STALKER

STALKER
20. Tes DNA


__ADS_3

“Kamu yakin di TKP tidak menemukan bukti apapun selain memotret ini?” Rega bertanya pada Zevanya.


Zevanya hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ia juga sebenarnya ingin memberikan pulpen milik Zevano. Namun, di sisi lain ia takut dugaannya itu salah. Jadi, Zevanya memilih menyembunyikan pulpen tersebut di tas ranselnya. Setelah menyerahkan laporan investigasi, terlihat Arjuna dan Rifky berada di satu sel tahanan yang sama. Arjuna sedari tadi berteriak memohon kepada Arga untuk segera menyiapkan pengacara.


Orang-orang yang terlibat dalam kasus Arjuna pun ikut tertangkap. Terutama para pengawal yang menahan Arga di rumah lelaki itu. Itu juga termasuk tindak penculikan terhadap polisi.


“Arga! Gue ini kembaran lo, jadi, lo harus bebasin gue!”


“Untuk apa saya membebaskan penjahat yang sudah mencoba membunuh istri saya? Meskipun kita ini keluarga, tapi kamu sudah melampaui batas.”


Arjuna tertawa terbahak-bahak. “Ya, elah. Gitu doang? Gue tinggal minta maaf aja sama lo, semua masalah selesai, kan?”


Zevanya menghampiri Arga yang masih berdiri di depan sel tahanan. Gadis itu mengeluarkan pistol replika, lalu menodongkannya ke arah Arjuna. “Minta maaf? Lo udah bunuh sahabat gue, lo pikir semuanya bisa dimaafin gitu aja?”


Arjuna membuang napas kasarnya. “Tapi, yang bunuh mereka bukan gue. Masih ada orang lain yang terlibat, mau gue kasih tau?”


“Beritahu saya.” ucap Arga pada Arjuna.


“Kalo gue ngasih tau siapa dalang dibalik semua ini, lo bakalan bebasin gue, kan?” tanya Arjuna pada Arga.


“Bang Arga, gue nemuin narkoba di rumah si pelaku!”


Arga dan Zevanya segera mengalihkan pandangan ke arah Sandy yang berbicara. Ekspresi wajah Arjuna berubah setelah mendengar narkoba miliknya telah ditemukan. Ya, selain hobi membuat patung dari manusia, Arjuna juga seorang pecandu narkoba. Sudah beberapa tahun lelaki itu mengonsumsi narkoba dan sabu-sabu. Namun, ia berniat berhenti mengonsumsinya karena sering mengalami delusi.


“Kamu menemukan itu di mana?” sekarang Arga yang bertanya.


“Di laci lemari pakaian.” jawab Sandy.


Arga menatap Arjuna. “Bukti sudah ada di depan mata. Jadi, jangan mencoba untuk bernegosiasi. Sampai bertemu di persidangan nanti.”


Arga menggandeng tangan Zevanya, lalu berjalan keluar kantor polisi. Ketika hendak masuk mobil, gadis itu teringat Zevano yang di rawat di rumah sakit. Sesuai janjinya, Zevanya akan menjenguk Zevano dan membawakan buah-buahan.


“Jadi, kamu mau menjenguk Zevano?”

__ADS_1


Zevanya mengangguk. “Iya. Lo izinin gue pergi sendirian, kan?”


“Tidak, terlalu berbahaya. Kamu baru saja hampir kehilangan nyawa.”


“Gue bisa jaga diri. Please ....” pinta Zevanya dengan wajah memohon, agar suaminya mengizinkannya.


Kedua tangan Arga menyapu wajah gadis di depannya. Kemudian, mencium sekilas dahi, pipi dan bibir Zevanya. Gadis itu terpaku dengan perlakuan Arga yang tiba-tiba menciumi wajahnya. Jantungnya berdebar-debar tak karuan seperti akan melompat dari tempatnya.


“Hati-hati, kalau terjadi sesuatu segera kabari saya.”


“Iya.” Zevanya melangkah, menjauh dari parkiran. Ia menunggu taksi datang melewatinya, sesekali menoleh, memastikan keadaan Arga. Lelaki itu tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. Melihat mobil taksi berwarna biru berhenti di depannya, Zevanya masuk melalui pintu penumpang.


.


.


.


.


Zevanya mengetuk kamar inap Zevano. Tidak ada sahutan yang mempersilahkannya masuk. Ia masuk untuk memeriksa apakah seseorang berada di dalam. Ternyata yang dijenguk masih nyaman tertidur di atas ranjang. Ia meletakkan buah-buahan itu di atas meja nakas yang ada di samping ranjang.


