
Dua hari kemudian.
Exel sudah ditangani oleh pihak kepolisian, kini lelaki itu berada di sel tahanan, setelah luka di dadanya sudah lumayan agak membaik. Satu orang berhasil tertangkap, hanya beberapa anggota stalker lain yang belum diketahui keberadaannya.
Luka di kepala Zevanya pun sudah sembuh total. Sekarang ia sedang bersiap-siap untuk pulang. Suara notifikasi terus berdering, saat dilihat, ternyata teman-temannya di grup sekolah mengungkapkan bahwa Zevano dan Zevanya adalah saudara kembar.
“Ih, takut. Zevanya ternyata punya saudara narapidana, haha! Nggak nyangka banget pas nonton berita.”
“Iya. Sekarang sih, gue udah tenang, ya, karna Zevano udah di penjara.”
“Miris banget nasib anak hakim, hahaha!”
Kedua mata Zevanya membulat seraya memeriksa Twitter. Tertangkapnya anggota stalker menjadi tranding di Twitter, beberapa orang memposting tayangan ulang siaran televisi. Sebelum menonton video tersebut, Zevanya menarik napas dan menghembuskannya.
“Saya yang membantu Gavin membunuh saudari Indah Yanti. Tetapi, saya terpaksa melakukan itu karena diancam oleh Gavin. Saya juga melakukan percobaan pembunuhan berencana terhadap korban bernama Icha.”
Dalam video tersebut, Zevano bersaksi sebagaimana yang telah ia lakukan terhadap korban. Arga memperhatikan Zevanya yang fokus pada layar ponsel. Lelaki itu penasaran ingin melihat apa yang dilihat oleh istrinya. Refleks, Arga merampas ponsel milik Zevanya dan menyembunyikannya di saku celana.
Arga menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. “Sudah saya duga, pasti kamu akan melihatnya.”
Zevanya menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. Bulir air mata mengalir. “Gue sendirian sekarang. Gue udah kehilangan Mama, Papa. Sekarang, Zevano. Orang yang paling ingin gue temui, ternyata dia komplotan Gavin.”
“Kamu masih punya saya. Jangan merasa sendirian.”
Hal yang paling ditakuti gadis itu, kehilangan seseorang yang disayanginya. Gavin memang sudah tertangkap, tetapi tidak dengan anak buahnya. Zevanya juga menyadari, pembunuh yang dilihatnya saat pertama kali, itu adalah saudara kembarnya sendiri. Pantas saja, waktu itu Zevano tidak membunuhnya, malah membiarkannya hidup.
Zevanya mendongakkan kepala, menatap suaminya. “Lo bisa nemenin gue ke kantor polisi sebelum pulang? Gue mau liat Zevano.”
“Baik, saya akan menemani kamu ke sana.”
Mereka berdua bergegas menyeret koper keluar ruang rawat inap. Orang-orang menatap Zevanya dari ujung rambut hingga kaki. Namun, gadis itu tak terlalu mempedulikan orang-orang di sekitarnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Sampai di kantor polisi, Zevanya dan Arga langsung diarahkan ke kursi tunggu. Mereka berdua duduk bersebelahan. Pak Polisi berseragam cokelat membawa Zevano, lelaki itu sekarang memakai pakaian khusus untuk narapidana. Zevanya beranjak dari kursi, lalu memeluk pinggang saudara kembarnya.
Zevano membalas pelukan gadis itu. “Nggak usah khawatir, gue nggak lama, kok di sini. Cuma 20 tahun.”
Zevanya menjauhkan diri dari Zevano. “Cuma kata lo? 20 tahun itu lama, Zev. Gue nggak bisa sendirian lama-lama.”
Zevano menatap Arga yang duduk di kursi. “Kan, ada Arga. Dia bakalan ada di sisi lo selamanya.”
“Selamanya? Kita nggak ada yang tau kapan kematian menjemput, bisa aja Arga juga ikut ninggalin gue kayak Mama, Papa.”
“Lo bener. Makanya, belajar mandiri. Atau ....” Zevano seketika terdiam, seraya berpikir. “Lo sama Arga segera buat momongan. Jadi, kalau sewaktu-waktu Arga nggak ada umur. Seenggaknya masih ada yang nemenin lo.”
Zevano tersenyum menyakinkan saudara kembarnya itu. Senyum itu sangat menyakitkan hati Zevanya. Mata lelaki itu pun terlihat berkaca-kaca, suaranya terdengar seperti akan menangis. Zevanya menerbitkan senyum cerah untuk menyemangati Zevano.
“Gue bakalan berusaha. Lo harus bertahan dan janji sama gue, lo harus keluar hidup-hidup dari penjara.”
