
...•••••...
Malam itu, kartika berpendar tanpa malu menghiasi bumantara malam. Hantara memandang mereka disertai sebuah foto lusuh yang belakangan ini tersemat di sela-sela jemarinya. Sebuah kenangan yang menyesakkan sekaligus penuh rindu.
Tertunduk, hati cewek itu bergetar. Dia ingin sekali bertemu dengan salah seorang yang berada pada foto lusuh tersebut. Sekalipun semasa hidupnya, eksistensi Hantara tak lebih dari sekadar angin lalu.
Yang tadinya tertuju pada angkasa, kini cewek itu menyadari kedatangan sebuah mobil yang sangat familiar. Hantara mengernyit. "Cowok itu mau ngapain lagi?"
Melirik jam dinding, menunjukkan pukul tujuh lebih lima. Ravendra pasti datang dalam rangka 'mengambil hati Mama dan Hantara', sebab apalagi yang akan dilakukan cowok itu kalau tidak menyuguhkan pesonanya?
Memarkirkan mobil, Ravendra keluar dengan tampilan kasual yang senantiasa mengundang tatapan memuja dari kaum Hawa. Tampaknya Mama menunggu di teras, karena cowok itu langsung tersenyum manis dan berlari kecil.
Hantara mengembuskan napas perlahan. Sebenarnya dia mau menenangkan diri dulu. Hatinya terbelah menjadi dua kubu; yang enggan bertemu Ravendra dan sangat ingin bertemu Ravendra.
Satu hal yang semakin lama dia sadari, perasaannya terhadap Ravendra memang datang tanpa permisi. Bagi pasangan di luar sana yang terlibat dalam suatu pertunangan, pasti lambat laun akan saling menyukai sekalipun awalnya tidak.
Hantara juga menjadi korbannya. Korban atas mekarnya hati yang tak pernah diberi izin oleh sang pemilik. Jika keadaan dirinya dan Ravendra benar-benar saling mencintai, tentunya Hantara akan menjalani pertunangan ini sesuai yang diinginkan para orang tua.
Memang Ravendra menunjukkan kesungguhan dalam pertunangan ini. Hanya saja, banyak sekali kejanggalan yang membuat hatinya tak bisa sepenuhnya percaya.
"Tara! Kamu mau diajak jalan-jalan sama Raven, Sayang!"
Seruan Mama seperti biasa—mengabarkan kedatangan Ravendra. Hantara menatap langit malam sekali lagi. Dia harus kuat. Godaan atas segala hal yang dimiliki Ravendra memang luar biasa. Dan dia harus terbiasa agar tak terperdaya begitu saja.
"Iya, Ma."
Langkah selanjutnya, Hantara mencari pakaian yang lebih nyaman dan pantas untuk jalan-jalan malamnya ini.
...•••••...
"Kita mau ke mana sih, Rav? Udah setengah jam lho ini," Hantara kembali melirik waktu pada layar ponselnya. Tadi Ravendra izin membawa Hantara jalan-jalan, dan menurut saja tanpa tahu ke mana mobil cowok itu tertuju.
Melihat barang-barang yang berada pada bagian tengah mobil membuat Hantara makin bertanya-tanya. Tunangannya itu mau pindah rumah atau bagaimana? Kenapa membawa selimut, termos, bantal berbentuk karakter kartun, dan rantang?
Ravendra rak menjawab. Justru, mobilnya berbelok menuju satu tempat yang tidak Hantara duga sama sekali.
"Pantai?"
"Hm," Ravendra mencari tempat parkir yang nyaman. "Beach date."
Hantara mendelik, "Apaan? Date? Yang bener aja!"
Setelah mengatur posisi mobil, Ravendra pun keluar. Mau tak mau, Hantara pasrah saja. Dia sudah dibawa sejauh ini oleh Ravendra. Beach date. Malam hari. Tidak buruk-buruk amat.
Ravendra mengambil alas kain yang sudah dipersiapkan. Langsung saja digelar tepat di depan mobil bersama bantal karakter yang membuat Hantara hanya mampu menganga.
