STALKER

STALKER
16. Kepekaan


__ADS_3

“Des, nyokap gue ada di kafe, kan?” kata Zevanya. Ia menelepon sepupunya karena khawatir dengan ibunya. Gadis itu belum diperbolehkan pulang oleh dokter, ia masih dalam masa pemulihan.


“Iya. Tante Livy ada di sini, tadi sempet mau jengukin lo ke rumah sakit. Tapi, ada orang yang nganterin nyokap lo ke kafe. Lo tenang aja, nyokap lo nggak apa-apa, kok.” jelas Deska.


Helaan napas lega terdengar keluar dari mulut Zevanya. “Oke. Lo bisa kan, tolongin gue buat jagain nyokap?”


“Tanpa lo suruh gue juga jagain Tante Livy kali.”


“By the way, Arga ada di situ?”


“Lo kan, istrinya! Masa lo nanya ke gue? Ya, jelas nggak ada lah.”


Orang yang ditanyainya kembali dengan kondisi telapak tangan sudah dipenuhi darah. Tak lama, Zevanya berdiri dari ranjang yang didudukinya begitu menyadari cairan merah pekat mengalir di dahi Arga. Entah apa yang terjadi pada lelaki itu hingga terluka di bagian dahinya. Zevanya segera mengambil plester di laci nakas, lalu menempelkan di dahi suaminya.


“Pak Detektif, kenapa bisa luka begini?” tanya Zevanya.


Ujung bibir Arga terangkat, ia meletakkan kedua tangan Zevanya di pinggangnya. Tangannya mulai nakal mengusap wajah gadis itu sambil tersenyum sumringah. Zevanya mencoba menjauhkan diri. Namun, Arga menariknya hingga tubuh mereka merapat seperti lem perekat.


“Kenapa gue baru sadar kalo lo itu, cantik.” puji Arga dengan nada bicara yang berbeda.


“Pak Detektif? Kenapa cara bicara Bapak berubah?”


Sekarang, Arga menenggelamkan wajahnya di leher gadis itu. Lelaki itu tak menggubris pertanyaan Zevanya. Ini sudah tidak benar, Zevanya segera mendorong tubuh Arga dengan sekuat tenaga. Sebelumnya Arga tidak seagresif ini, bahkan cara bicaranya pun selalu menggunakan bahasa baku.


“Kita pulang sekarang.” ucap Arga tiba-tiba.


Zevanya mengernyit. “Bukannya dokter bilang—”

__ADS_1


“Lo tuli? Gue bilang sekarang, ya, sekarang! Dokter itu nggak berhak ngatur lo pulang kapan.” Arga melototi gadis itu. Bola matanya seakan ingin keluar dari tempatnya.


Zevanya membeku di tempat. Ia barusan mendengar Arga membentaknya dengan suara keras sambil melototinya. Tak mau membuat Arga marah dan membentaknya lagi, Zevanya segera mengemasi barang-barangnya, lalu berganti pakaian. Setelah selesai berkemas, ia dan Arga keluar dari kamar VIP.


Padahal, masih ada hari esok untuk kembali ke rumah. Namun, Arga memaksa. Di parkiran mobil, gadis itu memeriksa pesan masuk di ponselnya. Ada satu pesan dari Indah. Sahabatnya itu mengirimkan foto sedang berada di dalam kabin pesawat. Indah berpamitan pada Zevanya akan pergi ke London untuk beberapa tahun.


Semuanya telah direkayasa oleh Gavin. Ia menahan ponsel Indah untuk menyampaikan pesan itu kemudian membakarnya, agar para polisi tidak bisa menemukan bukti itu.


“Kenapa tiba-tiba ni anak pergi ke luar negeri.” gumam Zevanya.


Arga melemparkan tas jinjing hitam pada Zevanya. Lelaki itu merebut ponsel yang sedang dipakai oleh Zevanya, kemudian mematikannya. “Pake hp itu. Yang ini nggak berguna lagi.” Dengan santai, Arga melemparkan ponsel milik Zevanya keluar jendela mobil.


“Arga! Cukup, ya! Lo ini kenapa, sih? Ada masalah? Kenapa dari tadi sikap lo aneh?” kali ini Zevanya tak tinggal diam. Ia meninggikan nada suaranya.


Arga memperhatikan gadis di sebelahnya itu dengan seksama. “Kenapa? Gue cuma mau lo nurutin apa mau gue. Salah gue bersikap kayak gini?! Jadi, lebih baik lo diem atau mulut lo gue lakban.”


Napas Zevanya menderu menahan emosi. Jika ia ikut melampiaskan kemarahannya, ia dan Arga tidak ada bedanya. Gadis itu memilih diam di kursinya, sembari memalingkan wajah ke samping menatap jendela mobil.


