Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 21


__ADS_3

...•••••...


Hantara menggeser layar ponselnya yang menampakkan hasil foto bersama dengan sepupu Ravendra saat kondangan kemarin. Masih bergelung di bawah selimut, dia tak berniat untuk pergi ke mana pun.


Sejak pulang dari kondangan, badannya terasa pegal sekali. Padahal dia juga tidak bertingkah lebih. Dia anteng-anteng saja. Ditambah suhu badannya meninggi dan kepalanya pusing.


"Tara! Kamu nggak ada kelas, Nak?" Seruan Mama terdengar. Hantara menatap pintu kamarnya sekilas. Tak ada niatan untuk turun dari tempat tidur atau keluar kamar.


"Tara?" Karena tak menjawab, Mama langsung membuka pintu kamar putrinya itu. Melihat Hantara yang terbaring lemas sambil memegang ponsel, Mama menghampiri Hantara cemas.


"Kamu kenapa, Tara? Nggak enak badan?" telapak tangan Mama menuju kening Hantara. Sadar bahwa suhu tubuh anaknya meninggi, Mama terperangah. "Kamu demam, Tara. Bentar ya, Mama cari dulu ada obat buat turunin panas kamu atau enggak."


Hantara mengangguk lemah. Mama berlari kecil meninggalkan kamar anaknya untuk mencari obat di dapur.


Detik itu, Ravendra datang dengan tampang seperti biasa. Dia sedikit terheran saat mendapati Mama mondar-mandir seperti mencari sesuatu. "Mama cari apa?" tanya cowok itu memecah fokus Mama.


"Oh, kamu udah datang, Rav? Maaf, Mama sibuk cari obat sampai nggak sadar kamu udah datang." Kata Mama kembali melanjutkan pencarian obatnya.


"Cari obat? Obat apa?"


"Itu lho, obat buat Tara. Badannya panas." Mama membalas tanpa menoleh. "Kemarin Mama ingat masih punya obat warung yang biasa diminum Tara kalau sakit. Tapi pas dicari, sekarang kok malah nggak ada ya?"


"Biar saya yang beli---"


"Enggak usah, Rav. Biar Mama yang beli obatnya di apotek depan. Kamu tunggu di sini aja. Ah, kamu temenin Tara aja di kamarnya. Barangkali dia bosan dan butuh teman ngobrol. Mama pergi dulu ya, Rav."


Mama berlalu begitu cepat. Sampai-sampai Ravendra bingung sendiri dan hanya mampu terdiam seperti patung. Begitu mendengar motor yang dikendarai Mama menjauh, Ravendra menyadari bahwa dia punya tugas baru.


Memandang pintu kamar Hantara, cowok itu mendengus lelah. Dia harus melakukannya, sebab dia calon menantu di keluarga ini.


Mengetuk pintu tiga kali, Ravendra memutuskan untuk masuk karena tak ada jawaban. Seketika, dia berasumsi bahwa Hantara memang dalam kondisi yang tak cukup baik untuk sekadar bersuara.


Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang menyapa Ravendra ialah sosok Hantara yang terbungkus oleh selimut, tapi masih sempat bermain ponsel.


Hantara menoleh ke arah pintu kamarnya. Cewek itu makin lesu. "Perasaan tadi Mama bilangnya mau ngambil obat, tapi kenapa malah kamu yang datang?"


Ravendra melangkah pelan menuju kursi yang pernah didudukinya tempo hari. "Mungkin bagi Mama, saya obat buat kamu."


"Huek!" Hantara berpura-pura mau muntah. Kalimat Ravendra barusan benar-benar mengacaukan segalanya.


Ravendra sendiri merutuk dalam hati. Gila! Gombalan apa tadi? Nggak kelas! Nggak mutu! Ya bener kalau Tara sampai pengin muntah.


"Kamu kenapa bisa sampai sakit gini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Hantara kembali memfokuskan pandangan pada layar ponselnya. "Nggak tahu. Kemaren habis kondangan, rasanya pegel semua. Nggak enak banget rasanya badanku ini."


"Mungkin kamu kebanyakan minum es campur kemaren." Celetuk Ravendra.


"Heh! Aku bukan anak kecil ya?! Minum es campur empat mangkok juga nggak masalah! Aku udah besar!"


Ravendra mengangguk sarkas. "Iya, sekalipun kamu nggak minum pakai mangkok khusus es, tapi mangkok khusus sop buntut gitu ya?!"


Hantara menggerutu kesal. Memang, dia sengaja tak mengambil mangkok khusus es dikarenakan ada ibu-ibu yang berdiri di depan tempat mangkok es dan malah menatapnya tajam. Alhasil, dia mengambil mangkok yang diperuntukkan bagi sop buntut dan meletakkan es campurnya pada mangkok besar tersebut. Tidak terima satu kali, dia mengambil sampai empat kali.


