Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 09


__ADS_3

...•••••...


Pukul tiga tepat, Hantara keluar dari perpustakaan dengan tampang kusut. Banyak sekali yang harus dicari untuk materi terbaru yang tak dimengerti. Melihat waktu yang tertera pada layar ponsel, Hantara melangkah santai ke gerbang utama. Biasanya, jarang sekali dia jalan cukup jauh seperti ini. Paling-paling, dia ikut pada boncengan salah satu tetangganya yang satu fakultas dengan Seno.


"Semoga aja cowok itu udah nunggu di luar, biar cepat pulang dan bisa rebahan." Gumamnya tak mau repot-repot menanyakan keberadaan Ravendra melalui chat.


Tiba di gerbang utama, Hantara menuju halte bus yang berisikan tiga orang dari kampus yang sama. Di seberang jalan---tepat depan halte bus, terdapat warung kopi yang selalu ramai anak muda. Tak sengaja, Hantara memicingkan mata dan menangkap kehadiran seseorang yang sangat tidak ingin dilihatnya.


Di warung kopi, Seno mengerjapkan kelopak matanya. Hantara sedang menunggu di halte bus dan melihatnya? Wah! Ini pasti lagi kangen sama gue. Jarang dia nunggu di halte. Dia juga tahu kalau gue sering nongkrong di sini. Sikap rendah hati memang tidak ada dalam diri Seno.


"Heh! Itu Tara kan?" tanya salah satu teman Seno.


Seno mengangguk, "Iya, tumben dia nggak pulang bareng si Hilman."


"Iya ya, biasanya di nebeng Hilman kan?"


Tidak hanya berisikan anak FT, warung kopi tersebut juga dipadati oleh anak dari fakultas lain. Misalnya saja, terdapat sekumpulan cowok dari Fakultas Kedokteran. Tak sengaja, salah seorang di antara mereka mendengar percakapan antara Seno dan temannya. Penasaran, cowok itu pun melihat cewek yang menjadi topik utama dalam percakapan keduanya.


Cewek berambut panjang lurus yang ujungnya sedikit tak beraturan, mata agak sipit, mengenakan blus kuning pastel dan celana jeans putih.


Namanya tadi siapa? Tara?


Tak sadar jika menjadi bahan pembicaraan di warung kopi yang berada di seberangnya, Hantara memilih untuk mengirimkan chat pada Ravendra.


^^^Hantara^^^


^^^Lo di mana?^^^


^^^Cepat!^^^


^^^Gue di halte, yang depannya ada warung kopi.^^^


^^^Ada Seno di sana!^^^


^^^Gue pengin cepat-cepat pulang!^^^


Setelah mengirim chat, Hantara berharap kalau Ravendra akan segera menjemputnya. Sayangnya, dia tidak tahu kalau cowok itu malah kencan dengan pacarnya.


...•••••...


Di salah satu pusat perbelanjaan pada waktu yang sama, Ravendra menggenggam tangan Gianna begitu erat. Sampai-sampai Gianna tak bisa menahan tawa. "Aku nggak bakal ke mana-mana, Rav. Lagian, kita jalan di mal lho. Mal ini udah sering kita datangi dan aku bukan anak kecil."


Ravendra tersenyum kalem. "Nggak apa-apa dong, kan kamu pacarku. Kesayanganku."


Gianna melebarkan senyum. Makin lama, cintanya kepada Ravendra makin besar. Dari perlakuan cowok itu selama ini, Gianna tahu bahwa satu-satunya cowok yang paling tulus mencintainya hanyalah Ravendra.


Sayang seribu sayang, pacarnya itu akan bertunangan tidak lama lagi. Bukan dengan dirinya, tapi dengan cewek lain. Memikirkan hal tersebut berhasil mengaburkan senyum Gianna. Hatinya kembali gundah.


"Lho, kenapa, Gi? Kok mukanya sedih gitu?" tanya Ravendra begitu menyadari perubahan ekspresi Gianna.


"Itu, Rav ... kamu memang pacarku, begitu juga sebaliknya. Tapi sebentar lagi ... kamu bakal bertunangan sama cewek lain ...."


Masalah ini lagi!


Ingin sekali Ravendra memutar waktu, langsung memberitahu Ayah dan Ibu jika dia akan menikah dengan Gianna begitu tiba saatnya. Tidak seperti sekarang, hubungannya dengan Gianna berada di tengah-tengah badai. Belum lagi soal Hantara, cewek menyebalkan yang jauh berbeda dengan Gianna.


"Sayang~ Percaya deh, aku bakal cari cara untuk menggagalkan perjodohan ini. Kan aku udah pernah cerita, aku dan Tara, kami sama-sama nggak menginginkan perjodohan ini. Maksimalnya kami bertunangan, setelah itu akan berpisah. Kami nggak akan sampai di pelaminan."


"Kamu janji, Rav? Nggak akan sampai pada tahap itu?" tanya Gianna memastikan.


