
“Haah ... Akhirnya gue udah lama banget nggak ngemall!” ucap Deska dengan antusias.
Zevanya dan Deska pergi ke mall untuk menyegarkan otak mereka. Gadis itu diberi black card premium oleh Arga, ia diperbolehkan belanja apapun yang diinginkan. Kapan lagi bisa belanja sepuasnya sampai dirinya bosan berada di mall.
Deska menggamit lengan Zevanya, menyeretnya ke sana kemari untuk melihat-lihat barang bagus. Gadis itu melihat beberapa baju tidur seksi yang menggantung di dalam toko. Deska melirik Zevanya. Kemudian, mereka masuk ke toko tersebut.
“Lo ngapain sih, ngajak gue ke sini?” protes Zevanya.
Deska mengambil salah satu baju tidur seksi berwarna merah terang dan tembus pandang. “Zev, ini cocok buat lo. Ada lubangnya di tengah.”
Dalam sekejap, Zevanya menyentil ringan dahi Deska. Gadis itu menghela napas panjang, lalu berkata. “Wajar dong lo beli ini, kan, lo mau manjain suami. Apa jangan-jangan, lo belum belah duren sama laki lo?”
“Gue masih segel kali, ya kali gue di bobolin gitu aja.”
“Harusnya lo tuh bersyukur punya laki ganteng, seorang detektif, selalu ngejagain lo setiap saat. Kalo gitu lo sama aja anggurin kucing di rumah tanpa di kasih makan.” suara Deska mengeras. Semua orang yang ada di dalam toko itu sampai melirik aneh mereka berdua.
Zevanya menutup mulut Deska. “Udah diem. Nggak usah banyak bacot, sekarang belanja aja.”
Deska menepis tangan Zevanya. “Tapi ni, ya, yang gue liat-liat sih di artikel ... Katanya hasrat suami lebih tinggi ketimbang istri. Nah! Bisa jadi Arga berpaling ke cewek lain buat dapetin kepuasan seksual?”
“Lo diem ... Di sini lagi banyak orang! Okey?”
Perkataan Deska barusan berputar-putar di kepala gadis itu. Ucapan sepupunya itu ada benarnya. Arga sudah menjalankan tugasnya untuk melindungi Zevanya, sedangkan dirinya belum melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Waktu itu mereka hanya berciuman sampai Zevanya tertidur pulas. Namun, beruntungnya Arga tidak memaksanya untuk melakukan hubungan intim.
“Pilihin yang ... Menurut lo bagus.” pinta Zevanya dengan suara terbata-bata.
Deska tersenyum sumringah. “Okey. Pilihan gue pasti nggak akan salah kali ini.”
Deska akhirnya izinkan memilih baju tidur seksi untuk sepupunya itu. Semua baju yang menurutnya seksi dan hot diambil olehnya. Entah sudah beberapa baju tidur yang menumpuk di lengan kirinya. Ada warna navy, merah pekat, putih dan hitam. Setelah semuanya sudah cukup, Deska membayarnya ke kasir.
Deska menyodorkan tas jinjing pada Zevanya. “Kalo suami lo nggak pulang, lo pancing dia.”
“Gimana caranya?”
__ADS_1
Deska mendesah panjang, lalu menyuruh Zevanya mendekat. Gadis itu membisikkan beberapa tips untuk membuat Arga pulang cepat di saat lembur kerja. Beberapa tips itu ia dapatkan dari internet, ia sering mencari informasi tentang kehidupan setelah menikah. Tujuannya untuk membimbing Zevanya agar bisa melayani suaminya dengan baik.
“Kalo lo nggak percaya, coba aja sendiri. Hadapi kucing buas lo dengan lembut.” Deska mengedipkan mata. Gadis itu bergidik mendengarnya, seolah tahu apa yang Deska maksud.
Ponsel mereka berbunyi secara bersamaan. Sejenak, keduanya saling melirik setelah melihat pesan dari nomor tidak dikenal, mengirimi mereka screenshot postingan seseorang di Instagram bernama Aamon. Deska maupun Zevanya memeriksa akun tersebut. Benar saja, akun Instagram bernama Aamon baru mengunggah satu foto, yaitu foto Zevano dan Deska berdiri di depan toko.
Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling, anehnya tak ada seorang pun yang terlihat mencurigakan. Zevanya dan Deska segera pergi dari toko tersebut. Mereka memutuskan untuk pulang, karena posisi mereka sekarang tidak aman.
