STALKER

STALKER
37. Persidangan


__ADS_3

“Ada yang dateng!”


Di luar terdengar suara motor yang berdatangan. Fokus anggota stalker jadi teralihkan, mereka pergi memeriksa keluar. Ternyata motor-motor yang terparkir di luar itu milik para gangster dan Zevano. Para gangster itu langsung menyerbu masuk, menghajar anggota stalker. Kegaduhan pun terjadi di luar. Zevano mengambil kesempatan untuk masuk di saat mereka berkelahi.


Sementara Gavin mengawasi Zevanya dan Deska. Gadis itu memberikan isyarat pada sepupunya dengan memberi hitungan kelima menggunakan jarinya. Keduanya berlari dengan berlawanan arah, membuat Gavin bingung harus mengejar siapa. Akhirnya, Gavin memilih mengejar Zevanya.



Zevanya berlari menaiki anak tangga ke lantai dua. Di belakangnya ada Gavin yang mengejar. Ia sampai di lantai dua, lalu naik lagi ke tangga menuju lantai tiga. Napasnya tersengal, sesekali berhenti sejenak untuk mengatur pernapasannya. Lalu, ia meneruskan langkahnya menyusuri lorong yang di depannya terdapat balkon.


Gadis itu menghentikan langkahnya di dekat pembatas balkon. Ketika akan berbalik arah, sudah ada Gavin di seberang sana. Lelaki itu berjalan sambil mengeluarkan pisau. Zevanya memundurkan tubuhnya. Gavin berjalan semakin dekat ke arah Zevanya.


“Woi, Gavin!”


Suara itu membuat Gavin menoleh ke belakang. Zevano menatap gadis di belakang Gavin. Ia berjalan cepat, kemudian mencengkeram erat kerah baju Gavin dan melemparnya ke dinding. Ia meninju habis-habisan wajah bosnya yang gila bagaikan psikopat. Gavin balik melawan dengan menyeruduk perut Zevano, membanting tubuh lelaki itu ke lantai.


Sekujur tubuh Zevano rasanya meremuk. Gavin kembali berjalan mendekati Zevanya. Gadis itu makin merapatkan diri pada pembatas balkon. Gavin berhasil menjepit kedua kaki Zevanya dengan kakinya, karena takut adik kecilnya di tendang lagi seperti tadi. Gavin ingin menusuk perut Zevanya. Tiba-tiba di bawah halaman depan, mobil polisi berdatangan, membuatnya tak bisa berkutik.


Arga dan beberapa polisi lainnya keluar dari mobil. Mereka langsung menodongkan pistol ke arah Gavin. Si pelaku malah mendorong tubuh Zevanya. Gadis itu melayang di udara, lalu terjatuh ke bawah tepat di depan mata Arga. Rega dan yang lain menyerbu masuk ke dalam gedung berlantai tiga. Arga membuka borgol di tangan Zevanya. Pergelangan tangan istrinya memerah, lehernya penuh bekas cupangan.


“Zevanya ... .“ Arga mengangkat kepala gadis itu ke lengannya. Ia merasakan hangat di lengannya. Darah mengalir deras dari belakang kepala Zevanya.


Arga menggendong tubuh istrinya, membawa masuk ke mobil. “Tangani mereka dulu, saya akan membawa Zevanya ke rumah sakit.” lelaki itu berbicara pada rekan-rekannya melalui HT.


Mobil Arga melaju keluar dari area markas stalker. Sementara, para gangster yang dibawa Zevano telah berhasil menangkap sebagian anak buahnya Gavin. Exel dan teman-temannya melarikan diri saat polisi tiba di tempat. Rega dan Sandy memborgol kedua tangan Gavin, membawanya masuk ke mobil tahanan bersama anggota stalker lainnya.


Zevano membawa Deska dan Icha keluar dari gedung tersebut. Naasnya, siswa lainnya melakukan bunuh diri secara massal, hal itu dikarenakan mereka tak mau mendapat siksaan dari Gavin atau pun anggota stalker lain. Mayat-mayat para siswa pun di gotong ke dalam mobil ambulans. Kondisi mayat mereka tak begitu parah, hanya beberapa luka tusukan di bagian perut.


“Terima kasih, berkat kamu, kita bisa menemukan markas mereka. Oh, iya. Kamu bisa ikut kita ke kantor polisi? Ada hal yang ingin kita bicarakan.” pinta Rega.


Zevano mengiyakan seraya tersenyum. “Boleh, saya nggak keberatan.”


Kini, gedung berlantai tiga itu sudah diberi garing kuning bertuliskan "Peringatan! Dilarang melintas" agar siapapun bisa tahu bahwa gedung itu adalah bekas markas stalker.

__ADS_1


Sebelum pergi, Zevano sempat berterima kasih kepada para anggota gangster pria itu. Kalau bukan karena mereka, Zevano tidak bisa menyelamatkan Zevanya mau pun Deska. Para gangster itu sudah mengetahui sejak lama markas stalker. Namun, mereka belum yakin bahwa penghuni gedung tersebut adalah sekelompok stalker.


.


.


.


.


2 hari kemudian.


