
...•••••...
"Kamu bikin kaget semua orang, Gi."
Pukul sebelas malam, Ravendra bertelepon dengan Gianna di balkon kamarnya. Sebenarnya dia lelah setelah seharian ini dihadapi oleh kenyataan baru. Tapi dia ingin mendengar suara pacarnya dulu sebelum tidur.
"Kamu udah tunangan, Rav. Kenyataan baru itu ... rasanya kok aneh ya," kata Gianna.
"Jelas aneh, Gi. Itu karena bukan kamu yang pakai cincin itu. Seharusnya kan, kamu, bukan dia." Seperti yang diucapkan, berulang kali Ravendra memutar ucapan tersebut dalam benaknya.
"Tapi nyatanya kamu tunangan sama dia, Rav. Barusan."
Ravendra menghela napas berat. "Tadi kamu bisikin aku soal janji menggagalkan perjodohan ini setelah tunangan kan? Aku nggak akan lupa, Sayang. Karena itu misi utamaku."
"Hm, aku cinta kamu, Rav. Aku nggak bisa sok tegar kayak orang-orang. Aku juga nggak bisa ngelepas kamu dengan semudah itu. Orang-orang nggak tahu aja gimana perasaan aku ke kamu."
"Kamu nggak perlu ngelepas, Gi. Ngomong apa sih kamu?" Ravendra mendadak gusar sendiri. "Jangan bilang kalau belakangan ini kamu berusaha buat jadi cewek ngalahan, iya?"
Tak ada jawaban. Hanya keheningan panjang yang mengisi pendengaran Ravendra.
"Aku udah janji, Gi. Masa kamu nggak percaya?" tanya Ravendra memastikan.
"Bukannya nggak percaya," balas Gianna parau. "Aku tahu kamu pasti berusaha semaksimal mungkin buat menggagalkan perjodohan itu. Cuma ... sekeras apa pun kamu menolak, hatimu mungkin berubah tanpa kamu sadari suatu saat nanti."
"Berubah? Apanya yang berubah? Hatiku, pilihanku, nggak akan berubah, Gi." Ravendra menatap langit dengan agak kesal. Pemandangan malam ini indah sekali. Agaknya mampu menenangkan hatinya agar tak terbawa emosi.
Gianna tak menyahut. Kembali diam. Ravendra tak menyukai situasi ini. Gianna tak bersikap ceria seperti biasanya. Suara merdunya tergantikan oleh parau kesenduan.
"Gi, pokoknya, aku akan tetap menepati janjiku. Maksimal tunangan, selanjutnya berpisah. Percayalah, Gi. Kamu nggak boleh pesimis dan anggap aku udah nyerah. Aku belum menyerah. Hm?"
Di seberang telepon, masih belum menyahut. Gianna menatap satu pigura yang berisikan fotonya dengan Ravendra saat berwisata ke kebun teh. Memori yang manis.
"Oke. Nggak adil kalau aku menyerah, dan kamu belum."
"Gi---"
"Aku juga akan berusaha, Rav---nggak akan menyerah gitu aja."
Sekarang, Ravendra bisa tersenyum sedikit. Meski kenyataan hari esok akan sangat menamparnya tanpa ampun.
...•••••...
Pagi ini, Hantara disambut oleh kemilau cincin yang berada di tangan kirinya. Bukannya terpesona, cewek itu malah mau membuangnya karena begitu kesal. Hantara berdecak malas. Dia mau kencan dengan Joshua. Tapi mengingat peristiwa semalam, semestanya seakan berhenti berputar.
Mengerikan sekali. Dia menjadi tunangan Ravendra, yang mana cowok itu sudah punya pacar. Dan lihat apa yang terjadi? Semalam, pacar cowok itu datang dengan dalih menyelamati. Padahal, pasti Gianna datang untuk menilainya dari atas sampai bawah.
"Seharusnya nggak perlu gitu juga," gumamnya sembari mengambil handuk. "Udah jelas banget, dari atas sampai bawah gue ya gitu-gitu aja."
Di kamar mandi, cewek itu asyik berceloteh sendiri. Dari memulai sampai selesai mandi, tak ubahnya topik semalam yang menjadi bahan gerutuan.
__ADS_1
Rapi dengan pakaian kasualnya, Hantara keluar kamar. Di ruang tamu, ramai sekali suasananya. Tidak seperti biasa yang hanya diisi olehnya dan Mama, kehadiran Pakdhe dan Budhe menjadi penambah yang manis.
"Wah, hari ini kamu ada kelas, Tar?" tanya Budhe sambil mencomot keripik kentang.
"Ada, Budhe. Cuma satu sih."
"Diantar sama cowokmu ya?" tanya Pakdenya yang langsung membuat Hantara tegang.
"Co-cowokku?"
Mama tertawa setelah mengganti kanal televisi. "Maklum, Dik. Tara mungkin masih agak nggak percaya kalau semalam udah tunangan."
Pakdhe dan Budhe turut tertawa. Hantara mematung di dekat kulkas. Cowokku? Ravendra? Astaga! Salah besar! Cowokku itu Kak Jojo! Bukan Ravendra!
Sarapan buatan Mama selalu enak. Namun suasana hatinya mengubah kesan pagi yang sejahtera ini menjadi titian menuju keputusasaan. Sekarang sudah hitungan mundur ditujukan pada hari pernikahan yang tak diinginkan.
Huhuhu ...
Hantara mau mencari pintu ke mana saja lah!
"Permisi~"
Suara itu datang. Semangat Hantara pudar tak bersisa. Dia lupa kalau tugas Ravendra untuk mengantar-jemput masih berlaku. Tadi dia berniat jalan ke taman kompleks A. Sekarang, dia harus menaiki mobil Ravendra sampai ke taman dulu.