Selesai menggelar, Ravendra tersenyum pada Hantara. "Kamu duduk aja, biar aku ambil yang lain-lain."
Hantara mengerjap bingung, tapi menurut juga. Melepas alas kaki, cewek itu duduk bersila lalu mengedar pandang. Angin malam yang berembus menerbangkan anak rambut Hantara diiringi deburan ombak yang menenangkan. Dingin yang menusuk tak begitu terasa. Sebab, Hantara telah dihangatkan oleh sebuah selimut berwarna jingga yang Ravendra sampirkan.
Hantara menoleh. Ravendra mengambil duduk di samping kanannya. Kini keduanya menatap pantai ditemani pendar rembulan.
"Maaf ya," ujar Ravendra tiba-tiba.
"Hah? Kenapa?"
"Aku bisanya ngajak kamu ke pantai malah malam-malam gini. Seharusnya kan, bakalan indah kalau kita datang pas ada sinar matahari."
Hantara termangu. Barusan dia bilang apa? Kita?
"Eherm," cewek itu kembali mengatur detak jantungnya yang mulai balapan. "Nggak apa-apa, gini boleh juga kok. Lagian, aku jarang banget ke pantai."
"Oh ya? Terakhir kapan?"
"Terakhir?" Hantara memiringkan kepala, berpikir. "Kalau nggak salah waktu itu Mama sama aku nyusul Papa—"
__ADS_1
Napasnya tercekat. Papa. Iya. Terakhir kali berkunjung ke pantai saat Hantara berusia empat tahun. Bukan berkunjung dalam artian yang direncanakan dan penuh kesenangan, tapi karena Mama hendak menyusul Papa.
Ravendra merasa bersalah. Apalagi roman tunangannya langsung menyendu. "Ah, maaf, Tara. Aku nggak bermaksud—"
"Waktu itu Mama dan aku yang punya inisiatif untuk nyusul Papa ke sini," Hantara meneruskan dengan tatapan nanar. "Papa ada kerjaan penting, kalau nggak salah Papa merupakan salah satu orang kepercayaan bosnya. Jadi, waktu itu Papa memang bertugas buat keluarga bosnya. Katanya Mama sih gitu,
"Sayangnya, begitu Papa lihat aku dan Mama ... Papa malah marah-marah ...."
Hantara mencengkeram selimut yang melingkari tubuhnya. Kakinya kini menekuk, serta menjadi tumpuan tangan. "Papa ... nggak suka kalau aku dan Mama ada di saat dia bekerja—ah! Nggak juga sih! Papa nggak suka sama aku. Dari dulu sampai ... kepergian Papa ...."
Ravendra memandang wajah Hantara dengan sejuta kalimat yang tertahan. Tak mampu mengatakan apa pun, cowok itu hanya mengepalkan tangannya. Lidahnya kelu sekali untuk mengatakan satu kebenaran baru.
Hantara mendongak. Menghalau air mata yang akan terjatuh sekaligus melihat indahnya sang cakrawala. "Wah~ Maaf ya, Rav." Dia menoleh ke arah Ravendra. "Beach date-nya malah jadi curhatan masalah keluarga."
Ravendra menggeleng. "Justru aku yang minta maaf karena udah bawa kamu ke tempat yang punya kenangan buruk. Apa sebaiknya kita pindah tempat aja?"
"Enggak perlu," Hantara kembali menatap pantai. "Di sini indah banget. Sepi. Sunyi. Tenang. Memang kayaknya tempat semacam ini yang aku butuhkan."
"Okelah." Ravendra mengeluarkan termos dan gelas kertas beserta beberapa jenis kopi sachet.
"Oh, jadi kamu ngajak ke sini karena mau jualan kopi, Rav?" tanya Hantara sengaja.
Ravendra tertohok. "Tara, jangan mulai ya!"
Hantara terkekeh. Mendengarnya, Ravendra kembali melihat cewek itu dan tersenyum simpul. Syukurlah, dia udah nggak sesedih tadi.
Setelah membuatkan kopi, Ravendra menyerahkan satu kepada Hantara. Keduanya menyesap kopi sembari menikmati indahnya pantai pada malam hari.
