STALKER

STALKER
30. TPU


__ADS_3

“Kalian berhenti di sana! Jangan kubur suami saya. Dia masih hidup!” teriak Livy dengan suara keras.


Siang ini di tempat pemakaman umum, Zevanya dan sekeluarga menyaksikan jenazah Wijaya yang telah terbungkus kain kafan akan dimasukkan ke liang lahat. Pria itu menghembuskan nafas terakhirnya di dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jika tak ada kemacetan lalu lintas, mungkin saat ini Wijaya sudah berada di rumah sakit dalam keadaan koma. Namun, takdir berkata lain.


Livy yang paling histeris melihat jenazah Wijaya dimasukkan ke liang lahat. Ia seperti tidak percaya dengan kematian suaminya. Beberapa orang memegangi kedua lengannya, kalau tidak, wanita itu akan berlari masuk bersama jenazah sang suami. Di tengah-tengah pemakaman, seorang lelaki berpakaian setelan hitam datang dan berdiri di samping Zevanya.


“Papa ... .” lirih lelaki itu. Pipinya sudah dibanjiri air mata.


Zevanya menoleh ke arah sumber suara itu. Barusan, lelaki yang memanggil Wijaya dengan sebutan "Papa" adalah Gavin Sanjaya. “Gavin? Lo ngapain di sini?”


“Dia Papa gue, Zev.”


Mendengar ucapan Gavin, Zevanya membulatkan matanya. Kalau lelaki di depannya ini adalah anak ayahnya, berarti, Gavin anak kandung Ratna sekaligus saudara tirinya. Mengapa ia baru mengetahuinya sekarang? Ratna dan Wijaya juga tak mengatakan apapun soal ini. Alasan Wijaya tak pernah mengatakan hal itu, karena bermaksud ingin menjaga perasaan putri dan istrinya.


Sementara itu, Gavin merasa sudah harus memberitahukan bahwa dirinya juga adalah bagian dari anggota keluarga Pradipta. Meskipun tak punya ikatan darah. Dengan begitu, ia jadi lebih mudah untuk mengancam Zevano. Sial sekali lelaki itu harus bersusah payah mengeluarkan air mata sungguhan, demi tampil sedih di depan banyak orang.


Orang-orang itu mulai mendoakan almarhumah Wijaya, setelah proses pemakaman selesai. Begitu juga dengan Zevanya dan Arga. Kemudian, sepasang suami istri itu diminta untuk menaburi bunga di atas tanah dan menyirami sebotol air.


Setelah itu, orang-orang tersebut pergi meninggalkan makam Wijaya. Kini, hanya tinggal pihak dari keluarga almarhum. Livy memeluk batu nisan bertuliskan nama suaminya, dan berkata. “Mas, kita pulang, yuk. Di sana pasti Mas kegelapan tanpa cahaya.”


Zevanya berjongkok, lalu mengusap rambut sang ibu. “Ma, Papa udah tenang di sana. Mama harus ikhlas, menangis nggak akan merubah apapun.”


Livy menggeleng. “Mama mau di sini. Kalian kalau mau pulang, pulang aja.”


Zevanya mengalihkan pandangan ke arah Arga. Lelaki itu ikut berjongkok di samping ibu mertua. “Ma, Papa minta Mama pulang. Sekarang kita pulang, ya?”


Akhirnya setelah dibujuk begitu, Livy menurut. Zevanya meminta Deska membawa sang ibu ke mobil duluan. Sementara mereka akan mengobrol sebentar dengan Gavin. Ada hal yang harus mereka dipastikan sebelum pergi.


Zevanya menghela napas, seraya menatap tajam Gavin. “Apa selama ini lo tau kalau gue anak Papa Wijaya?”


Gavin mengangguk. “Tau. Papa sering cerita tentang lo. Beliau juga minta kita untuk tinggal satu atap.” bohongnya.

__ADS_1


“Tidak bisa, walaupun kamu bagian dari keluarga kami. Tapi maaf, kami tidak mengizinkannya.” tolak Arga.


“Maaf, kalo boleh tau ... Bokap kandung lo ke mana?” tanya Zevanya pada Gavin penasaran.


“Meninggal karna jatuh dari tangga.” jawab Gavin.


Bukan jatuh, tetapi Ratna yang mendorong Gerrad dari lantai dua hingga meninggal. Wanita itu lelah merawat pria lumpuh, ia tidak bisa bebas melakukan aktivitas yang ia mau. Terutama pergi ke klub malam. Maka dari itu, Ratna memutuskan untuk mendorong suaminya.


“Oh. Kalo lo masih mau di sini silahkan. Kita harus pergi.” pamit Zevanya pada Gavin. Gadis itu dan Arga berlalu pergi meninggalkan Gavin di makam sang ayah.


