
...•••••...
Lia
Yah ...
Padahal gue masih berharap lo bisa datang ke sini, Tar.
Selesai membaca chat dari Lia, Hantara memandangi dress putih yang tergantung di hadapannya. Seumur-umur, baru kali ini dia memiliki pakaian yang begitu elegan dan sederhana namun terlihat mahal itu. Hantara berharap bisa mengenakannya di lain kesempatan yang lebih baik.
Kendati demikian, dia harus menghadapi momen menegangkan nanti malam. Pertunangan. Iya, antara dirinya dan Ravendra. Mereka akan bertunangan, nanti malam!
Makanya semalam gue mimpi buruk ketemu setan! Huhuhu mau lari ajalah!
Seolah tak cukup acara nanti malam, pagi ini pun Tante Lusi menyuruhnya untuk datang ke pentas perumahan yang diadakan di dekat kediaman Birusna.
"Argh!!!"
Hantara mengacak tirai jendela kamarnya. Kalau bisa, dia ingin menghilang dari muka bumi ini untuk sehari saja. Besok, dia akan kembali menjalani hari, memulai dengan bunga asmara karena Joshua akan kembali nanti malam.
Namun, kenyataan tidak sebaik itu. Dia harus menghadapi hari ini, apa pun yang terjadi. Dia harus melewatinya. Dan semoga saja, dia akan baik-baik saja sampai besok.
...•••••...
"Iya, Sayang. Maaf ya, tahun ini kamu harus nggak lihat dulu. Iya, tahun depan aku janji kamu bakal lihat sama aku kok." Ravendra membalikkan badan menghadap garasi. Dia terkejut saat mendapati Ajeng menunggu dengan tampang tak sukanya. Ya, apa lagi kalau bukan karena Ravendra bertelepon mesra dengan Gianna.
"Iya, bye~" Memutus sambungan telepon, Ravendra langsung menatap adiknya dengan mata memicing. "Kenapa? Nggak suka ya, aku teleponan sama Gianna?"
Ajeng mendengus lelah. Diraihnya tas tangan yang hampir jatuh, kemudian mendudukkan diri di dalam mobil---di samping kemudi. "Kamu menanyakan sesuatu yang jawabannya udah pasti, Kak. Nggak usah sok melindungi cinta ini itu lah! Percuma! Nanti malam Kak Raven bakal tunangan sama Mbak Tara." Ajeng menutup pintu mobil sedikit membanting.
Ravendra mendecak sebal. Untuk apa adiknya yang satu ini turut menaiki mobil? Namun dia tak berbuat apa-apa. Alhasil, dia membuka pintu garasi terlebih dahulu, lantas menaiki kemudi.
"Kamu ngapain ikutin aku?" tanyanya. "Aku mau jemput Tara, sesuai permintaannya Ayah dan Ibu."
"Aku tahu kok, aku dengar sama apa yang kalian bicarakan tadi. Aku cuma mau numpang sekalian beli heels yang sama kayak yang rusak. Mau aku pakai nanti malam." Ajeng membalas dengan senyum yang sedikit tampak.
"Nanti malam cuma acara pertunangan, Ajeng. Bukan pernikahan lho." Kata Ravendra.
"Oh! Berarti kamu udah mengakui kalau kamu pada akhirnya akan menikah sama Mbak Tara cepat atau lambat kan?!" Ajeng tersenyum lebar. "Bagus deh, Kak! Menggantikan Mbak Gianna sama Mbak Tara nggak ada salahnya kok. Mereka sama-sama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing."
"Kamu ngomong apa sih, Jeng?!" Ravendra bersungut kesal. Bagaimana bisa adiknya itu malah menanggapi perkataannya tadi dengan arti seperti itu? Maksud Ravendra jelas berbeda. Sudah dikata, dia tidak akan berjalan sampai ke tahap pernikahan dengan Hantara.
Maksud cowok itu tadi, mengapa Ajeng harus heboh membeli heels baru untuk acara pertunangan yang hanya akan berjalan nanti malam itu? Tidak ada gunanya sama sekali.
Dan lagi, kata-katanya tadi; menggantikan Gianna dengan Hantara? Apa yang perlu diganti? Ravendra tak mau mengganti apa pun.