Zevano mengulurkan tangan, mengusap lembut pucuk kepala Zevanya. “Gue janji.”
Jam besuk sudah habis, waktunya Zevano kembali ke sel tahanan. Gadis itu mengantarkan saudara kembarnya ke sel tahanan. Di sana, ia bertemu Gavin. Untuk menghindari pertengkaran, polisi memisahkan Zevano dan Gavin di sel yang berbeda.
“Lo kira ini udah selesai? Belum, di luar sana masih ada orang yang lebih kejam dari gue.”
“Siapa? Oh, anak buah lo?“ Zevanya mengernyit seraya menatap Gavin.
“Arjuna. Jangan lo pikir dia udah sembuh, coba aja lo tes dia. Setau gue, psikopat nggak akan punya rasa empati.” Gavin menarik sudut bibirnya.
“Gue nggak peduli.” Zevanya melangkah meninggalkan Zevano mau pun Gavin.
“Gue liat-liat, kayaknya ... Arjuna suka deh sama Deska, sepupu lo. Kemarin gue liat mereka di pengadilan, ya ... Mereka lumayan deket.”
Langkah kaki gadis itu terhenti saat Gavin berbicara. Zevanya berbalik menatap tajam ke arah saudara tirinya itu, lalu berlalu pergi dari sana. Ia menghampiri Arga, mengajak sang suami pulang. Ia lupa jika Deska sedang berada di rumah sendirian.
.
.
__ADS_1
.
.
Malam menjelang. Gadis bernama Deska Egidia Putri itu nampak keluar dari rumah, menyeberangi jalan aspal. Ia membuka pintu cafe yang terkunci, karena beberapa hari ini Zezev's Coffee Shop ditutup untuk sementara waktu. Ia merasa bosan berada di dalam rumah sendirian sepanjang hari, sepupunya belum pulang sejak sore tadi. Deska duduk di kursi dekat jendela, gadis itu membuka laptopnya.
Ya, karena SMA Dirgantara lagi-lagi kembali ditutup akibat kasus yang marak terjadi. Jadi, semua siswa mau tidak mau harus melakukan sekolah online. Deska membuat kopi hitam untuk dirinya. Selang beberapa menit, kedua daun pintu dibuka oleh seseorang.
“Maaf, tapi kami tutup untuk sementara ... .”
Deska mengangkat kepala, kemudian tertegun sejenak melihat pembeli yang datang. Arjuna Danuarta. Lelaki itu melangkah ke tempat Deska berada.
“Gue pesen kopi hitam, tapi nggak pake gula.” Arjuna menyodorkan selembar uang senilai seratus ribu pada Deska.
Gadis itu menyodorkan selembar uang merah muda itu. “Gue bilang, cafe ini tutup.”
“Nggak peduli. Cepet, buatin kopi hitam punya gue.”
Arjuna duduk di kursi yang ditempati Deska. Ia terpaksa melayani lelaki itu, demi menuntaskan tugas sekolahnya. Deska mengantarkan kopi pesanan Arjuna ke mejanya. Dengan kasar, Deska meletakkan secangkir kopi di hadapan Arjuna.
“Duduk lo.”
Tatapan kecurigaan dirasakan Deska, sama seperti kasus Zevanya sebelumnya. Ia sudah mendengar banyak tentang Arjuna dari sepupunya, lelaki di depannya berbeda dengan lelaki pada umumnya. Suka memerintah, tempramental, bahkan sifatnya sering berubah-ubah. Deska duduk menghadap Arjuna.
Mata Arjuna tertuju pada jari manis Deska. Secara spontan, gadis itu mengepalkan tangannya, menyembunyikan jari-jemarinya. Mata Arjuna beralih menatap Deska.
“Mental gue sekarang udah sembuh total, nggak tau kenapa sejak ketemu sama lo. Gue jadi pengen belajar segala hal, terutama ... Cara bersikap baik sama cewek.” Tangan Arjuna terulur, menarik lembut pergelangan tangan Deska.
Ada tatapan kesungguhan di wajah Arjuna. Akhirnya, Deska membiarkan tangannya digenggam lelaki itu. “Terus?”
“Gue suka sama lo. Lo mau kan, jadi pacar gue?”
Sekujur tubuh Deska bergetar. Ia secepatnya menarik kembali tangannya, mengalihkan pandangan ke arah lain. Arjuna menatap intens Deska.
“Deska? Ada apa? Lo masih takut sama gue?” tanya Arjuna. Ia menepuk bahu Deska.
Deska tersadar seketika dari lamunannya. “Oh, iya! Apa tadi?”
__ADS_1
Arjuna tersenyum menyeringai. “Kita jadian malam ini.”
To be continued.