Senyuman terbit di wajah Gavin. Lelaki itu menatap nama yang tertera di batu nisan tersebut. Sebelum meninggal dunia, Wijaya lumayan memperhatikannya dibanding Ratna. Ya, beruntung Zevanya memiliki seorang ayah yang sangat perhatian dan penyayang. Lalu, Gavin berjalan meninggalkan makam Wijaya.


Di depannya ada Zevano dengan Hoodie hitamnya dan celana jeans robek-robek. Ia dan Gavin berpapasan. Zevano mengetahui kabar kematian ayahnya dari warga komplek, saat lelaki itu hendak mampir ke rumah untuk mengambil kemejanya.


Zevano berjongkok di dekat batu nisan sang ayah. Ia menaburi bunga sambil menitikkan air mata. “Pa, maafin aku. Aku malah buat semuanya jadi hancur. Tujuan aku emang mau bunuh Papa. Tapi, aku berubah pikiran. Papa berada di sini juga karna aku.”


Drrttt... Drtt...


Sedang fokus mencurahkan isi hatinya, ponsel Zevano bergetar. Ia mengeluarkan ponsel dari saku Hoodie-nya, lalu membaca satu pesan yang belum terbaca dari bosnya.


Wijaya bukan meninggal hanya karena gagal jantung, tetapi ada orang lain yang membuat penyakitnya kambuh. Ya, Zevano sudah menduganya ini semua karena Gavin. Kali ini, lelaki itu tidak akan termakan oleh ancaman saudara tirinya lagi. Zevano sudah mulai jengah, ia berniat membongkar semua kejahatan yang dilakukan Gavin pada Arga.


Zevano mempunyai beberapa bukti foto-foto Gavin mengeksekusi korban. Hal itu dilakukan untuk mengancam balik atau menjebloskan lelaki itu ke dalam penjara. Ada juga foto Gavin saat menusuk Indah, ia memotretnya diam-diam melalui jendela kaca.


Lalu, Zevano mengirimkan beberapa foto tersebut pada Arga. Ia juga mengungkapkan bos sekelompok stalker dan orang yang selalu meneror Zevanya. Sekarang tugasnya berbalik, Zevano akan menggagalkan setiap pembunuhan berencana yang dilakukan Gavin. Seolah seperti pahlawan.


Arga: Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?


^^^Zevano: Gue diancam sama dia. Kalo gue kasih tau, Zevanya bisa dalam bahaya.^^^


Arga: Sebenarnya saya sudah tahu dari Arjuna. Gavin menjual mayat kepada Arjuna, benar, kan?

__ADS_1


^^^Zevano: Iya.^^^


Ternyata psikopat kayak Arjuna bisa juga berkata jujur, batin Zevano. Lamunannya membuat lelaki itu tertawa kecil sambil menghapus air matanya.


.


.


.


.


Empat hari kemudian.


“Ma, makanannya Zev taruh depan pintu, ya!”


Sejak pulang dari pemakaman, Livy selalu mengurung diri di kamar. Tiga hari yang lalu, Zevanya mengantarkan makanan ke kamar sang ibu. Namun, makanan tersebut dilempar ke lantai oleh Livy. Sikapnya berubah menjadi agresif seperti sudah kehilangan akal sehat. Deska menyarankan Zevanya agar membawa Livy ke rumah sakit jiwa. Sayangnya, Zevanya tak mau dan ingin merawat ibunya.


Beberapa menit menunggu Livy mengambil makanan yang di antar Zevanya, wanita itu tak kunjung keluar dari kamarnya. Ia mencoba mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Zevanya memaksa masuk dengan menendang pintu hingga terbuka. Nampak Livy tengah menggenggam gagang gelas kaca. Tetesan darah mengalir jatuh ke lantai.


“Aargghh!” Livy berteriak dengan satu tangan memegangi kepalanya.


Zevanya berlari masuk menghampiri sang ibu. Ia membuang pecahan gelas yang digenggam Livy. “Mama nggak boleh ngelakuin ini. Mama harus bisa ikhlas. Papa ... Udah tenang di atas sana.”


“Nggak, Zev. Kamu salah, Papa kamu masih hidup. Orang-orang mengira Wijaya meninggal, tapi kenyataannya masih hidup. Dia pasti sesak berada di dalam kuburan.” ucap Livy menyakinkan.


Zevanya menarik napas berat. “Ma! Papa bener-bener udah nggak ada. Mama liat sendiri kan, jenazah Papa udah nggak bernafas?”


“Papa beneran meninggal?”


Tatapan tak percaya Livy membuat Zevanya meneteskan air mata. Ia mengangguk mengiyakan jawaban sang ibu. Gadis itu memeluk Livy seraya menepuk-nepuk punggung.

__ADS_1


“Perlahan Mama bisa mengikhlaskan kepergian Papa.”


To be continued.


__ADS_2