Betah saling mendiamkan, menempuh waktu lima belas menit, mereka tiba di rumah yang ditempati oleh Mama Nadya dan Hantara. Dari luar, mereka menyaksikan Hantara keluar dari rumah sambil membawa ember cucian bersih.
"Eherm," Ravendra berdeham. Mendadak, dia ingat hari itu---ketika tak sengaja sudah melihat sepasang pakaian dalam Hantara yang mau dijemur.
__ADS_1
Ravendra menggeleng cepat, menghapus pikiran tak senonohnya. Dia tidak boleh memikirkan yang tidak-tidak dalam situasi menyebalkan seperti ini. Apalagi terdapat Ajeng yang menyeringai di sampingnya. "Apa?! Cepat turun sana!"
Ajeng keluar mobil masih dengan seringaian menyebalkannya. Ravendra tak percaya melihat adiknya makin andal dalam membuat orang kesal.
"Mbak Tara!"
Hantara menoleh mendengar panggilan bernada ceria tersebut. Dia tersenyum begitu mendapati Ajeng berlari kecil dan ingin memeluknya. "Wah! Ajeng! Kamu ke sini sendiri?"
Ajeng menggeleng polos, kemudian mengarahkan dagunya ke arah mobil Ravendra. Sang pemilik mobil itu pun keluar dengan rapinya. Dengan sendirinya, senyum Hantara memudar. Melihat cowok itu sepagi ini, berhasil mengacaukan mood-nya yang sudah berantakan. Dan dia serasa diingatkan kalau nanti malam harus bertunangan dengan cowok itu.
"Ck." Hantara kembali melanjutkan kegiatan menjemur pakaiannya. Ajeng yang melihat ekspresi Hantara tadi terheran-heran. Kenapa pas ngelihat Kak Raven mukanya jadi kesel gitu?
Ravendra mendekati Ajeng. "Ayo masuk, Jeng. Kita sapa Mama dulu!" Ajeng menurut. Keduanya langsung bersalaman dengan Mama yang menyambut ramah.
Hantara memandang kepergian dua orang itu. Pandangannya tak dapat diartikan. Kemudian, dia kembali melanjutkan kegiatan menjemur cucian.
...•••••...
"Waduh! Itu Lia sama Sagara!"
Ravendra melirik Hantara yang tiba-tiba saja menarik jaketnya dan bersembunyi di belakangnya. Dia hanya bisa pasrah saat cewek itu menarik-nariknya ke sudut. Ravendra tahu apa penyebabnya. Hantara tak mau terlihat oleh dua temannya, Lia dan Sagara. Sejujurnya, Ravendra pun sama. Dia tak ingin Sagara tahu jika Hantara berada di sini, bersama keluarganya.
Ajeng yang sedari tadi melahap jajajan di samping kanan Ravendra, ingin sekali bertanya. "Mbak Tara kenapa sih, Kak? Kok nempel mulu kayak perangko?"
Ravendra mendecih, "Itu bukan nempel, Jeng. Tapi sem-bu-nyi."
"Sembunyi? Kenapa harus sembunyi? Sembunyi dari siapa?" tanya Ajeng penasaran.
Hantara menyahut dari balik punggungnya, "Heh! Gue denger ya!"
Ravendra terkekeh pelan. Ajeng tertawa kecil melihat tingkah Hantara yang cukup menggemaskan.
"Tapi lucu lho," Ajeng menatap Ravendra dan Hantara penuh arti. "Kalian kelihatan lebih mesra dari pada yang pacaran."
"Hah?"
"Hih!" Hantara kontan menjauh. Dia mengalihkan pandang ke panggung yang menyuguhkan karaoke dan para warga beramai-ramai mengikuti musik yang mengalun.
Sementara itu, Ravendra menatap adiknya tajam. Ajeng itu sembarangan saja kalau berbicara. Jelas sekali dia tak terima.
"Bang Raven!"
Hantara membulatkan mata. Dia mengenal suara itu. Gawat! Gue harus sembunyi!
