
Beberapa kali Arjuna hampir ketahuan karena gaya bicaranya yang terlalu frontal. Ia pun mencoba menggunakan bahasa baku seperti Arga. Memang awalnya tidak terbiasa, tetapi lama kelamaan Arjuna bisa melakukannya dengan baik.
Sikap Arjuna tiba-tiba berubah menjadi posesif terhadap Zevanya. Seperti saat Zevanya meminjam pulpen kepada Zevano. Arjuna langsung meminjamkan pulpen miliknya untuk gadis itu. Setahu Zevanya, suaminya tidak pernah begitu, Arga adalah sosok lelaki yang sangat dewasa.
Zevanya baru ingat, kalau dirinya membawa kemeja hitam milik Zevano yang tertinggal di rumahnya dua hari lalu. Ia mengeluarkan kemeja dari dalam tas ranselnya, kemudian menghampiri kursi Zevano. Namun, Arjuna menarik gadis itu hingga terduduk.
Zevanya membulatkan mata. “Kenapa?”
Arjuna merampas kemeja di tangan Zevanya. Lelaki itu melemparnya ke arah Zevano yang nampak sedang menulis. “Selesai, kan? Kamu harusnya menghargai suami sendiri. Masa ada suami, kamu mau dekat-dekat dengan pria lain?”
“Lah? Salah, kalo gue mau balikin barang orang lain? Lo ini kenapa sih?” Zevanya menghela napas kasar. “Nyesel tadi gue nyium lo.” Ia beranjak dari kursi, berjalan gontai menuju pintu keluar.
Zevano menoleh pada Arjuna. Lalu, memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Dari prilakunya yang aneh, sikapnya yang posesif, Zevano tahu itu bukan Arga. Tetapi, Arjuna. Karena Arga tidak akan bertingkah kekanak-kanakan seperti Arjuna. Selama kembaran iparnya tidak berbuat jahat pada Zevanya, Zevano membiarkan Arjuna berada di dekat kembarannya.
Arjuna menyusul Zevanya keluar kelas. Baru sampai di ambang pintu, gadis itu berhenti berjalan. “Stop! Jangan ngikutin gue, lakuin apapun yang lo mau.”
Gadis itu kembali berjalan ke arah kantin sekolah. Seseorang berpakaian hitam dan kumis palsu menarik Arjuna dari belakang. Arga menengok ke sana kemari, memastikan tidak ada orang yang melihat mereka berdua. Arga mendapatkan tugas dari kepala polisi untuk mengawasi Arjuna. Maka dari itu, Arga menyamar menjadi supir pribadi Zevanya, dengan menggunakan nama samaran Mang Emon.
“Kamu melakukan kesalahan.” ucap Arga seraya tersenyum menahan emosi.
“Salah gue di mana?”
“Tugas kamu ini mengamati dan mencari bukti kuat mengenai Gavin. Bukan fokus pada istri orang!” geram Arga.
Arjuna serasa tersambar petir disiang bolong, bisa-bisanya Arga mengetahui kejadian di tangga tadi. Sebuah sentilan mendarat di dahi Arjuna. “Itu hukuman untuk kamu, karena sudah melakukan satu kesalahan. Sekarang kamu fokus saja dengan misi, soal Zevanya kamu tidak perlu khawatir.”
“Terus, lo mau gitu istri lo di rebut sama tu bocah tengil?” dari luar jendela, Arjuna menunjuk Zevano.
“Dia saudara kembar Zevanya.”
“What the ****? Seriusan lo?”
__ADS_1
Arga menepuk pundak kembarannya. “Jangan banyak tanya, sekarang fokus pada tujuan kamu.”
Arjuna mengangguk. Arga melanjutkan penyamarannya, begitu pula dengan kembarannya. Mereka sama-sama kembali pada tujuan awal. Arga sudah berada di SMA Dirgantara bersama Zevanya, lalu lelaki itu tak langsung pulang. Ia mengikuti langkah Zevanya dan Deska. Bersamaan dengan itu, Arjuna datang. Arga menyuruh saudara kembarnya untuk menyelamatkan istrinya.
Arga juga melihat Zevanya mencium pipi Arjuna. Kalau bukan sedang menyamar, ia sudah mencegah adegan tersebut. Arga senang, istrinya semakin berani melawan orang-orang yang bersikap seenaknya, contohnya seperti Icha.
.
.
.
.
Zevanya berdiri di ambang pintu kelas sejarah. Matanya memicing, mencari sepupunya. Setelah diamati satu persatu siswa yang ada, Deska tidak ada di sana. Orang yang dicarinya, muncul sambil memeluk camilan ringan. Gadis itu menghentikan langkah Deska.
“Woi Deska, lama banget sih! Gue kan, bilang jangan lama-lama.” teriak seorang siswi bernama Aca.
