
Tadinya, Ratna berpikir bahwa dirinya dan Zevano akan melakukan hubungan intim, seperti yang dilakukan suami istri. Namun, bukan. Keadaannya sudah berantakan dengan rambut kusut, lengan dan kaki tersayat-sayat. Lelaki yang menyayat lengan wanita itu malah duduk santai di sofa sambil menghisap sebatang rokok.
“Jangan bunuh saya ... Saya mohon lepaskan saya.” Ratna merangkak seraya mengulurkan tangan, meraih kaki Zevano.
Zevano menatap Ratna dengan datar. “Lo tau siapa gue?”
Ratna menggeleng lemah. Zevano merangkul pundak wanita itu dan mendekatkan wajahnya. “Gue anak dari suami lo. Seharusnya lo nggak muncul di kehidupan keluarga gue, seharusnya lo tau diri kalo suami lo udah berkeluarga. Kenapa lo masih bertahan? Karna uang? Iya?!”
Ucapan Zevano tak sepenuhnya salah. Semua itu benar. Ratna bertahan menjadi istri Wijaya karena uang, siapa yang tak mau hidup bersama pria kaya raya? Tawaran itu tak bisa ditolak oleh Ratna. Jika Wijaya adalah pria sederhana, wanita itu tidak akan mau menerima tawaran itu. Ia lebih baik setia dengan Gerrad, suaminya yang lumpuh, tetapi kaya raya.
Gavin masuk mengenakan topeng badut untuk menutupi wajahnya. Ia menatap Ratna, seraya mengeratkan genggaman tangannya pada tingkat baseball. Ia melangkah, lalu kemudian, menghantam kepala Ratna menggunakan tongkat baseball. Amarah yang selama ini tertahan akhirnya terlampiaskan.
Sebelum Gerrad meninggal dunia, Ratna sama sekali enggan merawat suaminya yang lumpuh total akibat kecelakaan. Kerjaannya, hanya berfoya-foya menghabiskan uang dan pulang larut malam. Sedangkan suaminya, kesusahan untuk melakukan aktivitas apa pun. Kemana pun harus menggunakan kursi roda. Bayangkan bagaimana susahnya menjadi Gerrad semasa hidupnya.
Hingga suatu hari, Ratna membawa Wijaya ke rumah, mengajak pria itu melakukan hubungan suami istri. Gavin menyaksikannya sendiri dari celah pintu yang sedikit terbuka, melihat sang ibu begitu menikmati setiap sentuhan lembut dari pria lain selain ayahnya. Saat itu Gavin hanya bisa berdiri tanpa bertindak tegas terhadap kedua orang itu.
Wanita ini harus dikasih pelajaran sebelum mati. Gue nggak bisa biarin dia hidup enak, sementara Papa semasa hidupnya tersiksa.
Gavin memukuli Ratna lagi dan lagi. Ia masih belum puas. Kemudian, mengambil mic yang tergeletak di atas meja panjang. Lelaki itu menikam perut ibunya sendiri sebanyak sepuluh kali. Gavin bak orang kesetanan. Zevano menarik Gavin agar berhenti memukuli Ratna.
“Kenapa lo narik gue? Lo tau apa kesalahannya selama ini? Dia ... Udah menelantarkan anak dan suaminya. Menurut gue, dia nggak pantes disebut seorang ibu atau pun istri.”
Sampai sini, kedua mata Zevano membulat tak percaya. Ia berpaling menatap Gavin. “Apa lo bilang? Seorang ibu? Jangan bilang ... Dia nyokap lo?”
“Ya! Dia nyokap kandung gue. Nyokap gue sama bokap lo selama ini selingkuh. Tapi sekarang, mereka udah menikah.”
Zevano mencengkram kerah baju Gavin. “Bego! Kenapa selama ini lo nggak bilang sama gue? Kenapa lo diem aja? Kalo gitu gue nggak akan nyakitin dia!”
__ADS_1
Gavin mendengus kesal. “Coba lo jadi gue. Lo bakal ngelakuin hal yang sama, kan? Lo juga punya dendam sama bokap lo? Nggak kebayang kan, gimana rasa sakit nyokap lo?”
Meski mempunyai dendam yang serupa, Zevano tak akan bisa membunuh ayahnya. Tidak seperti Gavin. Melakukan itu tanpa berpikir panjang dan benar-benar memprioritaskan dendamnya. Zevano sudah membayangkan jika dirinya membunuh Wijaya, lalu Zevanya datang memergokinya. Gadis itu akan terkejut sekaligus membencinya karena ia adalah seorang pembunuh berantai.
