STALKER

STALKER
27. Balas Dendam


__ADS_3

Arga membuka ponselnya sambil berjalan menyusuri gang bersama Zevanya. Ia baru menyadari ada dua pesan yang terlewat dari nomor kontak berinisial Z. "Kalo lo menikah sama kembaran gue cuma untuk melindunginya, lakuin itu mulai dari sekarang." kira-kira begitu pesan dari Zevano.


“Kamu tidak perlu khawatir. Zevanya akan aman bersama saya.” balas Arga.


Lelaki itu mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Zevanya. Berkat kejadian tadi, Arga tidak jadi menceraikan istrinya. Ia merasa bisa melindungi dan menjaga Zevanya semampunya. Bahkan Arga rela mempertaruhkan nyawanya sekalipun.


“Mbak bisa masak nggak, sih?! Kenapa dari tadi makanan yang Mbak masak selalu hambar dan asin!?”


Terdengar suara keributan. Zevanya menoleh ke arah Zezev's Coffee Shop, di sana masih terlihat ramai pembeli dengan suasana aman dan nyaman. Mereka berdua bergegas masuk, menghampiri suara keributan itu. Rupanya suara yang mereka dengar berasal dari dalam rumah. Mata Zevanya membulat sempurna melihat sang ibu diperlakukan seperti pembantu.


“Kenapa Anda menyuruh Mama saya masak? Kan, bisa minta sama Mbok Minah?“ Zevanya bertanya dengan suara keras.


“Art di rumah ini sudah saya pecat. Jadi, sekarang tugas Livy dong yang mengerjakan semua pekerjaan rumah.” jawab Ratna santai.


Zevanya tertawa mendengarnya. “Anda harusnya sadar diri, di sini Anda cuma numpang sama Papa saya. Kalau bukan karna Papa ... Anda udah jadi gelandangan di kolong jembatan!”


Livy berusaha melerai pertikaian itu. Namun, Arga menyarankan Livy agar membiarkan mereka berdua. Ratna mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak melampiaskan amarahnya. Kemudian, Ratna hendak mencakar wajah putri dari suaminya. Dengan sigap, Zevanya menahan tangan Ratna, tangan satunya ia gunakan untuk menarik rambut wanita itu.


Zevanya menyeret Ratna ke depan kompor. “Karna nggak ada pembantu di rumah ini, Anda yang harus memasak makanan untuk malam ini!”


“Iya, iya!” jawab Ratna dengan suara bergetar.


Zevanya, Arga dan Livy duduk di kursi meja makan sambil menunggu masakan Ratna matang. Di depan mereka sudah terhidang makanan yang dimasak oleh Livy. Arga sudah mengambil garpu duluan, sebelum Zevanya mengambilnya. Lelaki itu menunjukkan keromantisannya di depan Livy dengan menyuapi Zevanya.


Livy melebarkan senyumnya. “Mama senang melihat kalian akur begini, kalian ... Kapan punya anak?”


Spontan, Zevanya tersedak makanan yang ditelannya. “Ma, Zev ini masih sekolah. Arga juga ngerti kok sama kondisi Zev sekarang.”


“Benar, Ma.” timpal Arga.


“Ya, sudah terserah kalian. Mama nggak memaksa.”


Masakan Ratna sudah jadi. Ia menghidangkannya di atas meja. Wanita itu melihat Zevanya dan Arga memakan masakan Livy. Padahal, tadi dirinya mengomentari masakan Livy hambar dan asin. Namun, mereka berdua menikmatinya dengan lahap.

__ADS_1


Zevanya mencicipi masakan ibu tirinya. Rasanya benar-benar membuat mata menjadi melek saking pedasnya. Ia melihat apa yang dimasak Ratna. Tumis udang. Gadis itu langsung menggaruk lengannya, ia alergi terhadap makanan seafood.


“Tante sengaja, ya! Saya kan, alergi udang!” protes Zevanya.


Ratna menutup mulutnya dengan jemarinya. “Ups, maaf. Tante pikir kamu akan suka.”


“Arga, bawa Zevanya ke kamar. Obatnya ada di dalam laci.” ucap Livy pada menantunya.


Arga membawa Zevanya menaiki tangga. Sementara Livy membuang tumis udang buatan Ratna tadi ke tempat sampah. Jika dibiarkan, bukan putrinya saja yang bentol-bentol, tetapi suaminya juga. Beberapa menit kemudian, Wijaya yang baru pulang kerja menyapa kedua istrinya dengan kecupan manis di dahi.


“Ratna, tumben kamu masak. Tumis kangkung? Kamu tahu aja kesukaanku.” Wijaya meletakkan tas jinjingnya di kursi sebelah, lalu menyendokkan nasi ke piring.


“Bukan dia yang masak, Mas. Tapi, aku.” ucap Livy seraya menatap Ratna di hadapannya.


