
...•••••...
" ... Soalnya ... saya nggak cinta sama kamu."
Hantara tahu kok. Tidak perlu diperjelas seperti itu, dia sudah tahu. Hanya saja, mengapa harga dirinya seolah tergores? Bahkan, dia bisa mengecap rasa pahit dari minuman pereda nyeri rasa jeruk pemberian Tante Lusi.
"Kok udah rapi, Tar?" Mama datang dari kebun belakang. "Ada kelas ya?"
"Iya, Ma." Hantara memandang Mama yang kini mulai memotong sayur-sayuran. Mamanya bersenandung---satu hal yang dilakukan jika Mama benar-benar senang. Belakangan ini, Mama tampaknya bahagia sekali.
"Mama juga anggap lo sebagai anak sendiri. Buktinya, dia mempercayakan keselamatan gue ke elo tiap mau pergi ke mana aja."
Kalimat itu membayanginya. Rupa Ravendra kala mendengarnya tadi malam, penuh dengan kebimbangan. Apalagi saat cowok itu meminta tolong untuk memikirkan rencana sekecil apa pun.
Tapi rencana macam apa?
Jika Ravendra saja kesusahan berpikir, lantas bagaimana dengan dirinya? Jalan pikirannya malah macet.
Kalau dipikir lagi, memang susah. Jika sudah dianggap seperti anak sendiri, alasan apa pun yang terucap nantinya bagaikan lelucon saja. Andaikata rencana berpisah berhasil, senyum orang tua mereka yang lenyap tak bersisa.
Akan tetapi, perjodohan ini saja tak menunggu persetujuan Hantara dan Ravendra. Perjodohan ini dirancang oleh para orang tua.
Kesannya ... tak dianggap ....
Apakah Ravendra menganggap dirinya sekadar beban? Sampai-sampai cowok itu berani mengatakan bahwa percuma saja mereka menikah? Cinta Ravendra selamanya untuk Gianna. Selamanya seperti itu, tak akan tergantikan.
"Permisi~ Tara! Tante Nadya! Lia di sini~"
Kedatangan Lia berhasil menyadarkan Hantara atas lamunannya. Mama membalikkan badan sekejap untuk melihat kedatangan Lia, lalu meneruskan kegiatannya. "Tumben pagi banget, Li? Ayo sini! Sekalian sarapan ya?"
Lia menggeleng. "Enggak, Tante. Aku udah sarapan tadi. Kalian kalau mau sarapan, sarapan aja! Aku tunggu di ruang tamu, nyemil, boleh kan?"
"Boleh dong," Mama menyodorkan dua toples camilan yang baru diisi penuh. "Ini ya, Tante mau lanjut masak lagi."
Lia duduk di salah satu sofa dengan nyaman. Hantara menghampiri sahabatnya itu. Saat-saat seperti ini, lebih baik menghabiskan waktu dengan Lia saja.
Sahabatnya itu mendekat. Mengunyah sambil berbisik, "Kenapa lo tiba-tiba mau jalan sebelum masuk kelas gini? Jarang banget, deh! Biasanya juga habis kelas nanti, lo ajak jalan-jalan sampai sore."
Hantara hanya tersenyum simpul. "Ya karena habis masuk kelasnya Pak Samsul nanti, gue pengen di rumah aja."
"Lo nggak enak badan?" tanya Lia khawatir.
"Enggak sih, cuma ...." pikirannya masih tertuju pada momen semalam. " ... hati gue yang enak aja."
"Lah?!" Lia tak mengerti. Dia lagi patah hati apa gimana? Patah hati sama siapa?
"Gue sarapan bentar ya, Li. Lo nyemil aja tuh, sepuasnya." Hantara beranjak menuju meja makan, meninggalkan Lia yang sedikit terheran dengan sikap tak semangat sahabatnya.
Di meja makan, Mama mendekati Hantara. "Kamu mau berangkat ke kampus sama Lia, Tar? Kamu udah ngomong sama Ravendra belum?"
Hantara mengambil piring. Dia memang belum memberitahu Ravendra. Biarlah! Hantara hanya menyampaikan bahwa hari ini kelasnya diadakan pukul sembilan. "Hm, aku mau cari buku sama Lia, Ma."
