
“Bos, mau kita apain wanita ini?” tanya salah satu anak buah Gavin.
Wanita bernama Livy Pradipta itu sedang terikat di kursi dengan keadaan tak sadarkan diri, dan mulut tertutup lakban hitam. Sepeninggal Gavin dari rumah sakit, ia tak sengaja bertabrakan dengan Livy di tengah jalan. Lelaki itu mencuri kesempatan untuk menarik empati istri papa tirinya itu. Hanya mengandalkan luka di kepalanya, Gavin sudah membuat Livy berempati sampai mengobatinya.
Gavin mengeluarkan handphonenya dari saku belakang celananya. Ia mencari nomor Zevano, lalu memotret keadaan Livy dan mengirimkannya. “Kalo Zevano masih mau nentang gue, bukan cuma ibunya yang gue kirim ke alam baka. Tapi, bokapnya juga.”
Beberapa menit kemudian, layar ponsel Gavin menunjukkan nomor kontak Zevano meneleponnya. “Gue kira lo nggak bakal peduli sama wanita ini.”
“Bacot! Langsung aja ke intinya. Mau lo apa, sih?”
“Mau gue cuma satu. Asalkan lo nurut sama gue, wanita ini gue lepasin.” Gavin mendorong dahi Livy menggunakan stik golf.
Zevano menghembuskan napas kasar. “Apa yang lo mau?”
“Gue butuh pelampiasan. Lo tau kan, maksud gue?” tubuh Zevanya sepintas langsung terbayang di benaknya. Ia belum sempat menjamah kemolekan tubuh gadis itu, yang didapatnya malah pukulan di kepala.
“Lo mau cewek yang kayak gimana?”
Tentunya, Gavin tidak ingin Zevano sembarangan menculik seorang gadis. Bisa-bisa Zevano menculik gadis penghibur dari klub malam yang sering mendapatkan pelayanan setiap malam. Lelaki itu tak mau terkena HIV. Yang dipikirannya saat ini hanya Indah, sahabat Zevanya, tidak ada gadis lain.
“Culik siswa yang namanya Indah. Dia satu kelas sama kita, gue bakalan kirim alamat rumahnya.”
“Oke. Tapi, lo harus janji setelah ini jangan usik nyokap atau pun kembaran gue.”
“Tenang aja. Kalo lo nurut, mereka bakalan baik-baik aja.”
Gavin memberi isyarat pada anak buahnya untuk memulangkan Livy ke rumahnya. Anak buahnya menuruti perintah si bos dan segera melepas ikatan di tubuh wanita itu, serta lakban hitam yang menutupi mulutnya. Livy di bawa ke luar gedung sekolah oleh anak buahnya Gavin. Pun di susul oleh Gavin yang berjalan di belakang.
Gavin tersenyum seringai, seraya berpikir. Saatnya menjadi pahlawan untuk Indah.
.
.
.
.
__ADS_1
Zevano menggeledah apartemen milik Indah. Namun, gadis itu tidak ada di sana. Ia melihat foto-foto Indah bersama Cindy dan Zevanya yang terpajang di dinding kamar. Sejenak Zevano berpikir. Jika dirinya menculik sahabat kembarannya, Zevanya akan membencinya. Di sisi lain juga ia tak punya pilihan lain, ini demi menyelamatkan nyawa sang ibu.
Tak lama, Zevano keluar apartemen Indah. Dari kejauhan Ia melihat Indah berjalan ke arah apartemen, membawa sekantung plastik Alfamart berisi camilan ringan. Ia berpura-pura berjalan sambil menundukkan kepala. Begitu mereka berpapasan, Zevano langsung membekap mulut Indah dengan telapak tangannya. Gadis itu menggigit telapak tangan Zevano dan menjauhkan diri.
“Tolong!” Indah berteriak, seraya berlari meninggalkan belanjaannya dan Zevano.
Indah melihat seseorang berperawakan tinggi tegap di depannya. Ia berlari ke arah seseorang yang dilihatnya. Seseorang itu membuka tudung Hoodie-nya. “Indah?”
“Gavin, tolongin gue! Ada orang aneh yang mau nyulik gue.” ucap Indah dengan mulut sedikit bergetar.
Gavin mengembangkan senyum. “Tenang aja, gue ada di sini. Gue bakalan jagain lo.”
Indah melirik Gavin dari kaki hingga ujung rambut. Ada yang berbeda dari lelaki itu. Gavin tak menggunakan kacamata bulatnya lagi, bahkan rambutnya juga tersisir rapi ke belakang. Berbeda dengan biasanya yang selalu di beri garis tengah di rambutnya.
“Oh, iya. Gue mau bawa lo ke suatu tempat.”
“Ke mana?” Indah mulai penasaran dengan ajakan Gavin.
Gavin memegang tangan Indah, menuntunnya berjalan. Satu tangannya ia masukkan ke kantung jaket, memegang obat perangsang yang sudah siap untuk melancarkan aksinya. Lelaki itu memang enggan bersikap lembut pada seorang gadis, kali ini ia hanya terpaksa harus bersikap lembut dan penyayang.
