Steal Your Heart

Steal Your Heart
Episode 12


__ADS_3

...•••••...


"Bye~"


"Bye~"


Hantara melangkah gontai. Dia berpisah dengan Lia yang pulang dengan motor sendiri dan Sagara entah ke mana.


Pembahasan yang terjadi di antara dirinya dan kedua temannya di kantin tadi masih memutari isi kepala. Kenyataan bahwa Gianna takut kalau Ravendra akan menyukai cewek lain membuatnya ngeri.


Memangnya cowok itu mau suka sama siapa lagi? Bener kata Sagara---nggak mungkin Ravendra sebodoh itu buat ninggalin Gianna yang paket komplit.


"Tara?"


Cewek itu mendongakkan kepala. Melihat Joshua sudah menunggu di depan taman FMIPA dengan tenang, membuat hatinya dihiasi pelangi.


Bodo amat sama Raven sama Gianna. Sekarang Kak Jojo ada di depan mata.


"Udah nunggu lama, Kak?" tanyanya basa-basi.


Joshua menggeleng, tak lupa menyerahkan helm pada Hantara. "Belum kok, tadi juga sempat ke perpus dulu." Joshua menunggu Hantara memakai helm dengan benar. Cowok itu melihat jam tangannya. "Masih jam satu, Tar."


"Gimana?"


"Mau makan? Aku punya tempat rekomendasi di salah satu stand di Mal Amberawa."


Entah Joshua yang terlalu cepat berbicara atau Hantara yang lemot, butuh beberapa detik sampai cewek itu sadar. "Oh! Makan ya? Bo-boleh sih, tapi apa Kak Jojo nggak repot? Nggak dicariin ... siapa-siapa?" tanyanya waspada pada akhir kalimat.


Topik Ravendra dan Gianna masih menghantui isi kepala. Sekarang, dia jadi takut kalau tiba-tiba saja Joshua sudah punya gebetan atau pacar. Urusan mengantar-jemput dirinya, dialihkan sebagai bentuk rasa kasihan.


"Siapa-siapa?" Joshua menaikkan satu alisnya. Cowok itu terkekeh---yang malah membuat Hantara makin terpesona. "Memangnya siapa yang mau cariin aku? Ayahku? Ibuku? Enggak kok, mereka tahu apa aja kesibukan anaknya."


"Ya kan ... misalnya aja Kak Jojo punya ... inceran gitu?" Hantara kembali bertanya setengah berbisik.


Joshua mengulum senyum. Inceran katanya?


Berdeham, cowok itu mendekati Hantara dan menarik pergelangan tangannya untuk cepat-cepat naik ke motor. "Nggak ada yang kayak begituan, Tara. Ya kali aku punya inceran terus malah jalan sama kamu."


"Lho, tapi bisa aja kan?" kilah Hantara.


"Enggak kok, Tar. Udah ah, ayo pergi cari makan!"


Walaupun Hantara meragu, pada akhirnya dia memilih untuk percaya. Tidak dimungkiri, dia menyukai Joshua. Hanya saja dia takut jika cowok di hadapannya ini sudah punya cewek lain. Masalahnya ini Joshua; anak FMIPA, anaknya salah satu dosen di kampus, boyfriend material, cowok idaman para cewek baik di dalam dan di luar kampus. Kesannya, dia seperti mendapat jackpot.


Sayangnya, jackpot itu seakan-akan tak berarti karena dia harus menghadapi satu kenyataan lagi. Menghitung hari, dia akan bertunangan dengan seseorang yang selalu saja membuatnya kesal. Jika ingin menjalani romansa dengan aman, sejahtera, sentosa---dia harus melewati rintangan yang satu itu.


Memikirkannya saja sudah membuat kepala Hantara pusing. Lama-lama dia bakal berlangganan minum aspirin kalau masalah yang satu itu belum terselesaikan. Tapi bagaimana dengan rencana yang masih harus dipikir itu? Kenapa kesannya baik dirinya dan Ravendra masih urung untuk membahasnya? Padahal harus segera dibahas dan diutarakan kepada orang tua masing-masing.


