Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 07


__ADS_3

...•••••...


Setelah kunjungan dari kediaman Birusna, Hantara harus membantu Mama menghubungi tamu undangan untuk acara pertunangan mereka. Hanya kerabat dekat, sebab pertunangan akan diadakan di salah satu rumah makan terkenal di pusat kota.


"Tara, kamu udah kasih kabar ke Lia dan Sagara?" tanya Mama setelah menelepon Budhe-nya yang berada di bagian lain kota.


"Hah? Enggak, Ma! Nggak perlu kasih tahu mereka soal pertunangan ini dulu." Kata Hantara berusaha tersenyum.


Mama menanggapi positif, "Kamu pasti mau kasih kejutan pas hari pernikahan nanti kan? Yaudah deh, Mama juga setuju. Kayaknya, ekspresi mereka bakal lucu banget."


"Ha ha ha, iya, Ma. Mukanya pasti lucu." Hantara tertawa hambar. Memang kedua temannya itu akan terkejut dan mengomeli Hantara karena tidak cerita ini dan itu.


Dalam pertunangan ini, Hantara dan Ravendra sepakat untuk tidak memberitahu teman dekat masing-masing. Kacau sudah nanti segalanya. Apalagi, Sagara itu tidak bisa diam. Sagara laki-laki, tapi suka sekali bercerita.


Lagi pula, mereka sepakat untuk membuat rencana seiring berjalannya waktu. Harus. Mereka harus menggagalkan perjodohan ini. Tidak apalah, mereka sampai pada tahap pertunangan. Yang paling penting, mereka akan memutuskan hubungan dengan alasan yang masih dipikir.


Dan Gianna ... sejujurnya Hantara penasaran dengan respons cewek itu. Tapi, Ravendra tak memberitahunya sama sekali. Padahal dia penasaran setengah mati.


"Hari ini kamu ada kelas, Tar?" tanya Mama setelah melirik jam dinding. Pukul sepuluh pagi, kurang lima menit.


Hantara mengangguk. "Ada. Kena---"


"Mama minta Tante Lusi buat suruh Ravendra nganter kamu ke kampus, sekalian jemputnya juga."


"Hah?"


Mama Nadya tersenyum polos. "Kalian bakal menikah, jadi sebisa mungkin, pendekatannya harus sungguh-sungguh. Kan setelah ini, kalian bakal menjalani hidup berdua. Sebagai calon pasangan suami-istri, kalian harus saling mengerti dulu, ya nggak terlalu banyak nggak masalah sih. Yang penting kan, kalian harus saling kenal dan tahu ini-itu."


Calon pasangan suami-istri? Hantara mau berteriak saja. Kalau sudah begini, Hantara jadi malas. Apa lebih baik dia membuat alasan sedang tidak enak badan saja ya? Itu lebih baik daripada dia harus diantar-jemput oleh Ravendra.


"Permisi~"


Hantara tersentak. Suara itu. Tidak salah lagi, cowok itu sudah datang. Huhuhu ... cepat banget sih datangnya.


"Nah!" Mama bangkit dari duduknya. Wanita itu hendak menyambut kedatangan Ravendra. Hantara menatap punggung Mama yang menjauh. Namun dari tempatnya berdiri, Hantara menangkap kesenangan pasti yang menguar dari mamanya itu. Auranya benar-benar berbeda. Hal tersebut menunjukkan bahwa Mama senang sekali mendapat calon menantu seperti Ravendra.

__ADS_1


"Haduh ...." Hantara berbalik, menuju kamarnya untuk merapikan penampilan. "Kalau kayak gini ... bakalan susah ...."


Iya. Hantara jadi tidak tega untuk membatalkan perjodohan ini. Sebab melihat Mama memancarkan kegembiraan yang melimpah ruah berhasil menusuk hati kecilnya. Membayangkan senyum secerah mentari itu lenyap, Hantara bimbang.


...•••••...


"Oh, sudah sarapan ya? Barangkali belum, kamu bisa cobain masakannya Tara."


Ravendra hanya bisa tersenyum. Sebenarnya, dia hanya memakan satu lembar roti tawar dengan selai cokelat saja. Memang tergolong kurang untuk kapasitas perutnya yang besar, tapi biar saja. Dia tidak mau berlama-lama di sini. Dia akan menuruti perintah Ibu untuk mengantar-jemput Hantara hari ini. Selebihnya, sebisa mungkin menjaga jarak. Biarpun berteman, tetap saja di mata orang tua masing-masing, mereka dianggap sebagai calon pasangan.


Menjejaki ruang tamu, Ravendra dipersilakan duduk. Sementara Mama berlari kecil menuju kamar putri semata wayangnya itu, Ravendra disuguhkan oleh berbagai macam camilan.


Ravendra mendengus lelah. Satu pekan ke depan, dia harus bersikap layaknya menantu idaman. Satu pekan lagi pertunangannya---yang bakal lebih baik kalau itu cuma mimpi.


"Ayo! Nanti keburu keduluan Lia!"


Tanpa komando, Hantara muncul dari balik punggungnya dengan menenteng tas kecil kelabu yang entah apa isinya. Kesannya enteng sekali, seperti tidak niat pergi ke kampus.