Zevanya menghela napas kasar. “Lempar makanan itu ke mereka.” katanya pada Deska.
Mengingat bagaimana cara Zevanya melawan Icha, Deska berinisiatif mengikuti cara sepupunya. Ia menendang camilan ringan di lantai. “Ambil sendiri! Lo punya tangan, kan? Ambil! Jangan diem aja kayak patung.”
Zevanya berbisik pada Deska. “Lo keren banget. Seterusnya kayak gini, ya?”
Awalnya, Deska hanya mencari teman di kelasnya. Tetapi, Aca memberikan syarat, bila ingin berteman dengannya harus membelikan gadis itu camilan ringan di kantin sekolah. Setelah dipikir-pikir, Deska lebih baik tak mempunyai teman di kelasnya. Yang terpenting ia masih memiliki Zevanya.
“Lo nggak level temenan sama mereka, Des. Mereka itu bukan nyari temen, tapi babu.” Zevanya melebarkan senyum.
“Haah ... .“ Deska menarik napas panjang. “Ya, udah, yuk. Mending kita keliling sekolah dari pada bergaul sama mereka.”
Zevanya dan Deska pergi keluar kelas. Tujuan awal gadis itu ingin mengajak Deska ke kantin, kini ia berniat mengajak sepupunya berkeliling sekolah. Pertama-tama Zevanya ingin menunjukkan rooftop yang paling didatangi siswa maupun siswi. Di sana tempat ternyaman pemuda-pemudi SMA Dirgantara bersantai, ada juga yang berkencan di sana.
__ADS_1
Ada meja dan kursi, alat musik yang biasanya digunakan siswa lelaki bernyanyi, bahkan ada sofa empuk di dekat pembatas balkon. Angin sepoi-sepoi menyapu rambut kedua gadis itu. Zevanya dan Deska tertawa terbahak-bahak. Pasalnya, mereka menghirup udara segar secara bersamaan.
“Kayaknya gue rasa cukup, deh. Gue tiba-tiba laper. Ke kantin, yuk?” ajak Deska.
“Ayo.”
Zevanya dan Deska menuruni tangga menuju lantai tiga. Langkah Deska berhenti di anak tangga pertama. Gadis itu tertarik pada kelas kosong yang ada di ujung sana. Mereka menghampiri kelas kosong yang sudah lama dibiarkan. Pintunya pun tidak terkunci. Saat mereka masuk, mata Zevanya dan Deska membulat melihat papan tulis.
“Zev, lo yakin ini kelas kosong? Kenapa banyak foto-foto begini?”
Papan tulis itu dipenuhi oleh foto-foto mengerikan, hingga yang vulgar pun tertempel di sana. Ada foto seorang gadis dengan leher berdarah, ada pula foto gadis bertelanjang tengah membelakangi kamera. Di antara semua gambar itu, hanya satu yang menarik perhatian Zevanya.
Zevanya mencabut salah satu foto yang menurutnya familiar. Rasa pusing menyerang kepala gadis itu, seperti dihantam benda tumpul. Seorang lelaki bertelanjang dada dengan bekas sayatan di seluruh tubuh, meminta temannya untuk memotret dirinya sedang menciumi jenjang leher Zevanya. Foto di lengannya terjatuh, itu ingatannya 3 tahun lalu.
“Zev, lo nggak apa-apa?” tanya Deska khawatir.
“Ternyata ... Berandalan yang hampir ngambil kesucian gue. Itu Gavin.” ungkap Zevanya.
Betapa jantung Deska hampir copot karena saking terhenyak saat mendengar pernyataan sepupunya itu. “Ingatan lo ... Udah balik?”
Zevanya mengangguk cepat. “Iya. Semuanya, gue juga inget, terakhir kali Gavin bilang sesuatu sama gue. Dia nggak akan biarin gue hidup tenang.”
“Jangan-jangan ... Foto-foto itu juga ada kaitannya sama kasus dua temen lo yang meninggal?”
Sesaat, mereka saling melempar pandang. Zevanya dan Deska hendak keluar dari kelas kosong itu. Terkunci, pintunya tiba-tiba terkunci. Dari jendela kaca, tampak Icha tersenyum sambil mengacungkan kunci.
“Icha! Bukain pintunya!“ ucap Zevanya berteriak.
Icha menggeleng. Gadis itu malah melambaikan tangan, seraya berjalan meninggalkan Zevanya dan Deska. Icha membuntuti mereka berkeliling sekolah, ketika mengetahui Zevanya dan Deska masuk ke kelas terbengkalai itu, Icha diam-diam mencuri semua kunci di ruangan guru. Kemudian, kembali lagi ke lantai empat dan mengurung mereka dari luar.
“Hp gue ketinggalan lagi di kelas.”
__ADS_1
“Sama, Zev. Hp gue juga ada di tas.”
To be continued.