STALKER

STALKER
25. Janji


__ADS_3

Zevanya membuka kedua kelopak matanya. Ia mengedipkan mata berulang kali, pandangannya kembali normal. Saat ini Zevanya berada di dalam mobil seseorang. Seingatnya, ia sedang berada di rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA. Dari kaca spion tengah, tampak wajah seorang lelaki mengintip menatapnya.


“Udah sadar lo?”


“Zevano? Lo yang nolongin gue dari dua orang itu?” tanya Zevanya memastikan.


Zevano mengangguk. “Iya. Gue cuma kebetulan aja ada di sana.”


Sejenak suasana menjadi hening, Zevanya berpikir ini bukanlah sebuah kebetulan. Sudah dua kali lelaki itu menyelamatkannya dari marabahaya. Ia membuka tas selempangnya, mencari amplop putih yang didapatnya dari rumah sakit. Hilang. Sepintas, Zevanya teringat oleh dua orang bermasker hitam yang mengikutinya.


Mereka ngambil hasil tes DNA itu?


Zevano melirik ke arah kaca spion tengah, pandangannya beralih pada amplop putih yang ada di bawah kakinya. Jelas tidak ada di tas Zevanya. Hasil tes DNA itu sudah jatuh ke tangannya, ia berharap gadis itu berhenti untuk mencari tahu tentang saudara kembarnya. Bukan tanpa alasan, itu semua demi keselamatannya.


“Gue rasa ini bukan kebetulan.” Zevanya menarik napas sejenak. “Maaf kalo gue lancang, tapi ... Gue ngerasa lo saudara kembar gue yang hilang 9 tahun lalu.”


“Punya nama yang sama bukan berarti kita ini saudara kembar. Banyak kok, yang namanya sama, tapi mereka nggak ada ikatan saudara.” jawab Zevano.


“Tapi kenapa ... Kenapa lo selalu ada di saat gue dalam bahaya? Itu artinya ... lo ngikutin gue kan ... .” Zevanya tersendat mengucapkan kalimat terakhirnya.


Zevano menyandarkan kepalanya. “Halusinasi lo boleh juga. Sejak kapan gue ngikutin lo? Stop menganggap gue ini saudara kembar lo. Gue sama dia beda. Nama gue Zevano Orlando, puas lo?”


Mendengar hal itu, dada Zevanya terasa sesak sampai tak bisa mengatur napasnya. Ia memutuskan keluar dan menjauh dari mobil Zevano. Tentu nama belakangnya adalah nama palsu. Namanya yang sebenarnya adalah Zevano Adriansyah Pradipta.


Melihat Zevanya keluar, lelaki itu membuka kaca mobil. “Zevanya, lo mau ke mana?!”


“Nggak usah sok bersikap seperti saudara kembar gue. Lo bukan dia!”


Zevanya menitikkan air mata. Ia berbalik ke depan, berjalan menyusuri jalanan jembatan layang. Zevano merasa bersalah, karena sudah melontarkan kata-kata yang seharusnya tidak perlu dikatakan. Hatinya ikut sakit melihat air mata Zevanya. Lelaki itu keluar dari mobilnya, menyusul kembarannya.


Namun, baru satu langkah. Sebuah mobil berhenti di depan Zevanya. Keluarlah sosok lelaki dari dalamnya, berlari ke arah gadis itu dengan raut wajah cemas. Suaranya berubah menjadi terisak. Arga langsung mendekap Zevanya erat.


“Ternyata dugaan gue salah. Zevano bukan saudara kembar gue.”


“Masih ada lain waktu untuk menemukannya, jadi, jangan putus asa.” ucap Arga seraya mengusap kepala gadis itu. “Ada saya di sini. Saya janji akan membantu kamu mencarinya.”

__ADS_1


Dari jauh, dua lelaki itu saling pandang. Ya, sebelum Arga sampai di sana, Zevano sempat mengirim pesan untuk merahasiakan kebenaran bahwa hasil tes DNA itu cocok. Zevano juga mengaku kalau dirinya terlibat dalam kelompok stalker. Lelaki itu ingin keluar dari pekerjaan gelapnya, dengan menyerahkan diri ke polisi. Namun, tidak sekarang.


Sudah ada Arga sekarang. Zevano bisa bernapas lega, lalu kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan sepasang suami istri itu di jembatan layang.


“Kenapa kamu pergi tidak bilang sama saya?” tanya Arga dengan nada khawatir. Ujung jemarinya menyeka air mata Zevanya yang tersisa di pipi.