Budhe menyambut Ravendra sangat antusias, begitu juga dengan Pakdhe. Mama? Jangan ditanya lagi. Wanita itu sudah menyodorkan bermacam-macam camilan kepada Ravendra.
Hantara menghabiskan sarapannya dengan tenang. Dalam artian, dia berusaha untuk sabar.
Hantara berdiri di hadapan mereka tanpa mengatakan apa pun. Dia hanya melirik tajam Ravendra. Semoga saja cowok itu peka.
Ravendra mengernyit. Dilihatnya Hantara yang sudah siap dengan tampang mau memakan orang. Cowok itu mendengus. Kembali tersenyum, lalu berpamitan dengan anggota keluarga yang lain.
Memasuki mobil Ravendra, Hantara tetap diam saja. Ravendra juga tak peduli. Bodo amat dia mau ngomong atau nggak.
Menempuh sedikit perjalanan, Ravendra melihat di depan merupakan taman kompleks A. Tentu saja, sosok Joshua sudah menanti dengan tenang di sana.
Baru ketika mendapati Joshua, Hantara bisa tersenyum sedikit. Ravendra yang menyadari hal tersebut hanya berdecih pelan. Di sampingnya, Hantara mendengus pelan.
"Gue tahu sekarang kita udah tunangan." Kata cewek itu.
"Saya juga tahu, Hantara."
"Kemaren nyawa gue lagi nggak di bumi, makanya mau-mau aja nerima cincin ini." Hantara mengangkat tangan kirinya yang terdapat cincin pertunangan mereka.
"Oh," Ravendra menanggapi datar. "Kemarin kamu jadi alien ya?"
Hantara melotot. Mau mengomel, tapi Joshua tersayangnya sudah menunggu dengan tatapan bertanya. "Gue berharap, kita bisa cepat pisah." Dibantingnya pintu mobil Ravendra.
Ravendra menatap malas Hantara---yang kini tersenyum manis kepada Joshua. "Cih! Pilih kasih kalau senyum."
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ravendra melajukan mobilnya---melewati sepasang manusia yang dimabuk asmara itu.
...•••••...
Seperti yang diagendakan, Joshua mengajak Hantara berjalan-jalan selepas kelas cewek itu berakhir. Hantara senang sekali. Akhirnya, kedamaian semesta sudah datang kembali. Bersama Joshua, dia merasa dianggap.
Keduanya bergandengan tangan. Mereka memasuki salah satu pusat perbelanjaan, sekalian Hantara mau membeli jaket baru untuk Pakdhenya yang semalam mengeluh kedinginan.
"Pakdhe dan Budhemu ada di rumah ya? Kalau gitu, aku boleh mampir menyapa mereka nggak? Sekalian mau nyapa Mama kamu juga."
Perkataan Joshua membuat langkah Hantara terhenti. Oh, tidak! Kalau dia membawa Joshua untuk diperkenalkan kepada keluarganya, bisa-bisa dia kena masalah besar. Dan tahu-tahu, pernikahan diajukan dalam beberapa hari lagi.
Jika keadaannya tidak dalam ikatan dengan Ravendra, Hantara akan sangat senang kalau Joshua mau bertemu dengan keluarganya. Hal tersebut bagaikan lampu hijau dalam kelanjutan hubungan yang lebih tinggi.
Akan tetapi, situasinya sangat tidak memungkinkan. Semalam dia baru saja bertunangan dengan Ravendra. Luar biasa aneh kalau nekat membawa Joshua ke rumahnya.
"Kayaknya nggak bisa deh, Kak Jo." Katanya pelan. "Mereka sibuk banget mau ke mana-mana. Mama mau ngajak Pakdhe dan Budhe kulineran juga. Aku nggak tahu, nanti pas pulang mereka udah di rumah atau belum."
Joshua menghela napas. "Ya udah deh, padahal aku mau kenal lebih dekat sama kamu dan keluargamu."
Hantara menggigit bibir bawah. Kenapa kamu nggak muncul sebelum aku ketemu si nyebelin Ravendra sih, Kak???
"Eh, kamu mau aku tunjukkin tempat jaket yang bagus nggak?"
"Eh? Mau, Kak."
"Oke, ayo ke sana!"
Hantara mengikuti Joshua. Meskipun pikirannya benar-benar diterjang badai.
Huhuhu, nikmati kencan ini dulu deh. Sedihnya nanti kalau udah capek.
...•••••...
Ravendra Birusna melihat nota pembelian material yang baru sempat diberikan karena kesibukannya. Pekerja bangunan di sampingnya menjelaskan bahwa desain yang diminta untuk lantai kamar mandi kurang tepat dan meminta perbaikan sedikit.
Dia langsung menyetujuinya. "Pokoknya, lakukan yang terbaik buat rumah ini, Pak."
Pekerja tersebut mengangguk. "Siap, Mas. Nanti kalau semennya datang, kami lanjut yang bagian kamar atas."
Usai berbasa-basi sejenak, orang tersebut menepi untuk mengecek bagian rumah yang lain.
Pada tempatnya berdiri, Ravendra melihat rumah setengah jadi itu dengan sendu yang merasuk. Rumah di hadapannya merupakan rumah masa depan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari untuk ditempati bersama Gianna.
Mempersiapkan masa depan dengan keluarga kecil yang bahagia. Ravendra mengharapkan tiap detik waktunya terisi oleh memori indah Gianna.
Dalam kurun satu bulan mulai dari hari ini, jika dia tak bisa menggagalkan perjodohan, dia akan menempati rumah ini dengan Hantara. Satu hal yang sangat ingin ditentang.
"Enggak ...." Ravendra menarik napas perlahan. "Rumah ini ... cuma buat aku sama Gianna."
__ADS_1
...•••••...
^^^bersambung ....^^^