
“Ma, kita berangkat, ya!” kata Zevanya, seraya mencium punggung tangan sang ibu. Lalu, bergantian dengan Deska.
Livy tersenyum melihat putri dan ponakannya berlari keluar kafe. Wanita itu tampak ceria seperti sedia kala. Ia sudah mengikhlaskan kematian suaminya, kemarin ia hanya kaget dengan kematian Wijaya yang mendadak. Kini, Livy tengah mengurus kafe karena Deska sudah tidak lagi bekerja di sana.
Deska bukannya mengundurkan diri. Ia hanya beristirahat selama beberapa tahun untuk menamatkan sekolahnya. Ya, Deska akan menjadi siswa baru di SMA Dirgantara. Saat ini pun ia sudah mengenakan kemeja cokelat dan jas abu-abu sebagai lapisan luarnya. Mereka berdua di antar oleh supir pribadi ke sekolah. Arga tidak bisa mengantar istrinya karena sibuk di kantor.
Selang beberapa menit, mobil hitam itu berhenti di depan gerbang sekolah. Mang Emon, seorang supir pribadi Zevanya, membukakan pintu untuk kedua gadis itu.
“Mang Emon, nanti nggak usah jemput kita. Soalnya nanti yang jemput Arga.” ucap Zevanya kepada Mang Emon.
Mang Emon mengangguk. “Siap, Non.”
Mang Emon kembali memasuki mobil dan pergi meninggalkan sekolah. Sementara Deska memandangi gedung yang menjulang tinggi di depan matanya. Ia tak menyangka sekarang dirinya satu sekolah dengan sepupunya.
Zevanya tersenyum. “Lo seneng, kan? Gue harap lo betah, ya di sini.”
“Emangnya kenapa? Kok, lo bilang gitu?” dahi Deska berkerut.
“Banyak pembully di sekolah ini, gue aja jadi bahan cemoohan mereka setiap hari.“
Mendengarnya, Deska menundukkan kepala. Zevanya merangkul pundak sepupunya. “Tenang aja, ada gue. Kalo sampe mereka nyakitin sepupu gue. Liat aja, gue buat mereka lumpuh seumur hidup.”
“Ngeri-ngeri sedap.”
Mereka berjalan menyusuri gedung sekolah. Baru sampai di tangga kedua, jalan mereka sudah dihalangi oleh Ica and the gang. Mereka lah orang-orang yang dimaksud Zevanya tadi. Meskipun sudah diperingatkan, Icha dan teman-temannya tidak akan berhenti membully siswa di SMA Dirgantara.
“Kayaknya bakalan ada siswa baru nih! Apa perlu kita tes dia? Apa dia pantes sekolah di sini, atau malah sebaliknya?” tanya Icha, hendak memastikan. Nadanya seolah memancing, tetapi Zevanya tak mengerti maksudnya.
“Kalo lo nggak sanggup sekolah di sini, pintu keluar ada di sana.” timpal Flora, teman dekat Icha. Ia menunjuk ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Zevanya menyilangkan tangan di dada. “Lo pikir, lo siapa? Seenaknya bilang begitu sama siswa baru. Mending lo jaga tuh satu mata lo. Jangan sampe kayak mata sebelahnya.”
Semua siswa menyaksikan Zevanya dan Icha bertengkar dari lantai dua. Pun dengan Zevano, sedari tadi lelaki itu memperhatikan keberanian saudari kembarnya. Bibirnya melebar, membentuk sebuah senyuman. Ia beralih menatap Icha. Zevano akan membuat ucapan Zevanya menjadi kenyataan.
Bulu-bulu halus di kedua lengan Icha seketika berdiri. “Lo nyumpahin gue?! Tarik nggak ucapan lo barusan?”
“Gue nggak nyumpahin lo, kok. Cuma mau bilang aja. Emangnya salah, ya, perhatian sama musuh sendiri?” Zevanya mengangkat satu alisnya.
Ichal mengepalkan tangan. Lalu, mendorong tubuh Zevanya ke bawah tangga. Melihat saudarinya akan jatuh, Zevano hendak menghampiri gadis itu. Namun, seseorang yang sedang berjalan santai, menggunakan punggungnya untuk menahan tubuh Zevanya yang jatuh. Alhasil mereka sama-sama terjatuh ke bawah.
“Zevanya!” panggil Deska memastikan.
