
“Minggir! Lo tuh, cuma karyawan di sini. Jadi, jaga sopan santun lo selama kerja di sini.”
Kata-kata yang keluar dari bibir Deska terdengar datar tanpa emosi. Wajahnya tak menyiratkan kemarahan. Ia berjalan ke arah kamar mandi sambil menabrak lengan Iwan. Lelaki itu menatap malas sosok gadis bertubuh tinggi semampai dengan seragam kerja.
Dari dalam kamar mandi, Zevanya keluar. Deska yang penasaran segera menghampiri sepupunya, lalu berbisik. “Lo kenapa, Zev? Apa jangan-jangan karna makanan tadi?”
Zevanya menggeleng. “Bukan, gue cuma pengen muntah aja. Punggung gue juga agak nyeri.”
Sesaat, Deska termangu memperhatikan mimik wajah gadis itu. “Lo hamil kali! Coba lo tes pake testpack.”
“Hah? Hamil? Terus, gue harus beli testpack-nya gitu?”
“Di kamar mandi ada testpack, sana gih periksa. Mana tau kan ... Garis dua.”
Perkataan gadis itu langsung dituruti Zevanya. Lagipula tidak ada salahnya mencoba. Deska sudah menyiapkan testpack sejak lama, ia memang sengaja menaruhnya di kamar mandi untuk berjaga-jaga.
Sebelum menggunakan testpack tersebut, Zevanya membaca cara menggunakan benda itu. Setelah dibaca, ia mulai melakukan percobaan pertama sesuai cara di kertas itu. Zevanya mencelupkan testpack ke dalam cup kecil dan membiarkannya sampai beberapa menit.
Beberapa menit kemudian, gadis itu melihat hasil di testpack tersebut. Muncul dua garis berwarna merah. Zevanya membulatkan mata, hampir saja ia berteriak. Zevanya keluar dari kamar mandi, menghampiri Deska yang menunggu di luar.
“Gimana, Zev? Garis dua?” tanya Deska penasaran.
Zevanya menyunggingkan senyumnya, hingga memperlihatkan gigi gingsulnya. Ia menunjukkan testpack bergaris dua itu pada sepupunya. Deska memeluk Zevanya saking senangnya. “Akhirnya gue punya ponakan!”
Sialnya, berita gembira itu harus didengar Iwan. Lelaki itu melaporkan kabar tersebut pada Arjuna melalui pesan WhatsApp. Iwan tak tahu harus bagaimana lagi selanjutnya, Arjuna hanya memerintahkannya mengawasi Deska.
Ddrrttt....
Bos Juna: Awasi terus Deska. Biar Zevanya jadi urusan gue.
^^^Iwan: Kan, tujuan awal lo cuma Deska doang, Bos. Kenapa tu cewek jadi ikut-ikutan?^^^
Bos Juna: Lo nggak usah banyak tanya. Lo nggak berhak tau!
Bukan tanpa sebab Iwan penasaran, lelaki itu merasa kasihan pada Zevanya yang sedang mengandung. Meskipun Iwan seorang pembunuh bayaran, ia masih mempunyai rasa empati terhadap sesama manusia. Wajar Arjuna tidak merasa begitu, bosnya itu adalah psikopat yang tak kenal rasa kasihan.
Zevanya tak langsung memberitahu Arga. Ia ingin kabar gembira itu hanya diberitahu melalui pesan saja. Namun, Deska malah mengirim pesan singkat pada Arga, memberitahu kehamilan Zevanya.
“Deska! Kok, dikasih tahu, sih?! Kan, gue mau buat kejutan!” sergah Zevanya dengan suara tenang, tetapi menusuk.
__ADS_1
Deska melebarkan bibirnya seraya cengengesan. “Udah kebaca, Zev. Lo telat, sih!”
.
.
.
.
Arga membaca pesan yang dikirimkan Deska. Ia tersenyum cerah sambil mengucap syukur begitu mengetahui istrinya hamil. Kebahagiaan itu sirna saat mengingat saudara kembarnya, ya, ia harus waspada terhadap Arjuna. Membunuh orang tua mereka saja Arjuna bisa, apalagi membunuh Zevanya.
Deska: Gue curiga sama karyawan baru di cafe, apa jangan-jangan dia orang suruhan Arjuna?
Deska: Eh, by the way, sorry ya. Gue disuruh Arjuna buat fitnah lo. Gue ngaku sekarang, Arjuna yang udah buat jari gue kayak gini.
Deska mengirim pesan lagi, mengonfirmasi laporannya. Arga segera menghampiri Sandy dan Rega, menunjukkan pesan dari pelapor.
Sandy menggaruk dagunya yang tak gatal. “Yah, udah gua tebak, sih. Emang lu tuh nggak ada kaitannya, Bang.” ujarnya pada Arga.