Pohon di sekitar lapangan desa jaraknya masih jauh, mustahil dia berlari ke sana dan bersembunyi tanpa dipergoki oleh Sagara dan Lia. Mau tidak mau, dia kembali pada posisi sebelumnya---bersembunyi di balik tubuh jangkung Ravendra.
Ravendra tersentak. Cewek yang ada di belakangnya itu seenaknya saja sembunyi dan menubruk tubuhnya.
"Oi! Ajeng! Kok dapet cilok? Di mana yang jual cilok?" tanya Sagara sembari mengedar pandang mencari penjual cilok.
__ADS_1
Berjaga-jaga, Ravendra agak menegapkan tubuh dan merapatkan kaki. Tangan kanannya memberi aba-aba pada Hantara yang bersembunyi untuk menyesuaikan posisi kakinya. Mengerti kode yang diberikan Ravendra, Hantara langsung melakukannya.
Lia yang mengikuti Sagara sambil melahap sate usus, sedikit heran dengan posisi tegak Ravendra. Sebab, cowok itu terlihat menjulang dan tidak sesantai biasanya saat berbicara dengan Sagara. Kak Ravendra kok kayak gitu berdirinya? Kayak mau gerak jalan aja.
"Bang, nanti ke belakang bantu ngurusin hadiah undian ya?" Sagara mendekat selangkah. Menyadari betapa dekatnya Sagara, Ravendra melangkah mundur perlahan.
Hantara mau protes, tapi ditahan. Dia menurut saja. Sebab, dua manusia itu masih mengobrol ringan dengan Ravendra.
"Oh, nanti ada tarik tambang juga ya?" tanya Lia dengan nada semanis mungkin. Hantara yang mendengarnya mulai bertanya-tanya. Lia kenapa ngomongnya dikasih gula-gula gitu? Kesambet apaan dia?
"Bang Raven ikut kan?" tanya Sagara.
Ravendra menggeleng pelan. "Maunya sih ikut, tapi---"
"Apaan! Kak Raven harus ikut dong!" Ajeng berseru tak biasa. "Kalau urusan Mbak---"
Ravendra langsung membekap mulut adiknya yang banyak bicara itu. Lia dan Sagara melongo melihat tingkah tiba-tiba Ravendra. Sedangkan Hantara mengikuti pergerakan tubuh Ravendra dengan susah payah.
"Oke, oke! Ikut! Ikut tarik tambang!" finalnya.
Sagara mengerjap bingung. Bang Ravendra yang gue kenal kayaknya nggak pernah kayak gini deh kalau diajak tarik tambang.
"Oke! Kalau gitu gue sama Lia mau cari cilok dulu, Bang. Bye~"
Sagara menarik pergelangan tangan Lia untuk menjauh. Seiring berlalunya dua manusia tersebut, Ravendra berusaha sepandai mungkin untuk menyembunyikan Hantara agar tak terlihat dari sisi lain.
Ajeng yang terbebas dari bekapan sang kakak hendak mengomel. Namun, didahului oleh suara Hantara yang menyembul di antara kakak beradik tersebut.
"Mereka udah pergi kan?" tanya cewek itu masih sedikit sembunyi.
"Hm."
"Mbak Tara ngapain sembunyi dari mereka?" tanya Ajeng tak mau kalah penasaran.
"I-itu ... mau kasih surprise sih, ehehehe~"
"Surprise? Buat ap---"
"Sagara sama cewek tadi itu sahabatnya Tara di kampus." Ravendra mengambil alih dalam penjelasan---lebih tepatnya kebohongan yang terlihat seperti alasan pasti. "Mereka nggak tahu kalau aku dan Tara saling kenal. Kami sepakat, mau kasih kejutan pas hari pernikahan nanti, Ajeng."
"Oh~" Ajeng mengangguk mengerti.
Berbeda dengan Ravendra yang tak percaya dengan ucapannya barusan, Hantara pun diam di belakang keduanya dengan pikiran berputar-putar.
Ehehehe, kejutan apanya, Badut?!
Ravendra menenangkan diri. Menyesal sudah membiarkan mulutnya mengambil alih.
Gue tadi ngomong apaan, astaga ....
__ADS_1
...•••••...
^^^bersambung ....^^^