
Arjuna, lelaki itu mengaku beberapa bulan lalu Gavin menjual dua mayat seorang wanita padanya. Cindy dan Indah. Tadinya Arjuna ingin membiarkan mayat Cindy tergeletak. Namun, otaknya memberinya ide gila untuk mempercantik mayat gadis tersebut. Mengubah Cindy menjadi patung mahakaryanya. Ketua hakim dan anggota hakim terkejut dengan pengakuan Arjuna.
“Terdakwa, apakah yang disampaikan oleh saudara Arjuna Danuarta itu benar?” ketua hakim sekarang bertanya pada Gavin.
Kedua mata Gavin memandang datar ke arah Arjuna. Sedangkan yang ditatapnya mengangkat satu alis, seraya tersenyum penuh kemampuan. “Benar, saya menjual mayat Cindy dan Indah.”
“Oh, satu ada satu lagi Yang Mulia. Gavin beberapa kali mencoba membunuh ipar saya, entah apa tujuan beliau melakukan itu.” terang Arjuna.
“Apakah beliau saudari Zevanya Arinda Pradipta?” tanya David.
Arjuna menganggukkan kepala. “Di sini saya bukan hanya memberikan kesaksian atas perbuatannya Gavin. Tapi, saya juga ingin mengaku ... Saya sudah membunuh Aruna dan Andre, Mama Papa saya.”
Aruna dan Andre adalah nama orang tua si kembar A. Sejak kecil, Aruna selalu mengajarkan kepada Arjuna agar selalu memasang berbagai ekspresi senyum. Wanita itu selalu memberikan gambar wajah seseorang dengan kulit membiru. Saat Arjuna menginjak usia 13 tahun, ia mencaritahu gambar wajah membiru di browser. Tutorial, bahkan caranya ada di sana.
Arjuna langsung mempraktekkannya, melilit leher Aruna menggunakan kabel charger, hingga wajah wanita itu membiru dengan napas tertahan. Selang beberapa menit, Aruna tak sadarkan diri, napasnya berhenti dan denyut nadinya tidak terasa lagi. Andre datang memergoki putranya berdiri di depan mayat sang istri sambil memegangi kabel charger. Andre memeriksa kondisi Aruna, kini wanita itu sudah meninggal dunia.
Andre memojokkan Arjuna, agar mengakui perbuatan putranya itu. Sayangnya, Arjuna mengelak. Lelaki itu tak merasa membunuh ibunya, Andre memukuli tubuh Arjuna dengan kayu rotan. Di pukuli begitu, ia jelas tak terima dan melakukan pemberontakan. Ia merebut kayu rotan tersebut, lalu memukuli Andre. Setelahnya, Arjuna akan menusuk-nusuk perut sang ayah. Om dan tantenya melarikannya ke rumah sakit jiwa.
Beberapa tahun kemudian, Arjuna dinyatakan sembuh total. Namun, nyatanya tidak. Lelaki itu masih sama. Ia mulai mengonsumsi narkoba hanya dua kali, yang mengonsumsi itu bukan dirinya. Melainkan dirinya yang lain, Arjuna berhenti mengonsumsi narkoba dan memutuskan menyimpannya di dalam lemari. Itu sebabnya, Arjuna berusaha melakukan hal baik untuk menghilangkan kepribadiannya yang lain.
Arjuna sudah selesai bersaksi, sekarang giliran Zevano. Lelaki itu pun mengakui pekerjaan gelapnya selama beberapa tahun ini, menjadi seorang pembunuh berantai. Bukan kemauannya, melainkan ia disuruh oleh Gavin. Jika tidak, ia akan pukuli seperti waktu itu. Zevano memberikan bukti cctv yang sudah diedit oleh Sandy, foto itu menampilkan wajahnya sedang melakukan pembunuhan bersama Gavin.
“Sebagaimana yang sudah ditetapkan dalam pasal 340 KUHP, menyatakan bahwa saudara Gavin Sanjaya, dan saudara Zevano Ardiansyah Pradipta, dihukum penjara selama 20 tahun.” Ketua hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali.
“Dan untuk saudara Arjuna Danuarta, sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 44 ayat 1 KUHP. Tiada dapat dipidana barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal.”
Gavin menggebrak meja. “Yang Mulia, ini tidak adil! Kenapa dia tidak di penjara?!”
“Karena saudara Arjuna melakukan itu dalam kondisi akal tak sempurna atau gangguan jiwa.” hakim menjawab pertanyaan Gavin.
“Hakim macam apa Anda? Masa membiarkan pembunuh begitu aja?!”
__ADS_1
“Sidang hari ini resmi ditutup!”
