STALKER

STALKER
23. Papa Pulang


__ADS_3

“Aku tidak mau tahu, pokoknya Ratna mulai sekarang akan tinggal bersama di rumah ini!”


“Kalau itu mau kamu, aku dan anak-anak akan angkat kaki dari rumah ini!”


Dini hari menjelang. Zevanya dan Arga terbangun masih dalam keadaan setengah mengantuk. Mereka seperti mendengar suara keributan dari luar kamar. Arga menyalakan lampu tidur, lalu menegakkan badannya untuk duduk dan mendengarkan suara itu dengan seksama. Ada beberapa suara yang didengarnya.


“Sepertinya suara Papa kamu.”


“Papa? Yang bener lo?”


Zevanya melangkah keluar kamar. Arga membiarkannya keluar sendirian untuk bertemu dengan sang ayah yang sudah lama tidak pulang. Tak berselang lama, lelaki itu ikut menyusul. Ia melihat Zevanya masih berdiri di tangga, menatapi Wijaya yang membawa pulang seorang wanita ke rumah.


Mata Zevanya berbinar-binar melihat wanita itu. Wanita di depannya saat ini yang membuatnya dan Zevano terpisah 9 tahun lalu. Sekarang, Ratna terang-terangan memunculkan diri di hadapannya dan sang ibu. Wijaya beralih menatap mimik wajah Zevanya dengan senyuman sumringah.


“Kenapa Anda pulang? Kenapa Anda bawa wanita itu pulang?!” napas Zevanya terengah. Setetes air mata mengalir, menghujani wajahnya.


“Zev, maafin Papa. Tapi, yang harus kamu tau, wanita ini sekarang sudah menjadi ibu kamu.” ucap Wijaya jujur.


Zevanya menggeleng lemah. “Sampai kapanpun, Mama Zevanya cuma satu. Livy Pradipta, bukan wanita ini!”


Wijaya menjelaskan, agar semua tidak menjadi salah paham. Memang benar pria itu menikahi Ratna. Alasannya menikah lagi, karena Wijaya merasa berhutang budi pada Ratna yang telah menyelamatkan Zevanya dari kecelakaan mobil 9 tahun lalu. Ratna tak memberitahu bahwa si pelaku itu sendiri adalah dirinya.


Livy juga mengetahui pernikahan mereka berdua. Wijaya memintanya untuk merahasiakan ini semua dari Zevanya, sampai menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu kebenaran itu. Gadis itu merasa telah dibohongi oleh hubungan harmonis orang tuanya. Di depannya Wijaya dan Livy terlihat romantis, ternyata kenyataannya tidak begitu.


“Papa tau? Gara-gara wanita itu, Zevano hilang. Coba kalo Papa nggak ketemu sama dia! Mungkin sekarang Zevano ada di sini.” Zevanya menunjuk ke arah Ratna yang berdiri di belakang ayahnya.


Wijaya hendak menampar wajah Zevanya. Dengan kesigapan, Livy menghalangi sang suami yang sudah siap mengangkat tangan. “Mas, sudah cukup! Kamu boleh tampar aku, tapi jangan Zezev.”


“Tapi, sejak menikah anak ini jadi kurang ngajar sama orang tua. Kalau bukan karena Ratna, kamu sudah berada di alam kubur!”


“Suatu saat Papa bakal ngerasain, sakitnya di selingkuhi sama pasangan sendiri!”


Zevanya berbalik menaiki tangga. Di depan pintu sudah ada Arga, wajah yang basah dipenuhi air mata terpampang jelas. Lelaki itu memeluk erat tubuh Zevanya, seraya mengusap lembut punggungnya. Mengingat ucapan sang ayah tadi, membuat dadanya semakin sesak.

__ADS_1


“Baby, jangan menangis lagi, ya?” ucap Arga.


Spontan, Zevanya melepaskan pelukan Arga dengan kasar. “Baby? Gue bukan bayi.”


Arga terkekeh. Sesaat, ia melirik ke arah jam dinding. “Jangan dipikirkan, sekarang kita kembali ke kamar.”


Zevanya menyeka air matanya. “Jelasin dulu kenapa lo manggil gue Baby?”


“Mau saya cium atau masuk ke kamar?”


Gadis itu segera masuk ke kamar. Daripada dicium, ia lebih memilih menuruti perintah suaminya. Arga hanya tertawa melihat tingkah lakunya. Sementara yang di lantai satu, masih berdebat mempermasalahkan Ratna tinggal di rumah ini. Akhirnya, mau tidak mau Livy harus menerima keberadaan istri muda suaminya untuk tinggal satu atap bersama.