Pagi ini sekitaran pukul 09.00 WIB di depan gedung pengadilan umum, telah hadir beberapa wartawan. Sebuah mobil Avanza berhenti, keempat polisi berseragam cokelat membawa Gavin yang mengenakan kemeja putih dan rompi merah. Keempat polisi itu menggiring Gavin berjalan masuk melewati kerumunan wartawan. Berita tertangkapnya anggota stalker pun sudah tersebar luas di penjuru kota Jakarta.


Baiknya Arga menyewakan pengacara untuk Gavin, agar bisa melakukan persidangan. Ia sendiri tak berniat menyewa pengacara. Lelaki itu kini duduk di kursi terdakwa, menghadap ketua hakim dan anggota hakim.


“Sidang dibuka untuk saudara Gavin Sanjaya. Semuanya sudah lengkap, maka sidang hari ini dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.” ketua hakim majelis mulai membuka sidang perdana.


Pengacara Zevano menjelaskan surat tuntutannya. Gavin terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dan pelecahan seksual, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 340 KUHP dan 289 KUHP terhadap korban yang bersangkutan, bernama Indah Yanti. Dengan sengaja serta direncanakan sebelumnya.


Gavin mengangkat sebelah tangan. “Maaf sebelumnya, pelakunya bukan cuma saya. Tapi ... .” lelaki itu menoleh ke belakang, menatap Zevano. “Zevano Adriansyah Pradipta.”


Sang pengacara memandang Zevano. Lalu, bergantian memandang Gavin. “Apa terdakwa memiliki bukti bahwa saudara Zevano bersalah?”


Senyum miring terukir di bibir Gavin. “Saya memang tidak ada bukti. Tapi, Zevano yang membantu saya untuk menghapus bukti setelah membunuh Indah.”


David, pengacara Zevano menoleh pada ketua hakim. “Bagaimana, Yang Mulia?”


“Saudara Zevano Adriansyah Pradipta, ada pembelaan?” tanya ketua hakim pada Zevano.


“Tidak ada, Yang Mulia.”


Kemudian, David memanggil saksi pertama. Icha Yunita. Gadis itu berterus-terang selama menjadi budak nafsu Gavin. Mulai dari melihat anggota stalker lain mencambuk korban, sampai menyaksikan Gavin membunuh korban wanita dengan tongkat baseball. Jika bukan karena ancaman, Icha sudah melarikan diri dari sarang stalker. Sayangnya, tidak bisa.

__ADS_1


Icha juga bersaksi, ia dan Gavin adalah satu sekolah bahkan teman kelas. Tak hanya itu, ia disuruh oleh Gavin mengurung Zevanya dan Deska di kelas kosong. Saat itu, Icha mulai kecanduan sentuhan lelaki itu. Maka, jika menginginkannya, Icha harus melakukan hal tersebut.


“Apa saudari Icha mengenal Zevanya?” tanya David pada Icha.


Icha menghela napas berat. “Tidak begitu kenal, kami beberapa kali sering bertengkar di sekolah.”


“Ada lagi yang ingin di sampaikan?”


Icha melirik sedikit ke belakang, ingin sekali mulutnya berbicara jujur tentang mata bajak lautnya. Tetapi, ia ingat semalam Zevano telah berusaha keras menyelamatkannya.


“Tidak ada.”


Padahal, gue berharap lo cerita yang sejujurnya, batin Zevano.


Selanjutnya, Zevano yang akan bersaksi atas apa yang ia lihat semalam. Gavin mencoba membunuh kembarannya dan menusuk gadis itu dengan pisau. Saat polisi tiba, Gavin mendorong Zevanya. Saudari kembarnya saat ini masih dalam keadaan koma, belum sadarkan diri.


Zevano berpikir sejenak. “Saya ingin bersaksi, Gavin juga telah membunuh Papa dan Mama saya, bahkan di siarkan secara live.”


“Saudara Zevano punya bukti?”


“Ada. Saya bisa tunjukkan.”


Zevano meraba-raba kantung celananya, mengambil flashdisk yang berisikan bukti-bukti kejahatan Gavin selama ini. Ada rekaman suara, foto screenshot saat Livy bunuh diri dan masih banyak lagi. Tujuannya menyimpan itu, ingin menjebloskan bosnya ke penjara.


David memasangkan flashdisk itu di laptopnya. Ia mencari berkas yang menyimpan barang bukti. David membuka satu berkas yang isinya screenshot foto Livy gantung diri. Beberapa bukti lainnya juga ditampilkan di layar monitor.


“Di foto ini menampilkan orang yang berbeda. Apakah ini para komplotan terdakwa?”


“Mohon menjawab Yang Mulia. Benar, mereka adalah anak buah saya. Sayangnya, polisi atau pun detektif tidak bisa menangkap mereka. Karna jumlah mereka ada 40 orang. Sepuluh orang tertangkap, berarti sisanya ....” Gavin mengangkat tangannya dan mendongak ke atas. Ia menghitung satu persatu jari tangannya. “Melarikan diri, haha!”


Nada bicara Gavin seperti tenang-tenang saja mengatakan itu. Pengacara di sampingnya pun tidak membelanya. Lelaki itu tertawa seram layaknya psikopat.


Kedua polisi berseragam cokelat di depan pintu, membukakan pintu untuk seseorang. Seseorang itu memasuki ruangan. “Apakah boleh saya menjadi saksi, Yang Mulia?”

__ADS_1


__ADS_2