Gue nggak bisa lakuin itu, tapi gue juga dendam sama bokap gue sendiri.
Zevano berperang dalam batinnya. Gavin menatap saudara tirinya yang termangu lama, berusaha mencari pembelaan.
“Sorry, tapi gue nggak bisa.”
Dahi Gavin berkerut. Ia memandang saudara tirinya curiga. Gavin mencengkram balik kerah kemeja hitam Zevano, seraya mendorong. “Apa yang lo nggak bisa? Bertahun-tahun lo membunuh banyak orang. Kenapa membunuh bokap lo aja nggak bisa?!”
“Meskipun gue pembunuh berantai, tapi gue masih punya perasaan. Nggak kayak lo.” Zevano menghempaskan tangan Gavin. Ia menunjuk-nunjuk dada lelaki itu. “Lo itu psikopat yang nggak punya empati terhadap apapun.”
“Okey, kalo itu mau lo.” Gavin berpaling menatap pintu. “Rio, Exel!”
Rio dan Exel berbalik dan pergi menuju ke arah pintu, meninggalkan Zevano dan Gavin di dalam ruangan itu.
Gavin mengeluarkan sesuatu dari kantung celana belakangnya. Cambukan yang biasanya ia gunakan untuk menghukum Zevano. “Duduk di lantai menghadap belakang. Buruan!”
Zevano duduk di lantai sesuai perintah Gavin. Sebuah tali cambuk mendarat di punggungnya, ia mengepalkan kedua tangan untuk menahan sakitnya pukulan tersebut. Sementara Gavin berkali-kali menyabet punggung lelaki itu tanpa henti. Darah mengalir keluar dari luka sabetan cambuk. Cairan lengket itu sudah menyatu dengan kemeja hitam Zevano.
“Di sini gue bosnya, jadi lo harus nurutin semua perintah gue. Bukan membantah!”
Gavin hendak melayangkan satu sabetan lagi. Namun, Zevano berbalik dan merebut cambuk itu dari tangan saudara tirinya. Ia balik memukul Gavin, kemudian pergi meninggalkan ruangan privat.
.
__ADS_1
.
.
.
Zevano berlari sempoyongan keluar dari klub malam itu, sambil memegangi tembok yang dilewatinya. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Gavin dan yang lainnya tidak mengejarnya. Zevano berhenti sejenak dan mengambil napas panjang, lalu menghembusnya perlahan. Baru beberapa detik istirahat, beberapa orang suruhan Gavin berlari ke arahnya.
“Sialan!” Zevano mengumpat, kemudian meneruskan langkahnya berlari ke depan.
“Woi! Jangan lari lo!” salah satunya menunjuk Zevano sambil berlari.
Zevano melempar apa saja yang ada di pinggiran jalan. Ia menggelindingkan tong sampah, bahkan kardus-kardus kosong yang menumpuk. Terakhir, Zevano mengambil karung berisi botol-botol plastik dan menumpahkannya di jalanan.
“Woi, kalian! Bersihin sampah-sampah ini.” seorang satpam meneriaki keempat orang berpakaian hitam itu. Salah satunya beralih menatap ke depan, Zevano sudah menghilang dari pandangan mereka. Terpaksa mereka memunguti sampah yang berserakan di aspal, setelah itu melanjutkan pencarian.
Sementara Zevano, sudah tiba di depan rumah orang tuanya. Ia menekan-nekan tombol bel dengan badan membungkuk, lelaki itu memegangi punggungnya. Cairan berbau anyir itu sudah menembus keluar dari pakaiannya. Beberapa menit menunggu, seorang gadis berpakaian piyama biru gelap keluar dari dalam rumah.
“Zevano?! Sebentar.” Dengan tangan bergetar, Zevanya membuka gerbang yang terkunci. Setelah gerbang terbuka, perlahan mata Zevano terpejam, tubuhnya ambruk di pelukan gadis itu. Zevanya meraba punggung Zevano. Ada darah di telapak tangannya.
“Zevano apa yang terjadi sama lo? Zevano! Lo denger gue, kan?!”
Tidak ada jawaban sama sekali. Zevano sudah kehilangan kesadarannya, ada rasa nyaman saat menyandarkan kepalanya di bahu Gadis itu. Zevanya menopang tubuh Zevano ke dalam rumah. Ia mendudukkannya di sofa, kemudian membuka kemeja hitam lelaki itu dan melemparkannya ke sembarang arah.
Zevanya membalikkan badan lelaki itu. Ia membulatkan mata, melihat luka sabetan di punggung Zevano. “Kenapa lo bisa kayak gini? Siapa yang tega ngelakuin ini sama lo?”
To be continued.
__ADS_1