
Zevanya tersadar dari pingsannya. Gadis itu sekarang berada di sebuah lorong gelap, di belakangnya sudah ada beberapa orang berhoodie hitam yang siap akan mengejarnya. Lampu tiba-tiba menyala, bukan berwarna putih, melainkan ungu. Zevanya refleks beranjak dari lantai.
Terlihat, Gavin dari ruang pantau tersenyum cerah menatap gadis itu melalui layar monitor. Ia mengarahkan microphone kecil ke mulutnya. “Kalo lo bisa nemuin pintu keluar, gue bakal biarin lo pergi. Tapi ... Kalo tertangkap, lo harus siap disiksa sama orang-orang itu. Cara untuk menghentikan mereka, lo harus setuju jadi tawanan gue.”
Suara Gavin menggelegar di seluruh ruangan. Zevanya mengedarkan pandangan, mencari arah sumber suara. Di sudut dinding, gadis itu melihat ada Cctv yang memantaunya.
“Gue bersumpah, lo bakalan membusuk di penjara seumur hidup!” cetus Zevanya. Matanya berkilat memandang Cctv.
Zevanya memejamkan mata, menghembus napas panjang. Ia berlari lurus ke depan, sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Orang-orang itu kini mengejarnya. Ia terus berlari mengikuti jalan yang ada. Zevanya mengambil jalan ke kiri. Namun, buntu. Gadis itu kembali meneruskan langkahnya menyusuri lorong gelap tersebut.
Kaki gadis itu tidak sanggup lagi untuk berlari. Sementara, jarak orang-orang itu sudah semakin dekat dengan Zevanya. Ia menemukan pintu, sayangnya, itu bukan pintu keluar. Pintu itu terhubung dengan ruangan labirin seperti di game back room. Zevanya berhenti sejenak, mengambil napas sebelum melanjutkan kejar-kejarannya dengan anak buahnya Gavin.
Terdengar suara gedoran di balik pintu. Zevanya segera mempercepat langkah kakinya, sebelum anak buahnya Gavin menerobos masuk. Seseorang yang menciptakan game itu malah asyik duduk santai menikmati camilan sembari memperhatikan Zevanya yang berjuang menemukan pintu keluar.
Zevanya mengangkat tangan, sebagai tanda menyerah. Napasnya kembali terengah. “Gue nyerah! Oke! Gue akan jadi tawanan lo.”
Mendengar itu, Gavin berdiri dari kursinya. Senyum kemenangan terbit di wajahnya. Ia keluar dari ruang pantau dan menghampiri Zevanya. Ia langsung melingkarkan satu tangan di pinggang gadis itu.
Orang-orang itu pergi, begitu Gavin datang. Zevanya ingin melerai tangan lelaki itu. Namun, tenaganya tak sebanding dengan Gavin. “Keputusan yang bagus. Kalo lo begini, gue nggak akan biarin orang-orang itu nyakitin Deska.”
Zevanya mendongak menatap Gavin lekat-lekat. “Deska? Di mana sepupu gue sekarang?”
“Ssshhh!” Gavin meletakkan telunjuknya di bibir Zevanya. “Kalo lo mau dia aman, lo harus nurutin kemauan gue.”
“Kenapa lo lakuin itu sama keluarga gue! Why? Apa salah keluarga gue sama lo?” tiba-tiba Zevanya bertanya.
Gavin menghela napas berat. “Lo itu beruntung, punya keluarga lengkap. Lo dapet kasih sayang dari mereka, sedangkan gue? Sejak Mama gue membunuh papa, gue nggak pernah dapetin kasih sayang lagi. Nyokap gue cuma mentingin diri sendiri.”
Perlahan, Zevanya mendorong tubuh Gavin. Tetapi, tangannya ditahan oleh saudara tirinya itu. “Terus apa urusannya sama gue? Lo iri?”
__ADS_1
“Lo bener, gue iri. Gue nggak bisa tenang liat lo hidup bahagia di atas penderitaan gue. Ini nggak adil namanya. Gue bunuh orang tua lo, semuanya selesai. Sekarang gimana rasanya? Gimana rasanya kehilangan sosok ayah dan ibu?!”
Zevanya tidak bisa berkutik. Tubuhnya terduduk di lantai, ia kembali menitikkan air mata. Jelas sakit rasanya. Ditambah, orang yang membunuh kedua orang tuanya ada di depan matanya. Pergelangan tangannya bisa bergerak kembali setelah dicengkeram cukup lama.
Gavin memandang Zevanya gusar. Ia menendang perut gadis itu, hingga terbaring di lantai kusam nan dingin itu. Bukan hanya perut, kepala Zevanya pun menjadi sasaran empuk tendangan sang saudara tiri. Gavin berjongkok dan mencengkeram rahang Zevanya.
“Lo pasti nggak lupa kan, kejadian di bus tiga tahun lalu? Lo masih inget gimana luka sayatan di badan gue waktu itu?”