.


.


.


.


“Eh, gue semalem nguping pembicaraan lo sama Om Wijaya. Jadi, itu perempuan sekarang nyokap tiri lo?” tanya Deska penasaran.


“Tapi, di mata gue perempuan itu pelakor, bukan nyokap tiri gue!” sanggah Zevanya. Lap yang dipegangnya, di lemparkan ke atas meja dengan kasar.


Deska bergidik ngeri. “Okey ....”


“Zevanya? Tumben?” sapa Gavin dari ambang pintu.


“Jangan banyak tanya, kerja sana!” bentak Deska.


Gavin menatap sinis Deska. Sejak lelaki itu bekerja di Zezev's Coffee Shop, dirinya selalu mendapatkan respon kasar dari Deska. Ia menahan diri untuk tidak membunuhnya. Ia sedang belajar, agar bisa menahan emosi dan hasrat ingin membunuh. Sulit. Karena Deska selalu memancingnya, seperti mengajaknya berdebat.


Gavin bersiap memakai celemek berwarna cokelat tua, lalu mencuci piring-piring kotor bekas semalam dipakai oleh para pembeli. Lelaki itu diam-diam menyalakan ponselnya, saat jam kerja masih berlangsung. Padahal sudah jelas, pelayan Zezev's Coffee Shop dilarang memainkan ponsel jika belum waktunya jam istirahat.

__ADS_1


Zevanya merampas ponsel Gavin. Lelaki itu terkejut, itu ponsel yang biasanya digunakan untuk meneror calon korbannya. Di dalamnya banyak video penyiksaan yang bisa menjadi bukti, sekaligus menjebloskan Gavin ke penjara.


“Selama masih jam kerja, hp ini gue tahan!”


Gavin menarik bahu Zevanya. “Zev, lo nggak bisa gitu dong. Itu kan, privasi gue.”


“Iya, gue tau. Tapi, lo nggak fokus kerja dari tadi. Kenapa? Lo udah bosen kerja di sini?”


Gavin tidak bisa dikasari oleh seorang gadis. Ia mendekatkan diri pada Zevanya, kemudian berbisik. “Lo mending diem. Daripada gue yang bikin lo diem.”


Melihat situasi kedua orang itu, Deska perlahan menarik pergelangan tangan Zevanya. Ia merasakan Gavin bukan lelaki yang mudah dihadapi. Lelaki itu hendak merampas ponselnya, sayangnya, Zevanya membantingnya hingga hancur.


Gavin memunguti ponselnya. Pintu cafe terbuka, sepasang kaki berjalan ke arahnya dan berhenti di hadapannya. Zevano Pradipta. Lelaki itu mengenakan celana Levis dan jaket kulit hitam tak berlengan, sehingga menampakkan tato di lengan kanan kirinya.


Zevano menatap Zevanya. “Bisa buatin gue es kopi hitam tanpa gula?”


Zevanya mengangguk cepat. “Bisa, kok! Sebentar.”


Zevanya segera membuatkan pesanan lelaki itu. Gavin dan Zevano saling melempar pesan WhatsApp, untungnya ponsel satunya di sembunyikan di saku celana. Gavin memberitahu rahasia mengenai ibunya dan Wijaya sudah menikah. Namun, tidak memberitahu bahwa Ratna adalah ibu kandungnya. Ia memprovokasi Zevano untuk membalas dendam kepada Wijaya yang telah menduakan ibunya.


“Lo tau apa? Bokap lo udah bikin Zevanya nangis. Masa lo mau diem aja?” balas Gavin melalui pesan WhatsApp.


“Itu bukan urusan lo. Gue bisa menangani itu sendiri.”


Sekarang giliran ponsel Zevanya yang menerima pesan WhatsApp. Pihak rumah sakit mengabarinya kalau tes DNA sudah keluar, gadis itu sudah bisa mengambilnya sekarang. Pandangannya beralih pada Zevano yang duduk berhadapan dengan Gavin.


Lo udah nggak bisa menghindar lagi kali ini.


“Deska, lo bisa gantiin gue sebentar?” tanya Zevanya dengan suara berbisik.


“Lo mau ke mana?”


“Rumah sakit.” Zevanya melepaskan celemek di badannya. Ia berlari terburu-buru meninggalkan cafe.

__ADS_1


Samar-samar, Gavin seperti mendengar apa yang dibisikkan Zevanya pada Deska. Lelaki itu mengirim pesan kepada anak buahnya untuk merebut hasil tes DNA itu.


To be continued.


__ADS_2