“Terus, kenapa kalian masih menangkap saya?” tanya Arga.
“Cuma ngetes aja sih, kita mah, Bang.” sahut Rega melirik Sandy.
Karyawan ZCS: Lah, tadi lo nyuruh gue buat awasin cewek yang namanya Deska. Sekarang jangan lakuin apapun.
“Lakuin perintah ini atau keluarga lo yang gue bantai.” Arga mengirim voice note.
Karyawan ZCS: Oke.
Arga meletakkan ponselnya di atas meja. Sandy dan Rega menelan ludah mendengar gaya berbicara Arga. Memang hal lumrah bagi mereka berdua, kedua rekannya hanya sedikit terkejut saat Arga mengancam. Sandy dan Rega sempat curiga dengan lelaki bermarga Danuarta itu, sempat juga mengira Arga adalah pembunuh berantai.
“Begini doang?” kini, Sandy bertanya.
“Saya bakalan menyamar sebagai Arjuna. Dia juga pernah berpura-pura menjadi saya.”
Rega mengangguk-angguk mengiyakan. “Nggak heran, sih. Muka lu berdua aja mirip banget.”
Sandy mendorong kepala Rega. “Koplak! Namanya juga kembar identik, ya, iya lah mirip.”
__ADS_1
Arga berpamitan pada dua rekannya itu. Rencana pertamanya, menjaga Zevanya dengan menyamar sebagai pelanggan. Ia mengenakan sweater Hoodie berwarna biru gelap dan masker hitam.
Arjuna, gua nggak akan biarin lo nyakitin Zevanya. Batin Arga.
.
.
.
.
Sore menjelang. Arga tiba di Zezev's Coffee Shop, tampak ramai pengunjung di dalamnya. Mereka menikmati menu baru, ayam saus tiram. Aroma lezat Ayam Saus Tiram dari dapur cafe menyeruak masuk sampai ke rongga hidung, membuat siapa saja tergugah untuk mencicipinya. Iwan tak lagi memasukkan potongan jari manusia ke dalam masakannya.
Arga memasuki cafe dan langsung disambut obrolan para pengunjung Zezev's Coffee Shop. Bola mata Arga beralih memandang Zevanya yang berdiri di samping meja kasir. Ia duduk di kursi kosong, kemudian mengangkat satu tangan untuk memesan.
Melihatnya, Zevanya segera menghampiri kursi yang sedang diduduki Arga. “Mau pesan apa, Mas?”
Arga tidak menjawab. Ia menarik buku menu yang dipeluk Zevanya. Halaman demi halaman dibukanya, Arga menyodorkan buku menu dan menunjuk menu yang akan dipesan. Sebotol air mineral.
“Air putih aja, Kak? Nggak ada yang lain?”
Ditanya begitu, Arga menggeleng. Zevanya mengambil kembali buku menu itu, ia berpikir lelaki yang memesan tadi tidak bisa berbicara. Saat akan berjalan, seorang pelanggan tak sengaja menumpahkan minuman. Kaki gadis itu akan menginjak tumpahan air tersebut, dengan sigap, Arga meninggalkan kursinya dan menahan lengan Zevanya.
“Hati-hati, kamu bisa terpeleset.” Arga menarik Zevanya ke belakang. Ia mengambil sapu tangan milik seseorang, lalu mengelap lantai yang basah. Ia berdiri kembali, mempersilahkan gadis itu jalan.
Zevanya memandang Arga dari bawah sampai atas. Suaranya kok, mirip Arga? Tapi, mana mungkin dia. Dia kan, lagi ada di sel tahanan, masa bisa berkeliaran gini.
Pakaian double menyelamatkan Arga, agar bentuk tubuhnya tak bisa dikenali. Lelaki itu berinisiatif mengambil air mineral sendiri di dalam kulkas, ketimbang menyusahkan istrinya.
Tanpa sadar Arga membuka masker, ia menenggak sebotol air mineral di depan kulkas. Zevanya tak percaya, lalu menyipitkan mata. “Arjuna?”
“Deska! Lo sembunyi sekarang.” Zevanya mendorong Deska ke ruang ganti.
“Kenapa coba?”
Zevanya memegang kepala Deska, mengarahkannya kepada Arga yang masih menenggak sebotol air putih. “Tuh, lo mau ketangkep lagi?”
Deska terbelalak melihat Arga yang mereka kira Arjuna ada di cafe. “Oh, si brengsek itu.”
__ADS_1
Sebotol air mineral itu telah habis, Arga membuangnya ke tempat sampah. Ia tidak sengaja menoleh ke arah Zevanya dan Deska. Apa penyamaran gua berhasil?
To be continued.