
...•••••...
"Terus sekarang gimana? Mendingan?" Joshua mendudukkan dirinya di samping kiri Hantara. Kecemasan tak luput dari wajah tampan cowok itu. Hantara mengaduk jus jeruknya kelewat cepat, sampai-sampai terciprat ke lengan kemeja panjang Joshua.
"Eh? Kecipratan, Kak. Maaf, Kak." Hantara hendak mengambil tisu untuk disodorkan kepada Joshua—padahal dia tahu kalau tisu tersebut tidak akan berguna.
Namun, Joshua mencekal tangan kirinya. Tatapannya masih sama. Penuh dengan kekhawatiran dan ... kerinduan.
"Ini cuma cipratan kecil, Tara. Nggak seharusnya kamu mempermasalahkan ini. Gimana keadaanmu sekarang? Kalau tengah malam baru pulang dari RS, kenapa sekarang udah di kampus lagi? Kan kamu bisa istirahat dulu sampai benar-benar sehat, Tara."
Hantara terharu. Seluruh tubuhnya seperti otomatis menghangat hanya karena ucapan Joshua. Tak bisa berlama-lama dalam indahnya bayang kehangatan, dia tersenyum getir. Sekarang, dadanya merasa sesak entah mengapa.
"Tara? Kamu nggak apa-apa? Mau aku antar ke dokter pribadi keluargaku aja? Dokternya hebat kok."
Hantara menggeleng. "Enggak perlu, Kak. Aku udah mendingan kok! Lagian, kalau aku nggak masuk kelas hari ini, bisa gawat deh, ketinggalan materi dan jadinya susah buat ngerjain tugas."
Joshua terdiam selama beberapa detik. Entah apa yang dipikirkan Joshua, Hantara berharap jika cowok yang disukainya itu tak terlalu cemas.
Dia baik-baik saja. Oleh karena itu, Hantara bersikeras untuk berangkat sendiri ke kampus sebelum Ravendra datang menjenguk atau menjemput—entah yang mana. Dia hanya ingin membuktikan bahwa dia bukan cewek lemah yang hobinya pingsan sana-sini.
Terlepas dari itu, dia belum siap bertemu muka dengan Ravendra. Teringat dengan bagaimana eratnya pelukan Ravendra malam itu, kembali memunculkan semburat merah pada kedua belah pipinya.
Kenapa malah mikir itu sih?! Lagian kan, Ravendra cuma nolong! Astagaaaa
"Kok udah ngelamun aja, Tar? Tapi kenapa pipimu merah gitu?" suara Joshua menyadarkan Hantara akan keberadaannya saat ini. "Apa kamu demam lagi?"
Hantara cepat-cepat menggeleng. Bisa gawat kalau Joshua tahu apa yang berada dalam isi kepalanya sekarang ini. Lagi pula, kenapa sih, Hantara masih memikirkan pelukan yang sebenarnya didefinisikan sebagai pertolongan pertama atas pingsannya dirinya itu?
Sama sekali tak masuk akal. Padahal bisa saja, Ravendra tidak memikirkannya barang sedetik. Ya tapi mau gimana lagi ya? Semalam tuh, rasanya gue ngerasa bener-bener dekat sama seseorang sampai sentuhan fisik seperti pelukan. Padahal, si badut cuma nolongin aja.
Dua menit setelah keterdiaman melanda—lebih tepatnya Hantara yang memulai keterdiaman tersebut, Lia dan Sagara datang sembari membawa masing-masing nampan yang berisikan mi ayam beserta minumannya.
"Eh, ada Bang Jo." Sagara meletakkan nampannya, lalu bersalaman dengan Joshua. Sementara itu, Lia hanya tersenyum sekilas dan memberikan salah satu mangkuk mi ayam kepada Hantara.
Kedua mata Hantara berbinar terang. Dia sudah tak sabar ingin melahapnya. Namun, seseorang menarik mangkok tersebut ke arah kanan. Hantara mengernyit, memikirkan tangan siapa yang berani berbuat demikian. Begitu mendongak, rahangnya terjatuh dengan cepat.
Ravendra.
"Kenapa makan ini?!" tanya cowok menyebalkan itu dengan tatapan tajam dan bersedekap. Selagaknya, dia kembali berulah menjadi perawat khusus untuk Hantara.
