STALKER

STALKER
34. Kabar Duka


__ADS_3

Siang ini di rumah sakit. Zevanya dan Arjuna sedang menjalani operasi pengangkatan peluru. Zevanya hanya melakukan operasi ringan, sementara Arjuna mengalami pendarahan akibat lima luka tembakan di punggungnya. Gadis itu keluar dari ruangan operasi, sudah ada Zevano yang menunggu di depan pintu.


Zevano menarik tubuh Zevanya ke dalam pelukannya. Ia menepuk-nepuk punggung gadis itu. Zevano mendapatkan kabar duka dari dokter yang menangani Livy, entah harus mulai dari mana untuk membahas tentang ibu mereka.


“Mama baik-baik aja, kan?” tanya Zevanya.


“Mama udah tenang sekarang, Mama nggak akan kesepian lagi di sana.”


Tubuh Zevanya merosot ke bawah. Dadanya sakit ketika mendengar kabar duka dari Zevano. Air mata langsung membanjiri pipinya. Dua orang perawat datang sambil mendorong brankar jenazah Livy. Zevano membantu Zevanya berdiri, mereka berbarengan membuka kain putih yang menutupi sekujur tubuh sang ibu.


Kondisi jenazah Livy seperti habis disiksa oleh seseorang. Terdapat bekas lebam di leher dan lengan wanita itu. Sebelum gantung diri, beberapa orang suruhan Gavin memukuli bahkan menampar Livy. Setelahnya, mereka menyuruh Livy menggantung dirinya dengan rantai yang sudah disiapkan. Zevano menyuruh dua perawat itu membawa jenazah sang ibu ke mobil pengantar jenazah.


Tampak di depan sana, Arga berlari ke arah si kembar Z. Zevanya segera melingkarkan kedua tangan di pinggang sang suami. Ia mengusap dan mencium pucuk kepala Zevanya. Dipikir, rasa sesak di dadanya akan berkurang, ternyata malah bertambah sesak.


Arga mengusap punggung gadis itu. “Berhenti menangis. Kalau tidak bisa, coba tarik nafas yang dalam ... Hembuskan dari mulut.”


Zevanya mengikuti instruksi Arga. Ia menarik napas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Benar, rasa sesak di dadanya sudah lumayan membaik. Wajahnya jadi lengket akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata.


“Bagaimana keadaan Arjuna?” tanya Arga pada Zevano.


“Masih di tangani dokter bedah. Soal nyokap gue ... Beliau meninggal.” jawab Zevano.


Arga melirik jam tangannya. “Kita masih punya waktu tiga jam. Sambil menunggu Arjuna selesai operasi, sebaiknya kita siap-siap untuk pergi ke pemakaman umum.”


“Lo bener.”


.


.


.

__ADS_1


.


Jenazah Livy telah dimakamkan di sebelah tanah kuburan Wijaya. Itu adalah permintaan Zevanya karena ibunya selalu ingin bertemu dengan sang ayah. Gadis itu hanya melamun menatapi papan yang terukir nama ibunya. Sahabat terdekatnya sudah tidak ada, sekarang orang tuanya. Semua orang yang berdekatan dengan Gavin pasti akan bernasib seperti kedua orang tuanya. Entah siapa korban selanjutnya.


Zevanya meremas erat jari-jemarinya. “Gue mau balas dendam. Ini nggak bisa dibiarin. Cindy, Indah, bahkan orang tua kita udah jadi korban! Gue nggak mau Deska jadi korban selanjutnya.“


“Masalahnya saya tidak tahu Deska dan siswa lainnya di bawa ke mana. Polisi kehilangan jejak Gavin. Untuk sementara waktu kita susun rencana terlebih dahulu.“ Arga menjelaskan.


Zevano menghembus napas pelan. “Lo bener, apalagi mereka itu bukan cuma 20 orang. Orang-orang yang terpilih menjadi anggota stalker, cuma untuk balas dendam dan melampiaskan nafsu.”


“Saya punya ide. Bagaimana kalau kita pancing mereka.” usul Arga. Ia merangkul bahu Zevanya dan Zevano seraya berbisik mengenai rencananya.


Zevanya mengangguk. “Gue setuju.“


Arga tersenyum cerah ketika Zevanya akhirnya menyetujui. “Bagus, jangan bertindak gegabah tanpa instruksi apapun.”


Zevano dan Zevanya saling bergantian menyirami tanah kuburan sang ibu dengan sebotol air doa. Setelahnya, mereka bertiga berpamitan kepada Livy dan Wijaya sebelum pergi. Rencana pertama mereka, menyebarkan selembaran kertas berisi informasi tentang hilangnya gadis remaja berusia 18 tahun kepada pejalan kaki.


