
Chapter 6
.
.
.
.
Naruto senang karena sering menerima sms dari Hinata. Hubungan mereka cukup dekat tetapi di luar sekolah. Di lingkungan sekolah mereka jarang berbicara seperti orang asing. Entah kenapa mereka begitu gugup saat berada di lingkungan sekolah, takut siswa lain akan melebih-lebihkan hubungan mereka. Naruto dan Hinata tidak ingin persahabatan mereka ternoda oleh rumor palsu. Terkadang Naruto mengintip untuk melihat Hinata, apa yang dilakukannya dengan para siswi.
Ketika mereka melewati aula, mereka hanya tersenyum satu sama lain.
"Aku ingin sekali ngajak dia ngobrol!!" Naruto menyesali segalanya saat dia menghadap dinding seolah-olah dia sedang curhat di dinding yang tidak mungkin bisa memberikan solusi untuknya. Murid bernama Tenten itu memandang Hinata. Hinata dengan lesu menatap makan siangnya.
"Kamu lagi ada masalah ya?"
"Ti...tidak."
Tenten mendesak Hinata untuk menceritakan masalahnya, tetapi Hinata menggelengkan kepalanya dan tidak ingin menceritakannya. Tenten tiba-tiba berkata bahwa dia menyukai Naruto. Hinata kaget mendengarnya, tapi anehnya, Tenten tertawa. Sedikit banyak Tenten tahu bahwa Hinata menyukai Naruto. Tenten menyimpulkan seperti itu karena Tenten secara tidak sengaja melihat Hinata menaruh sesuatu di loker Naruto.
Dari kejauhan dekat tembok Naruto melihat Hinata dan Tenten sedang mengobrol. Naruto sangat ingin membantu Hinata saat dia dalam kesulitan. Naruto kemudian memutuskan sepulang sekolah dia akan bertanya kepada Hinata ketika mereka sedang bermain game online.
"Andai aku bisa dengar apa yang mereka bicarakan, pasti aku tau masalahnya."
__ADS_1
Sambil memikirkan banyak hal dalam perjalanan pulang, Naruto dihadang oleh 2 orang yang memalaknya, Naruto dengan santai mengabaikan mereka dan memukuli mereka ketika mereka mencoba memaksanya untuk menyerahkan dompet.
"Hiii, dasar Monster !!" Kedua orang itu berteriak dan lari. Naruto menghela nafas lega karena dia bisa mengatasi masalah yang menyebalkan itu. Selain jago pelajaran olah raga, Naruto juga sangat jago bertarung karena saat masih duduk di bangku SMP ia sering menghadapi teman-teman sekelasnya. Ingatan masa lalunya kembali ke insiden ketika teman sekelasnya tidak menerima bahwa Naruto dikatakan jago bela diri? Sampai saat ini Naruto tidak mengerti bagaimana jalan pikiran mereka setiap kali mengingat kejadian itu.
Di dalam rumah yang terlihat sepi, Naruto langsung mandi dan menuju kamar untuk bermain game online di komputer. Fantasy Online 2 menjadi penghibur Naruto saat sedang bosan dan bahagia karena bisa berbicara dengan Hinata.
"Naruto-nii!"
Hanabi memanggil Naruto dengan keras. Hinata tidak ikut bermain game tersebut karena ada sesuatu yang harus dia lakukan terlebih dahulu, Naruto sedikit kecewa saat mendengarnya. Naruto dan Hanabi memutuskan untuk menaikkan level karakter mereka supaya bisa menjelajahi area yang dipenuhi monster yang kuat dan besar. Hanabi mulai membicarakan aktivitasnya di sekolah dan ada seorang siswa yang mencoba mendekatinya tapi Naruto hanya memberi saran agar Hanabi menerima siswa tersebut.
Hanabi mengerutkan kening saat melihat layar komputer, Hanabi tidak menyangka bahwa Naruto begitu tidak peka meskipun itu merupakan pemancing bagi Naruto untuk sedikit lebih posesif terhadapnya. Hanabi mulai berpikir mungkin karena mereka bukan sepasang kekasih, Naruto tidak merespon seperti yang diharapkannya.
"Curang!!"
"Wuaaahhh!! Nee-chan!!"