Hendak menjawab, Hantara langsung menyadari satu hal. Dia mengedar pandang. Sekarang, posisinya di kantin FMIPA. Bersama Lia, Sagara, dan Joshua. Akan tetapi, cowok menyebalkan bernama Ravendra itu justru menampakkan diri secara terang-terangan di hadapannya dengan tatapan menghardik yang menunjukkan bahwa telah terjadi sesuatu di antara dirinya dan Ravendra.
__ADS_1
Salah, salah. Ini tidak benar. Tidak seharusnya Ravendra berdiri di hadapannya.
Hantara mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya—memberi tanda bagi Ravendra untuk sadar akan keberadaannya saat ini. Sayangnya, cowok itu sepertinya terbutakan atas sesuatu.
Ravendra malah mengambil sebuah kursi plastik yang berada di meja seberang, lalu duduk di samping kanan Hantara. Iya, Ravendra yang memakan mi ayam milik Hantara.
"Rav?" suara Joshua tampaknya berhasil menyadarkan Ravendra. Sebab, Ravendra mendongak dan mengerjap bingung. Otaknya baru berfungsi dengan benar.
Hantara merutuk dalam hati. Entah pertanyaan macam apa yang nanti akan didapatkan dari dua sahabatnya yang kini saling melempar pandang bingung. Belum lagi, alasan macam apa yang harus Hantara pikirkan sebagai jawaban mutlak pada Lia. Teringat bahwa sahabatnya itu pasti masih menyukai Ravendra, Hantara makin kelimpungan.
"Eh? Iya, Jo?" malah nyengir manusia yang satu itu.
Joshua menampakkan gelagat tak sukanya. "Lo kelaperan apa gimana? Kalau lapar, bisa kali pesan sendiri. Jangan ambil punyanya Tara gitu aja. Tara habis sakit, malah sekarang pasti masih kerasa nggak enak badan. Dan lo malah makan makannya tanpa rasa bersalah gitu."
"Ya makanya itu, kalau dia habis sakit, seharusnya dia makan nasi yang lebih bergizi, bukan mi ayam."
Ravendra tidak jadi sadar diri. Tiba-tiba saja, sesuatu dalam dirinya terganggu dengan kehadiran Joshua yang berada di samping kiri Hantara. Tatapan Joshua pun menyiratkan, Ravendra tak seharusnya berada di sini.
"Bentar," cowok itu beranjak, meninggalkan meja tersebut dalam keheningan penuh tanda tanya. Hantara menyipitkan mata, memastikan hendak pergi ke mana tunangannya itu.
"Tara?"
Hantara menoleh pelan. Didapatinya Lia yang memberikan tatapan menyelidik. Sagara juga. Sekarang suasananya berubah menjadi meja interogasi.
"I-iya, Lia?"
"Kok ... Kak Raven bisa kayak gitu?" tanyanya.
Hantara meringis. "Kayak gitu gimana ya?" pura-pura tak mengerti memang jalan ninjanya.
Tapi, sebelum Lia kembali bersuara, Ravendra datang kembali dengan sepiring nasi campur. Disodorkan kepada Hantara, dan cewek itu malah melotot. Sekarang ini, Ravendra sedang bodoh-bodohnya atau bagaimana ya? Kenapa masih tak sadar situasi?
"Apa?" Ravendra malah tak senang mendapat pelototan dari Hantara. "Nih, makan nasi! Mi ayamnya saya yang habisin."
Hantara mau menenggelamkan diri di Samudera Pasifik atau manalah! Sebab, cowok yang bergelar sebagai tunangannya itu sudah menjelma sebagai badut tak tahu diri.
Sementara itu, Sagara bergumam bingung. "Saya? Tara disuruh makan nasi? Yang bener aja dah?" Sagara menoleh ke arah Lia yang masih mengamati Hantara dan Ravendra.
Detik itu pula, Sagara menyadari tatapan Lia yang berbeda kepada Ravendra. Sagara memiringkan kepalanya. Mengembuskan napas, lalu indra perasanya mengecap pahit. Sagara tahu apa arti dari tatapan tersebut. Meskipun diisi kebingungan, tapi binar memuja itu terlihat jelas.