Ravendra udah punya rencana belum ya?


...•••••...

__ADS_1


Gianna keluar dari salah satu toko jam tangan ternama di Mal Amberawa. Di belakangnya, Ravendra membawa belanjaan Gianna dengan senang hati. Hampir setiap kencan, mereka selalu menghabiskan waktu di rumah makan, mal, atau taman hiburan. Bagi Ravendra, tak masalah menemani pacarnya itu berbelanja. Bukannya cinta tak mempermasalahkan demikian?


"Lapar nggak, Gi? Makan di sini aja, mau?" tanya Ravendra yang merasa lapar. Amunisi perut dari masakan Mama Nadya tadi pagi tentunya sudah meleleh.


"Mau! Aku jarang banget makan di food court. Setiap mau makan di mal, Mami selalu cegah dan bilangnya lebih baik di rumah makan."


Gianna mengaitkan lengan kanannya pada lengan kiri Ravendra. Langkah demi langkah, diisi dengan tawa mesra yang membuat orang-orang di sekitar mereka iri sekaligus ingin. Inilah sensasi yang disukai Ravendra saat bersama Gianna. Ravendra merasa begitu beruntung. Tatapan iri dari orang-orang bagaikan penghias saja.


Menaiki eskalator, Ravendra membantu Gianna yang sedikit kesusahan karena mengenakan sepatu berhak tinggi yang kecil. Usai berada di salah satu anak tangga berjalan, keduanya saling melempar senyum dan mengedar pandang dengan binar bahagia.


Sekumpulan anak SMA di belakang keduanya pun berbisik-bisik. Sebab dua sosok itu terlihat begitu sempurna.


"Gila, so sweet banget!"


"Cowok lo kok nggak bisa seperhatian itu?"


"Huhuhu mau dong cowok kayak gitu ...."


"Ngaca dulu ya, Marmut. Lo udah kayak Mbaknya itu apa belum?"


"Ya mana gue tahu ...."


Dan masih banyak lagi sampai Ravendra dan Gianna tiba di food court yang sangat ramai. Gianna tak bisa menyembunyikan kesenangannya. Cewek itu berlari kecil menuju salah satu tempat yang menjual berbagai macam es krim durian.


Ravendra menghampiri dengan senyum manisnya. "Kamu mau es krim durian ya?"


"Iya," Gianna melihat daftar menu. "Kayaknya enak semua, Rav. Aku pilih yang mana ya? Apa aku pilih semuanya aja? Dibawa pulang gitu,"


"Terus aku pilih yang mana?"


"Pilih yang kamu suka aja, ya?"


Gianna mengerucutkan bibirnya. Dia kembali mengamati daftar menu sedangkan Ravendra mengedar pandang untuk mencari makanan yang diinginkan.


Bukannya segera menemukan objek berupa makanan, justru yang tertangkap oleh pandangan mata yaitu keberadaan dua manusia yang saling bercanda tawa dengan bebek penyet pada masing-masing piring.


Ravendra memicingkan mata. "Oh, jadi mereka nge-date di sini juga, ya?" tanyanya lebih kepada diri sendiri.


"Kenapa, Rav? Kamu ngomong apa?"


"Eh, enggak! Kamu udah pilih mau yang mana?" Ravendra menyarankan es serut durian yang pernah dicoba Ajeng. Pacarnya itu tampak puas.


Mereka mencari tempat duduk yang nyaman. Ravendra sengaja mengatur duduk Gianna agar membelakangi Joshua dan Hantara yang berada tak jauh dari keduanya---stand bebek penyet dan olahan es durian hanya berjarak satu stand saja.


Ravendra menyandarkan tubuhnya. Selagi berbicara dengan Gianna, cowok itu berkelapangan mengamati gerak-gerik Joshua dan Hantara.


Sudah diduga, pasti Tara nih yang sok-sokan traktir. Cih!


...•••••...


Hantara turun dari motor Joshua begitu berhenti di taman kompleks A seperti tadi pagi. Diserahkannya helm kepunyaan cowok itu. Keduanya sama-sama tersenyum. Hantara ingin berteriak tapi harus menahan diri. Kupu-kupu di perutnya menggelitik senang.