Di dalam game mereka terlihat biasa saja, namun di luar game mereka berdebat karena Hanabi sudah bertindak terlalu jauh untuk memancing Naruto.
Merasa diabaikan seperti gangguan dan pengusir nyamuk dalam hubungan pasangan. Hanabi bernyanyi melalui pesan suara di tim. Naruto merasa kesal tapi dia bisa menutupnya dengan lebih fokus pada Hinata.
Keesokan paginya, Naruto membantu ibunya menyiapkan sarapan. telur dadar gulung dan nasi adalah menu sarapan keluarga Uzumaki. Naruto meletakkan semuanya di atas meja makan dekat dapur. Kushina meminta Naruto untuk menyiapkan 2 gelas susu. Setelah tertata rapi di meja makan, Naruto dan Kushina bersiap untuk menikmati sarapan yang telah mereka buat.
Setelah membaca doa dan mengatakan selamat makan. Mereka mulai menyantap sarapan dan menilai kenikmatannya. Kushina mengira masakannya terlalu asin kali ini. Naruto mengira itu tidak terlalu asin karena dia suka yang asin. Mereka memiliki peringkat rasa yang berbeda tetapi masih layak dinikmati untuk sarapan.
"Naruto, jika kamu lulus apakah kamu ingin kuliah atau tidak?"
"Aku mau kuliah kalau dana kita cukup bu. Kalau tidak bisa, aku kerja dulu ... Tapi masih lama jadi kupikir dulu."
__ADS_1
Naruto mulai berpikir untuk berinisiatif mencari pekerjaan paruh waktu, Naruto tidak ingin membebani ibunya lebih banyak untuk mendukungnya terus menerus meskipun itu adalah tugasnya sebagai orang tua. Setelah sarapan, Naruto berangkat ke sekolah, ibunya berangkat kerja. Percakapan antara dia dan ibunya berkibar di pikirannya.
Kesempatannya semakin jauh agar Naruto bisa semakin dekat dengan Hinata selama berada di lingkungan sekolah. Secara alami Naruto akan lebih fokus pada pekerjaan paruh waktu jika dia bisa menemukan pekerjaan yang merima murid SMA sebagai pegawai. Naruto memutuskan untuk mengajak Hinata mengobrol meski nantinya akan ada gosip yang tidak menguntungkan untuknya.
Setelah sampai di sekolah, Naruto bergegas mencari Hinata di kelas. Kiba sedang berdiri di samping bangku Hinata. Kiba mencoba merayu Hinata, tapi suara keras merusak konstruksi Kiba yang akan mencari kata-kata untuk merayu.
"Hinata, tolong ikut aku sebentar!" Naruto meletakkan tasnya di bangku. Hinata, yang sedang kebingungan, dengan polosnya menerima ajakan Naruto. Kiba yang sebelumnya serius, menjadi tercengang karena dia terkejut dengan kejadian singkat itu. Kiba yang berniat menyusul Hinata, Kiba dicegah oleh Tenten, yang memerintahkan Kiba untuk tidak mengikuti mereka.
Naruto menggaruk kepalanya meskipun dia tidak gatal atau berketombe, dia hanya bingung harus berkata apa untuk mengatakan apa yang dia pikirkan. Uchiha Sasuke adalah murid teladan dan tampan. Dia tersentak sedikit dan kaget karena Hinata tidak pernah dekat dengan laki-laki.
Tatapan Sasuke tertuju pada Naruto yang mencoba berbicara untuk memulai percakapan dengan Hinata.
"Si Dobe?"
Sejauh yang Sasuke tahu Naruto hanya pernah mencoba mendekati seorang siswa bernama Haruno Sakura tapi Sakura lebih menyukainya daripada Naruto. Sasuke melangkah ke ruang kelas dengan keyakinan bahwa Naruto akan ditolak oleh wanita seperti sebelumnya. Sasuke mengerutkan kening saat memasuki ruang kelas dan melihat Kiba yang sedang meratapi nasibnya karena Naruto dan Hinata pergi bersama. Tenten hanya mengangkat bahu dan menyerah untuk menyemangati Kiba.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
Maaf ya karena lama gak aku up! Sayang banget aku bakal sibuk lagi kayaknya tapi aku tetep nulis kok!!
__ADS_1
Makasih dah luangin waktu kalian lagi buat baca ceritaku!