Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 30


__ADS_3

...•••••...


Hantara mengekori Lia dan Sagara yang melenggang ke warung bakso dekat Fakultas Teknik—yang katanya enak sekali dan harganya ramah kantong.


Terhitung, sudah lima hari pula dia tidak berkomunikasi dengan Ravendra.


Baguslah! Mungkin dia seneng banget kali ya? Sekarang pasti bisa berduaan sama Gianna. Ya, tinggal nunggu Ayah sama Ibu batalin pertunangan ini aja.


Dalam waktu tersebut, hubungannya dengan Joshua masih sama seperti sebelumnya. Mama yang melihat Joshua bolak-balik menjemput hanya tersenyum ramah, tak mau bertanya lebih. Meski pekan depan, Joshua akan pergi ke kota sebelah untuk benar-benar disibukkan pada kegiatan koasnya.


Padahal sehari setelah insiden 'pemberontakan' di pagi hari itu, orang-orang yang mengenal Ravendra mengatakan kalau sidang skripsi cowok itu berjalan lancar. Banyak yang berdatangan untuk mengajak berfoto setelah sidang. Tinggal menunggu tanggalnya saja, cowok itu akan seutuhnya lulus dari lingkup kampus ini.


Bahkan, Sagara memperlihatkan foto Ravendra dan Gianna yang berfoto di depan gedung FH. Senyum keduanya merekah. Mengalahkan mentari yang kala itu sedang terik-teriknya.


Tiba di warung bakso yang dimaksud, Hantara menghentikan langkah sejenak. Banyak sekali anak FT yang sudah nongkrong dengan mangkuk bakso yang kosong beserta gelas-gelas sisa es mereka.


Hantara mengembuskan napas perlahan. Sebenarnya dia mau pulang saja, tapi tak enak juga menolak traktiran dari Sagara. Apalagi, foto bakso jumbo yang terpampang di banner depan warung memang menggugah selera.


Sayangnya, yang menyapa pandangan saat memasuki warung tersebut malah membuyarkan nafsu makannya.


Apa bakso di sini enak banget ya? Sampai-sampai Gianna aja juga beli di sini.


"Oi, Gianna!" Sagara menghampiri Gianna yang semula sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Menoleh, Gianna tersenyum manis saat melihat Sagara. Namun, senyum cewek itu jadi agak aneh setelah menyadari keberadaan Hantara.


Hantara melangkah malas sambil mencari meja yang kosong. Lia bergegas duduk di samping Hantara. Sagara berada di seberang keduanya.


"Mbak Gianna cantik banget ya?" gumam Lia memandang Gianna penuh afirmasi. Hantara melirik Gianna—memang benar. Gianna memang cantik dan anggun. Tapi entah mengapa, sekarang nilai kecantikan dan keanggunan itu menurun secara perlahan.


Walaupun dia kalah atas segalanya dari Gianna, hatinya tak mampu berbohong.


"Gi? Kapan tunangan sama Ravendra? Apa sih yang kalian tunggu?" tanya salah seorang teman Gianna.


Hantara tahu, pasti temannya Gianna yang satu itu tak sengaja mengeraskan suaranya sehingga nyaris separuh pengunjung warung bakso ini sempat menengok dan penasaran.


Sagara, Lia, dan dirinya sendiri juga sama penasaran. Bedanya, Lia dan Sagara memasang telinga baik-baik disertai tampang serius. Sedangkan Hantara melihat ponselnya tapi, bersiap untuk mendengar.


Lain halnya dengan Gianna, cewek itu melirik Hantara—memastikan apa yang tengah dilakukan. Gianna memperlihatkan senyum yang dibuat-buat. "Kapan ya? Nggak tahu juga sih, kayaknya tahun depan kali, ya? Minta doanya aja."


Hantara mendengus. Kalau bukan karena bakso jumbo, dia mana mau duduk di sini lebih lama.


"Jangan lupa undang kita kalau tunangan, Gi." Kata teman yang satunya lagi.

__ADS_1


"Pasti dong," sahut Gianna. "Semoga aja hubungan kami lancar, nggak ada serangga-serangga pengganggu."


Heh? Barusan dia ngomong apa? Serangga?


Tiga gelas es teh disuguhkan terlebih dahulu pada meja yang ditempati Hantara. Kalau tidak di antara keramaian, mungkin Hantara akan melempar es teh miliknya kepada Gianna. Maksudnya tadi tuh apaan? Serangga?


"Memangnya ada ya? Cewek-cewek yang ngedeketin pacar lo terang-terangan gitu?" tanya teman Gianna yang bertanya paling awal tadi.


"Ada dong," diam-diam Gianna melirik Hantara. "Malah nggak tahu diri lagi. Serakah!"


"Lho? Si cewek yang lagi deketin Ravendra, lo kenal, Gi?"


"Kenal dong! Malah, itu cewek juga udah punya pacar, tapi haduh! Masih aja ngincer si Raven." Gianna tertawa puas dalam hati.


Hantara mengubah fokus utamanya menjadi bakso jumbo. Lebih baik memikirkan makanan daripada Gianna. Sudahlah—enggan untuk mendengar omongan cewek itu lagi.


Lia dan Sagara memulai obrolan setengah berbisik. "Emangnya ada yang berani kayak gitu? Sampai Mbak Gianna-nya tahu?" tanya Lia ditujukan kepada Sagara.


