arjuna? Si brengsek itu?
__ADS_1
“Kalian jangan percaya, dia itu bukan Arga! Suami gue mana mungkin ngelakuin hal itu.” Zevanya berusaha meyakinkan siswa lain, pun gurunya.
“Tapi, Zev, udah ada buktinya gimana dong? Paling sebentar lagi rumah lo bakalan dikepung sama polisi.”
“Miris banget, ya, hidupnya. Saudara kembar pembunuh berantai, suaminya juga begitu.”
“Anak yatim piatu yang satu ini kayaknya lagi ketiban sial, haha!”
Kelas online jadi kacau, siswa lain berlomba-lomba mencecar Zevanya. Perkataan mereka membuat napas gadis itu menderu menahan emosi. Zevanya mengambil palu dari dalam laci, lalu memecahkan layar PC.
Terdengar suara mobil Arga, Zevanya berlari keluar kamar menuju lantai satu. Ia memperhatikan suaminya yang berjalan ke arahnya. Ia refleks memeluk Arga, berharap polisi tidak menangkap lelaki itu. Yang harus ditangkap adalah Arjuna, bukan Arga.
“Ada apa?” tanya Arga mulai penasaran.
“Gue rasa ... Arjuna lagi ngejebak lo.” Zevanya menghela napas berat dan menjelaskan apa yang terjadi barusan. Arga mendengarkan penjelasannya tanpa ada jeda sedikit pun.
“Membunuh saja saya tidak berani, apalagi memotong jari seseorang. Dugaan kamu benar, yang barusan kamu lihat, adalah Arjuna.”
“Gue takut lo ditangkep polisi ... .”
Arga menggenggam tangan erat tangan Zevanya seraya tersenyum. Ia membuka pintu, Sandy dan Rega menodongkan pistol ke arah Arga, meminta lelaki itu mengangkat kedua tangan.
“Suami saya nggak bersalah! Yang harus kalian tangkap itu Arjuna, bukan Arga!”
Gadis itu berteriak, meyakinkan beberapa polisi dan rekan-rekan suaminya. Entah mengapa emosinya jadi meluap-luap, Zevanya tak pernah marah-marah seperti ini sebelumnya. Sandy menunjukkan selembar kertas, kertas tersebut berisi keterangan dokter, bahwa Arjuna dinyatakan sembuh total. Selanjutnya, Rega memborgol kedua tangan Arga.
“Arjuna sendiri yang menyerahkan ini kepada kami. Kita juga mendapatkan laporan dari korban, Arga lah yang memotong jari korban.” jelas Sandy.
Sejenak, Arga membaca isi dari surat tersebut. Sesaat kemudian, lelaki itu mengernyit. “Ini memang terlihat seperti surat asli dari rumah sakit, tapi sayangnya ini direkayasa oleh Arjuna.”
Sandy menyipitkan kedua mata. “Tapi, laporan korban tidak pernah salah.”
Salah satu polisi membawa seseorang yang melaporkan Arga. Deska Egidia Putri. Mata Zevanya membulat melihat sepupunya. Gadis itu membuka perban di jari manisnya menunjukkan jarinya yang terpotong. “Arga yang memotong jari saya, sampai seperti ini.”
__ADS_1
“Kapan saya melakukan itu?” Arga angkat bicara.
“Semalem! Lo dateng tiba-tiba ke apartemen Arjuna. Lo juga mukul pacar gue sampe babak belur, setelah itu lo ambil pisau dan motong jari gue!”
Jika diingat-ingat lagi, semalam Zevanya sempat terbangun, di sampingnya sudah tidak ada Arga. Namun, saat di cek kembali. Lelaki itu sedang berada di dapur untuk meminum air putih. Laporan Deska sudah jelas palsu.
“Lo jangan ngarang, Des! Jelas-jelas Arga semalem di rumah aja sama gue!”
“Bisa aja kan, setelah itu dia pergi. Lo kan, tidur. Mana tau dia pergi atau engga.”
Setelah mengonfirmasi laporan, Rega membawa Arga masuk ke mobil polisi. Zevanya mengejar beberapa polisi itu, bermaksud menahan mereka menangkap suaminya. Ia menggenggam kedua tangan Arga yang terborgol.
“Jangan pergi ... Bisa kan? Gue tau lo nggak bersalah.” ucap Zevanya dengan wajah memelas.
Dengan lembut, Arga melepaskan genggaman tangan Zevanya. “Tidak apa-apa, selama saya tidak bersalah, untuk apa saya takut.”
“Oke, gue bakal nyewa pengacara buat lo. Gue bakal berusaha buat bebasin lo dari tuntutan itu.”
Arga mengangguk, lalu salah satu polisi memasukkan lelaki itu ke mobil. Sekarang, hanya ada Deska dan Zevanya. Gadis itu meminta penjelasan lagi atas laporan Deska tadi. Sejujurnya, Deska hanya diperintahkan Arjuna untuk memfitnah Arga.
Pada awalnya, Deska tak ingin melakukannya, karena Arjuna mengancam akan membuat kedua tangannya buntung, terpaksa ia menuruti lelaki itu.
Frustasi, Zevanya meremas rambutnya. “Cabut laporan lo sekarang?! Lo fitnah orang tanpa bukti yang jelas, Des.”
“Gue tau! Tapi, gue nggak bisa! Arjuna itu bukan lawan yang gampang, dia nggak pernah main-main sama perkataannya.”
Pandangan Zevanya beralih ke jari manis Deska. “Jari lo, itu Arjuna kan, yang ngelakuin itu sama lo?”
Mata Deska berkaca-kaca, air mata terkumpul di pelupuk matanya. Ia memeluk sepupunya, mengingat lagi bagaimana sakitnya saat jarinya dipotong. “Gue dendam, Zev. Gue mau Arjuna ngerasain penderitaan yang sama.”
Tanpa sadar, ada alat penyadap suara di saku celana Deska. Semua percakapan kedua gadis itu terdengar oleh Arjuna. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar Deska ingin membalasnya.
“Mau balas dendam? Coba aja, gua nggak takut.” kata Arjuna dari balik penyadap suara.
__ADS_1
To be continued.