Mereka berjalan beberapa kilometer dari apartemen ke sekolah. Satpam yang berjaga sudah diberi obat tidur, seluruh CCTV pun dimatikan. Gavin dan Indah sudah memasuki gedung sekolah, mereka berjalan menuju kelas kosong di lantai satu.
“Lumayan, sih.”
Gavin mengeluarkan obat perangsang cair khusus wanita, dari kantung jaketnya. Ia mencekal rahang Indah dan memaksanya untuk meminum obat tersebut. Bukan satu tetes, tetapi satu botol Gavin menuangkannya ke dalam mulut gadis itu.
“Lo gila! Itu apaan?!” suara Indah terdengar memekik keras.
Gavin mendekatkan wajahnya ke telinga Indah. “Obat perangsang.” kemudian, ia menjauhkan kembali tubuhnya.
“Gila lo ngasih obat itu ke gue!”
Gavin tak peduli Indah mengumpat apapun tentang dirinya. Ia hanya berdiri melihat Indah yang terduduk di lantai. Keringat mengalir dari dahi sampai ke jenjang leher gadis itu. Gavin membuka pakaian atasnya untuk menggoda Indah, memastikan obat tersebut sudah bekerja.
“Gavin, gue mohon ... Tolong gue!”
“Tolongin lo? Merangkak dan berlutut di bawah kaki gue!”
__ADS_1
Indah menuruti setiap perkataan Gavin. Biarlah tubuhnya disentuh sekalipun, asalkan rasa sesak di dadanya menghilang. Ia merangkak dengan tertatih, lalu mendongak ke atas menatap Gavin. Lelaki itu berjongkok, membelai setiap inci wajah Indah yang dipenuhi keringat.
“Gue bebas kan, ngelakuin apapun sama lo?”
Indah langsung mengangguk. “Iya! Gue mohon sama lo.”
“Oke.”
Gavin segera menempelkan bibirnya di bibir Indah. Keduanya sama-sama menggerakkan bibir dengan kasar, bahkan lelaki itu sampai menekan lidahnya masuk demi memperdalam ciumannya. Indah mendorong dada bidang Gavin ke lantai dan menindihnya. Entah siapa yang terlihat seperti pemain di sini.
Indah memimpin kali ini, kemudian melepaskan setiap pakaian yang melekat di tubuh Gavin. Tanpa pemanasan mereka berdua langsung melakukan penyatuan. Awalnya, mereka bermain lembut. Namun, Gavin tak tahan dan mengambil alih. Lelaki itu mempercepat hentakan pinggulnya.
Setelah puas bermain, Gavin memakai kembali pakaiannya. Ia menatap tubuh polos sahabat Zevanya. Sayang sekali ia tak bisa mencicipi tubuh istri orang. Napas gadis itu tersengal setelah melakukan hubungan yang seharusnya tak ia lakukan. Terlihat Gavin memegang stik golf di tangannya.
“Lo ... Mau ngapain?”
“Mau membuat seni.”
Gavin memukul tubuh polos Indah dengan stik golfnya. Tak hanya itu, ia juga memukuli wajah gadis itu. Entah sudah beberapa pukulan yang Gavin layangkan di tubuh Indah, luka memar saja tak cukup baginya. Ia mengambil pulpen di atas meja, kemudian menusukkannya di setiap tubuh Indah.
“Zevano!” panggil Gavin, napasnya terengah-engah meneriaki nama asistennya.
Yang dipanggil masuk ke kelas kosong itu. Mata Zevano langsung disuguhkan oleh pemandangan tubuh seksi seorang gadis tanpa busana. Sayangnya, ada cairan merah pekat yang menutupi warna kulit Indah.
“Apa lagi?”
“Beresin ini semua sampai bersih. Kirim mayat ini ke Mr. Black.”
“Mr. Black?”
Gavin menghela napasnya kasar. “Psikopat yang suka mengoleksi patung.”
“Ya, ya, apapun itu. Gue bakal beresin ini semua.”
Rencana mereka kali ini tak akan diketahui oleh orang-orang, apalagi polisi. Gavin juga sudah mengirimkan pesan kepada Zevanya dengan berpura-pura menjadi Indah, memberitahu bahwa gadis itu akan pergi ke luar negeri untuk beberapa tahun. Zevano pun sudah menyiapkan kardus besar untuk memasukkan mayat Indah, lalu menjualnya pada Mr. Black.
Kenapa jenazah Cindy sampai saat ini belum ditemukan? Itu karena Gavin mengambil kembali jenazah Cindy dari jurang, lalu menjualnya kepada Mr. Black seharga 50 juta. Percuma membuangnya ke hutan, bila suatu saat bisa ditemukan oleh polisi. Selama ini Zevano dan Gavin mendapatkan uang dari hasil penjualan mayat wanita.
__ADS_1
To be continued.