Dalam keheningan penuh perasaan yang ada, Hantara membuka suara. "Setelah ini, kamu bakal kerja di firma hukum atau gimana, Rav?"
Ravendra menaikkan satu alisnya. "Aku?"
Hantara mengangguk.
Ravendra teringat satu hal. Cowok itu memandang lekat Hantara yang masih menunggu kelanjutannya—bila ada. "Dan kamu."
Baru saja menyesap kopi, Hantara nyaris menyemburkannya karena ucapan tambahan dari Ravendra. Hantara tertawa hambar. "Ha ha ha, lucu, Rav. Lama-lama hobimu ngelawak juga ya?"
"Aku serius, Hantara."
Lho? Mukanya nggak bohong?
Hantara tertegun. Kesungguhan yang masih dibubuhi tanda tanya besar itu masih bertengger manis pada isi pikirannya. Kupu-kupu juga beterbangan tak tentu arah pada perutnya, seakan-akan turut berbahagia atas ucapan Ravendra tadi.
Cewek itu berdeham. Kembali menyesap kopi dengan pandangan mengedar. Bisa gawat kalau dia berlama-lama memandang Ravendra. Takut kalau-kalau jantungnya melompat dari tempat karena saking cepatnya.
"Kalau kamu?" tanya Ravendra.
"Hah? A-aku?"
"Iya, setelah wisuda, kamu mau ngapain?"
"A-aku ...." Hantara tertunduk. "Mungkin ngelanjutin butiknya Mama, atau kerja di tempat yang memungkinkan—biar dapat Hot Daddy juga sih, hihihi."
Ravendra memicingkan mata. "Hot Daddy? Tara, dalam waktu itu kita pasti udah menikah."
Hantara kembali merenung setelah mendengar 'kita' dan 'menikah' dari mulut tunangannya itu. "Tapi aku mau cari Hot Daddy, Rav."
"Ck." Ravendra berdecak kesal. Entah mengapa, mendengarnya saja membuat Ravendra tak nyaman sama sekali. Apalagi membayangkan Hantara mencari Hot Daddy di luar sana. "Kan aku bisa jadi Hot Daddy-mu setelah menikah nanti, Tara. Nggak perlulah kamu cari Hot Daddy di tempat lain. Kamu udah punya sendiri."
Hantara terperangah. Mulutnya pun terbuka lebar. Ravendra yang baru menyadari ucapannya, lantas bungkam dan mengalihkan pandang. Beberapa detik dalam keterkejutan kecil yang menggemaskan itu, Hantara tersenyum manis.
Tenang. Tenang sekali diam yang tercipta itu sehingga keduanya tak lagi merasa canggung kala memandang lurus ke depan.
"Tara ...."
__ADS_1
"Hm?"
Ravendra melirik malu-malu. "Jangan cari Hot Daddy beneran!"
Hantara tergelak. Ravendra kembali merutuki dirinya yang telah lancang berkata demikian. Namun diam-diam, cowok itu senang sekali sudah membuat Hantara kembali bersikap santai terhadapnya.
"Apa kamu masih nggak percaya sama kesungguhanku, Tara?"
Pertanyaan tersebut menghentikan gelak tawa Hantara. Suatu pertanyaan yang sejujurnya sangat dihindari melebihi apa pun. Tak dimungkiri, bebannya sedikit berkurang berkat kencan pantai malam ini.
"So-soal itu ...."
Ravendra mengembuskan napas kasar. "Tara, aku ini—"
"Perasaan itu nggak dipaksa, Rav. Mau kamu atau aku, kita pasti punya perasaan yang condong ke satu orang dan nggak bakalan bisa berubah secepat kilat." Hantara memejamkan mata sejenak. "Nggak apa-apa kok, kalau kamu masih cinta sama Gianna. Kamu nggak perlu memaksa perasaan baru buat hadir di dalam pertunangan ini. Malam ini boleh juga, Rav. Kita bisa saling jujur dan mengakhiri pertunangan ini secara damai."