Ravendra mengangguk mantap. "Hm, aku janji. Lagian, buat apa aku mempertahankan sesuatu yang nggak aku harapkan sama sekali? Aku nggak ada perasaan apa-apa sama Tara. Menikah sama dia, sama halnya kayak main rumah-rumahan. Cuma main-main. Itu buang waktu, Gi."


Semestinya Gianna merasa lega mendengar ucapan Ravendra. Cowok itu bersungguh-sungguh. Penuh akan keyakinan cinta yang telah terjalin di antara keduanya. Hanya saja, hati kecil Gianna memikirkan satu kemungkinan baru.

__ADS_1


"Sekarang udah jam tiga lebih lima menit, Gi. Kamu mau cari apa buat adikmu?"


Pertanyaan Ravendra memecah lamunan Gianna. "Oh, dia minta tas branded terbaru, Rav."


"Ya udah, kita cari ke arah sana kalau gitu."


"Kamu nggak lagi dicariin orang rumah atau orang kafe kan? Nanti takutnya, mereka butuh bantuanmu karena kamu udah jalan sama aku dari jam satu."


Menggeleng, Ravendra berjalan pelan terlebih dahulu. Tangan mereka masih saling bertautan. "Enggak kok, sampai malam juga nggak apa-apa."


"Oke, kalau gitu bisa santai milihnya."


"Iya."


Saking senangnya menghabiskan waktu dengan Gianna, Ravendra sampai melupakan satu hal. Dia lupa menjemput Hantara seperti yang diperintahkan oleh Ibunya.


Di satu sisi, kegusaran masih menyambangi hati Gianna. Cewek itu berharap, Ravendra bisa memegang janjinya dengan benar.


Semoga kamu nggak jatuh cinta sama Tara saat nggak sama aku, Rav. Mungkin kamu bakal ngatain aku udah berpikiran konyol. Tapi siapa yang tahu sih, Rav? Cinta muncul karena terbiasa. Aku berharap, semoga kamu nggak terbiasa sama kehadiran Tara nantinya. Cintamu ... cuma buat aku ....


...•••••...


"Ck. Di mana sih, cowok ini?"


Sudah pukul setengah enam petang. Niat rebahan di kamar nyamannya pun gagal karena Ravendra tak kunjung menjemput. Tadi, dia sempat mendapat tawaran tumpangan pulang dari Seno---yang tentu saja ditolak mentah-mentah. Sekarang, dia agak menyesal. Dia ingin pulang. Tapi cowok yang akan menjadi tunangannya itu tak kunjung datang.


Mau menelepon Lia atau Sagara, tidak mungkin. Nanti mereka akan bertanya mengapa dia tak kunjung pulang dan untuk apa menunggu di halte bus selama itu. Mereka berdua tahu kalau Hantara kerap pulang dengan tetangganya yang bernama Hilman. Atau dalam situasi tidak sabar, Hantara terbiasa menggunakan aplikasi ojek online.


Tadinya memang dia mau begitu. Namun barangkali Ravendra sedang dalam perjalanan, dia memutuskan untuk menunggu lebih lama. Tugas Ravendra hari ini, yaitu mengantar-jemput dirinya. Jadi, Hantara memilih untuk menurut saja.


"Udahlah! Bodo amat! Pakai ojek online aja!"


Benar-benar, Ravendra Birusna sudah mengacaukan harinya.


Hantara mengernyit. Gue kayaknya belum pesan ojek deh.


"Butuh tumpangan pulang?" tanya cowok itu dengan suara berat.


"Hah?" Hantara memiringkan kepala. "Oh, tumpangan pulang?"


"Iya." Cowok itu mendekat. "Maaf kalau kesannya kurang sopan. Tapi dari tadi aku lihat dari warung kopi kalau kamu udah nunggu dari jam tiga. Jemputanmu nggak ada tanda-tanda mau datang ya?"


Mendengar pertanyaan cowok itu, Hantara jadi kesal lagi. Ravendra si kurang ajar itu lagi pacaran apa gimana sih? Dasar!


"I-iya, jemputanku, nggak tahu lagi di mana." Katanya pelan. Kembali menguasai diri.


"Udah dihubungi? Apa dia nggak merespons sama sekali?" tanya cowok itu lagi.


Hantara menggeleng. "Malah, dia nggak baca chat dan teleponku dari tadi. Mungkin HP-nya masuk selokan." Setengah berdoa, semoga benar-benar terjadi.


"Kalau begitu, mau aku antar pulang? Rumahmu di mana?"


"Ru-rumahku di Mali Timur, Kompleks AB-6."


"Oh! Aku di kompleks AD-2."


"Tetangga?" Mata Hantara berbinar senang.


Cowok itu mengangguk, lalu mengulurkan tangan. "Kenalkan, Joshua. Tapi anak-anak sering panggil Jojo, terserah deh mau panggil apa."


"Joshua? Bentar, kok kayaknya pernah dengar ya?" Berpikir, tapi tetap menyambut uluran tangan Joshua.


