
PRANKKK
Suara pecahan kaca jendela mengejutkan orang-orang, yang sedang menyantap pesanan mereka. Semua yang ada di dalam cafe menoleh ke arah sumber suara. Anggota stalker dan Arjuna. Satu persatu dari pelanggan berlarian keluar. Kini, giliran anggota stalker memasuki ruangan, mereka menendang meja dan kursi.
“Deska!”
Suara teriakan Arjuna menggelegar ke seluruh ruangan, memanggil nama Deska. Rupanya lelaki berhoodie biru gelap yang Zevanya dan Deska kira Arjuna itu adalah Arga. Arga berdiri di depan kedua gadis itu. Si kembar A itu saling melempar tatapan tajam.
Arjuna memegang bahu saudara kembarnya. Di telinga Arga, lelaki itu pun berbisik, “Lo nggak nyangka kan, gue bawa mereka ke sini? Secara nggak langsung gue udah bantuin lo. Tapi, dengan satu syarat.”
Arga menaikkan satu alisnya. “Mau bernegosiasi seperti apa lagi?”
“Serahin dua cewek yang ada di belakang lo.”
“Mereka—”
“Gue aja!” Deska memotong kalimat Arga, lalu maju selangkah. “Gue rela di perlakukan gimana pun, asalkan jangan Zevanya. Gue tau lo itu cuma kesepian, karna lo belum bisa lupain Stella, kan?”
Arjuna terbelalak. Perkataan Deska tidak sepenuhnya salah, faktanya memang begitu. Patung-patung mahakaryanya juga dijadikan teman curhatnya setiap hari. Namun, itu semua tidak ada gunanya. Gadis-gadis yang diculik Arjuna pun tidak tahan berada di sampingnya. Deska berbeda, gadis itu tidak ada takutnya sama sekali.
“Gue tau lo orang baik, dari mata lo gue bisa liat ... Kalo Arjuna yang gue kenal bukan psikopat.” Deska berusaha membujuk Arjuna. Entah dari mana inisiatif itu datang. Padahal, awal-awal bertemu ia nampak ketakutan.
“Yang dibilang Deska bener. Lo itu baik, cuma sisi lain lo yang bikin semua orang takut.” timpal Zevanya.
Deska menatap lekat Arjuna. “Lo mau kan, balik lagi ke rumah sakit jiwa? Gue janji, setiap hari bakalan jengukin lo.”
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Arjuna. Ia melirik saudara kembarnya, meminta solusi. Arga menganggukkan kepala, meyakinkan Arjuna. Sebetulnya, Ia merasa tersentuh oleh ketulusan Deska, perasaan ini datang tiba-tiba saat mendengarkan gadis itu berbicara.
Arjuna setuju untuk melakukan pengobatan kembali di rumah sakit jiwa. Niat awalnya kemari ingin membantu Arga menangkap anggota stalker dan bernegosiasi. Namun yang terjadi sebaliknya, ialah yang dinegosiasikan.
Zevanya bisa bernafas lega. Ia agak kaget mengetahui bahwa Deska mempunyai keberanian untuk meluluhkan Arjuna.
Arga menghubungi Sandy dan Rega, menyuruh kedua rekannya membawa polisi untuk menangkap para stalker. Entah ada berapa jumlah mereka, yang pasti bukan 40 orang.
Beberapa saat kemudian, suara sirene polisi membuat para stalker itu ingin melarikan diri. Terlambat. Pihak kepolisian berhamburan keluar dari mobil, lalu berjalan memasuki cafe seraya menodongkan pistol. Para stalker itu tak bisa berbuat apapun, beberapa polisi memborgol dan membawa mereka masuk ke khusus tahanan.
__ADS_1
Pihak rumah sakit jiwa pun baru saja tiba. Mereka membawa Arjuna, Deska ikut bersama lelaki itu. Besok dan seterusnya, Deska akan selalu berkunjung ke rumah sakit jiwa, menepati janjinya pada Arjuna.
Keadaan cafe berantakan seperti kapal pecah. Makanan pelanggan berserakan di lantai bersamaan dengan meja dan kursi. Sandy dan Rega hanya bisa menggeleng kepala melihat keadaan cafe. Mereka berdua masuk ke ruangan kerja Zevanya, memastikan bahwa tidak ada orang yang bersembunyi.
Nyatanya, memang ada seseorang yang sedang bersembunyi. Kurniawan Affandi. Iwan perlahan berdiri sambil menggenggam erat pistol pemberian bosnya. Beberapa menit sebelumnya, Arjuna memerintahkan Iwan untuk membunuh Zevanya bersama janin dalam kandungannya. Tidak peduli Zevanya masih hidup, setidaknya, janin dalam kandungan wanita itu mati.
Iwan membidik punggung Zevanya. Gadis itu sedang berdiri bersama Arga, menunggu Sandy dan Rega keluar dari cafe. Kebetulan meja kasir dan pintu masuk berseberangan.
Arga bosan menunggu kedua rekannya di depan cafe lantas memasuki ruangan. Langkah kakinya terhenti melihat Iwan yang sudah siap menodongkan pistol ke arah Zevanya. Arga menoleh pada Zevanya, menarik gadis itu ke pelukannya.
