
Chapter 3
.
.
.
.
Deg....deg....deg....deg....
Hyuga Hinata berdebar dalam diam. Ia merasa sangat gugup susah untuk berkata-kata yang sederhana. Sosok yang ia selalu perhatikan dari kejauhan kini begitu amat dekat.
Sementara yang ada di hadapannya Hinata hanya diam dan tersenyum canggung. Uzumaki Naruto yang belum pernah bergaul dengan seorang wanita, ia harus mengalami pengalaman yang sangat diluar jangkauan dari kesehariannya.
"Nee-chan? Apa dia ini temanmu?" Suara yang tiba-tiba menyadarkan, Hinata seketika menoleh.
(Thor pake panggilan Nee-chan aja kalau pake panggilan 'Mbak' ya agak aneh juga kan?)
"I-iya, Naruto ini te..teman sekelas Nee," jawab Hinata gugup sampai tergagap karena panik.
'Aku baru tau kalau Hinata ternyata gagap? Tunggu sebentar! Bukannya pas di kelas dia ngomongnya lancar?' kata batin Naruto merasa ada yang ganjil.
"Ehem! Naruto-nii, salam kenal ya, saya Hyuga Hanabi," kata Hanabi memperkenalkan diri.
"Salam kenal juga, aku Uzumaki Naruto."
"Ano, Naruto-nii juga suka karaoke ya?" Hanabi yang terlihat akrab langsung bertanya.
"Ah, tidak juga. Aku hanya berkeliling saja," balas Naruto mengimbangi obrolan.
Hinata hanya mendengar alur pembicaraan adiknya dan Naruto yang entah tiba-tiba begitu akrab. Padahal ini kali pertama bertemu.
Obrolan yang mulai mengarah ke hobi masing-masing. Dan hobi yang sama mulai menjadi topik utama. Hinata tidak menyangka kalau tipe pemuda seperti Naruto menyukai Anime dan manga/Kartun Jepang dan komik.
"Wah, jadi Naruto-nii juga suka Isekai? Aku suka alurnya loh biarpun sudah masuk pasaran semua manga sekarang lagi tren-trennya tentang dunia lain," Hanabi bicara penuh semangat.
"Biarpun pasaran tapi seru hehe..."
"I-iya itu bener banget haha..."
Hinata juga ingin mengobrol namun ia tak tahu harus diawali dari mana. Hinata juga suka anime Isekai tapi kenapa ia merasa canggung untuk ikut dalam obrolan mereka berdua.
Adiknya yang masih kelas 3 SMP sudah pintar bicara dengan seorang yang baru dikenal. Hinata yang sudah kelas 3 SMA benar-benar terlihat payah. Dan jujur saja ia sangat kesal oleh sifat pemalu nya ini. Padahal yang diajak Naruto bicara saat ini adalah adik Hinata sendiri tapi Hinata malah merasa cemburu dengan adiknya.
"Naruto-nii, aku pergi sebentar. Tolong jaga Nee-chan ku ya!"
"Iya tenang saja. Pasti ku jaga," balas Naruto santai.
Blussh...
__ADS_1
Hinata merona tiba-tiba. Hanabi hanya terkekeh geli dan pergi entah kemana tujuannya. Naruto mengajak Hinata melihat-lihat manga yang ada di tempat penjualan buku. Hinata mengangguk, menurut kemana sang remaja pirang itu mengajaknya.
Benar-benar suasana yang suram tanpa ada bahan untuk dibicarakan. Naruto memilih dengan teliti mana yang bagus dan tidak untuk dibaca. Hinata yang diam-diam melirik langsung menunjuk manga mana yang paling menarik.
"Na-Naruto, itu yang disebelah bagus."
"Mmm... Yang ini?"
"I-iya itu bagus," jawab Hinata.
Manga yang Hinata sarankan untuk dibaca bergenre Isekai mengenai seorang dokter yang ke dunia yang baru. Naruto tertarik karena belum pernah baca walaupun ia sering melihat sampulnya tapi masih belum terpikir untuk membacanya.
Naruto tak ingin diberitahu lengkap alur ceritanya agar ia penasaran dan sesampainya di rumah langsung membacanya. Hinata senang karena Naruto langsung tertarik dengan manga itu. Naruto tidak sabar ingin cepat pulang.
"Wah, kalian disini! Aku sampai mondar-mandir nyariin!" Hanabi menghampiri Naruto dan Hinata yang tadinya sedang asik dalam obrolan tentang manga yang Naruto pegang.