Ketukan palu sudah terdengar, maka sidang berakhir. Dua orang polisi memborgol tangan Gavin dan Zevano. Mereka berdua keluar dari pengadilan, beberapa orang tua korban berdatangan dan menimpuki Gavin dan Zevano dengan telur ayam.
“Dasar pembunuh bejat! Nggak punya hati!”
“Mampus kau di penjara, biar tau rasanya jadi narapidana!”
“Sampah masyarakat!”
Saat Gavin dan Zevano masuk ke mobil pun, para orang tua korban masih menimpuki dua lelaki itu. Alhasil, kaca jendela mobil jadi sasaran empuk ibu-ibu. Deska dan Arjuna melihat bagaimana brutalnya cara orang tua korban menghakimi Zevano dan Gavin. Gadis itu sedikit kaget mengetahui fakta sepupunya adalah pembunuh berantai, entah bagaimana reaksi Zevanya mengetahui hal tersebut.
“Semuanya selesai. Gue lega mereka berdua di penjara.” Arjuna tersenyum cerah.
“Lo beneran gila sejak dini?” tanya Deska penasaran.
Arjuna menatap Deska lekat-lekat. “Bisa dibilang begitu. Nyokap gue sering nonton film psikopat, jadi, dia selalu ceritain alur film yang ditonton. Itu yang bikin akal sehat gue rusak.”
“Kaga, tenang aja. Gue udah sembuh total sekarang.”
Meskipun sulit mempercayai Arjuna, Deska mencoba berusaha untuk tidak takut. Siapa yang tidak takut dengan orang gila seperti Arjuna? Siapa pun akan lari jika berhadapan dengan lelaki itu.
.
.
.
.
Exel, orang yang sangat setia kepada bosnya, sangat jengkel melihat siaran langsung di televisi. Ia melihat Gavin sah secara hukum dipenjara selama 20 tahun bersama Zevano. Kali ini, ia akan membalas dendam pada Zevanya. Karena gadis itu, bosnya masuk penjara.
__ADS_1
Lelaki itu menanyakan ruang rawat inap Zevanya kepada resepsionis rumah sakit. Resepsionis itu sudah diwanti-wanti oleh Arga, untuk tidak memberitahu ruang rawat inap istrinya kepada sembarang orang.
“Maaf, Mas. Tapi, kami tidak bisa memberitahu.” tolak resepsionis tersebut.
Exel diam seraya berpikir. “Gua Kakak tertua Zevanya.”
“Ah, begitu. Kamar pasien atas nama Zevanya Arinda ada di lantai dua, di ruang VVIP.”
Tanpa mengucapkan terima kasih, Exel segera pergi masuk ke dalam lift. Setibanya di lantai dua, terlihat di depan kamar rawat inap tidak ada siapapun. Exel memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan situasi. Lalu, ia masuk ke kamar inap Zevanya.
Terlihat, gadis itu masih nyaman di atas ranjang dengan selang infus yang menempel di lubang hidungnya. Exel mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah diisi oleh cairan morfin, lalu menancapkan ujung jarumnya di kantung infus Zevanya.
Zevanya membuka mata. Ia menunjukkan jarum infus yang sudah terlepas dari punggung tangannya. Satu tangannya, mengeluarkan pistol dari dalam selimut. Ia menempelkannya di dahi Exel.
Zevanya mengangkat sebelah alisnya. “Mundur, atau mati?”
Exel mundur beberapa langkah, kedua tangannya terangkat ke udara. Apakah stalker itu menyerah? Tidak, Exel menindih tubuh Zevanya, berusaha menancapkan jarum suntik tersebut. Gadis itu menahan tubuh Exel hanya menggunakan pistol, sekuat tenaga Zevanya mendorong lelaki yang ada di depannya. Tetapi, yang terjadi.
DOOR!!
Refleks, Zevanya menghempaskan tubuh stalker itu. Pintu pun terbuka, Arga dan Rega terkejut kala mendengar suara tembakan yang berasal dari kamar inap Zevanya. Arga menatap Zevanya dan memperhatikan gadis itu. Ketakutan? Tentu, gadis bermarga Pradipta itu belum pernah menembak orang, ini kali pertama baginya.
Arga meraih seuntai rambut Zevanya. “Tenang, yang kamu lakukan ini bukan tindak kriminal. Tapi, sebuah pembelaan diri.”
Rega memeriksa denyut nadi Exel. “Masih hidup, dia belum meninggal.”
“Bawa dia, biar ditangani oleh dokter. Setelah dia sadar, baru kita introgasi dia.”
Rega menggendong Exel di punggungnya, membawa lelaki itu untuk diperiksa lebih lanjut. Sementara Arga, ia mendekap istrinya seraya berkata. “Kamu tidak usah takut. Kamu tidak akan masuk penjara. Percaya sama saya.”
To be continued.
__ADS_1