__ADS_1


Rasanya, waktu seakan berhenti saat mereka bertatapan. Mendadak, Hantara tak mampu melangkah pulang. Dia mau menghabiskan waktu dengan Joshua saja---kalau bisa.


"TIN!"


Hantara terlonjak. Nyaris memekik. Joshua tetap kalem---cowok itu cuma mengedipkan mata secara elegan.


Memutar pandang, Hantara ingin sekali mengumpati si pemilik mobil yang menyebalkan itu. Iya, siapa lagi kalau bukan Ravendra! Sengaja sekali cowok itu merusak suasana.


"Kamu udah ditungguin tuh," kata Joshua sabar. Aslinya, dia ikut-ikutan kesal.


Hantara meringis, "I-iya, Kak. Makasih ya, udah ajak aku makan bebek penyet di sana. Ternyata sambelnya enak, nggak kayak yang pernah beli sama Mama."


"Enak kan?" Joshua tersenyum manis. "Syukurlah kalau kamu suka. Kapan-kapan, aku bakal ajak kamu dan Mama kamu ke sana. Tapi, bukan yang di mal. Ada kok rumah makannya."


"Beneran?" Senyum Hantara makin lebar.


Ravendra yang melihat dua manusia itu dari mobil hanya bisa mendengus lelah. Dia lelah melihat bagaimana tingkah berlebihan Hantara. "Kok bisa ya, Jojo betah sama cewek itu."


Ingin cepat pulang, Ravendra membunyikan klakson lagi. Hantara melotot ke arahnya. Sudut pipi Ravendra tertarik sedikit. Berikutnya, Hantara berpamitan dengan Joshua dan mendatangi Ravendra di mobilnya.


"Heh! Ganggu momen aja lo!"


Ravendra menggeleng pelan. "Saya nggak ngapa-ngapain ya, saya cuma bunyiin klakson karena kamu kelamaan. Saya udah nunggu setengah jam di sana."


"Ya kan gue udah bilang kalau pulangnya jam tiga," Hantara menautkan kedua tangannya yang gatal untuk mencakar Ravendra. "Siapa yang suruh nunggu di sini setengah jam lebih awal, hah?!"


"Saya mau cepat pulang, saya capek."


"Ya kan lo bisa nunggu sampai jam tiga di rumah, astaga! Kalau nggak inget lo itu anaknya Tante Lusi, udah gue lempar aja."


Hantara menarik napas rakus, diembuskan perlahan. Jangan sampai terbawa emosi karena cowok di sampingnya itu.


"Yang jelas ...." ucap Ravendra. "Karena kita udah punya orang yang disuka, kita harus bersungguh-sungguh buat menggagalkan perjodohan ini."


Mendengarnya, Hantara dalam mode fokus. "Iya. Lo tahu nggak, Rav? Tadi Sagara cerita kalau semalam, dia chat-an sama Mbak Gianna. Mbak Gianna curhat sama Sagara kalau lo mau tunangan."


"Hah? Serius?!" Ravendra menoleh cepat.


"Untungnya, Mbak Gianna nggak menyinggung lo bakal tunangan sama siapa. Dan syukur banget, Sagara anggap itu cuma curhatan malam Mbak Gianna yang ada di pikiran negatifnya."


Ravendra tak tahu harus turut bersyukur seperti Hantara atau tidak. Yang jelas, mengapa Gianna harus mengatakan hal tersebut kepada Sagara? Dia tahu, Sagara itu teman mainnya Gianna sejak SMP. Tapi, masalah pertunangan itu merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh pihak bersangkutan saja.


"Rencana, Tar. Kita harus mulai bergerak. Gianna mungkin takut kalau saya tetap menikah sama kamu. Jadinya, secara nggak sadar dia cerita soal itu ke Sagara." Katanya menenangkan.


Mau tak mau, Hantara mengangguk saja. "Iya, harus mulai mikir. Benar-benar mikir."


Tapi ... rencana macam apa?


...•••••...


^^^bersambung ....^^^

__ADS_1


__ADS_2