Zevanya menarik kasar rahangnya. Rahang gadis itu kembali dicengkeram oleh Gavin. “Jawab pertanyaan gue!”
Zevanya tidak mau mengingatnya lagi. Itu hanya akan membuatnya merasa jijik dengan dirinya sendiri. Meskipun kesuciannya masih terjaga waktu itu, tetap saja. Sentuhan Gavin masih terasa di area pribadinya. Yang membuatnya kesal, saat kejadian itu sang supir bus hanya diam tidak membantu. Zevanya berhasil lolos karena nekat melompat dari bus yang ditumpanginya.
“Lo bajingan!” maki Zevanya.
Gavin ingin memagut bibir saudara tirinya. Zevanya memaling wajah ke arah lain. Gavin mengeluarkan sepasang borgol dari saku celananya. Kedua tangan Zevanya diborgol dengan kuat. Lalu, Gavin mengangkat tubuh gadis itu, kemudian menghimpitnya ke tembok.
“Sekarang kita liat, apa yang bisa lo lakuin.” Gavin memagut paksa bibir Zevanya. Bibir mereka saling menyatu layaknya lem. Gavin melummat bibir Zevanya dengan rakus seperti orang kelaparan. Ciuman itu beralih ke jenjang leher gadis itu. Gavin memberikan banyak tanda merah di sana.
“Gue nggak sudi nyium lo!”
Gavin menekan bokong Zevanya yang langsung mengenai adik kecilnya. “Lo nggak usah takut, gue nggak tertarik ngelakuin hubungan suami istri sama lo. Gue cuma pengen lo cium gue.”
Dengan tangan terborgol, Zevanya memegangi pipi lelaki itu, kemudian menempelkan bibirnya di bibir Gavin. Ia menggerakkan bibirnya lembut, seperti mencium Arga. Gavin terhanyut dalam oleh permainan Zevanya.
Zevanya menyudahi ciuman tersebut. Ia menyelipkan satu kakinya ke tengah-tengah kedua kaki Gavin. Ia menendang adik kecil milik saudara tirinya, tubuhnya yang terangkat akhirnya bisa terlepas dari pelukan Gavin. Zevanya bergegas berlari ke arah pintu keluar. Sudah tidak ada orang-orang berhoodie hitam di sana.
Melihat kunci menggantung di gagang pintu, Zevanya berinisiatif mengurung Gavin di dalam ruangan labirin.
Sementara Gavin, memegangi adik kecilnya sambil meringis kesakitan. Tak menyangka bahwa ia akan dikelabui oleh Zevanya. Dengan langkah tertatih, Gavin menyusul gadis itu. Namun, pintu terkunci. Ia lupa kalau kuncinya dibiarkan menempel di gagang pintu.
“Sial! Zevanya, lo nggak bisa main-main lagi sama gue sekarang.”
__ADS_1
.
.
.
.
Setelah lamanya mencari jalan keluar, Zevanya berhasil keluar dari lorong sempit itu. Di kanan kirinya terdapat beberapa ruangan yang dihuni oleh sekelompok stalker. Ada yang sedang mabuk-mabukan, dan di ruangan sebelahnya ada beberapa gadis sedang disiksa oleh keempat lelaki.
Seseorang mengetuk kaca jendela, memberikan kode pada Zevanya untuk segera pergi dari markas sekelompok stalker ini. Kedua matanya terbelalak melihat seseorang itu. Deska Egidia Putri. Kondisi gadis itu sangat memprihatikan, satu mata Deska memerah, sedangkan kedua lengannya membiru. Anak buahnya Gavin menyiksanya habis-habisan.
“Deska, lo—”
“Jangan banyak tanya. Sekarang lo pergi, ini tempat nggak aman buat lo! Jangan peduliin gue.”
“Nggak bisa! Gue nggak bisa biarin lo di sini tersiksa.”
Zevanya memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan sepupunya dari dalam sana. Meskipun tenaganya tak sekuat lelaki, Zevanya akan mencoba mendobrak pintu ruangan itu semampunya yang ia bisa.
“Zevanya!”
Tidak salah lagi, yang berteriak itu adalah Gavin. Untuk mempersingkat waktu, Zevanya mengambil batu dan memecahkan kaca jendela. Ia menyingkirkan serpihan-serpihan kecil yang ada di sudut jendela.
“Ayo, Des. Kita nggak ada waktu lagi!”
Deska naik ke jendela yang sudah dipecahkan tadi. Melihat gadis itu hanya mengenakan tank top ungu dan rok abu-abu, membuat Zevanya yakin jika sepupunya hampir mengalami pelecehan seksual. Deska mencerminkan dirinya tiga tahun lalu.
Saat Zevanya dan Deska akan pergi, sekelompok orang berhoodie hitam datang lagi. Zevanya menoleh ke belakang, ada Gavin bersama anak buahnya.
Sekarang gue harus gimana?
__ADS_1
To be continued.