"Oh, kenapa nggak sekalian minta tolong sama Ravendra? Dia bisa bantu kamu buat pilih buku lho, Tara." Kata Mama.
Hantara merenung. Mama benar-benar mengaggap Ravendra sebagai calon menantu yang sangat didambakan. Mau apa pun, yang berada dalam benak Mama, hanya Ravendra. Mama mungkin berpikir, Ravendra merupakan jodoh yang cocok untuk membimbing Hantara.
Membimbing apanya? Cih!
Diambilnya nasi dalam porsi kecil dan tumis sawi putih yang tersaji. Pikirannya masih berkelana. Diam-diam mulai memikirkan; haruskah dia menurut saja? Mengikuti perjodohan ini dan hidup bersama Ravendra.
__ADS_1
Tapi, dia nggak cinta sama gue. Dia cinta sama Gianna.
Dia menghela napas panjang. Selera makannya menghilang begitu saja.
Lagian, gue punya Jo---
"Jo ... jo?"
"Kamu ngomong apa, Tara?" Mama mengejutkan Hantara.
"Enggak, Ma. Enggak, he he he." Hantara mengambil suapan pertama. Dia kembali berpikir. Kak Jojo. Kenapa semalam dia tidak memikirkan cowok itu ya?
Dia fokus pada Ravendra yang begitu mencintai Gianna, sampai lupa bahwa dia sendiri sedang pendekatan dengan Joshua.
Ck! Kalau Ravendra memperjuangkan cintanya sama Gianna, ya gue jangan mau kalah dong!
Hantara menepuk keningnya pelan.
Kenapa gue nggak kepikiran buat memperjuangkan perasaan gue ke Kak Jojo? Parah nih! Gara-gara Ravendra sih!
"Tara?"
Mama menginterupsi. Kening wanita itu berkerut dalam. "Kamu kenapa sih? Kok mukanya kayak banyak pikiran gitu? Apa jangan-jangan karena semalam Ra---"
"Enggak apa-apa, Ma!" Hantara berdiri secara tiba-tiba. Mama tersentak. Beruntung Mama mampu menahan tangannya untuk tak melempar piring yang baru diambil.
Memastikan keberadaan Lia di ruang tamu, sahabatnya itu masih betah memakan camilan sembari bermain ponsel dan tersenyum sendiri.
Hantara menarik sudut pipinya kaku. "Aku lagi nggak nafsu makan, Ma. Aku berangkat dulu aja ya?"
"Kamu nggak nafsu karena lagi halangan ya?" tanya Mama memastikan dengan cemas. Putrinya itu mengangguk cepat. "Terus, ini gimana nasi sama lauknya? Kan kamu udah ambil tuh!"
Saat Hantara akan menuju ke dapur mencari barang yang dibutuhkan, Mama mencegah putrinya itu untuk tetap duduk. Hantara menurut. Melihat Mama seperti ini, dia bagaikan mutiara yang benar-benar terlindungi. Kasih orang tua kepada anaknya itu luar biasa. Mau hal besar atau kecil, orang tua akan melakukan yang terbaik bagi anaknya.
Orang tua ... terbaik bagi anaknya ....
Hantara mengerjap. Dia cepat-cepat menggeleng begitu terlintas satu memori menyesakkan dada. Penyebab atas apa yang membuatnya sempat melarikan diri dari kunjungan ke kediaman Birusna.
Tangannya refleks mencengkeram kain pakaian di sisi tubuh. Pernapasannya melambat. Perasaan itu muncul lagi. Di saat yang tidak tepat, di pagi yang terguna sarat.
Selepas mempersiapkan bekal, Mama menghampiri Hantara dengan senyum meneduhkan. Hantara melemas. Mamanya yang penyabar dan penyayang ini---haruskah dibuat sedih atas perjodohannya dengan Ravendra?
"Ma ...." panggilnya pelan.
"Iya, Sayang?"
"Nanti kalau aku pulang, Mama sekiranya masih di toko nggak?" tanyanya pada Mama. Sebab, kebanyakan Mamanya itu menghabiskan waktu di toko.