"Rakus."


"Hih! Sembarangan ka---aduh!"


Ravendra bergegas mendekati cewek itu tanpa disadari. Hantara memegang kepalanya. "Pusingnya banget, Tar?"


Hantara mengangguk lemah. Tidak tahu kalau mengobrol dengan Ravendra bisa mendatangkan pusing lagi. Tapi, sebenarnya tadi mereka tak mengobrol dengan santai juga sih.


"Mau ke dokter nggak? Ayah punya kenalan di RS Umum, kita bisa periksa ke sana sebentar kalau kamu mau." Tawar Ravendra.


"Enggak, Rav ...." Hantara mengembuskan napas perlahan. "Nanti juga, sembuh sendiri kok. Biasanya juga gitu."


"Kalau parah gimana?"


"Amit-amit! Jangan sampai! Mau nyumpahin sakit parah ya?! Iya?!?!"


Ravendra menciut. Meski tak enak badan, teriakan cewek itu masih menggelegar seperti biasa. "Oke deh, nyerah. Udah nyerah."


Hantara kembali berbaring. Kali ini tidak memegang ponsel, namun memejamkan mata untuk mengistirahatkan kepalanya sejenak.

__ADS_1


Sedangkan Ravendra, cowok itu keluar kamar. Samar-samar mendengar suara motor yang dikendarai Mama tadi.


Benar saja, Mama baru memarkirkan motornya di garasi. Saat hendak menyiapkan air untuk Hantara, Ravendra mendapat chat baru.


Gianna


Rav,


Gimana?


Nanti jadi makan malam nggak?


Aku pengin banget coba makan di rumah makan baru dekat kafemu itu.


"Ravendra!"


Hanya membaca, Ravendra menyusul Mama dan menyimpan ponselnya pada saku celana. "Iya, Ma?"


"Ini ya, obat panasnya, sama Mama lupa nggak tanya Tara pusing atau enggak." Mama menyerahkan obat penurun panas yang baru saja dibelinya.


"Iya, tadi pas ngobrol, kepalanya pusing, Ma."


"Ah, kalau minum obat ini, pusingnya hilang nggak ya?" tanya Mama khawatir.


"Ajeng pernah minum obat ini pas pusing, dan dia langsung oke setelah tidur lagi." Ravendra berusaha menenangkan Mama.


Mendengar Ravendra berkata demikian, Mama jadi agak lega. "Oke deh, kamu kasihkan ke Tara ya? Sama tolong sekalian air minumnya. Mama terpaksa harus ke toko dulu, orang-orang udah nungguin Mama dari tadi. Kamu ada waktu luang buat jaga Tara kan?"


"Iya, Ma. Nggak masalah. Saya bakal jaga Tara sampai dia baikan." Ravendra tersenyum simpul. Entah mengapa, ucapannya barusan benar-benar tulus. Tak sekadar menenangkan, namun akan dilakukan dengan sepenuh hati.


Mama tersenyum lega. "Syukurlah. Mama jadi tenang kalau kamu bisa jaga Tara. Tapi ... kalau Mama boleh tahu, kalian ...."


"Iya, Ma? Tahu apa?"


"Kalian ...."


Ravendra agak mendekat. Mama berbicara dalam volume kecil. "Kalian .... nggak pernah gitu kan?"


Ravendra terkejut. Meski tak diperjelas, Ravendra tahu apa yang dimaksud oleh Mama. Sontak, dia menggeleng. "Ma, saya nggak mungkin melakukan hal serendah itu ke Tara, atau perempuan mana pun. Saya---"


"Oke, oke! Maaf!" Mama mengembuskan napas lega. "Ini karena Mama terlalu khawatir sama Tara. Mama sayang banget sama Tara. Kamu juga kan, Rav?"


"Ha-hah?"


Sayang ...?


Mama mengangguk. Berharap Ravendra akan mengatakan hal yang sama. "Sa-saya ...."


"Iya?"


"Sa ...."


Ponsel Mama berdering panjang. Berhasil menyelamatkan Ravendra dari situasi tak terduga. Setelah melempar beberapa pertanyaan pada si penelepon, Mama memutuskan sambungan dan menoleh pada Ravendra.


Berupaya tersenyum, Mama menepuk bahu calon menantunya itu. "Mama tahu kamu sayang sama Hantara, tapi masih malu atau mungkin belum menyadari."


Ravendra bergeming. Ini bukan topik yang ingin didengar atau dibahas.


"Tapi nggak apa-apa," Mama melanjutkan dengan senyuman. "Suatu saat nanti, kalian bakal saling sayang sampai lengket kok. Mama percaya itu."


