
...•••••...
Hantara menahan senyum. Selagi mematut diri di hadapan cermin, dia makin salah tingkah. Semalam, Joshua sempat menanyakan nomor teleponnya. Dalam perjalanan, cowok itu bertanya apakah dia lapar atau tidak. Sebenarnya dia memang lapar, tapi lebih baik menahannya dulu karena begitu lelah.
Joshua hanya sekadar mengantarnya. Memang dia yang berlebihan. Apalagi setelah menunggu cowok menyebalkan selama dua jam lebih, dia merasa terselamatkan.
"Ck. Gara-gara Ravendra emang," mengingat cowok itu membuat suasana hati Hantara berubah. "Coba kalau gue nggak baik hati, udah gue laporin tuh kalau dia nggak jemput dan nggak kasih kabar sama sekali. Untungnya gue juga nggak mau cari masalah."
Semalam, dia beralasan kepada Mama kalau selepas kuliah, dia dan Ravendra berjalan-jalan sampai lupa waktu. Kemudian, dalam perjalanan pulang, Ravendra mendapat panggilan dari orang kafe. Alhasil, Hantara diantar pulang oleh salah satu tetangga yang satu kampus juga.
Iya, alasannya seperti itu. Hantara kaget, kenapa dia bisa berpikir secemerlang itu.
"Tara! Ayo turun! Kita sarapan dulu!"
"Iya, Ma!"
Hari ini, dia akan pergi diantar oleh Joshua. Cowok itu sudah mengatakannya lewat chat, kalau dia mau mengantar Hantara ke mana saja. Ke ujung dunia mungkin tak masalah juga.
Nanti, dia akan meminta Ravendra untuk menurunkan dirinya di taman kompleks A yang tidak jauh. Membayangkan dia pergi ke kampus bersama Joshua berhasil membuat pipinya memerah. Sudah lama dia tidak merasakan kesenangan kecil seperti ini.
Sembari membawa tas dan ponsel, cewek itu melangkah riang. Suasana hatinya benar-benar baik. Semoga saja, seseorang tidak mengacaukannya.
Begitu tiba di meja makan, Mama ditemani oleh seseorang---yang sebenarnya melihatnya saja malas. Iya, orang itu adalah Ravendra. Cowok yang sukses membuat harinya kemarin bagai diterjang topan.
Namun, Hantara memilih untuk tak peduli. Cewek itu tersenyum riang. Ravendra yang melihat pun bergidik ngeri. Semalam, calon tunangannya itu tak kesambet apa pun kan? Bisa gawat kalau benar-benar terjadi.
Mama senang dengan betapa riangnya Hantara pagi ini---padahal tak tahu apa penyebabnya. "Ayo, makan dulu, mumpung kamu kelas pagi, sekalian Mama suruh Ravendra buat sarapan di sini aja."
"Hm," Hantara melahap masakan mamanya dengan lahap. Mau tak mau, Ravendra menikmati sarapan buatan Mama Nadya. Cowok itu pun mengakui bahwa masakannya enak semua.
Menghabiskan setengah jam untuk sarapan dan berbincang, Ravendra dan Hantara pamit pergi. Sedari tadi Ravendra menerka-nerka. Sekiranya apa yang membuat cewek itu jadi ceria dan seakan-akan telah melupakan kesalahannya kemarin?
Hantara memasuki mobil terlebih dahulu, Ravendra menyusul sambil membawa cheesecake buatan Mama Nadya. Setibanya di mobil, Hantara masih saja senyam-senyum sendiri.
"Kalau lo pikir gue udah lupa sama kejadian kemarin, lo salah besar." Ujar Hantara tanpa aba-aba. Pandangannya tetap ke depan, senyumnya pun masih tampak.
Ravendra mengembuskan napas berat. "Sa-saya minta maaf karena kemarin nggak bisa tepatin janji buat jemput kamu. Kemarin ada urusan penting, dan saya nggak lihat waktu."
"Apa HP lo nggak berfungsi? Kalau nggak---"
"Baterai HP saya habis." Kata Ravendra jujur. "Saya nggak bohong. Setelah antar kamu ke kampus, saya juga baru sadar kalau baterai HP saya tinggal sedikit. Pas sampai kafe, saya juga lupa isi karena harus mengatur ini itu."
Hantara menyimak.
__ADS_1
"Sekali lagi, saya minta maaf. Kata Ajeng, kemarin kamu nunggu sampai petang ya? Ma-maaf ... saya nggak bermaksud begitu. Kemarin, saya benar-benar sibuk."
Manjur atau tidak, yang penting Ravendra sudah meminta maaf dengan setulus mungkin. Hantara tak lagi tersenyum. Cewek itu tengah mencerna ucapan Ravendra.
"Hm, gue maafin."
Ravendra lega sekali. Sekarang rasa bersalahnya telah menguap.
"Lagian, berkat keteledoran lo itu, gue bisa kenalan sama seseorang." Ujar Hantara dengan senyum yang muncul kembali.
Kening Ravendra mengerut. "Maksud kamu?"