Mama Nadya berlari kecil mengekori Hantara. Tak lupa wanita itu tersenyum pada Ravendra. "Kalian hati-hati ya, jangan ngebut!"


Begitu keduanya berlalu, Mama kembali berkutat dengan pekerjaannya dalam dekorasi dan segala macam. Tanpa diketahui, dua manusia tadi itu tengah mengadu diam.


Kali ini, Ravendra membawa salah satu mobil terbarunya---yang baru saja dibeli dua bulan lalu. Tadinya, Ravendra hanya akan mengantar-jemput Hantara dengan motor kesayangannya saja. Tapi bisa dipastikan, oknum-oknum di rumah gencar sekali menyuruh Ravendra untuk membuat Hantara terpesona.


Padahal, terlihat sekali kalau Hantara bukan cewek yang bakal menilai seseorang dari materinya. Cewek itu diam saja selama di mobil. Wajahnya datar. Lebih fokus pada ponsel dan rasanya enggan sekali untuk menjalin konversasi.


Bukan tanpa dasar Ravendra menilai demikian. Atmosfer yang terasa di dalam mobil memang cukup menegangkan.


"Lain kali, kalau disuruh antar-jemput, pakai motor aja, Rav." Kata Hantara tiba-tiba.


Tuh, kan!


"Kenapa? Kalau saja saya bisa menolak, Tara. Tapi Ayah dan Ibu bersikeras supaya saya antar-jemput kamu pakai mobil ini. Ya maaf, kalau kesannya jadi bikin kamu nggak nyaman."


Hantara mengamati keramaian di luar mobil. Untungnya, jalanan tidak macet-macet amat. "Soalnya gawat kalau pas lo nurunin gue dari mobil, ada salah satu teman gue yang tahu."

__ADS_1


Ravendra mengernyit. "Bukannya kalau pakai mobil, bakal lebih aman ya? Kan, pas di mobil, orang-orang nggak akan tahu. Kalau pakai motor, bukannya---"


"Kalau pakai motor, lo bisa sembunyi-sembunyi agak jauh, terus bisa menghindari macet!"


Ravendra masih tak mengerti. Mau seberapa andal pengendara motor bersembunyi, bukannya tetap ada minus-nya?


Menyadari ekspresi yang ditampilkan Ravendra, Hantara menggeleng pelan. "Udah deh, nggak usah dipikirin! Ya terserah lo aja mau antar-jemput gue pakai apa---eh! Tapi, gue malah lebih senang naik kendaraan umum daripada kayak anak kecil gini lho!"


"Kalau masalah itu, jangan protes ke saya, Tara." Kata Ravendra dengan pandangan tertuju pada lampu rambu lalu lintas.


"Ck. Mama nih! Ada-ada aja!" Hantara makin tak berselera menjalani hari.


"Lagi pula," Ravendra melanjutkan. "Orang tua kita berpikir kalau kemarin, kita udah cukup dekat untuk pergi bareng. Ya, karena alasan yang saya pakai memang ajak kamu jalan-jalan, jadinya mereka berpikir positif begitu."


Iya. Kemarin Ravendra beralasan mengajak Hantara jalan-jalan, agar tidak ketahuan kalau Hantara sengaja pergi dari tengah-tengah pertemuan tersebut. Hantara memang seharusnya berterimakasih pada Ravendra karena sudah mau melindunginya dari omelan Mama. Tapi entahlah, rasanya malas sekaligus malu.


Melewati lima menit terakhir, mereka saling diam. Sesuai arahan Hantara, Ravendra memarkirkan mobilnya agak jauh dari gerbang masuk. Biarlah jalan jauh, yang penting tidak terlihat oleh siapa pun.


Hantara keluar dari mobil Ravendra. Sedikit menunduk kalau-kalau ada orang lewat yang mengenalinya. Ravendra mendengus pasrah. Terserah cewek itu saja mau bertingkah seperti apa. Yang jelas, dia sudah menjalankan tugasnya untuk mengantarkan Hantara ke kampus. Sisanya, masih nanti.


"Selesai jam berapa?" tanya Ravendra sebelum Hantara lari.


"Hah?" Hantara mendekat. "Oh, pulangnya? Jam tiga deh, soalnya ada dua kelas, tapi gue harus cari banyak bahan di perpus."


"Oke."


"Hmm, makasih udah ngantar gue ... dan ... hati-hati." Hantara menelan ludah setelah mengantakannya.


Berbeda dengan Hantara yang salah tingkah, Ravendra hanya mengangguk tanpa berpikir lebih. Ucapan 'hati-hati' itu bersifat universal. Bisa diucapkan kepada siapa saja tanpa status apa pun. Bahkan, dia bisa mengucapkan hal tersebut kepada tukang parkir atau satpam di kampusnya.


Hantara menganga seiring berlalunya Ravendra. "Gila! Gue udah memberanikan diri buat ngomong begitu dan dia cuek-cuek aja?! Wah! Parah! Mau jadi apa masa depan gue kalau harus berumahtangga sama cowok kayak gitu?! Parah dah! Baiknya udah hilang, ada masa aktifnya ternyata. Cih!"


Dan serentetan gerutuan lainnya ditujukan kepada Ravendra yang kembali ke 'wujud' aslinya.


...•••••...

__ADS_1


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2