Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 35


__ADS_3

...•••••...


Setelah seharian dihibur oleh Sagara dan Lia di arena permainan, sekarang Hantara lelah juga. Merebahkan diri merupakan jalan terbaik untuk menenangkan pikiran dan tubuhnya. Tadinya, Hantara tak ingin memikirkan adegan mengerikan itu—saat Gianna mencium pipi Ravendra.


Setelah diterbangkan oleh cowok itu dengan omongan rumah-nya, justru dihempaskan begitu saja bersama angan yang hancur berkeping-keping. Hantara kembali mengutuk hatinya yang sudah sembarangan terbawa perasaan terhadap Ravendra.


Kenapa sih? Dia mudah sekali terjerat oleh pesona Ravendra yang penuh tipu muslihat itu?


Lalu, pergi ke mana semua debar yang diperuntukkan bagi Joshua? Malah seharian ini dia tak memikirkan mantan gebetannya yang satu itu.


Kembali melirik ponsel yang berada di samping kirinya. Tak ada tanda-tanda chat atau panggilan masuk dari tunangannya. Iya, sedari tadi dia berharap Ravendra akan mencoba menjelaskan sesuatu atau apalah. Tapi cowok itu tak mau repot-repot menanyakan kabarnya.


Mendengus kesal, lagi-lagi ditampar ingatan atas tujuannya mengikuti alur yang ada. Ravendra menginginkan sesuatu atas dirinya. Sejatinya dia tak boleh menjadi cewek yang menye-menye macam ini.


Seharusnya—tadi saat di kediaman Birusna, dia kan bisa sok keren dengan cara menghampiri keduanya sambil bersedekap atau melempar dompet Ravendra. Biar dia kelihatan seperti cewek-cewek tangguh di televisi.


Sayangnya, dia malah putar haluan begitu saja dan dompet cowok itu masih tergeletak di meja belajarnya.


"Tara! Ada Ravendra!"


Hantara terdiam. Sejujurnya dia enggan bertatap muka dengan tunangannya itu. Tapi tidak mungkin dia memberitahu Mama apa yang telah terjadi di antara keduanya.


Maka dengan berat hati, Hantara merapikan penampilan dan lekas keluar. Dia sudah dewasa. Permasalahan yang ada dalam pertunangannya, lebih baik dibicarakan dengan yang bersangkutan.


Di ruang tamu, Ravendra sudah duduk di sofa sambil mengamati salah satu pigura yang berisikan foto Papa dan Mama dengan raut yang tak mampu dibaca. Hantara mengembuskan napas sembari menguatkan diri. Mencari keberadaan Mama, tampaknya wanita itu berada di kamarnya sendiri.


"Ngapain?" tanyanya berdiri dengan jarak dua meter. Diam-diam melirik foto tersebut pula, tapi tak ingin berlama-lama.


Ravendra mendongak. Cowok itu tersenyum tipis, lalu menepuk sisi kosong di samping kanannya—tanda bagi Hantara agar duduk di situ.


Menurut, Hantara langsing mendudukkan diri. Setelah memastikan tampaknya Mama masih betah di kamar. "Mau ngapain?"


Tak langsung membuka suara, justru pandangan cowok itu masih terpaku pada foto Papa dan Mama. Hantara mengernyit. Tunangannya ini sebenarnya mau melakukan apa sih? Apakah Ravendra hanya ingin melihat foto Papa dan Mamanya sampai malam?


"Setelah kulihat-lihat, nggak ada fotomu sama sekali ya." Kata Ravendra yang sukses menyentil sebagian kecil hati Hantara.


Itu bukan suatu pernyataan yang ingin didengar Hantara. Malah, dia tidak pernah menduga bahwa cowok itu akan memikirkan foto-foto yang ada di ruang tamunya.

__ADS_1


"Hm," Hantara menelan ludah. "Iya, aku emang nggak suka foto."


"Bahkan untuk foto dengan keluargamu sendiri?" Ravendra menatapnya. "Apa kamu nggak mau ada foto keluarga yang utuh? Papa, Mama, dan kamu?"


Hantara mulai risih. "Rav, kita bisa bahas hal lain daripada foto keluarga di rumahku."


"Contohnya tentang kejadian tadi ya?" terka Ravendra.


"Aku nggak ngomong lho ya, kamu yang ngomong." Hantara melengos. Berusaha mati-matian untuk mengatur detak jantungnya yang berlomba dengan waktu.


Ravendra terkekeh. Tanpa sadar, tangan kanannya mengelus puncak kepala cewek itu. "Kalau aku bilang, Gianna yang memulai itu, gimana? Apa kamu bakal percaya?"