Zevanya tidak menjawab apapun. Ia perlu waktu untuk menenangkan diri. Arga mengangkat dagu Zevanya, mendongakkan kepala gadis itu agar menatapnya. “Saya berjanji akan membantu kamu mencari Zevano.”


“Lo janji?”


Arga menatap Zevanya lekat-lekat. “Ya, saya janji.”


Zevanya tak mengetahui, kalau janji yang dimaksud Arga tadi adalah mempertemukannya dengan Zevano secara langsung.


.


.


.


.


Tampak di dalam jeruji besi itu, mereka berdua hanya duduk sambil melamun tak jelas. Gavin menghampiri sel tahanan, kemudian memasukkan plastik itu.


Melihat itu, mereka segera terkesiap ketika sekantung plastik itu di sodorkan oleh Gavin. Rifky sangat antusias menerima makanan dari bosnya. “Pak Polisi? Ini buat kita?”


“Iya, buat kalian. Makanlah yang kenyang.”


“Terima kasih, Pak.” ucap Arjuna.


Mereka duduk di lantai beralas tikar. Arjuna sedikit curiga dengan sikap polisi yang tiba-tiba memberikan mereka makanan enak. Rifky memakannya dengan lahap, seperti orang kelaparan. Selama mereka di dalam sel tahanan, para polisi hanya memberikan roti dan air botol mineral.


“Lo nggak makan?” tanya Rifky melihat Arjuna belum menyentuh makanan itu.


“Ngeliat lo makan nafsu makan gue jadi hilang.”

__ADS_1


Rifky tertawa kecil. “Lo seharusnya bersyukur, kapan lagi kita makan en—”


Saat Rifky mengucapkan kalimat terakhirnya, ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Lelaki itu ambruk, lalu kejang-kejang. Arjuna segera meminta bantuan kepada polisi lain, untuk menolong Rifky yang mengalami reaksi aneh setelah memakan makanan itu. Sandy membuka pintu sel tahanan, dan memeriksa tubuh Rifky.


Sandy meletakkan dua jari di leher Rifky. “Napasnya melemah, apa yang dia makan sebelumnya.”


“Ini.” Arjuna menyodorkan sekantung plastik itu pada Sandy.


Sandy mengambil chicken di dalamnya, memperhatikan makanan tersebut dengan seksama. “Rega, coba lo pesen makanan yang sama. Kita bedain keduanya.”


“Oke.”


Sandy menghubungi ambulans untuk membawa Rifky ke rumah sakit, agar di periksa lebih lanjut. Beruntung Arjuna tidak memakannya. Lelaki itu memang lapar, jika di suruh memilih makanan McDonald's atau roti, Arjuna lebih memilih roti ketimbang makanan enak.


Sementara itu, Gavin tertawa terbahak-bahak di dalam mobilnya. Arjuna dan Rifky sebentar lagi mati merenggang nyawa, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Persidangan pun tidak akan dilaksanakan karena pelaku mati karena keracunan makanan. Terlihat mobil ambulans berhenti di depan kantor polisi. Beberapa polisi datang menopang tubuh Rifky.


“Oh, masih bertahan ternyata. Tenang aja Rifky, nggak lama lagi lo bakal mati.”


Setelah menyaksikan Rifky di bawa pergi oleh petugas rumah sakit, Gavin mengikuti mobil ambulans dari belakang. Mobilnya dan mobil Arga berpapasan. Lelaki itu mampir ke kantor polisi karena ingin membesuk kembarannya, sekaligus meminta bantuan kepada Arjuna untuk menangkap si pelaku.


Salah satu polisi membuka pintu sel tahanan, menyuruh Arjuna keluar untuk menemui seseorang. Arga memperhatikan saudara kembarnya, lelaki itu terlihat sehat walaupun kondisi tubuhnya sedikit kurus.


Arga menipiskan senyumnya. “Bagaimana rasa tinggal di kantor polisi? Ini belum seberapa, setelah persidangan keadaannya akan lebih sulit lagi.”


“Mau apa lo ke sini?”


“Kalau kamu ingin bebas, bantu saya untuk menangkap si pembunuh itu.”


“Gue bisa aja bantuin lo, tapi gue nggak mau bebas dari penjara. Di sini tempat seharusnya gue berada.”


Arga mengembangkan senyum. Padahal, ia hanya berbasa-basi akan membebaskan Arjuna. Ia bangga dengan cara saudara kembarnya menikmati hidup di dalam penjara. Arjuna juga menyadari bahwa tindak kriminal yang dilakukannya selama ini salah.


“Berdoa saja agar kamu mendapatkan hukuman seumur hidup, bukannya hukuman mati. Dengan begitu kamu bisa memperbaiki diri sebelum mati.”


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2