Dalam hitungan detik kemudian, Iwan menarik pelatuk pistol dan melesatkan empat kali tembakan. Cucuran darah menetes ke teras lantai. Zevanya meraba-raba punggung Arga, merasakan ada cairan lengket di telapak tangannya. Tubuh lelaki itu ambruk di bawah kaki Zevanya.
Setelah melakukan penembakan itu, Iwan kabur melewati Zevanya yang tertegun memandang Arga. Ia memangku kepala Arga. Setetes air mata jatuh di wajah suaminya, kondisi lelaki itu masih setengah sadar.
Arga mengulurkan tangan, menyentuh pipi wanita itu. “Jaga buah hati kita, ya. Maaf, kalau selama ini saya belum becus menjadi suami siaga.”
Zevanya menggeleng cepat. “Nggak! Kamu harus terus sama aku. Kita yang akan merawat anak ini sama-sama. Please stay with me ... .”
Sebuah senyum tipis terukir di bibir Arga, lalu menyeka air mata yang terus keluar dari pelupuk mata Zevanya. “Maaf.” kelopak mata lelaki itu terpejam, wajahnya terlihat tenang seperti orang tertidur.
Zevanya menyandarkan kepalanya di dahi Arga. Tangisnya pecah sampai terdengar di telinga Sandy dan Rega. Mereka berdua melihat Arga terkapar di pelukan Zevanya. Wanita itu memberitahu pelaku yang telah membunuh suaminya. Mendapatkan informasi, Sandy dan Rega bergegas mengejar si pelaku.
Selang beberapa menit, ambulans datang. Mereka membaringkan Arga di brankar dan menutup sekujur tubuh lelaki itu menggunakan kain putih. Zevanya ingin melihat wajah Arga untuk yang terakhir kalinya. Saat kain itu dibuka, dadanya makin terasa sakit.
“Sesuai perkataan kamu. Aku ... Akan jagain anak kita.” ucap Zevanya lirih. Ia mengusap perutnya.
.
.
.
.
5 tahun kemudian.
__ADS_1
“Uncle Nono!”
Seorang gadis kecil berkepang dua, berlari memeluk Zevano. Berliana Jelita Danuarta, anak yang dikandung Zevanya empat tahun lalu, kini sudah tumbuh besar. Seringkali ia mengajak Berliana ke kantor polisi untuk membesuk Zevano, hingga anaknya terbiasa memanggil lelaki itu paman. Zevanya tidak memberitahu tentang kematian Arga pada Berliana, karena masih terlalu dini untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Singkatnya, Zevanya hanya memberikan foto Arga pada Berliana. Setiap kali Berliana bertanya dimana ayahnya, Zevanya berdalih bahwa Arga bekerja di luar negeri dan jarang pulang ke rumah. Sedikit merasa bersalah karena telah membohongi anaknya sendiri, padahal, Berliana juga berhak tahu.
“Uncle Nono, kenapa nggak ikut pulang aja sama Mama? Kenapa harus di sini terus?” tanya Berliana mulai penasaran.
Zevano mengedipkan sebelah mata, meminta tolong pada Zevanya menjawab pertanyaan Berliana. Wanita itu mengangkat bahu. Zevano tersenyum lembut memandang sang ponakan. “Om bisa pulang, tapi bukan sekarang.”
“Kenapa bukan sekarang?”
Melihat bibir Berliana cemberut, Zevanya menjelaskan maksud Zevano. “Uncle Nono itu pahlawan, makanya, tidak boleh pulang sama Pak Polisi.”
“Oh, kayak Boboiboy, ya, Ma?” Berliana langsung mengerti perkataan sang ibu.
Si kembar Z menyunggingkan senyum terpaksa. “Ya, kurang lebih begitu.”
Berliana mengangkat tangan ke udara. “Berlian juga mau kayak Uncle! Jadi pahlawan.”
Zevanya dan Zevano tertawa terbahak-bahak melihat tingkah imut Berliana. Ucapan Zevano beberapa tahun lalu seperti doa yang terkabul. Zevanya dikaruniai seorang putri dan ia merelakan cita-citanya menjadi hakim atau detektif, demi mengurus Berliana. Mengurus gadis kecil berusia empat tahun tidak mudah, seringkali Zevanya dan Deska bergantian menjaga Berliana.
“Jam besuk sudah habis.”
Polisi berseragam cokelat membawa kembali Zevano ke dalam sel tahanan. Baru lima belas menit mengobrol dengan pamannya, Berliana harus berpisah lagi. Gadis kecil itu masih ingin melihat Zevano.
“Nanti kita bisa ke sini lagi, kok. Berlian jangan khawatir, Uncle Nono baik-baik aja di sini.”
“Iya.”
Zevanya menggendong Berliana. Mereka berdua pergi setelah puas bercanda gurau bersama Zevano. Sayang sekali, Arga tidak bisa ikut berkumpul seperti tadi. Mau bagaimana pun Zevanya harus belajar ikhlas menerima semuanya. Wanita itu tidak sendirian sekarang, ada Berliana yang akan menemaninya sampai wajah berubah keriput.
Aku berharap kamu bisa lihat dari atas sana.
****
__ADS_1
END