
Beberapa menit sebelumnya.
Suara dentuman musik memenuhi seluruh ruangan. Zevano berjalan di kerumunan para pria dan wanita berjoget ria, menikmati alunan musik yang diputarkan oleh seorang DJ. Lelaki itu sudah meninggalkan rumah sakit karena bosan harus berbaring dan mendengarkan aturan dari dokter. Jadi, ia memutuskan pergi ke klub malam mencari si bos.
“Woi, lo pada liat Gavin?” tanya Zevano pada teman-temannya yang merupakan anak buah Gavin juga.
“Si bos? Dia lagi mangsa cewek yang namanya Zevanya.” kemudian, Satria berbisik. “Masih segel, hahaha!”
Xavier ikut tertawa terbahak-bahak. “Bahkan kita di izinin buat cobain tu cewek. Lo mau ikut? Rame-rame ni, seru!”
Zevano mengepalkan kedua tangannya. Napasnya menderu menahan emosi. Lelaki itu meraih kerah baju Satria, seraya mengangkatnya hingga berdiri dari kursi. Ia memukul ujung bibir temannya itu. Satria yang tak terima kemudian membalas pukulan Zevano. Teman-temannya melerai mereka berdua, untuk menghindari kericuhan di klub.
“Ngomong kayak gitu sekali lagi, gue pastiin bola mata kalian satu persatu hilang!”
Mereka hanya menelan ludah ketika Zevano mengancam akan menghilangkan mata mereka. Lelaki itu adalah seorang pembunuh berantai, mana mungkin pembunuh akan berbohong pada ucapannya.
Zevano berjalan keluar klub, lagi-lagi ia harus melewati kerumunan orang-orang berjoget. Seorang gadis menarik pergelangan tangan lelaki itu, membawanya ke sebuah ruangan privasi. Gadis itu mempunyai lekukan tubuh putih nan mulus, siapa saja bisa tergoda olehnya. Tetapi tidak dengan Zevano.
“Nama gue ... Queen.” Queen berucap dengan nada suara yang lembut sambil mendesah. Gadis itu mencoba meraba-raba wajah Zevano.
Kemudian, Queen dengan sengaja menurunkan pakaian ketatnya, hingga belahan dadanya terlihat. Zevano sama sekali tidak terangsang melihat belahan dada gadis di depannya, malah ia membuang muka ke samping.
“Main sama gue satu ronde. Tarifnya ... 4 juta.” pinta Queen.
Zevano diam sejenak, seraya memperhatikan lekuk tubuh Queen dari ujung kaki sampai kepala. Lelaki itu mengangguk. “Tubuh lo seharga 4 juta? Lo jual harga diri lo demi duit?”
“Gue terpaksa! Gue harus bayar utang ke rentenir, kalo nggak ... Mereka bakalan ambil apapun yang ada di rumah gue.”
“Gini aja, gue bakalan bayarin semua utang lo. Tapi, lo bukan ngelakuin itu sama gue. Sama orang lain.”
“Deal!”
__ADS_1
Mereka akhirnya bergegas pergi keluar klub. Di dalam mobil Zevano memberitahu konsekuensi setelah melakukan hubungan intim dengan Gavin. Queen tak masalah bila harus kehilangan nyawa. Gadis itu hanya mau terbebas dari hutang, untuk meringankan beban orang tuanya.
Tiba di rumah Arga dan Zevanya. Zevano melihat Gavin memanjat gerbang yang menimbulkan suara alarm. Lelaki itu dan Queen melangkah pelan menuju belakang rumah, berharap ada pintu. Sayangnya, pintu tersebut terkunci. Zevano mengetuknya berulang kali, hingga sosok yang dicarinya membuka pintu.
Melihat seseorang yang mengetuk pintu belakang, Zevanya langsung membulatkan mata. Lelaki berhoodie hitam dengan penutup mulut itu, persis seperti lelaki yang membawa palu beberapa bulan lalu. Gadis itu memundurkan langkahnya. Namun, Zevano meletakkan jari telunjuknya di bibir.
“Gue mau nolongin lo.” bisik Zevano pada Zevanya, kemudian melirik Queen. “Lo masuk sekarang.”
Queen mengangguk dan berjalan gontai ke kamar Arga. Melihat Zevanya hanya mengenakan baju tidur tipis sepaha dengan noda merah di leher, membuat Zevano gelisah. Lalu, lelaki itu berinisiatif melepas Hoodie hitam miliknya dan memakainya di tubuh Zevanya.
“Suami lo pingsan di depan. Lo harus pergi sebelum orang itu ngelakuin hal yang nggak senonoh.”