Mengabaikan, Sagara membuka suara. "Bang Raven kenapa bisa di sini?"
__ADS_1
Empat orang di meja tersebut kompak menoleh. Ravendra mengerjap bingung. Sadar bahwa langkahnya sudah terlalu jauh dan terang-terangan. "Oh, tadinya sih mau ketemu sama adik tingkat di FH. Terus ke sini bentar karena gue cari Jojo."
Yang namanya disebut, menaikkan satu alisnya. Tak perlu berpikir panjang, Joshua tahu kalau Ravendra sedang membuat alasan—dengan dirinya sebagai acuan.
Memastikan kebenaran, Sagara sempat melirik Joshua. "Oh. Terus? Kenapa lo ngambil mi ayamnya Tara, Bang? Dan kenapa, lo malah beliin Tara nasi campur?"
Ravendra meletakkan garpunya. Kalau sudah begini, dia harus konsentrasi penuh. "Gara-gara Jojo tuh!"
Joshua mengembuskan napas, pasrah. Terserah Ravendra mau bilang apa. Lebih baik dia mengikuti alur saja.
"Jojo tadi malam nganter Tara ke RS karena pingsan kan? Nah, gue dikasih tahu tuh! Terusan, nih ya," Ravendra memasang tampang penuh penghakiman pada Joshua. "Katanya Tara baru sembuh kan? Lo sendiri yang ngomong tadi. Nah, terus kenapa malah lo ngebiarin Tara makan mi ayam? Ya harusnya makanan yang bergizi dong, Jo!"
Joshua menganga pelan. Begitu juga dengan Hantara yang ingin sekali melempar sesuatu ke wajah Ravendra. Pintar juga tunangannya yang satu itu. Masalahnya, Lia dan Sagara tentunya tidak sebodoh itu.
"Gue nih ya, kalau tahu Gianna sakit, langsung gue beliin makanan bergizi." Sambung Ravendra lagi. Mendengar nama pacar Ravendra disebut, Hantara mendadak tak nafsu makan.
Joshua hanya mengangguk. Lia dan Sagara masih melempar pandang. Tapi kali ini, Lia tampak sedikit percaya. Mungkin karena Ravendra menyebut nama sang pacar. Sedangkan Sagara, sepertinya lebih pintar sedikit.
Ravendra mengirim sinyal berupa kedipan mata kirinya pada Joshua. Hantara pun menoleh, menatap Joshua penuh harap. Lagi-lagi mendengus, Joshua mana tega kalau Hantara sudah memasang tampang melas seperti itu.
Berdeham, dirangkulnya pundak Hantara—yang dirangkul langsung membatu. "Iya, iya, ini salahku." Joshua menatap Hantara lamat. Penuh kelembutan. "Maaf ya? Seharusnya aku yang pilihin makanan bergizi buat kamu biar cepat sembuh. Emang aku kelamaan mikir. Maaf ya, Tara."
"Ha-hah?" Hantara bingung sesaat. "Nggak apa-apa kok, Kak. Tapi aku emang mau makan mi ayam."
Ravendra melanjutkan makannya. Diam-diam melirik Joshua dan Hantara yang saling melempar nada manis dalam tiap ucapan. Lia sudah tidak curiga amat, tapi beda halnya dengan Sagara yang masih tak percaya.
Sebab seceroboh apa pun Joshua, mana mungkin Ravendra mau berbuat demikian untuk Hantara? Membelikan nasi campur? Sagara yakin, pasti ada yang tidak beres. Tapi, dia memilih untuk diam.
Hantara melirik dua sahabatnya. Bernapas lega begitu keduanya kembali melahap mi ayam masing-masing. Syukurlah! Bikin jantungan juga si Ravendra. Ngapain sih dia ke sini dan berlagak banget kayak gitu?!
Melirik Ravendra yang bersikap sok polos, Hantara kembali menahan diri. Harus sabar, supaya dua sahabatnya dan orang lain yang ada di kantin FMIPA ini tidak mengetahui hubungan antara dirinya dan Ravendra.
Dia belum siap.
Bukan.
Apa pun yang menunggunya pada waktu mendatang—dia tidak siap.
...•••••...
^^^bersambung .....^^^
__ADS_1