STALKER

STALKER
26. Cerai


__ADS_3

Rifky telah dipindahkan ke ruang rawat inap, saat ini lelaki itu koma akibat keracunan makanan. Di duga yang memberikan makanan itu adalah polisi. Namun, Rega sudah menanyakan kepada para polisi berseragam cokelat. Sebagian dari mereka tak merasa memberikan makanan kepada Arjuna dan Rifky.


Masalah Rifky belum selesai, muncul masalah baru. Petugas rumah sakit menemukan dua orang mayat lelaki di bawah tangga darurat. Rega dan Sandy menghampiri tempat kejadian perkara. Sementara itu, Gavin telah berganti pakaian, dari seragam polisi kini berpenampilan layaknya dokter sungguhan. Ia masuk ke ruangan Rifky setelah memastikan tak ada yang berjaga di depan pintu.


“Anak ini kuat juga rupanya. Gue kira bakalan langsung mati.”


Gavin melihat kondisi wajah pucat Rifky, ada selang infus yang menempel pada lubang hidung lelaki itu. Rifky anak buahnya yang paling mematuhi peraturan dan perintahnya, dari sekian banyaknya anak buah di kelompok stalker. Hanya saja hari ini, Rifky harus berakhir di tangan bosnya sendiri.


Gavin mengedarkan pandangannya. Ia melihat ada bantal kotak di sofa, lalu mengambilnya. Tanpa membuang waktu, lelaki itu melepas selang infus di hidung Rifky. Gavin langsung membekap wajah anak buahnya menggunakan benda tersebut. Alat Elektrokardiografi di samping ranjang berbunyi, dan menunjukkan garis lurus. Pertanda denyut jantung Rifky berhenti.


“Sekarang saatnya.” Gavin menekan tombol saklar yang tertempel di atas kepala ranjang, guna memanggil dokter. Kemudian, lelaki itu keluar dari sana sebelum yang lain masuk.


Di luar ruangan, tampak dokter dan suster berlarian menuju ruang rawat Rifky. Rega dan Sandy sudah kembali. Mereka menunggu di depan pintu. Pintu terbuka, dokter yang menangani Rifky pun keluar.


“Bagaimana Dok, kondisinya?” tanya Sandy pada dokter itu.


Dokter itu menghela napas. “Mohon maaf, kami sudah mencobanya semaksimal mungkin. Tapi, pasien tidak dapat diselamatkan.”


“Kalau boleh tau apa penyebabnya, Dok?” sekarang Rega yang bertanya.


“Pasien keracunan makanan, kami juga mendeteksi racun tikus di dalam tubuh pasien.”


“Ternyata begitu. Terima kasih Dok.” pungkas Rega. Dokter tersebut hanya tersenyum, kemudian berlalu pergi meninggalkan Rega dan Sandy.


Beberapa perawat tampak mendorong brankar dari ruang rawat inap, di atasnya ada Rifky dengan sekujur tubuh yang ditutupi kain putih. Mereka akan memandikan jenazah Rifky sebelum di masukkan ke ruangan jenazah.


Drrtt... Drttt...


Mata Sandy masih fokus pada perawat yang mendorong brankar, tetapi tangannya mengambil ponsel di saku celana. Keningnya berkerut melihat siapa yang mengirim pesan.


Detektif Arga: Apa ada masalah di kantor?


^^^Sandy: Tahanan bernama Rifky meninggal setelah memakan makanan dari salah satu polisi. Tapi, untungnya Arjuna nggak makan itu.^^^


Detektif Arga: Ada lagi?


^^^Sandy: Ada. Ditemukan dua mayat lelaki dengan luka di kepala dan kaki. Itu terjadi di rumah sakit yang sama.^^^

__ADS_1


Detektif Arga: Kebetulan istri saya sempat ke rumah sakit, dia juga melihat korban sebelum kesadarannya hilang. Apa kalian mau melakukan investigasi?


Arga mengirimkan lokasi Zezev's Coffee Shop, dan menyuruh mereka datang ke sana untuk melakukan investigasi. Ini pekerjaan yang menyenangkan bagi Rega dan Sandy, mereka berdua segera bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


.


.


.


.


“Dua orang itu ngikutin gue dari lantai empat sampe ke lantai tiga, di tangga darurat mereka mulai mengepung gue. Satu orang lagi mendorong gue, setelah itu gue nggak inget apa-apa. Terus pas bangun, tiba-tiba gue ada di mobil Zevano.” jelas Zevanya.


Rega dan Sandy berpikir mereka yang akan mewawancarai Zevanya, ternyata Arga. Mereka berdua hanya mendengarkan penjelasan gadis itu dari kursi belakang. Sementara Arga, merekam penjelasan istrinya menggunakan ponsel.


Sejenak, Arga berpikir keras. “Zevano? Apa dia pelakunya?”


“Bukan, dia nolongin gue dari dua orang itu.”


Napas Arga terhela begitu saja. Tidak masuk akal, Zevano pasti terlibat dalam kasus ini. Secara lelaki itu adalah pembunuh berantai, yang tak bisa diragukan lagi keahliannya dalam bunuh membunuh. Ini hanya dugaannya, mungkin langkah selanjutnya Arga akan mewawancarai Zevano.