Zevanya membalikkan badan, melihat seseorang yang menyelamatkannya. Dari bau parfumnya gadis itu seperti tak asing dengan aroma Casablanca. Lelaki di depannya mengembangkan senyum, Zevanya sudah menduganya. Aroma Casablanca yang diciumnya itu aroma suaminya, Arga.
Arga mengenakan pakaian yang sama dengan Zevanya. Seragam sekolah. Ia akan menyamar sebagai siswa baru di SMA Dirgantara selama beberapa hari. Arga mendapatkan misi dari kepala polisi untuk menyelidiki pemuda bernama Gavin, sekaligus mencari bukti kuat.
Arga membantu Zevanya berdiri. Lelaki itu menatap tajam ke arah Icha yang hampir mencelakai istrinya. Icha berbisik pada teman-temannya, kemudian pergi menaiki tangga.
“Iya, gue nggak apa-apa. By the way, lo ngapain di sini.” tanya Zevanya mulai penasaran.
“Gue— Maaf, saya tidak bisa memberitahu. Lebih baik kamu dan ... .” Arga berpikir, seraya mengingat nama gadis yang bersama Zevanya.
“Deska?”
“Nah! Ya, Deska! Kamu dan dia cepat masuk ke kelas.”
Sebelum menghampiri Deska, Zevanya mengecup pipi kanan suaminya. Arga memegangi pipinya yang dikecup barusan. Matanya melongo seperti tak percaya akan mendapatkan kecupan manis dari sang istri. Gadis itu benar-benar pergi bersama Deska menaiki tangga ke kelasnya.
Arga menepuk dahinya. “Fokus ke misi, jangan terkecoh!”
__ADS_1
.
.
.
.
Sebelumnya Deska sudah mendaftar dan kepala sekolah menempatkannya di kelas sejarah. Kelasnya berada di sebelah kelas kriminologi. Deska sudah berada di depan kelasnya, ia memakai name tag sebagai tanda pengenal, lalu masuk ke dalamnya. Zevanya memperhatikan sepupunya itu dari luar jendela kaca.
Gadis itu memperkenalkan diri dengan santai, tanpa ada rasa gugup. Zevanya mengacungkan jempol sambil tersenyum pada Deska. Setelah memastikan sepupunya baik-baik saja, Zevanya kembali ke kelasnya.
Saat Zevanya hendak duduk di kursi, kursinya itu sudah di tempati oleh orang lain. “Zevanya, kursi lo bukan di sini lagi, tapi di sana.” seorang siswi menunjuk ke arah kursi yang ada di pojok kiri di barisan paling belakang.
“Ya, udah. Nggak masalah.” Zevanya menghampiri kursi yang ditunjuk tadi. Ia menaruh tasnya di bawah meja. Tak lama, Arga pun ikut menaruh tas ranselnya dan duduk di sebelah gadis itu.
“Gue kira lo cupu di sekolah, nggak bisa apa-apa. Ternyata ... Istri gue ini suhu.“ celoteh Arga.
“Nggak usah basa-basi. Tujuan lo masuk ke SMA Dirgantara ini kenapa? Dan ... .” sejenak, Zevanya memandangi Arga dari kepala hingga kaki. Lelaki itu memakai kemeja cokelat dengan dua kancing yang sengaja dibuka, dan celana abu-abu. Ini pertama kalinya gadis itu melihat suaminya dengan pakaian seragam sekolah.
Arga melirik Gavin yang duduk di sebelah kursi lama Zevanya. Gadis itu mengernyit heran. Zevanya mengikuti gerakan mata suaminya. “Tujuan lo dia?”
Arga mengangguk. “Nanti lo juga bakalan tau sendiri.”
Lelaki yang ada di sebelah Zevanya saat ini bukanlah Arga. Namun, Arjuna. Lelaki itu dibebaskan untuk sementara waktu, seperti yang didiskusikan beberapa waktu lalu. Ia akan membantu Arga menangkap salah satu orang yang sangat berpengaruh di anggota STALKER. Gavin Sanjaya. Arjuna melarang Arga untuk berhadapan dengan Gavin secara langsung. Sebagai gantinya, dirinya yang akan menangani Gavin.
Arjuna juga berjanji tidak akan kabur. Kepala polisi menyarankan Arga untuk menaruh alat penyadap di kerah baju seragam kembarannya. Supaya mereka tahu, bahwa Arjuna bersungguh-sungguh menjalankan misi ini. Untuk menunjukkan kesungguhannya, ia akan melindungi iparnya.
Arjuna kembali memegangi pipinya. Bisa di tampol gue kalo ketahuan sama Arga.
__ADS_1
To be continued.