Saat tiba di rumah, Zevanya menyadari sesuatu. Arga sudah tak memakai kartu kepemilikan untuk membuka pintu. Kini, diganti dengan nomor PIN. Meskipun hanya menebak, gadis itu yakin sebelumnya mereka sudah mengganti nomor PIN pintu karena ada seseorang yang berani menyelinap masuk.


Langkah kaki Arga pun berbeda. Setahunya, Arga akan mendahului langkah dengan kaki kanan, bukan kaki kiri. Pintu terbuka, Zevanya langsung mengedarkan pandangan ke sudut ruangan. Ada banyak kamera tertempel di sudut, lalu gadis itu berlari menaiki tangga menuju lantai dua.


Zevanya mencoba menempelkan kartu kepemilikannya. Tidak terdeteksi pada kunci pintu. Ia mencobanya lagi menggunakan tanggal lahirnya. Terdengar bunyi suara, yang artinya pintu terbuka. Zevanya melangkah masuk, lalu mendongak ke langit-langit kamar.


“Apa-apaan ini? Kenapa semua sudut atap ada kamera pengawas? Jangan-jangan dia ngawasin gue?” Zevanya menggeleng, mencoba berprasangka baik kepada Arga.


“Sekarang lo percaya kita udah nikah?” ucap Arga di ambang pintu.

__ADS_1


“Ya ... Walaupun belum sepenuhnya yakin.”


“Fine.” Arga menutup pintu, membiarkan Zevanya beristirahat.


Gadis itu penasaran dengan setiap kamera pengawas yang ditempelkan di sudut dinding kamarnya. Ia melambai-lambaikan tangan, memastikan bahwa yang melihatnya saat ini adalah Arga. Jika benar, Arga akan kembali ke kamar Zevanya setelah menyaksikan layar monitor. Beberapa menit menunggu, Arga tak kunjung datang.


“Ini bercanda, ya? Buat apa dia naro kamera sebanyak ini? Why?” Zevanya menggerutu sembari mengangkat tangannya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Zevanya merebahkan diri di ranjang, besok ia harus kembali ke sekolah. Tak berselang lama, Arga kembali masuk ke kamar Zevanya. Kali ini, lelaki itu membawa buku gambar berserta alat tulisnya dan suntikan yang sudah diisi oleh cairan obat tidur.


Arga membalikkan tubuh Zevanya yang tidur menghadap ke kanan. Kemudian, menyuntikkan obat tidur di dada gadis itu. “Kalo gini kan, lo nggak berisik.”


Arga duduk di bangku dekat ranjang. Lelaki itu mulai menggambar setengah badan Zevanya, yaitu kepala sampai leher. Ia memperlihatkan hasil gambarnya ke arah kamera yang tertempel di sudut dinding.


“Arga, istri lo ternyata cocok dijadiin patung? Gimana? Setuju, nggak?”


Arjuna Danuarta. Sudah jelas lelaki yang saat ini tinggal satu atap bersama Zevanya bukanlah Arga. Ia adalah Arjuna, saudara kembar Arga. Mereka kembar identik sehingga orang lain tak dapat mengenali mana Arga dan mana Arjuna. Lelaki itu juga adalah Mr. Black, yang sering membeli mayat wanita dari Gavin.


Sebelum Arga bertemu Arjuna, ia memang berniat menjemput Livy. Namun, tak sangka keduanya akan dipertemukan kembali setelah ibu dan ayah mereka meninggal dunia, ketika berusia 13 tahun. Mereka sempat berkelahi. Arjuna yang tak begitu pandai bela diri, memukul kepala Arga menggunakan batu bata kemudian menyekapnya di gudang rumahnya.


Di gudang pun sudah terpasang layar monitor yang sudah terhubung dengan kamera pengawas di rumah Arga. Arjuna yang memiliki kelainan jiwa sejak lahir, ingin memperlihatkan kepada saudara kembarnya, bagaimana cara dia membuat patung dari tubuh manusia.


Sebelum ke rumah sakit, Arjuna sempat mencaritahu tentang Zevanya, istri kembarannya. Begitu melihat gadis itu secara langsung, Arjuna sudah membayangkan bentuk wajah Zevanya bila menjadi patung mahakaryanya. Penyebab meninggalnya kedua orang tua mereka, adalah Arjuna. Ia membunuh orang tuanya karena terinspirasi dari film psikopat, bahkan sejak kecil pun ia gemar mengoleksi pisau replika.


“Lo bakalan nyaksiin sendiri gimana gue memperlakukan Zevanya.”


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2