“Ya, mungkin lain waktu.” ucap Arga pada Rega dan Sandy.


“Zevano itu nggak terlibat, dia cuma nolongin gue. Nggak mungkin dia membunuh orang sampai sesadis itu.” Zevanya menolak tuduhan itu.


Arga menatap Zevanya dengan serius. “Tapi, kalau kenyataannya begitu bagaimana? Apa kamu masih mengelak? Kamu hampir mati berkali-kali, saya bahkan tidak bisa melindungi kamu. Malah, orang lain yang melindungi kamu.”


Melihat situasi tidak memungkinkan, Rega dan Sandy beranjak dari kursi. Sandy meletakkan selembar uang di meja, untuk membayar minuman yang mereka pesan. “Eh, Bang. Kita baru inget kalo masih ada urusan di kantor. Jadi, kita pamit, ya!”


Dua orang itu keluar dari Zezev's Coffee Shop. Kini, hanya tinggal Deska, Zevanya dan Arga di sana. Deska memakai headset bluetooth agar tak mendengar percakapan pribadi antara suami istri itu.


“Kenapa lo bilang begitu?” tanya Zevanya.


“Saya merasa gagal menjadi seorang suami. Di saat kamu dalam bahaya, saya tidak ada di samping kamu. Memang sepertinya saya tidak cocok menjadi suami kamu.”


Zevanya menggenggam erat jemari Arga. “Jadi maksud lo ... Cerai? Karna ngerasa lo nggak cocok buat gue?”

__ADS_1


“Orang tua kamu meminta saya untuk melindungi anaknya, tapi saya sepertinya tidak bisa. Maaf, mungkin itu lebih baik untuk kita. Toh, sejak kita menikah kamu terus-terusan dalam bahaya.”


Tangan Arga perlahan terlepas dari genggamannya. Lelaki itu beranjak pergi keluar cafe. Setetes air mata berhasil keluar dari pelupuk mata Zevanya. Melihat Arga menjauh, Deska segera mendudukkan diri di hadapan Zevanya.


Deska tersenyum, kemudian mengusap lengan atas sepupunya. “Meskipun, gue nggak tau apa yang lo sama dia bicarain tadi ... Jangan sedih, kehidupan setelah menikah emang begitu.”


“Arga minta cerai, Des.”


“What the hell?!! Cerai? Kenapa bisa?”


Zevanya menghela napas panjang. “Alasannya karna nggak bisa ngelindungin gue. Dia bilang nggak pantes buat gue.”


Deska berdiri mengepalkan kedua tangannya. Pintu terbuka, seorang pembeli masuk ke cafe, berjalan ke arah kursi Zevanya dan meletakkan susu pisang di atas meja. Orang itu duduk di kursi belakang Zevanya. Deska merapikan penampilannya, kemudian segera memberikan buku menu kepada orang itu.


“Kentang goreng dua porsi.” kata orang itu.


“Itu aja, Kak? Ada yang lain?” tanya Deska sambil mencatat pesanan orang itu.


Orang itu sedikit menoleh ke belakang. “Nggak ada.”


“Baik, tunggu sebentar, Kak.”


Zevanya tidak tahu mengapa orang tadi memberinya sebotol susu pisang. Ia jadi teringat dulu Zevano sering memberikannya susu pisang, di saat sedang sedih ataupun kesal. Bunyi notifikasi dari ponsel Zevanya. Seseorang dengan nomor tidak diketahui mengirimkannya pesan.


+62******: Punya permintaan? Gue bisa bikin cowok tadi bertekuk lutut sama lo, atau lo mau dia mati?


Zevanya mengernyit, pupil matanya membesar. Tanpa berpamitan gadis itu pergi dari cafe, mengejar Arga. Sekarang sudah lewat jam sembilan lebih, jalanan gang sepi. Di depan sana, tampak Arga sedang berdiri sembari melamun menatapi layar ponsel.


Helaan napas lega keluar dari mulut Zevanya. “Arga!”


Arga mengangkat kepalanya, melihat ke arah sumber suara yang meneriaki namanya. Di belakang Zevanya ada seseorang berhoodie hitam, berdiri mengarahkan pisaunya ke leher gadis itu. Ini saatnya Arga melindungi istrinya. Ia berlari menjatuhkan ponselnya, lalu menarik pinggang Zevanya ke dalam dekapannya.


Satu kecupan hangat mendarat di pucuk rambut Zevanya. “Syukurlah kamu tidak terluka.”


Orang berhoodie hitam tadi sudah menghilang. Arga melihat sekelilingnya. Sepi hanya mereka berdua di sana. Di balik tembok, orang itu berjongkok seraya mengutak-atik keyboard ponselnya.


Ponsel Arga menyala, menunjukkan ada satu pesan dari seseorang dengan inisial Z. Sayangnya, ponselnya tergeletak di aspal.

__ADS_1


Z: Jangan tinggalin dia. Dia gadis yang mudah kesepian.


To be continued.


__ADS_2