"Hanabi..."
"Eh, kamu darimana saja? Lama sekali?" ucap Naruto dengan pertanyaan sopan.
"Hehe... Ano, Nii-san, ini masalah perempuan. Nii-san tidak boleh tau!"
"O-oke, jadi masalah perempuan ya...." gumam Naruto yang sebenarnya ingin tahu.
"Onee-chan, ayo kita pulang! Aku lupa ada janji dengan ayah!"
"Janji?" tanya Hinata ke Hanabi.
"Oh'iya aku lupa..." kata Hinata sambil melirik Naruto secara diam-diam.
"Naruto-nii, aku pamit dulu ya! Daa.. ayo Nee-chan jangan malah bengong!"
"Ah, iya-iya.... Naruto, aku pulang du-dulu ya?"
"Hati-hati ya, kalian berdua."
"Okeh!" Hanabi membalas dengan riang. Hinata yang ingin ikut menyahut, ia keburu di tarik pergi oleh Hanabi.
"Haah.... Enaknya punya adik ya. Jadi iri saja." Naruto bicara sendiri dan melihat sampul buku manga yang ia pegang.
'Jadi Hinata juga suka baca manga ya.'
.
.
.
.
Di kediaman keluarga Hyuga. Di kamar Hinatai jam 9 malam. Hinata tak nyaman ketika Hanabi tiba-tiba masuk dan ingin bicara tentang Naruto orang yang seperti apa sebenarnya? Hanabi menilai Naruto sebagai orang asik diajak bicara dengan hobi yang sama.
__ADS_1
"Ah, Onee-chan jangan diam saja. Kasih tau aku, Naruto-nii itu aslinya gimana?"
"Aslinya gimana? Maksudmu apa ya Hanabi?"
"Eh? Apa aku harus jelasin? Naruto-nii kan kelihatan baik dan asik tuh. Apa di sekolah gitu juga?"
"Ooh, iya gitu juga setahuku," balas Hinata. Dia memeluk boneka beruang yang ia ambil dan meremas beruang itu tanpa adiknya tahu.
"Andai saja aku seumuran Nee-chan pasti aku bisa pacaran sama Naruto-nii! Pasti bakal seru!"
"Ja-jangan! Yang benar saja! Kamu masih kecil punya pikiran kesana!"
"Heh? Aku kan sudah kelas 3 jadi wajarkan Nee-chan!"
Hinata dan Hanabi malah berdebat karena Hinata tidak setuju biarpun itu hanya andai-andai dari Hanabi yang mulai ngelantur. Hanabi tersenyum jahil karena pikiran yang tiba-tiba mengarah bahwa kakaknya sekarang sedang cemburu.
"Besok aku mau nembak Naruto-nii, ah mudahan dia suka gadis SMP seperti ku."
"Jangan! Tidak boleh! Umur kalian terlalu jauh sama sekali tidak cocok!"
"Cocok aja asal ada cinta diantara kami!"
JEDER!
Hinata seakan tersambar petir dengan kalimat terakhir Hanabi yang amat penuh penekanan. Jika Naruto menerima pernyataan cinta adiknya maka Hinata tak ingin hidup lagi.
"SUDAH CUKUP JANGAN NGELANTUR!"
Hanabi terkejut untuk pertama kalinya kakaknya amat marah karena kejahilannya. Ternyata yang Hanabi pikirkan benar kalau Hinata suka dengan Naruto.
"Ya ampun Onee-chan sebenarnya suka Naruto-nii ya kenapa tidak bilang?"
"Ah, eh, apa? Kenapa bisa tau!" Hinata bingung dengan ucap ceplas-ceplos Hanabi.
"Yee, pantes tadi marah hahahaha...."
Hinata menyembunyikan wajah di bantal. Dia benar-benar malu jika diingat ia sangat marah sampai berteriak.
'Entah kenapa aku malah berdebar terus,' kata batin Hinata dan membenamkan wajahnya ke bantal. Hanabi terkekeh geli karena baru kali ini melihat kakaknya kelewatan malu-malu dari biasanya.
'Sayang banget padahal aku suka Naruto-nii.' kata batin Hanabi.
.
.
.
.
( Cerita ini hanya fiksi belakang. Jika ada kesamaan di kehidupan anda berarti hanya kebetulan saja dan tunggulah kelanjutan ceritanya ya! )
__ADS_1