“Arga!”
Zevanya berlari ke teras rumah menghampiri Arga yang tergeletak di lantai. Gadis itu akhirnya membopong tubuh Arga, kemudian memasukkannya ke mobil yang ada di garasi. Ia cepat-cepat memundurkan mobilnya keluar dari area rumah, sebelum ketahuan oleh orang yang menyelinap masuk ke rumahnya. Ia berencana untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Arga mengerjapkan matanya, kesadarannya sudah pulih. Di sampingnya sudah ada sang istri yang sedang fokus menyetir. “Berhenti di tengah pinggir jalan.”
Zevanya langsung menurut dan menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Gadis itu menghela napas, lalu menoleh pada Arga. “Kenapa lo nyuruh gue berhenti? Padahal kan, rumah nyokap gue masih jauh.”
Zevanya cengengesan. “Di rumah aja, ya? Nggak enak kalo di mobil.”
“Oke.”
.
.
.
.
__ADS_1
Zevanya memarkirkan mobilnya di depan rumah orang tuanya. Di seberang rumahnya terdapat kafe sang ibu yang sudah tutup. Ya, rumah orang tuanya dan Zezev's Coffee Shop bersebelahan, alasannya karena bisa memantau keamanan kafe dari dekat. Gadis itu melihat lampu kamar ibunya sudah mati, begitu pun Deska.
Karena tak mau mengganggu, Zevanya menuntun Arga menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di samping. Untunglah ia selalu membawa kunci cadangan. Arga berjalan ke kamar mandi begitu masuk ke dalam. Sementara Zevanya melepaskan Hoodie hitam yang diberikan oleh lelaki berpakaian hitam tadi.
Zevanya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. “Akhirnya gue bisa tidur dengan nyenyak.”
“Kata siapa? Malam ini kita harus bergadang.”
Mata Zevanya melebar, melihat Arga hanya mengenakan handuk putih yang menutupi bagian bawahnya. Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap tembok, kemudian memejamkan mata. Tak lama, Arga ikut merebahkan diri di atas ranjang, dan merapatkan tubuhnya pada sang istri.
“Kamu tidak usah khawatir. Kamu tidak akan hamil karena saya sudah memakai pengaman. Saya pun tahu kamu masih sekolah, tidak mungkin kan, kamu bersekolah dengan keadaan hamil.”
Zevanya memutar tubuhnya menghadap Arga. “Itu dia yang gue pikirin.”
“Sekarang tidak ada yang mengganggu kita lagi.” Arga memagut bibir merah muda Zevanya. Handuk putih yang membalut tubuh bawahnya, terlepas. Refleks gadis itu memejamkan mata. Zevanya belum siap untuk melihat kejantanan suaminya.
Arga menatap Zevanya. “Tahan sebentar, pertama kali memang terasa sakit.”
Zevanya mengangguk. Ia ingin kegiatan intim ini cepat selesai. Perlahan area bawahnya seperti ada sesuatu yang mengganjal, memaksanya masuk lebih dalam. Malam pertama yang belum mereka laksanakan sejak awal menikah, akhirnya terlaksanakan malam ini. Memang ini yang diharapkan Zevanya. Namun, rasanya sakit tidak karuan.
“Sakit!” teriak Zevanya pelan, sembari menumpahkan air mata.
“Maaf, maaf. Saya akan berhati-hati.”
Arga tidak mau membuat Zevanya kesakitan di bawahnya. Lelaki itu kembali memagut bibir istrinya, yang lama kelamaan turun ke leher. Arga juga menambah noda merah di leher dan tubuh Zevanya karena ia sangat menyukainya.
Setelah berjam-jam melakukan hubungan intim, Zevanya sudah terlelap tidur di pelukan suaminya. Arga sangat beruntung karena lelaki pertama yang meniduri gadis itu adalah dirinya. Arga menyelimuti jenjang kaki Zevanya, lalu mencium sekilas dahinya.
Arga penasaran dengan isi ponsel sang istri. Lelaki itu berinisiatif untuk memeriksanya. Ia membuka Instagram untuk melihat postingan Zevanya. Ada satu pesan tak terbaca. "Berani-beraninya lo kabur dari gue." Arga iseng memotret dirinya dan Zevanya dalam satu ranjang, kemudian mengirimnya pada Aamon.
Arga memperhatikan hasil potret mereka. Ia mengembangkan senyum, sebelum akhirnya melirik Zevanya. Arga menjadikan foto tersebut wallpaper di layar ponsel gadis itu.
__ADS_1
Ini selfie pertama kita.
To be continued.