Hantara tersenyum lebar. "Lo nggak perlu antar gue ke kampus, Rav. Cukup di taman kompleks A, nanti gue berangkat sama orang lain."
"Orang lain? Orang lain siapa, Tar?" Ravendra tersentak sendiri. Kenapa dia repot-repot bertanya demikian? Kan itu bukan urusannya.
"Ada deh! Ya kali lo aja yang punya orang yang disuka, masa gue nggak boleh gitu juga? Boleh dong pastinya!"
"Hah?" Baru kali ini, Ravendra sedikit lambat dalam berpikir.
"Eh! Berhenti!"
Ravendra menghentikan mobilnya mendadak. Dia tidak tahu kenapa cewek itu menyuruhnya berhenti.
"Gi-gimana?"
Hantara keluar dari mobil. Tak lupa tersenyum semanis mungkin. Mengikuti ke mana cewek itu melangkah, Ravendra mendapati bahwa terdapat motor yang terparkir tidak jauh darinya. Bukan hanya motornya saja, tapi si pemilik pun berdiri di samping motor tersebut.
"Bentar ... itu ... siapa ya? Kok kayak pernah tahu?" otaknya berpikir keras. Butuh beberapa detik sampai Ravendra tahu siapa cowok tersebut.
"Jojo? Si Joshua kan itu?"
Di luar mobil, Hantara malu-malu kucing. Cewek itu mendekat. Joshua mengulurkan helm yang langsung diterima dengan senang hati. "Semalam capek ya?" tanya cowok itu kalem.
Hantara mengangguk. "Capek sih, tapi nggak seberapa. Eh, tapi ini serius mau antar ke kampus? Kak Jojo nggak repot?"
"Enggak apa-apa, kan aku---"
"Tar! Tara!"
Hantara menoleh. Refleks melotot. Sebab, dengan tidak tahu dirinya, Ravendra keluar dari mobil.
"Setan!" Gerutu Hantara dalam volume kecil.
__ADS_1
"Kalau udah sampai kampus, jangan lupa chat, ya?! Nanti Mama tanyain saya terus!" Seru Ravendra tak tahu malu.
Di hadapannya, Joshua bertanya-tanya dalam hati sekaligus bingung.
"Iya iya! Udah sana lo kencan aja sama Mbak Gianna! Bawel!"
Dasar! Merusak suasana banget, sih?!
"Oke!" Ravendra mengacungkan jempolnya. Berikutnya, cowok itu kembali memasuki mobil dan berlalu.
"Itu Ravendra Birusna kan?" tanya Joshua.
Hantara mengangguk pelan sambil menggigit bibir bawahnya. "I-iya, itu Ravendra."
"Ke-kenapa dia bisa ...." Joshua ragu untuk melanjutkan. Dia tidak mau dikatakan sebagai orang yang ikut campur urusan orang. Tapi kali ini, dia benar-benar penasaran.
"Orang tua kami sahabatan. Karena pernah ada berita nggak enak pernah diceritakan sama orang tuanya Ravendra, akhirnya Mama minta Ravendra buat antar-jemput aku. Padahal ... apa sih yang harus ditakutkan? Aku bukan anak kecil lagi, lho."
Huhuhu aku terpaksa bohong. Maaf ya, Mama, Tante Lusi, Om Hendra, aku pakai predikat kalian untuk alasan.
"Ah ... gitu ya," gumam Joshua mulai percaya.
"Iya, Kak Jo tahu sendiri kalau Ravendra udah punya pacar kan? Kami nggak ada apa-apa kok, Kak. Oh iya, jangan bilang-bilang anak kampus yang lain ya? Aku capek harus dengar omongan negatif yang nggak ada habisnya."
Hantara mendengus lelah. Diam-diam melirik Joshua, semoga cowok itu percaya dengan perkataannya barusan.
Joshua menarik sudut pipinya. Cowok itu kelihatan makin tampan. "Iya." Tangan kanannya mengelus puncak kepala Hantara. "Aku nggak bakal bilang ke siapa-siapa kalau kamu dekat sama Ravendra. Tapi, kok kamu nggak panggil dia pakai sebutan 'Kak'? Kami seumuran lho,"
"Ck. Dia itu nyebelin, Kak. Bodo amat kalau dia lebih tua atau lebih muda. Intinya dia nyebelin. Salut banget aku sama Mbak Gianna yang betah pacaran sama dia."
Melihat tampang malas Hantara saat menyinggung Ravendra, membuat Joshua gemas. Cewek di depannya ini, memang minta dimasukkan ke dalam karung dan dibawa pergi.
"Oke, kalau gitu, ayo berangkat!"
"Ayo!"
Keduanya pun menaiki motor dan pergi ke kampus. Namun tanpa disadari, seseorang masih berada di dalam mobil yang berhenti di depan gerbang utama kompleks A.
Dari dalam mobil, Ravendra mengamati Joshua dan Hantara yang melewatinya dengan tatapan menyelidik.
"Jadi, yang antar pulang Hantara kemarin itu ... si Jojo?"
...•••••...
__ADS_1
^^^bersambung ....^^^