Apa bener, lo bukan kembaran gue? Kalo bukan, kenapa lo harus nolongin gue sampai sejauh ini. Batin Zevanya, seraya menatap dalam Zevano.


Gadis itu meraih gunting dari dalam laci. Ia memotong separuh rambut Zevano dan dirinya, guna diuji coba ke laboratorium untuk melakukan tes DNA. Setelah memisahkan rambutnya dan Zevano, Zevanya keluar dari ruang inap. Zevanya ingin mengajukan tes DNA, agar bisa membuktikan bahwa Zevano adalah kembarannya atau bukan.


“Baik, ini saya terima. Untuk hasil tes DNA, akan keluar sekitar 2 sampai 4 mingguan.” kata dokter itu.


“Terima kasih, Dok.”


Zevanya kembali ke ruangan Zevano. Langkahnya harus terhenti di ambang pintu, ia melihat Gavin dan Zevano tengah membicarakan hal serius. Mereka sepertinya akrab. Penampilan Gavin tidak seperti biasa, yang selalu culun dengan kacamata bulat.


“Lo rela mengorbankan diri demi cewek itu?” tanya Gavin.

__ADS_1


“Karna gue kasihan. Kalo gue nggak kasian sama tu cewek, ngapain gue nolongin dia.”


Kata-kata Zevano barusan mematahkan harapan Zevanya. Ia sudah berharap kalau lelaki itu menolongnya karena teringat dengan saudari kembarnya. Rupanya tak begitu. Gadis itu menarik napas dan menghembusnya, menahan air mata yang hendak turun dari pelupuk matanya.


Gavin terkekeh geli. “Serius? Bukan karena ada apapun, kan?”


“Nggak ada. Cuma rasa kasihan yang menuntun gue buat nolongin dia.”


Matanya tak kuasa membendung air mata yang sudah terkumpul. Akhirnya air mata itu jatuh ke pipinya. Zevanya pergi berjalan meninggalkan ruang rawat inap. Gavin membuka pintu, memastikan kepergian gadis itu.


Sebelum Gavin tiba di ruang rawat inap, ia melihat Zevanya memberikan sempel rambut pada seorang dokter. Ia tak tinggal diam, lalu memberitahu Zevano. Lelaki itu belum siap bila kembarannya mengetahui bahwa dirinya memanglah Zevano Pradipta. Terlebih, Zevano adalah seorang pembunuh berantai. Maka dari itu, mereka sengaja berbicara seperti tadi.


“Kalo hasil tes DNA keluar, apa lo masih tetep nggak mau ngaku?” tanya Gavin.


Zevano menatap buah-buahan pemberian kembarannya. “Entahlah, mungkin gue bakal ngaku.”


“Jangan gila. Lo masih mau Zevanya hidup, kan?” Zevano hanya menganggukkan kepala. “Maka dari itu, lo diem dan jangan bersikap sok baik. Inget, siapa diri lo.”


Ini yang membuat Zevano tidak bisa melawan bosnya. Gavin selalu menggunakan Zevanya untuk mengancamnya, ia tahu bosnya itu tidak pernah main-main dengan perkataannya. Apalagi, lelaki itu tahu Gavin adalah penjahat kelamin yang selalu menjajal banyak tubuh gadis remaja. Hanya dengan cara ini Zevano bisa melindungi kembarannya.


“Lo tahu Arjuna, kan? Saudara kembar detektif itu.”


“Gue tau. Lo nggak bakal nyangka lagi kalo dia juga pecandu narkoba, apa lo nggak khawatir sama Zevanya? Bisa jadi kan, Zevanya udah dicekokin sabu-sabu sama tu cowok.” Gavin tersenyum seringai. “Mau balas dendam?”


Zevano mengepalkan tangan dengan erat. “Bisa lo lakuin itu buat gue?”


Gavin tersenyum puas. “Tanpa lo suruh, gue juga bakalan lakuin itu. Ini rencana gue dari awal masuk ke rumah sakit.”


Gavin membuka tirai jendela, melihat ke bawah halaman rumah sakit. Di sana ada Zevanya yang terlihat sedang memeluk Arga dengan air mata membasahi wajahnya. “Gue suka tangisan itu.”


“Apa maksud lo?”


“Zevano, kayaknya ... Gue mulai terobsesi sama kembaran lo.”

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2