Sementara itu, senja telah tiba di alun-alun kota Jakarta. Alun-alun nampak ramai di datangi oleh banyaknya pemuda-pemudi remaja, hingga orang dewasa sekalipun. Zevanya dan Zevano mulai membagikan selembar kertas itu kepada pejalan kaki yang ada di sana. Di kertas tersebut juga tertera nomor telepon keduanya.


“Halo, Kak. Ada sepupu saya yang hilang, sampe sekarang belum bisa ditemuin. Kalau Kakak ngeliat sepupu saya tolong kabarin ke nomor ini, ya.” Zevanya menyodorkan selembar kertas itu kepada sepasang kekasih yang sedang berjalan kaki.


Zevano menyebarkan postingan orang hilang di akun Twitter dan Instagram. Ia juga meminta bantuan kepada orang-orang Twitter untuk menangkap para stalker yang sudah memakan banyak korban. Postingannya dibanjiri dengan komentar, ada seorang gangster pria yang ingin membantunya.


“Zeva, gue pergi dulu sebentar. Gue ada urusan, tetep di sini dan jangan ke mana mana.” sebelum meninggalkan kembarannya, Zevano mengusap lembut rambut Zevanya.


Zevanya hanya menjawab dengan anggukan. Ia kembali membagikan selembar kertas tersebut. Di saat sedang sibuk membagikan selembaran kertas, ponselnya berdering. Zevanya berjalan di tepian sambil mengangkat telepon dari suaminya.


“Kamu lagi di mana sekarang?”


“Gue—”

__ADS_1


Seorang gadis tak sengaja menabrak Zevanya, membuat selembaran kertas di tangannya berhamburan jatuh ke aspal. Ponselnya terlempar ke besi penutup got. Zevanya berjongkok, memunguti selembaran kertas yang berserakan.


“Mbaknya nggak apa-apa?” tanya gadis itu.


Zevanya menoleh pada gadis yang menabraknya. “Nggak apa-apa, kok.”


Saat akan meraih ponsel, ponselnya malah terjatuh ke sela-sela lubang kecil di penutup got tersebut. Zevanya mencoba memasukkan tangannya. Namun, tidak muat. Lalu, ia teringat ucapan gadis tadi.


Zevanya menghela napas berat. “Nggak apa-apa. Tapi, sakit ... .”


“Zevanya? Apa yang terjadi?” samar-samar, suara Arga terdengar dari ponsel yang berada di dalam got.


Gadis itu menundukkan kepala. Tangannya memukuli dadanya dengan keras. Kenapa hidup gue jadi kayak gini? Apa gue nggak berhak buat bahagia?


Karena tidak ada jawaban dari sang istri, Arga mengakhiri panggilan selulernya. Arga sedang bergegas menuju tempat di mana Zevanya berada. Untung GPS di ponsel Zevanya diaktifkan, jadi Arga bisa mengetahui lokasi gadis itu.


Seorang anak perempuan berusia 10 tahun menghampiri Zevanya. Gadis kecil itu berdiri di depan Zevanya yang sedang menutupi wajah basahnya. “Kak, ini untuk Kakak. Biar Kakak nggak sedih lagi.”


Zevanya mengangkat kepala. Gadis kecil itu meletakkan squishy berbentuk love di tangan Zevanya, kemudian pergi setelah memberikan benda tersebut. Gadis itu memainkannya dengan cara di remas-remas. Sedang asyik memainkannya, tiba-tiba mobil berwarna putih berhenti di depannya.


“Zevanya.”


Arga tersenyum lega melihat istrinya baik-baik saja. Ia memunguti selembaran kertas itu, pandangannya terhenti pada ponsel Zevanya yang tergeletak di dalam got. Layarnya bahkan sudah basah. Namun, masih bisa berfungsi karena ponsel itu anti air. Arga membantu gadis itu berdiri.


Melihat kedua pipi Zevanya basah, Arga segera menyekanya. “Berhenti menangis. Memang kehilangan ibu atau ayah itu sakit, tapi kamu harus menerima kenyataan bahwa mereka sudah tidak ada.”


“Ya, lo bener. Mungkin karna guenya aja yang terlalu cengeng.”


Angin berhembus kencang. Arga menyelipkan rambut Zevanya yang ikut berterbangan karena tiupan angin. Lelaki itu tersenyum. “Tidak apa-apa, saya suka.”


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2