STALKER

STALKER
40. Jari Manis


__ADS_3

Sesaat, suasana menjadi sunyi. Deska masih termangu mencerna perkataan Arjuna tadi. Mereka berpacaran? Yang benar saja, bahkan gadis itu belum menyetujuinya. Namun, mengingat kembali curhatan Arjuna, Deska merasa iba dan prihatin. Mungkin saja lelaki di hadapannya saat ini ingin berubah menjadi lebih baik. Ini memang terdengar aneh, berpacaran dengan saudara kembar Arga.


“Eee— Oke, gue mau jadi pacar lo.” Deska menjawab cepat dan kaku bagai menghafal buku teks.


Arjuna menenggak secangkir kopi hitam. Dalam hatinya ia bersorak gembira. Gadis mana yang berani menolaknya? Wajah tampan, kaya raya, hanya saja lelaki itu kehilangan kewarasannya. Menurutnya itu keren, mungkin bagi sebagian orang tidak. Arjuna merapatkan kursinya agar lebih dekat dengan Deska.


Arjuna mendekatkan wajahnya ke wajah Deska. Belum sempat bibir mereka bersentuhan, derap langkah kaki mengganggu suasana romantis sepasang kekasih itu. Yang datang itu rupanya Zevanya dan Arga. Gadis itu menarik napas lega, untung tidak terjadi sesuatu pada Deska. Melihat Arjuna duduk berdekatan dengan Deska, Zevanya menjauhkan sepupunya dari iparnya.


“Lo ngapain sih, berduaan di kafe begini?” kedua mata Zevanya beralih menatap meja yang di atasnya terdapat tumpukan buku dan laptop di sampingnya. “Udah malem! Lo bisa ngerjain tugas di rumah.”


Arga memandang datar saudara kembarnya. “Kamu juga. Kenapa ada di sini?”


“Gue?” Arjuna menunjuk dirinya sendiri. “Gue minum kopi lah, apalagi.”


“Oh, iya. Mau denger ini, nggak?“ tanya Arjuna, menatap Arga dan Zevanya bergantian. “Gue sama Deska jadian.”


Tentu saja, Zevanya tidak percaya begitu saja. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya, berharap mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai hubungan Deska dan Arjuna. “Jadian? Mana mungkin, Deska nggak akan tertarik sama---.”


“Lo salah, Zev. Gue ... Suka sama Arjuna.” Deska memotong cepat kalimat Zevanya, menegaskan perasaannya pada sepupunya itu.


Mendengar hal itu, Arga berpaling pada Arjuna dan mengonfirmasi sesuatu. “Jadi, kalian berdua sudah resmi berpacaran?”


“Gue nggak setuju. Des, pikirin keselamatan lo!” Zevanya memegangi kedua bahu Deska.


Gadis itu menepis kasar tangan Zevanya. “Mau setuju atau enggak, itu bukan urusan lo. Itu hak gue. Lagian juga, Arjuna udah sembuh total.”


Zevanya terkejut, dan menunjukkan raut wajah kesal, meski lama-kelamaan bisa ia kontrol. Tadinya, ia mengira Deska akan berubah pikiran. Ternyata tidak. Sebaliknya, sepupunya malah berbalik marah. Selanjutnya, ia menerbitkan senyum terpaksa.


“Oke, kalo itu emang pilihan lo. Jangan pernah muncul di hadapan gue lagi, mulai saat ini.” tegas Zevanya pada Deska.


“Nggak akan!”


Yang selanjutnya terjadi adalah, Deska tidak lagi memedulikan keberadaan Zevanya. Deska menarik Arjuna pergi meninggalkan cafe, hari ini juga, gadis itu resign dari pekerjaannya sebagai barista di Zezev's Coffee Shop. Kemudian, Arga mengusap lengan atas Zevanya seraya menenangkan.

__ADS_1


“Jangan dipikirkan, suatu saat nanti juga Deska akan menyesal.” ucap Arga.


Zevanya membereskan barang-barang Deska Yang tergeletak di atas meja. Mereka berdua pulang ke rumah. Sampai di dalam, tiba-tiba Arga mendaratkan ciuman di bibir sang istri. Rasa rindu memuncak di dada lelaki itu, pekerjaannya sebagai detektif membuatnya lupa memanjakan istrinya. Barang-barang yang dibawa Zevanya jatuh ke lantai, begitu Arga menuntunnya duduk di sofa panjang.


Kali ini, Arga tidak memakai pengaman. Ia langsung membuka semua pakaiannya dan membuahi gadis itu tanpa memikirkan kedepannya. Pakaian keduanya sudah berserakan di karpet. Arga menatap Zevanya dari jarak dekat.


“Siap menjadi seorang ibu?” tanya Arga. Suaranya sedikit mendesah panjang.


Zevanya tersenyum lebar. “Apapun itu. Gue siap.”