Hantara terdiam. Memang sejak awal firasatnya berkata demikian. Tapi mengingat perasaan yang seharusnya masih dimiliki Ravendra terhadap Gianna, Hantara jadi—


"Kalau boleh jujur, perasaan apa pun yang ada buat Gianna, udah nggak sama seperti dulu, Tara."


Hantara lekas menoleh. "Maksudnya? Tapi kamu masih punya perasaan itu kan? Cinta matimu yang selalu kamu agung-agungkan."


"Enggak, Tara." Ravendra menggenggam tangan kiri Hantara. "Sekarang, belum ada siapa pun yang bisa membuatku merasakan itu lagi."


"Cih!" Hantara ingin tertawa. Manusia di hadapannya ini pandai sekali bermain kata-kata. "Iya, karena kamu masih punya cinta mati ke Gianna. Makanya—"


Hening.


Hah? Ini cowok kenapa?! Kesambet apa lagi dia???


Dengan penuh kebingungan diiringi lompatan-lompatan tak masuk akal dari jantungnya, Hantara melongo. Sedangkan tunangannya itu betah sekali menatapnya, sampai-sampai Hantara yakin kalau pipinya sudah memerah sekali.


"Ha ha ha," Hantara tertawa hambar. "Nggak usah bercanda, Rav! Lagian mana bisa aku buat kamu kayak gitu. Dengar ya? Semisal kamu mau cinta mati sama seseorang, kamu harus yakin sama satu hal; nyaman."


"Aku nyaman sama kamu," balas Ravendra tanpa berpikir dulu.


"Oh ya?" Hantara menunjukkan raut sinisnya. Mungkin di lain waktu dia bakal salah tingkah, tapi sekarang ditunda dulu. "Kamu pikir aku percaya?"


Ravendra hendak kembali membuka suara, namun terhalang oleh ucapan Hantara selanjutnya.


"Rav," tatapan Hantara menyendu. "Kalau kamu cuma mau mainin aku dalam pertunangan ini, udah aja ya? Kalau kamu mau kembali sama Gianna, aku akan bilang ke Mama, Ayah, dan Ibu—kalau aku mau pertunangan ini dibatalkan."

__ADS_1


"Enggak, Tara!" Genggaman tangan Ravendra pada Hantara kian mengerat. "Kenapa sih, kamu nggak percaya sama kesungguhanku ini?"


Hantara tak menjawab. Justru cewek itu melangkah ke dapur, meninggalkan Ravendra yang menunggu di ruang tamu. Bertepatan saat itu, hujan mengguyur daerah sekitar.


Mama keluar kamar, "Rav, motormu nggak kehujanan? Masukkan garasi aja!"


Hantara mengernyit. Telur puyuh rebus yang baru dikupas, urung dilahap. "Kamu nggak bawa mobil? Tumben."


"Kehujanan nggak apa-apa kok, Ma. Kalau bermasalah ya, tinggal panggil bengkel langganan aja." Kata cowok itu santai.


"Tapi ini deres banget lho, Raven. Kayaknya bakal lama deh. Kamu nginep sini aja ya?"


"Huk!" Hantara tersedak telur puyuh rebusnya. Cepat-cepat mengambil segelas air untuk membasahi kerongkongannya. "Ma? Mama serius?"


"Iyalah, kan Ravendra bisa tidur di kamar tamu."


Hantara menunduk lelah. Sekalipun cowok itu akan berada di kamar lain, tapi Hantara merasa kehadirannya bisa menganggu ketenangan hatinya. Hujan-hujan begini, seharusnya kesendirian yang ada pada diri Hantara bisa membuat tenang dan nyaman.


Tapi kalau ada Ravendra? Ya apanya yang nyaman?!


"Kacau."


...•••••...


Gianna Rosalinda berdiri pada balkon kamarnya sembari menatap langit malam yang menyuguhkan guyurannya. Sejak kembali dari kediaman Birusna, tak henti-hentinya dia memikirkan satu hal.


Setelah mengecup pipi Ravendra tadi, tak sengaja dia melihat wallpaper ponsel Ravendra yang berisikan foto dirinya dengan Ravendra. Saat itu, tampaknya ada chat masuk dari seseorang sehingga memperlihatkan layar ponsel cowok itu.


"Kalau dia masih pasang foto berdua, kenapa malah putusin gue segala?" monolognya. Gianna masih sangat mencintai Ravendra. Dilihat dari wallpaper cowok itu, sepertinya Ravendra juga masih memiliki perasaan yang sama.


"Ck! Kenapa sih, Ravendra nggak jujur aja? Kalau dia jujur kan, bisa cari solusi bersama buat ngegagalin pertunangan itu." Gumamnya. "Tapi kenapa malah langsung main putus gitu aja?"


Dan satu lagi yang sangat mengganjal,


"Maksudnya dia menyesal pacaran sama gue tapi masih cinta sama gue itu apa?"


...•••••...

__ADS_1


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2