"Nggak tahu ya," Mama berpikir. "Kemarin toko lumayan ramai, banyak investor yang datang, jadi Mama agak sibuk. Kalau hari ini, ada yang janjian untuk pesan sofa dan lemari sih, Tar. Memangnya kenapa?"
Hantara mengambil napas. Sebenarnya tidak ada salahnya bertanya pada Mama mengenai sesuatu saat malam. Hanya saja, semakin cepat bertanya, semakin lega hatinya.
"Nggak kenapa-napa, aku cuma mau memastikan kalau Mama nggak pulang kemalaman." Katanya berbohong.
"Oh, gitu ya? Kamu mau ditemani Ravendra pas malam hari juga, Tar?"
Hantara melotot. Dia kembali memastikan posisi Lia saat ini---apakah cewek itu mendengar ucapan Mama tadi atau tidak. "Ma!" serunya dalam volume kecil.
Mama tertawa manis. "Enggak kok, Sayang. Mama tahu, pasti itu terlalu berlebihan buat kalian yang baru dekat sepekan ini."
__ADS_1
"Po-pokoknya ... nanti aku mau ngomong sesuatu sama Mama, dan Mama harus jawab sejujur-jujurnya, oke?"
Mama mengangguk patuh. "Oke, Sayang. Mama bakal jawab jujur, apa pun pertanyaan kamu."
"Kalau begitu, aku berangkat dulu ya, Ma." Hantara berlari kecil menuju kamar untuk mencari tas.
Dalam berlalunya anak satu-satunya itu, Mama Nadya tersenyum penuh arti.
"Andai kamu melihat bagaimana cantiknya anak kita ini, Mas ... kamu pasti bahagia sekali ...."
...•••••...
Ravendra
Kamu sengaja banget ya, mau jailin saya?
Tadi saya ke rumah dan Mama kasih tahu kalau kamu udah pergi duluan,
Kenapa nggak bilang kalau kamu mau berangkat sama Lia?
"Cih! Soya-saya, soya-saya! Dipikir dia lagi chatting-an sama rekan kerja apa?!" Hantara meletakkan ponselnya di atas meja.
Pukul dua belas siang. Bersama Lia, dia menjejaki food court salah satu mal dan menunggu pesanan bebek penyet rekomendasi Joshua.
Lia datang selepas melakukan pembayaran. "Lo nggak mau pesan apa lagi gitu, Tar? Mau es krim durian nggak? Di sini enak---"
Hantara mencengkeram lengan Lia saat sahabatnya itu ingin berbalik melihat stand es krim durian. "Enggak usah, Li. Gue lagi halangan, nggak enak nanti perut gue kalau dicampur-campur."
"Ah, oke deh."
Bukan karena halangan, Hantara memang tak mau Lia melihat pasangan yang tengah menikmati kencan di depan stand olahan es durian.
Iya, siapa lagi kalau bukan Ravendra dan Gianna. Pasangan bahagia nan sempurna itu tengah melangsungkan kencan mereka lagi.
Sambil menunggu pesanan, Hantara memutuskan untuk sibuk dengan ponselnya saja. Kala membalas chat dari Sagara yang sibuk mencari buku di lantai bawah sana, datanglah satu chat baru dari seseorang yang berjarak beberapa meter darinya.
Ravendra
Besok Ibu minta kamu buat datang di pentas perumahan yang diadakan perumahanku.
Kamu harus datang.
Hantara membulatkan mata tak percaya. "I-ini, cobaan apa ini?"
Lia mendongak heran. "Cobaan apa, Tar?" Lia memajukan tubuhnya untuk mengintip apa yang sedang dilihat Hantara. Namun dengan cepat cewek itu mematikan layar ponselnya.
"Enggak kok, Li---"
"Ini pesanannya meja nomor lima ya,"
Hantara bersyukur, pramusaji menyelamatkan Hantara dari keterangan lebih lanjut atas gumamannya barusan.
Setelah menerima pesanan, Hantara berkutat dalam pikiran. Dia mendapati sosok Ravendra yang meletakkan ponsel di sisi kanan lengannya, kemudian melanjutkan obrolan.
Gawat! Besok harus pakai alasan apa lagi?!
...•••••...
^^^bersambung ....^^^
__ADS_1