Gimana ...?


"Kalau gitu Mama pergi dulu ya, Rav. Mama percayakan Tara sama kamu."


Mama mengambil kunci mobil dari kamar, kemudian pergi dengan tenang. Di tempatnya, Ravendra melemas. Apa yang baru didengarnya tadi tampak seperti kemustahilan.


Menghela napas, Ravendra bergerak untuk memberikan obat pada Hantara. Dia kembali memasuki kamar cewek itu, dan si pemilik kamar masih berbaring tapi sudah memegang ponsel lagi.


"Ini, obatnya diminum, Tar." Ravendra mendekat, membantu Hantara dengan menyodorkan obat berserta segelas air.


Hantara menerimanya dengan pasrah. Dirasa-rasa, dia ingin sekali keluar dan melakukan sesuatu. Tidak terbaring lemah dengan kepala berputar-putar yang membuatnya tak berdaya.


"Butuh apa lagi, Tar? Saya ambilkan." Ujar Ravendra yang dengan cekatan menjauhkan ponsel Hantara.

__ADS_1


"Enggak perlu." Kata Hantara parau. "Mama udah berangkat ya?"


"Iya, Mama menitipkan kamu ke saya."


"Halah!" Hantara makin malas berbicara dengan Ravendra. Belum lagi, cowok itu malah makin alay. "Aku mau tidur dulu, Rav."


"Hm, tidur aja. Nanti saya bakal keluar setelah kamu tidur." Ravendra kembali duduk di kursi dekat meja belajar. Ponsel cewek itu diletakkan di sana saja.


"Kenapa harus nungguin sampai aku tidur? Keluar sekarang kan bisa," protes Hantara.


Ravendra bersedekap. "Untuk memastikan kamu benar-benar tidur."


"Astaga ... aku bukan anak kecil lho!"


Mulai mengantuk, Hantara menarik selimutnya erat. Efek obat yang diminum bekerja lebih cepat. Dalam jarak tiga meter, Ravendra terdiam sambil mengamati Hantara yang terlelap. Beberapa menit kemudian, napas Hantara mulai tenang dan teratur.


Ravendra mendesah lega. "Akhirnya, dia tidur juga." Dengan begini, dia bisa menunggu di luar sembari memantau kafenya lewat telepon.


Namun sebelum dia membuka pintu, ponsel Hantara yang berada di meja belajar berdering panjang.


"Jojo ...."


Ravendra memandang Hantara sekilas. Cewek itu sungguh terlelap. Berdeham, dia memutuskan untuk menjawab telepon masuk dari Joshua.


"Halo?"


"Ha---ini siapa ya?"


"Ravendra."


"Ravendra?" terdengar nada tak suka dari pengulangan Joshua. "Kenapa lo yang jawab telepon? Mana Hantara?"


"Dia tidur."


"Tidur?! Jangan-jangan---"


"Dia sakit." Ravendra jengah. Kenapa semua orang suka sekali berpikiran yang tidak-tidak. "Jangan mikir yang aneh-aneh!"


"Sakit? Di mana dia sekarang? Di rumah sakit mana? Gue ke sana!"


"Dia di rumah, di kamarnya. Demam."


"Ah, syukurlah dia nggak sakit parah. Tapi ... lo juga di kamarnya?"


"Hm, Mama yang nyuruh."


"Mama?"


"Intinya kalau lo mau ngajak jalan Tara, nggak bisa. Dia lagi sakit. Barusan minum obat dan tidur. Biar pulih dulu. Nanti kalau udah baikan, gue kasih tahu kalau lo habis nelepon."


"Apa ... apa gue nggak bisa ke sana buat jenguk Tara? Sebentar aja?"


"Nggak bisa!" Ravendra merutuki kekejamannya. "Mama ada di rumah. Bisa kena marah nanti Tara kalau tahu dia punya cowok lain."


"Ah, iya-iya. Lo statusnya tunangannya Tara. Sedangkan gue ...?" Joshua bergumam penuh kegetiran.


"Kayaknya gue dipanggil sama Mama. Gue tutup dulu teleponnya ya, Jo."


"Oh, oke. Jangan lupa kasih tahu Tara kalau gue khawatir."


"Hm."


Sambungan telepon diputus oleh Ravendra. Dia memandang layar ponsel tersebut tanpa ekspresi. Menghela napas, dia bingung dengan sikapnya barusan.


Kenapa dia sampai berbohong jika Mama masih di rumah?


Kenapa dia setega itu untuk tak mempertemukan Joshua dengan Hantara?


"Kayaknya ada yang aneh nih ...."


...•••••...


^^^bersambung .....^^^

__ADS_1


__ADS_2