Joshua mengulum senyum. Cewek di hadapannya ini lumayan lucu juga.

__ADS_1


"Ah! Joshua anaknya Pak Yudhi nggak sih?" terka Hantara tak meragu.


Joshua mengangguk. Senyumnya masih terbit.


"Eh?!" Cewek itu menyadari satu hal. "Berarti ... Kak Joshua? Kan ... sebentar lagi koas."


"Jojo aja nggak apa-apa kok," kata Joshua. "Gimana? Mau pulang bareng?"


"Enggak apa-apa nih? Takutnya ngerepotin Kak Jojo."


Joshua terdiam. Dia sudah sering dipanggil Jojo oleh teman-temannya. Tapi cara cewek yang satu ini memanggilnya, terasa berbeda. Joshua pun merasa bahunya terangkat tinggi.


"Enggak apa-apa kok, sekalian kan. Ayo!"


Hantara bersyukur dalam hati. Akhirnya dia akan segera pulang. Dia merindukan kasur empuknya. Apalagi Mama akan membuat bolu pandan kukus kesukaannya.


Saat menyalakan mesin motor, Joshua menoleh pada Hantara. "Nama kamu? Siapa? Kamu belum memperkenalkan diri."


"Oh, aku Tara. Hantara. Anak FMIPA, salam kenal ya, Kak Jojo."


"Iya, salam kenal ... Tara."


...•••••...


Menjelang pukul tujuh malam, kediaman Birusna tenang seperti biasanya. Ravendra memasuki rumah diiringi senandung bahagia. Kencan dengan Gianna selalu saja meninggalkan impak yang luar biasa. Taman hatinya berbunga. Sama seperti dulu saat pertama kali menjadi pacar Gianna, euforianya tak memudar sedikit pun.


Menuju dapur, dia hendak mengambil air mineral. Sebelum cowok itu mengambil gelas, Ajeng berdiri di dekat kulkas sambil bersedekap. Jangan lupakan pula tatapan menyelidiknya.


"Habis dari mana aja, Kak? Kok sampai jam segini?" tanyanya mengintimidasi.


"Bukan urusanmu."


Ravendra kembali melangkah. Mengambil gelas dan membuka kulkas untuk mencari air dingin.


"Iya, memang bukan urusanku. Tapi apa Kak Raven udah melakukan urusannya untuk jemput Mbak Tara?"


Tangan kanan Ravendra tak jadi menuang. Pergerakannya terhenti di udara. Cowok itu baru sadar. Dia harusnya mengantar-jemput Hantara. Bagian antar-nya sudah. Tapi bagian jemput-nya, dia tak melakukannya.


"Oh, pulangnya? Jam tiga deh, soalnya ada dua kelas, tapi gue harus cari banyak bahan di perpus."


Ravendra meletakkan gelasnya di atas meja makan. Astaga! Jam tiga! Gue nggak jemput dia!


"Ternyata bener ya? Kak Raven nggak jemput Mbak Tara," Ajeng berkata sinis. "Untungnya Mbak Tara baik. Dia kasih alasan logis yang ngebuat Kak Raven nggak kena omelan Ayah dan Ibu."


"Alasan?" tanyanya penasaran.


"Mbak Tara ngomong kalau kalian jalan-jalan dari selesai ngampus, dan pas mau antar pulang, Kak Raven harus ke kafe dulu." Ajeng melangkah pelan, hendak meninggalkan Ravendra. Kalau boleh jujur, bisa dikatakan Ajeng cukup kesal dengan tingkah Ravendra. Cewek itu sebenarnya tahu kalau Ravendra pasti menghabiskan waktu dengan Gianna. Sebab, sore tadi dia sempat datang ke kafe dan Ravendra tak ada di sana.


"Terus ... dia pulang naik apa?"


Ajeng menghentikan langkah. "Nggak tahu, katanya Mama Nadya, Mbak Tara diantar teman cowoknya yang kebetulan tetangganya juga."


Entah mengapa, mendengarnya mengundang kelegaan. Cowok itu agaknya merasa bersalah. Meski tidak mau menunjukkan secara terang-terangan.


"Yang jelas ya, Kak." Ajeng berbalik, menyuguhkan tatapan maut. "Putusin aja Mbak Gianna. Kamu harusnya fokus buat mendekatkan diri sama Mbak Tara."


"Ck. Sekali lagi, itu bukan urusanmu, Ajeng." Ravendra urung mendengar lebih lanjut penuturan adiknya. Alih-alih membawa gelas berisi air dingin yang sudah dituang, dia lupa membawa dan lekas pergi ke kamar.


Namun, pikirannya tak bisa lepas dari kesalahannya hari ini. Besok minta maaf sama Tara nggak ya?


Kemudian memandang ponselnya yang mati total dalam genggaman tangan kiri.


...•••••...

__ADS_1


^^^bersambung ....^^^


__ADS_2