Keduanya melanjutkan aktivitas panas mereka di atas sofa. Kini, Arga akan menanam benih di rahim Zevanya. Gadis itu pun sudah menyiapkan mental, bila sewaktu-waktu hamil.


.


.


.


.


Deska terbangun di kamar yang nampak asing, bukan kamarnya, ini jelas di tempat lain. Ia merasakan perih di jari manisnya. Perlahan, Deska mengangkat tangannya, ia melihat jari manisnya terbalut perban. Kedua matanya membulat seketika, ia menerawang sejenak, mengingat-ingat percakapannya dengan Arjuna semalam.


Beberapa jam sebelumnya, tepat sepulang dari cafe. Arjuna mengajak Deska ke apartemen miliknya. Setelahnya, mereka meminum bir untuk merayakan satu hari mereka berpacaran. Awalnya, gadis itu tidak bisa minum. Namun, Arjuna memaksanya menenggak segelas bir sambil menahan nafas.


Arjuna menciumi punggung tangan Deska. “Gue baru sadar, lo ... Punya jari yang indah. Gue boleh gigit jari manis lo?”


Pandangan Deska memburam, refleks gadis itu menganggukkan kepala. Arjuna menggigit jari manis Deska, sekuat tenaga ia berusaha memutuskannya. Sayangnya, tidak berhasil.


“Gue boleh minta jari lo?” tanya Arjuna, tangannya menyelipkan rambut panjang Deska.


Deska memicingkan mata, memperhatikan lelaki di hadapannya. “Oh ... Lo mau pake kutek yang gue pake?”


Dengan lembut, Arjuna berkata. “Bukan Sayang, tapi motong jari kamu ....”

__ADS_1


“Mo-otong jari?”


Arjuna beranjak berdiri, ia menghampiri dapur. Ia mengambil pisau pemotong daging. Lalu, duduk di sofa. Arjuna meletakkan telapak tangan Deska di meja, kemudian memotong jari manis gadis itu selayaknya memotong daging qurban.


“Aargghh!” Deska menjerit keras. Setengah jari manisnya terpotong dan mengeluarkan banyak darah.


Arjuna sudah menyiapkan toples kaca berisi air di atas meja. Ia memasukkan jari yang terpotong itu ke dalamnya. Bertambah lagi koleksi potongan jarinya, ternyata, hal ini sering dilakukannya sejak lama. Berawal dari pacaran, berujung menjadi korbannya. Arjuna mengobati luka di jari manis Deska, membiarkan gadis itu tidur dengan sendirinya. Selanjutnya, Arjuna memindahkan Deska ke kamarnya.


Setelah mendapatkan ingatannya, Deska bergegas keluar dari kamar tersebut. Sangat disayangkan, Arjuna mengunci gadis itu dari luar agar tidak bisa kabur ke mana pun. Deska hanya bisa duduk diam di lantai, seraya menyesali keputusannya. Andai saja semalam ia langsung menolak, semuanya tidak akan terjadi begini.


“Zev ... Gue nyesel. Gue mau pulang, gue nggak mau di sini.”


Gagang pintu terdengar seperti akan dibuka. Secepat kilat, Deska naik ke atas ranjang, ia berpura-pura tidur. Pintu di buka lebar-lebar, Arjuna ikut menaiki ranjang, mendekati gadis yang terlelap dalam tidurnya. Arjuna berbaring menghadap Deska.


“Tenang aja, gue nggak akan nyakitin lo. Gue bakalan berusaha lembut sama lo.”


Secara tiba-tiba, Arjuna menampar pipinya sendiri, seperti ada yang salah dengan dirinya. “Nggak boleh, jangan bersikap lembut sama dia! Dia bukan Stella, cuma Stella yang pantes mendapatkan perlakuan lembut.” Arjuna berbicara sendiri.


Deska sedikit membuka sebelah matanya. Kenapa dia? Kesurupan ninja Hatori?


Arjuna belum bisa melupakan sosok Stella. Baginya, Stella adalah gadis spesial di hatinya. Sampai saat ini, yang masih bertahta di hatinya, ya, gadis itu. Alasannya melakukan pemotongan jari pada setiap korbannya, untuk mengetes perasaannya. Apakah ia bisa mencintai gadis lain selain Stella? Ternyata hasilnya sama saja, tidak ada yang bisa membuatnya berdebar-debar.


“Arjuna.” Deska memberanikan diri memanggil nama lelaki itu.


“Apa?“ sahut Arjuna, menoleh ke arah Deska.


Deska berpikir lelaki seperti Arjuna hanya membutuhkan kasih sayang. Ia menatap Arjuna penuh arti. “Nggak ada gunanya lo ngelakuin ini. Kalo lo butuh tempat cerita, cerita sini sama gue. Gue pasti bakalan dengerin, kok.”


“Hahaha ... .” Arjuna melepaskan tawanya. “Ngomong gitu sekali lagi, semua jari lo gue potong!”


Deska menelan ludah, sekujur tubuhnya bergidik mendengar ancaman lelaki itu. Dasar psikopat gila!


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2