“Ah, iya. Aku baru ingat. Kamu kan, nggak bisa masak. Masak mie instan saja airnya kebanyakan.” kata Wijaya pada Ratna. Livy terkekeh geli mendengar fakta tentang Ratna yang tak bisa memasak.


Ratna memasang wajah memelas. “Mas, tadi Zevanya bersikap nggak sopan sama aku. Masa dia narik rambut aku kenceng banget. Sakitnya masih terasa!” matanya melirik ke arah tangga dan mengeraskan suaranya.


“Mas nggak percaya sama aku? Aku ini istri kamu, kita udah kenal beberapa tahun!”


“Aku lebih tahu tentang anakku daripada kamu, ya. Jadi, stop membahas ini. Bikin nafsu makanku hilang aja.”


Livy tersenyum menahan tawanya. Ternyata Mas Wijaya lebih mempercayai putrinya dibanding istri keduanya.


.


.


.


.


Para gadis cantik dengan pakaian ketat bergoyang bersama pasangannya, menikmati alunan masuk yang dimainkan oleh seorang DJ. Mereka tak mengetahui klub malam ini sebenarnya dihuni oleh sekelompok stalker. Ya, mereka sudah meninggalkan markas lama dan pindah ke klub malam yang ada diperkotaan. Di sana mereka dapat menemukan target dengan cepat tanpa harus mencari ke sana kemari.

__ADS_1


Gavin menyodorkan sebungkus rokok pada Zevano yang duduk di kursi bar. “Kapan lo balas dendam? Gue denger perempuan itu sering pergi ke klub malam.”


Zevano menghisap rokoknya. “Dari mana lo tau?”


“Gue cari tau lah tentang perempuan bernama Ratna itu.” Gavin meletakkan selembar kertas bertulisan nomor telepon Ratna. “Nih, nomornya.”


“Garcep juga lo.”


Zevano menyimpan nomor telepon Ratna di ponselnya untuk sesaat. Toh, setelah dendamnya terbalas, nomor itu akan dihapus dari ponselnya. Lelaki itu menghubungi Ratna dengan berbasa-basi berkenalan, lalu mengajak bertemu. Zevano tak suka banyak omong, ia langsung mengirimkan lokasi dimana dirinya berada.


“Lo jangan khawatir. Perempuan itu cantik, walaupun umurnya sepantaran bokap lo.”


Ya, umur Ratna memang sudah lebih dari 45 tahunan. Namun, wajahnya selalu terlihat awet muda karena sering perawatan wajah. Jika ibunya dan ayah Zevano tidak pernah bertemu dan menikah. Mungkin sampai saat ini Ratna tidak akan pernah bisa merawat dirinya seperti sekarang.


Beberapa menit kemudian, Ratna datang mengenakan dress ketat berwarna merah terang yang menampakkan paha mulusnya. Ia berjalan melewati kerumunan sepasang muda-mudi yang duduk di kursi sembari meminum alkohol. Zevano melambaikan tangan, menyuruh wanita itu datang padanya.


Ganteng banget. Mas Wijaya pun kalah sama berondong satu ini. Ratna menelan ludah, memperhatikan Zevano yang mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing terbuka. Dada bidang lelaki itu terlihat mengintip.


Ratna mendudukkan diri di samping Zevano. Lelaki itu menyelipkan satu tangan ke belakang leher Ratna. “Tante keliatan cantik di aslinya daripada di foto.”


“Jangan panggil Tante dong, tapi Kakak.” Ratna meraba-raba paha Zevano, seraya tersenyum mengedipkan sebelah mata. Lelaki itu dibuat merinding ketika Ratna menekan pahanya.


“Kamu lebih ganteng dari suami Kakak, bahkan lebih menggoda.” bisik Ratna. Tangannya mulai mengusap ujung bibir Zevano.


Dari seberang sana, Gavin mengisyaratkan Zevano untuk mencium Ratna. "Cium dia. Dia suka di cium." Gavin menggerakkan mulutnya tanpa suara, agar Zevano mengerti apa yang diucapkan.


Demi Zevanya. Apapun bakal gue lakuin.


Zevano menempelkan bibirnya ke bibir Ratna. Ia mengangkat tubuh wanita itu ke pahanya. Ciuman yang diberikan Zevano bukan ciuman lembut. Ia hanya mengikuti gerakan bibir Ratna yang lihai sekali menggigit bibir seseorang. Gavin mengambil kesempatan memotret momen panas itu, lalu mengirimkannya pada Wijaya.


Zevano mengambil napas dan menghembuskannya perlahan. “Mau ke ruangan privat, Kak? Tenang aja, aku akan menghangatkan tubuh Kakak.”


Dengan darah. Zevano tersenyum menyeringai menatap lekat Ratna.

__ADS_1


__ADS_2