Ravendra tercenung. "Tara, aku nggak ngajak kamu ke sini buat mengakhiri. Aku mau mengawali sama kamu mulai malam ini."
Kini giliran Hantara terkesiap. Dia menggigit bibir bawahnya karena debar jantungnya sudah tak terkendali sejak tadi. Kenapa sih? Kenapa malah perasaan Hantara membesar di saat yang tidak tepat?
"Tara, ayo kita mulai sama-sama. Kalau misalkan ada tempat atau suatu kegiatan yang dari dulu pengin kamu lakukan sama ... Papa, kamu bisa melakukannya sama aku ...."
"Hah?"
Ravendra cepat-cepat melanjutkan, "Kalau misalnya nih, kamu mau ke suatu tempat yang belum keturutan pas Papa masih ada, kamu bisa bilang ke aku, dan kita akan pergi ke sana."
"Rav, kenapa kamu malah bawa-bawa Papa?"
Gue sendiri juga bingung gimana cara ngomongnya, Tara~
"Karena yang aku tahu, cinta pertama anak perempuan itu ada di ayah mereka. Pasti, dulu kamu pengin banget pergi ke suatu tempat sama Papa dan belum terkabul. Jadi ...." Ravendra menggenggam tangan kanan tunangannya itu. " ... biarkan aku yang mengabulkan semua permintaan itu sebagai calon suami kamu."
Detik itu, Hantara berharap kepada Tuhan untuk menghentikan waktu sebentar saja. Kesungguhan Ravendra kali ini jelas berdasar dan tak mengada-ngada. Apa benar, tunangannya itu benar-benar sudah tak memiliki perasaan apa pun terhadap Gianna?
Sesaat kemudian, Ravendra terlihat mencari sesuatu pada saku jaket dan celananya. Hantara menyerngit. "Cari apa, Rav?"
"Ponselku. Mungkin di mobil kali ya?"
Hantara beranjak terlebih dahulu, "Sekalian aku ambilin, aku juga mau ngambil ponsel. Pemandangannya lumayan."
Ravendra mengangguk, kembali meminum kopinya yang berangsur dingin.
Seingat Hantara tadi, ponsel Ravendra tergeletak di samping persneling sedangkan ponselnya sendiri ada di tas sandang kecil yang tak dibawa turun. "Oh, ini kali ya?" Hantara mengambil ponsel Ravendra setelah menggenggam miliknya.
Tak sengaja, salah satu jemarinya menekan tombol power sehingga menampilkan foto yang menjadi kegusaran terbesarnya. Hantara termangu. Foto Ravendra dan Gianna yang dipenuhi kebahagiaan.
Menatap punggung Ravendra, Hantara kembali mengatur napas. Kenapa ya? Dia tidak bisa terbang bebas dengan perasaan yang ada? Seolah-olah dia memang terkurung dalam sangkar emas tak kasat mata bernamakan Gianna.
Biarlah! Malam ini, gue harus cuek dulu.
"Nih, Rav," Ravendra berterimakasih, Hantara mengumam sebagai balasan. Dia mendudukkan diri seperti sebelumnya. Semilir angin yang menyapa tubuhnya hanya terasa bagai embusan napas. Maunya melupakan, tapi sorot bahagia yang terpancar dari foto Ravendra dan Gianna tadi berhasil membekukan kuncup hatinya.
Mengusir pikiran yang ada, Hantara memotret pemandangan yang tersuguh di depannya.
"Kelihatan, Tar?" tanya Ravendra memastikan.
"Nggak begitu sih, tapi lampu-lampu lumayan ngasih efek dikit." Hantara fokus mengarahkan kamera ponselnya. "Sayang kan kalau nggak difoto, pemandangannya bagus gini."
Ravendra termenung. Sesuatu dalam hati kecilnya tergerak untuk mengabadikan sosok Hantara dalam kamera ponselnya. Cowok itu tersenyum setelah diam-diam memotret Hantara dari samping.
"Iya," Ravendra tersenyum. "Pemandangannya bagus, cantik."
...•••••...
^^^bersambung ....^^^
__ADS_1