Dari lantai dua, Gavin terlihat sedang memperhatikan kepergian dua gadis cantik itu. Akun Instagram bernama Aamon adalah miliknya. Sedangkan yang memberitahu Zevanya dan Deska, adalah Zevano.
.
.
.
.
“Saya pulang larut malam, kamu tidak usah menunggu saya.”
Otaknya sudah berpikir macam-macam tentang suaminya. Membayangkan Arga dikelilingi pelacur di klub malam. Tidak bisa, Zevanya tidak bisa membiarkan suaminya ternodai. Ia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dengan bersih, menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya dan memakai baju tidur yang dibelinya. Langkah terakhir, adalah berdandan dengan cantik.
Setelah berdandan, Zevanya memotret dirinya di kamera ponselnya, lalu mengirimkan foto tersebut pada Arga.
“Saya akan pulang sekarang.” Arga membalas pesan Zevanya dengan cepat.
Zevanya melompat kegirangan. Tidak sia-sia ia mendengarkan tips dari sepupunya itu. Gadis itu menghembuskan napasnya perlahan, menenangkan dirinya.
“Kenapa gue nurut aja, ya, sama tu anak?” gerutu Zevanya.
Terdengar suara pintu terbuka lebar. Penciuman Arga langsung disambut oleh wangi semerbak aroma parfum. Mata lelaki itu menangkap sosok Zevanya dengan pakaian tidur berbahan tipis dan pendek sepaha. Arga menelan ludahnya susah payah.
“Lo udah pulang ternyata.” ucap Zevanya gugup.
__ADS_1
Deska! Maksud lo sekarang gue cosplay jadi ikan asin, gitu? Yang bener aja.
Zevanya mencoba memberanikan diri untuk mencium sekilas bibir Arga terlebih dahulu. Lelaki itu diam membeku sembari menatapnya. Menit kemudian, Arga membalas ciuman istrinya dengan lembut sambil berjalan menuntunnya ke kamar.
Arga merebahkan tubuh gadis itu di ranjang. “Apa saya boleh mengambil hak saya sebagai seorang suami?”
Zevanya mengangguk. “Iya.”
Diberikan lampu hijau, Arga naik ke atas ranjang dan lagi-lagi memangsa bibir Zevanya. Kali ini, sampai ke jenjang leher. Lelaki itu meninggalkan bekas gigitan merah di kiri kanan leher gadis itu. Alarm gerbang berbunyi, pertanda ada seseorang yang berhasil menyelinap masuk. Alhasil, mereka menghentikan aktivitas panas mereka.
“Kayaknya ada orang.”
“Sebentar, biar saya cek keluar.”
Arga berjalan keluar kamar, meninggalkan Zevanya sendirian. Gadis itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Saat Arga keluar dari rumah, ia tak melihat siapapun. Dari sisi kanan ada seseorang bertopi hitam berjalan mengendap-endap ke arah Arga. Seseorang itu menyuntikkan obat tidur di bahu lelaki itu, hingga kehilangan kesadaran. Orang itu membuka topinya. Gavin Sanjaya, lelaki yang selalu mengganggu Zevanya dan Arga bermesraan.
“Cantik, gue dateng.” Gavin tersenyum miring. Lelaki itu memasukkan nomor PIN pintu. Ia mengetahui nomor PIN pintu dari anak buahnya, yang pernah menyelinap masuk untuk meletakkan kamera pengintai. Dugaannya benar, password yang digunakan masih sama. Seperti biasa, Gavin akan mematikan listrik agar wajahnya tidak diketahui.
Kini, Gavin masuk ke kamar Arga. Samar-samar terlihat ada seseorang yang dibungkus selimut tebal. Lelaki itu mencoba bersikap lembut, kemudian membuka selimut tersebut dan menindih tubuh Zevanya. Gadis dibawah tubuhnya memulainya dengan sebuah ciuman, perlahan-lahan turun ke leher.
Karena waktu Gavin tak banyak, ia segera melepaskan celananya dan melakukan penyatuan itu. Buah dada gadis itu diremas dengan lembutnya seperti squishy. Sesudah mencapai *******, listrik kembali menyala.
“Lo siapa? Mana Zevanya?”
“Kamu salah target, Baby.” tangan gadis itu menyentuh jakun Gavin hingga turun ke perut.
“Penipu.”
PLAK!
To be continued.
__ADS_1