"Nggak tahu ya," Sagara tampak berpikir. "Kalau soal itu, kayaknya Gianna nggak pernah cerita apa-apa ke gue deh. Kecuali ya yang bagian tunangan itu tuh! Kan seharusnya dia nggak perlu berpikiran negatif kayak gitu juga. Gue yakin kalau Bang Raven itu cintanya sama Gianna aja."


Bahu Hantara melemas mendengar hal tersebut. Bahkan Sagara mendukung hubungan Ravendra dan Gianna.


"Padahal nih ya, mau cewek itu jungkir balik, rol depan, rol belakang—nggak bakal Ravendra berpaling hati." Sambung Gianna tak kehabisan omongan.


Bakso pesanan Hantara, Lia, dan Sagara pun datang. Hantara bersyukur dalam hati. Semakin cepat makan, semakin cepat pergi dari sini.


Namun Tuhan berkata lain.


"Eh, itu Ravendra, Gi!"


Suapan pertama Hantara terhenti tepat di depan mulut. Mengerjap-ngerjap, dia jadi bingung sendiri. Degup jantungnya seperti orang balapan. Tak tahu apa penyebabnya.


Dari luar warung, Ravendra datang dengan penampilan kasual disertai jaket biru gelap—yang tentunya sangat tampan. Beberapa cewek yang berada di warung bakso sempat melirik lalu melempar pandang. Memang setampan itu sosok Ravendra Birusna.


Lia ikut-ikutan terpesona, sedangkan Hantara bersikeras menahan kepalanya agar tak menengok. Kalau boleh jujur ... dia rindu.


Eh? Apa? Gue kenapa?!


Gianna tersenyum lebar melihat kedatangan sang pacar. Tak lupa melirik Hantara yang masih mematung di tempat.


Sebelum Ravendra menghampiri Gianna, Sagara melambaikan tangan ke arahnya. Hantara melotot. Panik. Ngapain bocah satu ini dadah-dadah ke Ravendra?! Dia mau menjerit saking frustasinya.

__ADS_1


Ravendra melambaikan tangan sekilas. Kemudian menyadari sesuatu. Lia tepat berada di seberang Sagara. Kalau ada Lia dan Sagara, otomatis ... ada Hantara.


Cewek dengan rambut dikuncir kuda yang duduk di samping kanan Lia dan membelakanginya. Ravendra menghela napas. Sesuatu melompat-lompat dalam benaknya. Perasaan membuncah yang sulit untuk diartikan.


"Rav, bentar ya, aku—"


Bukannya menuju Gianna, justru langkah cowok itu mantap lurus terus. Sagara pikir, Ravendra akan menghampirinya dan bertanya seputar keadaannya dan macam-macam seperti biasa. Gianna berpikir sama meski sempat terheran.


Tapi, isi pikiran Ravendra tak sama dengan mereka.


"Sayang?"


...•••••...


Tiga hari sebelumnya; Ibu Lusi mendatangi rumah Mama Nadya.


Tanpa adanya penjelasan, Mama Nadya tahu arti dari kedatangan calon besannya itu. Setelah menyajikan minuman beserta camilan, Mama Nadya mendudukkan diri dan bersiap larut dalam obrolan kali ini.


"Nadya, Ravendra kemarin cerita kalau kamu tahu soal Ravendra yang masih punya pacar." Ibu Lusi membuka suara.


Mama Nadya mengangguk pelan. "Dia ngomong jujur ya sama kamu? Dia lumayan hebat."


"Enggak, Nadya. Mau sejujur apa pun, tetap aja Ravendra sudah membohongi kamu dan Hantara. Aku sebagai ibunya meminta maaf, Nadya." Ibu Lusi memejamkan mata sejenak.


"Kamu nggak perlu meminta maaf, Lusi." Mama Nadya menyodorkan stoples berisikan keripik ubi ungu. "Hantara juga punya gebetan. Sekarang gebetannya itu bolak-balik ke sini."


Ibu Lusi terdiam. Diliriknya ruang tamu rumah tersebut, lalu didapati satu foto pasangan yang saling menatap dan tersenyum bahagia. "Aku malu sama suamimu, Nadya. Malu karena Ravendra seperti itu." Katanya lemah.


Mama Nadya turut mengamati foto tersebut. "Mungkin ini terjadi karena Ravendra dan Hantara belum terlalu kenal, Lusi. Kamu nggak perlu malu."


"Kenapa kamu bisa sesantai ini? Apa kamu nggak khawatir kalau Ravendra bakal berhubungan terus sama Gianna sampai menikah nanti?" heran Ibu Lusi.


"Khawatir kok! Tentu saja aku khawatir karena Hantara itu anakku satu-satunya. Aku juga nggak mau dia disakiti terus menerus. Tapi kamu tahu apa yang membuat aku nggak terlalu ambil pusing?"


Ibu Lusi menggeleng.


"Mata." Mama Nadya tersenyum kalem. "Tatapan mata anakmu itu berbeda, Lusi."


"Kamu juga menyadarinya?"


Keduanya tertawa kecil. Mama Nadya menatap foto almarhum suaminya lamat-lamat. "Rupanya, cuma mereka berdua yang nggak menyadari itu."

__ADS_1


...•••••...


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2